Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Sepasang Siluman Hitam


__ADS_3

“aku akan memulainya!.” ucap Liang Wei.


Lin Lixue tiba – tiba memegang tangan Liang Wei, terlihat wajah cemasnya.


“tenang saja, aku akan melakukannya dengan hati – hati.” Liang Wei mencoba menenangkan Lin Lixue yang sedikit ragu dan khawatir.


“sekarang juga, lepaskan!.” Ucap Liang Wei.


Mendengar perintah Liang Wei, Lin Lixue langsung melepaskan auranya ke seluruh kota Wen.


“bagus! Kita menuju ke titik selanjutnya!.” Liang Wei lalu memegang tangan Lin Lixue lalu menghilang dalam kegelapan malam.


Liang Wei dan Lin Lixue muncul di sebuah gang yang sempit.


“lakukan!” Liang Wei memberikan perintah pada Lin Lixue, dan Lin Lixue segera melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, melepaskan auranya.


“selanjutnya.”


“lakukan.”


“selanjutnya.”


“lakukan.”


Mereka melakukan hal itu berulang – ulang hingga beberapa kali.


“woosh” Liang Wei dan Lin Lixue lalu muncul di atap bangunan paling tinggi yang berada di kota Wen.


“kita tinggal menunggu!.” Ucap Liang Wei dengan raut wajah serius.


“hmmm” Lin Lixue hanya menganggukkan kepala dengan wajah yang memerah.


“ada apa denganmu?, apa kau sakit?.” Liang Wei bingung melihat wajah dan telinga Lin Lixue yang memerah.


Berniat memeriksa keadaannya, ia memegang dahi Lin Lixue tanpa aba - aba.


Lin Lixue langsung mematung di saat Liang Wei melakukan hal itu.


“suhu tubuhmu cukup panas, tapi aku merasakan dingin pada telapak tanganmu.”


Liang Wei memegang dahi Lin Lixue dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya menggenggam tangan Lin Lixue.


Liang Wei dan Lin Lixue memang sedari tadi berpegangan tangan, Liang Wei harus melakukan itu agar dapat membawa Lin Lixue bersamanya untuk berpindah tempat dengan tekniknya.


“booom”


Tiba – tiba suara ledakan yang lantang terdengar, ledakan itu berkali - kali terdengar di beberapa titik.


Malam yang gelap menjadi terang akibat cahaya yang dihasilkan ledakan itu, seketika api berkobar di tempat ledakan - ledakan itu berasal.


“sudah dimulai!.” Liang Wei tersenyum menyaksikannya dari atas bangunan itu, sejak awal ia memang sengaja berada di situ agar dapat memantaunya, selain itu ia juga punya tujuan lain berada di tempat itu.

__ADS_1


Ledakan yang lantang itu membuat para penduduk di kota Wen jadi kaget dan terjaga dari tidurnya.


“apa ini?, apa kota sedang di serang?.” seorang kakek terjaga dari tidurnya, ia adalah penguasa di wilayah kota Wen, orang - orang biasa menyebutnya Raja Anming.


Ia segera menggunakan jubah perangnya,  dan berlari keluar dari kediamannya dengan tergesa - gesa, berniat memanggil para prajurit penjaga kota.


“Yang Mulia!.” Seseorang berlutut di depannya di saat  ia keluar dari kediamannya.


“Jenderal Fei, segera kumpulkan para prajurit!, buat mereka menjadi dua regu, satu regu untuk melawan musuh, dan satunya lagi untuk mengevakuasi para penduduk!.” Titah Raja Anming.


“Hamba laksanakan!.” Jenderal Fei segera berlari dengan cepat untuk melaksanakan titah itu.


Raja Anming pun tidak tinggal diam, ia berlari ke istana Raja Kota yang berdekatan dengan kediamannya, dengan cepat ia tiba di tempat tujuannya, namun tidak berhenti sampai disitu, ia tetap berlari dan menaiki atap istana.


Ia berniat melihat di titik mana ledakan itu terjadi, dan tempat paling strategis untuk melihatnya adalah atap istana yang merupakan bangunan tertinggi di kota itu.


“siapa kalian?.” Saat tiba di atap istana, ia tidak sengaja menemukan dua orang mencurigakan yang menggunakan jubah hitam, dan tudung yang menutupi kepala serta menyembunyikan sebagian wajah mereka.


“dari tubuh mungil itu, sepertinya keduanya hanyalah anak kecil, namun aku harus tetap waspada, itu mungkin hanya kamuflase.” Batin Raja Anming.


Kedua orang itu adalah Liang Wei dan Lin Lixue.


“hahahahahhaha.” Melihat Raja Anming, Liang Wei tertawa keras dengan suara seraknya yang berat.


Mendengar suara serak Liang Wei yang seperti pria dewasa, Raja Anming akhirnya mengambil sebuah konklusi tentang mereka berdua.


“Seperti dugaanku, tubuh itu hanya kamuflase, sepertinya untuk memudahkan mereka untuk  bergerak.” Batin Raja Anming, dan seketika Ia menjadi lebih waspada.


“bisa dikatakan seperti itu.” ucap Liang Wei acuh tak acuh.


“katakan tujuan kalian!.” Raja Anming hampir kehilangan kesabaran, ia dengan sengaja membocorkan aura pendekar tingkat tinggi tahap puncak miliknya.


“Kau bisa memanggil kami ‘Sepasang Siluman Hitam’.” Setelah mengucapkan hal itu, Liang Wei melepaskan tangan Lin Lixue, dan menanggalkan kalung yang selama ini selalu ia gunakan untuk  menyembunyikan auranya.


“ayah maafkan aku, aku akan mengingkari janjiku untuk tidak melepaskan kalung ini.” Batin Liang Wei yang mengingat kembali tentang Hong Cheung.


Hong Cheung memberikan ia kalung itu agar dapat menyembunyikan auranya, karena tidak setiap orang bisa menerima keadaanya sebagai Pendekar Hitam seperti Hong Cheung menerimanya.


Aura Hitam dari tubuh Liang Wei pun meledak, Aura itu bukanlah aura pendekar, sehingga tidak menunjukkan tingkat kekuatannya.


Aura yang merupakan kekuatan Jiwa yang Liang Wei bawa dari kehidupan sebelumnya.


Aura itu adalah Aura Iblis, aura yang hanya dimiliki oleh Bangsa Siluman dan Bangsa Iblis.


Bangsa Siluman adalah Iblis yang berevolusi ke tahap selanjutnya, sehingga aura yang mereka hasilkan akan lebih kuat daripada iblis itu sendiri.


Aura yang mereka hasilkan akan memberikan  tekanan mental dan perasaan jijik, hal itulah yang sekarang Raja Anming rasakan.


“aura apa ini?, apa yang terjadi padaku?.”


Seluruh tubuh Raja Anming merinding, ia tiba – tiba merasakan ketakutan yang mendalam, tiba – tiba ia muntah, dan bukan isi perutnya yang keluar, melainkan seteguk darah.

__ADS_1


“hentikan!!!.” Teriak Histeris Raja Anming sambil memegang kepalanya, karena tidak sanggup menahan tekanan mental akibat aura itu.


Liang Wei yang melihatnya hanya tersenyum tanpa menyipitkan mata. Tanpa mempedulikan keadaan Raja Anming, ia memegang kembali tangan Lin Lixue dan menghilang berdua di dalam kegelapan malam.


Kepergian Liang Wei dari tempat itu membuat Raja Anming bernapas lega, kendati demikian tekanan yang sebelumnya ia rasakan memberikan kesan yang buruk pada mentalnya, sehingga ia butuh beberapa waktu untuk meraih ketenangannya kembali.


“kedua  orang itu menjuluki diri mereka ‘Sepasang Siluman Hitam’, apakah aura yang kurasakan sebelumnya sama seperti julukan itu?.”


Raja Anming berasumsi tentang kemungkinan bahwa Liang Wei dan Lin Lixue benar – benar sepasang siluman yang berkeliaran di wilayahnya itu.


Seketika hatinya diliputi rasa khawatir, jika asumsi  itu benar, maka ia dan para penduduk bisa dipastikan berada di dalam bahaya yang sesungguhnya.


“aku yakin, akan percuma berhadapan dengan mereka (bangsa siluman), maka dari itu aku harus membawa para penduduk pergi sejauh mungkin.” Menurut Raja Anming, menghadapi bangsa siluman adalah sebuah hal bodoh.


Setelah mempertimbangkan segala hal, Raja Anming akhirnya memilih jalan untuk tidak memberikan perlawanan yang beresiko untuk keselamatan para prajurit.


Ia berlari tergesa – gesa mencari Jenderal Fei, berniat menarik kembali regu  prajurit penyerang, dan selanjutnya seluruh prajurit akan ia alihkan menjadi satu ragu yang hanya berfokus pada evakuasi para penduduk.


--


Liang Wei dan Lin Lixue muncul di ruangan tempat Chuang Li dan yang lain berada.


“aku sudaah….”


“hooekk” belum sempat Liang Wei menyelesaikan ucapannya, ucapannya sudah terpotong oleh seteguk darah yang ia muntahkan.


Lin Lixue yang cemas langsung menuju kebelakang Liang Wei dan mengalirkan tenaga dalam lewat punggungnya.


“apakah kalian penyebab ledakan itu?. dan lagi, ada apa denganmu?.” Chuang Li sedikit terkejut melihat keadaan Liang Wei.


“si*al, tingkat kekuatanku masih belum cukup untuk menggunakan aura itu.” batin Liang Wei.


Liang Wei mengenakan kembali kalungnya, dan segera menjawab pertanyaan itu.


“aku hanya terlalu banyak menggunakan tenaga dalam.” Liang Wei berbohong agar mereka tidak mempertanyakan detailnya.


“yang lebih penting, sekarang kita bisa melarikan diri, karena semua rencanaku sudah berhasil.” Lanjutnya.


“apa?, secepat itu kau menemukan solusi?.” Chuang Li, Ming Hao, Liu Changhai, dan Yang Huian kaget dan kebingungan mendengar perkataan Liang Wei.


Melihat kebingungan mereka, Liang Wei segera memberikan penjelasan singkat yang dapat mereka mengerti.


“jadi begini…”


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2