Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Liang Wei Datang


__ADS_3

Pagi hari buta, Di kedalaman Hutan, 100km dari Ibukota Kekaisaran Yin .


Setelah Liang Wei mendapat serangan dari para banteng, ia mencari tempat aman untuk berlatih.


Genap sudah seminggu ia berlatih tanpa istirahat dan tidur, Liang Wei mulai merasakan peningkatan pada tekniknya, dan ia memang memaksanya untuk meningkat.


Dalam latihannya, ia selalu teringat masa di saat Hong Cheung melatihnya, dan semakin lama ia berlatih, semakin ia rasanya ingin kembali ke masa itu lagi.


Di waktu yang singkat itu ia mempertaruhkan segalanya, ia berlatih seperti kehilangan akal, tatapan mata kosong yang dalam waktu sama penuh dengan dendam. Tidak peduli tubuhnya lelah atau sakit ia tetap berlatih, karena sakit pada tubuhnya belumlah seberapa dibandingkan saat Hong Cheung meninggalkannya.


Selain itu, Ia selalu tahu bahwa rumus untuk menjadi kuat adalah bekerja keras dan berlatih dengan ketat.


Meskipun ia sudah mahir dan akrab dengan  semua teknik dari kehidupan sebelumnya, namun ia butuh penyesuaian dengan tubuh manusianya, sehingga ia harus selalu berlatih agar tubuhnya lebih terbiasa menggunakan teknik - tekniknya.


Dan ketika Ia melatih tekniknya dengan keras atau bertarung lebih sering, Jiwa Dewa dalam tubuhnya akan memaksa dia menerobos dengan lebih cepat daripada yang seharusnya.


Selama lebih dari sebulan perjalanan dengan Yang Huian hingga sebulan lagi perjalanan pulang dengan Lin Lixue, Liang Wei sudah merasakan gejolak di dalam dantiannya untuk menerobos, itu juga salah satu alasan mengapa dia memilih masuk ke hutan untuk berlatih terlebih dahulu sebelum ke Ibukota.


Ia bermeditasi dan menyerap ratusan ribu Kristal Jiwa Hewan spiritual, Jiwa Dewa menyerap semua sumber daya itu dengan rakus, hanya butuh waktu satu hari untuk membuat ratusan ribu Kristal jiwa itu habis.


Meskipun Jiwa Dewa membuat penggunanya cepat menerobos, namun ada tekanan mental yang beresiko pada Jiwa penggunanya, semakin lama Jiwa Dewa digunakan maka semakin memperbesar kemungkinan rusak pada jiwa, hilang akal, atau gila.


Liang Wei mengerti betul bahwa itu seperti sebuah pertaruhan yang sangat berbahaya dan seperti pedang  bermata dua yang akan membuat kuat tapi di waktu yang sama bisa merusak Jiwa, dan ia tidak bisa menolak JIwa Dewa telah tertanam di dalam tubuhnya. namun ia percaya pada kekuatan Jiwanya yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.


Kekuatan Jiwa Kaisar Siluman tidak lepas rohnya, itulah yang membuat ia baik – baik saja.


Bisa dikatakan kekuatan Jiwa Liang Wei sudah berada di puncaknya, sehingga tidak akan masalah jika membiarkan Jiwa Dewa terus menekan mentalnya.


Berkat pertaruhan yang sudah pasti ia menangi itu, sekarang ia sudah berada pada tingkat mahir tahap awal.


Itu adalah pencapaian yang harusnya diraih oleh seseorang yang setidaknya berusia sekitar 40 tahun. dan ia meraihnya sebelum umur 8 tahun.


Dengan tingkat kekuatan dan teknik yang Ia miliki, meski bertarung tanpa pedangnya, Liang Wei dapat mengimbangi seorang pendekar tingkat tinggi tahap awal.


Lalu, dengan  satu pedang di tangannya, menghadapi seorang pendekar tingkat tertinggi tahap awal tak akan jadi masalah.


Dan ia bisa menggunakan  pedang gandanya untuk mengimbangi pendekar tertinggi tahap akhir, namun itu beresiko pada tubuhnya yang tidak sekuat saat ia masih Kaisar Siluman.

__ADS_1


“woosh” angin berhembus saat ia membuka matanya dan menyelesaikan meditasinya.


Saat ia membuka matanya, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Lin Lixue yang sedang melatih tekniknya.


Lin Lixue sudah selesai bermeditasi 1 hari sebelum Liang Wei,  ia hanya mampu menyerap ribuan Kristal jiwa dalam waktu 2 hari karena itu sudah batasnya.


Berkat sumber daya yang ia serap, Lin Lixue telah mengalami peningkatan kekuatan, dari tingkat dasar tahap akhir ke tahap pemula tahap menengah.


Meskipun tidak secepat Liang Wei, namun Lin Lixue bisa dikatakan jenius, karena pada umumnya itu bisa dicapai ketika seorang pendekar berusia setidaknya 17 tahun.


Selain jenius, Lin Lixue juga pandai  menyembunyikan tingkat kekuatannya, sehingga orang – orang akan melihat dia hanya berada pada tingkat dasar tahap awal.


Itu adalah salah satu caranya mengelabui musuh, musuh akan menganggap remeh dia sehingga jadi lengah, Liang Wei pernah menjadi korbannya saat bertarung dengan Lin Lixue di dalam ujian seleksi penerimaan murid baru Perguruan Beladiri.


Saat bertarung, Lin Lixue dengan teknik indahnya membuat ia bisa mengimbangi seseorang yang memiliki kekuatan 2 tahap di atasnya.


Lin Lixue mengayunkan pedangnya dengan sangat indah, Gerakan itu sangat berkebalikan dari gerakan Liang Wei yang sangat brutal dan seperti tidak berpola.


Gerakan Lin Lixue sangatlah terlatih, beragam dan itu selalu berubah setiap saat sesuai dengan serangan yang datang.


Ia melakukan gerakan menusuk, menebas ke kiri dan ke kanan, dan diakhiri dengan sebuah putaran tubuh yang sangatlah indah.


Liang Wei sampai tak bisa memalingkan pandangan dari gerakan indah dan halus itu. Lin Lixue terlihat seperti menari untuk menghibur Liang Wei.


Liang Wei tidak sadar bertepuk tangan karena sangat menikmati pertunjukan yang Lin Lixue suguhkan.


Mendengar tepuk tangan itu, Lin Lixue menghentikan latihannya, ia reflek menoleh mencari asal suara tepuk tangan itu, walaupun ia sudah bisa menduga itu dari siapa.


Menoleh ke belakang, ia mendapati Liang Wei yang sedang bertepuk tangan dan tersenyum kepadanya.


Tanggapan yang ia berikan untuk Liang Wei adalah sebuah tatapan malaikat maut seperti biasanya.


Namun Liang Wei tidak terintimidasi dengan tatapan itu, karena ia selalu meilhatnnya setiap hari.


Dengan santainya Liang Wei berucap “berapa kali pun aku melihatnya, sungguh sangat indah.” sambil mengacungkan kedua jempolnya.


Lin Lixue hanya membalikkan badannya membelakangi Liang Wei dengan canggung, dari belakang Liang Wei dapat melihat telinga gadis kecil itu memerah.

__ADS_1


“hey kenapa kau malah berhenti?.” Liang Wei tetap saja bertanya seperti biasa, meski sudah tahu tidak akan mendapat jawaban dari Lin Lixue yang selalu sengaja bisu dihadapannya.


Alasan ia bertanya adalah ia hanya terbiasa bertanya pada Lin Lixue, Tentu saja hanya ada suara jangkrik setelah Liang Wei bertanya.


Berdiri lama seperti orang bodoh dengan Lin Lixue yang membelakanginya membuat Liang Wei bosan, apalagi dengan kesunyian itu.


“huffft, bersiap – siaplah!, kita akan berangkat ke ibukota sekarang juga.” Meski matahari belum terllihat, Liang Wei berniat untuk beranjak dari hutan itu.


Meski terlihat seperti tidak mendengarkan perkataan Liang Wei, namun Lin Lixue terlihat berjalan ke dekat api unggun yang hanya tinggal bara dan  langsung mengemas semua barang – barang seperti selimut dan barang lainnya yang ada di dekat api unggun itu, lalu memasukkannya kedalam cincin ruang pemberian Liang Wei.


Liang Wei paham, jika Lin Lixue sudah seperti itu berarti ia sudah siap. Ia pun berjalan menuju kuda yang sedang memakan rumput di dekat pohon yang terikat dengan tali kudanya.


Liang Wei melepaskan ikatan tali itu dari pohon, dan segera menaiki kuda itu.


“ayo.” Liang Wei mengulurkan tangannya kepada Lin Lixue.


Lin Lixue langsung meraihnya dan naik ke kuda itu, mereka pun melalukan perjalanan ke Ibukota.


--


Malam hari tiba, tepatnya tengah malam yang di temani purnama.


“akhirnya tiba juga.”  Liang Wei memasuki kota setelah memperlihatkan token murid Perguruan Beladiri.


Dengan santai Liang Wei mengendalikan kudanya untuk menuju ke Perguruan Beladiri Xijing.


di tengah perjalanannya itu, ia melihat seseorang yang sepertinya ia kenal beridiri di dekat salah satu bangunan dengan kakek yang mengenakan pakaian serba coklat.


Selain itu, ia juga melihat banyak orang terluka sedang duduk beristirahat yang di dekat kedua orang yang berdiri, sebagian dari orang yang teluka itu mengenakan pakaian biru seperti yang ia kenakan, sebagian lagi mengenakan pakaian coklat.


Ia menduga bahwa telah terjadi sesuatu di tempat itu, Ia pun mengendalikan kuda ke arah kedua orang yang sedang berdiri.


“Kakek Topeng Hitam, apa yang kau lakukan disini?.” Itulah sapaan yang Liang Wei berikan kepada Zhi Qiang yang sedang berdiri dengan Wei Min.


“Siapa bocah kurang ajar ini!.” Wei Min langsung membentak Liang Wei yang menyapa tanpa memberi hormat kepada orang yang lebih tua.


“Dialah solusi dari masalah ini.” Ucap Zhi Qiang.

__ADS_1


“apa kau sedang melawak?.” Ucap Wei Min dengan nada meninggi.


__ADS_2