Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Berbuat Licik kepada si Licik


__ADS_3

“baiklah, akan aku katakan.”


Topeng Harimau tersenyum licik di balik topengnya, ternyata dengan mudahnya Liang Wei akan memberitahunya.


“dasar bodoh, jika kau memberitahuku, aku bisa menemukan kelemahanmu.” Batin Topeng Harimau.


“baiklah perhatikan baik – baik.” Ucap Liang Wei bersiap memberitahu Topeng Harimau.


Topeng Harimau menunggu Liang Wei melanjutkan perkataanya.


“aku akan memberitahumu….”


“di neraka!!!” teriak Liang Wei sambil menyarungkan pedangnya.


“Ketamakan Memakan Jiwa.” Gumam Liang Wei.


Gagang pedang dan  bilah pedang yang ia sarungkan menghilang di dalam sarung pedang berwarna hitam.


Sarung pedang berwarna hitam itu bukanlah sarung pedang biasa, namun sarung pedang yang mengandung elemen kegelapan yang tidak normal, sehingga dapat menjadi media untuk menembus dimensi.


Pedang yang menghilang, muncul kembali melalui bayangan Topeng Harimau, pedang itu  kemudian membesar 10 kali dari ukuran awal, itu adalah wujud asli dari pedang itu.


Pedang itu tanpa ragu menembus tubuh Topeng Harimau. dalam waktu kurang dari setengah tarikan napas, jiwa Topeng Harimau diserap habis oleh Pedang itu.


Tubuhnya jadi kurus kering tanpa daging, kulitnya jadi lebih keriput daripada sebelumnya.


Topeng Harimau bahkan tidak menyadari hal itu telah terjadi padanya hingga ia merasakan dingin di punggung hingga dadanya, lalu seluruh tubuh jadi mati rasa.


“ka-kauu menipuku!!!.” Ucap Topeng Harimau tidak percaya bahwa seseorang yang licik sepertinya dikalahkan dengan cara yang licik.


“buuk” tubuh Topeng Harimau tumbang, matanya melotot namun tiada lagi napas yang berhembus dan jantungnya tidak lagi berdetak.


“kau seharusnya merasa terhormat karena telah ku izinkan melihat wujud asli dari pedangku.” Ucap Liang Wei.


Pedang yang menembus tubuh Topeng Harimau secara perlahan bergerak kembali memasuki bayangan Topeng Harimau, pedang itu kemudian muncul di tempatnya semula.


“apa kau senang?.” Ucap Liang Wei sambil memandang pedang yang sudah kembali di sarung pedangnya yang berwana hitam.


“hahahhahhahahhaha”


Liang Wei kemudian tertawa sendiri dengan sangat keras, membuat orang yang menyaksikannya jadi merinding.


“aku juga senang!.” Ucap Liang Wei masih memandang pedangnya sambil tersenyum lebar tanpa menyipitkan mata.


“entah mengapa aku bersyukur dia tidak seperti itu saat menghadapiku.” Ucap Ming Hao yang merinding melihat Liang Wei.


“kakak!, apa kau tidak melihat ada yang salah pada bocah itu?, seharusnya anak seumuran dia akan muntah setelah membunuh, namun Ia terlihat seperti menikmatinya, seolah ia telah membunuh ribuan orang, tidak, ratusan ribu bahkan jutaan orang.”


Liu Changhai jadi gemetaran membayangkan hal yang ia ucapkan sendiri.


“aku pernah menjumpai seorang pembunuh paling kejam di seluruh Benua, orang itu berkata : sekejam apapun seorang pembunuh, dia tetap akan merasa mual dan muntah saat pembunuhan pertamanya, namun hal itu tidak terjadi pada  seorang ‘pembunuh sejati’.” Ucap Ming Hao dengan raut wajah serius.

__ADS_1


“pembunuh sejati?. Apakah maksudnya adalah seseorang yang memang dilahirkan untuk membunuh?.” Liu Changhai mengucapkannya lalu menelan ludah dengan kasar.


“seperti itulah kiranya.” Cukup tenang Ming Hao mengucapkannya, namun dalam hati ia sangat ketakutan.


“daripada memikirkan itu, lebih baik kita meminum arak ini.” Ucap Ming Hao sambil mengangkat kendi arak.


“kali ini aku setuju denganmu kakak.” Ucap Liu Changhai sambil mengulurkan gelas.


Mereka berdua mengakhiri pembahasan itu karena tidak lagi memiliki suasana hati yang tepat untuk melanjutkannya.


Kembali pada Liang Wei..


Liang Wei tiba – tiba berhenti tertawa dan raut wajahnya menjadi serius.


“Ketamakan Memakan Jiwa.” Gumam Liang Wei sekali lagi.


Tidak seperti sebelumnya, kali ini menghunuskan pedang dari sarungnya, lalu ia berjongkok dan menusuk bayangannya sendiri.


Bilah pedangnya masuk ke bayangannya, lalu muncul dari bayangan para perampok.


Telihat 48 pedang muncul menusuk tubuh masing – masing perampok itu.


Namun satu orang terlihat berhasil menghindari pedang itu.


“kau kira aku tidak tahu bahwa kau hanya berpura – pura.” Ucap Liang Wei sambil tersenyum sinis kepada Topeng Serigala.


Tak ada satupun yang terlewat dari pengawasan Liang Wei, bahkan kelicikan Topeng Serigala tidak dapat mengelabuinya.


Ibarat seorang amatir yang mencoba berbuat licik kepada si Raja Licik, sungguh mustahil bagi Topeng Serigala untuk mengelabui Liang Wei.


“ciih, padahal aku ingin menghabisinya di saat yang tepat.” Batin Topeng Serigala.


“darimana kau tahu?.” Ucap Topeng Serigala.


“kau boleh  mengelabui yang lain, tapi niat membunuhmu tidak bisa menipu hidungku.” Ucap Liang Wei dengan santai.


“apa kau bercanda?.” Ucap Topeng Serigala, dia tidak pernah mendengar ada orang yang bisa mendeteksi niat membunuh.


Jika itu adalah aura membunuh, sudah menjadi hal biasa orang lain bisa merasakannya, namun berbeda dengan aura membunuh, niat membunuh adalah hal yang tidak keluar bersama aura pendekar, melainkan hanya ada di dalam hati.


Ia sangat bingung karena tidak dapat menemukan jawaban paling tepat atas pertanyaannya itu.


Di saat ia sedang kebingungan, ia tidak sengaja kehilangan fokus dan menjadi lengah.


“Langkah Kegelapan”


Liang Wei secara tiba – tiba muncul di belakang Topeng Serigala, ia segera menempelkan ujung pedangnya di leher Topeng Serigala.


“kau akan tahu jawaban itu, saat kau sudah membunuh lebih dari sejuta manusia.” Bisik Liang Wei.


Mata Topeng Serigala membelalak di balik topengnya itu. ia bisa saja tidak percaya dengan ucapan itu, namun kata – kata dari Liang Wei benar – benar tidak mengandung keraguan sedikitpun.

__ADS_1


“katakan siapa kau sebenarnya?.” Ucap Topeng Serigala dengan nada serius.


“kau pasti sangat ingin tahu, tenang saja, aku pasti akan memberitahumu, jika kau bisa menahannya.” Ucap Liang Wei membuat Topeng Serigala bingung.


“apa maksu..” sebelum Topeng Serigala melanjutkan perkataanya, ia terkaget melihat lengan kanannya sudah beranjak dari tempatnya.


“aahhhhhh”


“itulah yang ku maksud.”


Darah mengucur deras, Topeng Serigala berguling – guling kesakitan memegang lengannya yang sudah buntung.


Topeng Serigala mencoba mengalirkan tenaga dalam untuk menghentikan pendarahannya, namun lukanya tak kunjung tertutup.


Liang Wei tersenyum, jika itu pedang biasa mungkin ia bisa menyembuhkannya, tetapi pedang Kaisar Siluman milik Liang Wei benar – benar tidak biasa.


“apa kau masih ingin mengetahuinya?.” Ucap Liang Wei lalu menginjak lengan buntung Topeng Serigala.


“hentikaan! Bunuh saja aku, aku tidak ingin mengetahuinya lagi!.” Topeng Serigala sangat kesakitan kini memohon kepada Liang Wei.


Ia bahkan menangis sambil memohon, ia benar – benar menyesal telah mengganggu orang yang salah.


“hey aku sudah berbaik hati tidak membunuhmu, tapi kau malah memohon untuk dibunuh.” Ucap Liang Wei sambil menyeringai kepada Topeng Serigala.


“aku akan menuruti keinginanmu, namun setelah itu kumohon bunuh aku!” ucap Topeng Serigala yang sudah sangat putus asa.


Liang Wei tersenyum ia sudah dari tadi menantikan ucapan itu.


“baiklah kalau begitu, beritahu aku, siapa yang menyuruhmu menghalangi kami?.”


Liang Wei mengucapkannya sambil memegang sebuah token, token itu adalah token yang ia ambil dari tubuh Topeng Harimau.


Mata Topeng Serigala membelalak melihat token itu, ia tentu mengenalinya.


“apapun selain itu!.” ucap Topeng Serigala.


“shuuuushh” kaki kiri Topeng Harimau tiba – tiba lepas dari tempatnya.


“aarghhtt” terdengar teriakan memilukan Topeng Serigala yang kesakitan.


“bukan hanya kalian para perampok yang anti-negoisasi.” Ucap Liang Wei dengan nada dingin.


“aku sangat senang jika kita bisa melakukan ini sepanjang hari. Mari kita lihat nanti, bagian tubuh mana saja yang masih tersisa.”  Lanjutnya sambil tersenyum tanpa menyipitkan mata.


“baiklah!, aku akan menjawabnya!.” Ucap Topeng Serigala dengan terburu – buru.


ia tidak peduli lagi dengan rahasianya karena sudah tidak sanggup menahan sakit akibat siksaan Liang Wei.


 


 

__ADS_1


__ADS_2