
“Jadi ini selingkuhanmu?.”
‘Ini lah alasan mengapa aku tidak membawanya ke penjara bawah tanah’
Sejak awal Liang Wei sudah tahu, Jing Mao akan mengacau jika tahu bahwa tujuannya adalah menyelamatkan Lin Lixue.
“Siapa dia?.” Lin Lixue melepaskan genggaman tangan Liang Wei dengan kasar dan menatapnya dengan tajam.
Jing Mao dan Lin Lixue memberi tatapan menyelidik satu sama lain.
‘Aku sudah tahu ini akan terjadi.’ Pikir Liang Wei dengan wajah datar.
“Xue’er dia adalah…”
Liang Wei tiba – tiba terdiam, tidak mungkin ia mengatakan bahwa ‘Jing Mao adalah selirnya’.
Perkataan seperti itu akan mengundang kesalahpahaman, sedangkan tubuhnya masih terlalu muda untuk memiliki selir.
Kalaupun Lin Lixue percaya, ia pasti akan bertanya lebih banyak hingga akarnya, hal itu yang paling dihindari Liang Wei.
Selain itu, meskipun ia sepenuhnya percaya pada Lin Lixue, tapi ia tidak berniat mengungkap jati dirinya untuk beberapa alasan.
“Aku adalah calon istrinya!.”
Dengan lantang Jing Mao mengucapkannya dan melompat memeluk lengan Liang Wei.
Jing Mao mengirim pesan telepati pada Liang Wei ‘Kau berutang lagi satu padaku’ katanya sambil mencubit lengan Liang Wei.
Meski sedang marah, Ia dengan cepat memberikan dukungan kepada Liang Wei, agar Lin Lixue tidak bertanya ke arah yang tidak Liang Wei inginkan.
Kini Lin Lixue menatap Liang Wei seperti sampah, Liang Wei pun bingung harus berkata apa.
Kini hanya satu solusi, solusi yang ia maksud adalah.
“Aku baru ingat!, masih ada urusan yang perlu ku selesaikan.” Ucap Liang Wei. Lalu, melepaskan Jing Mao dari lengannya.
Solusi itu adalah melarikan diri, tak cukup setengah detik Liang Wei sudah tidak ada di tempat itu.
Setelah kepergian Liang Wei, kedua gadis itu saling menatap tajam dengan intens.
“Aku tahu siapa kau!, kau yang selalu bersama dengan Wei’gege kan?.” Tanya Jing Mao dan dengan sengaja ia menekankan panggilan khusus yang ia buat - buat.
Tentu saja itu berhasil membuat Lin Lixue naik darah. “Apa Wei’gege?.”
“Kenapa?, kau belum sampai pada tahap memanggil namanya seperti itu, kan?.” Jing Mao memberikan serangan argumen kedua.
Itu berhasil dengan telak, Lin Lixue terlihat berkecil hati dan menunduk, tapi beberapa saat ia mendongak dan tersenyum mengejek.
“Aku tidak percaya bahwa kau adalah calon istrinya, dia tidak akan pernah jatuh cinta padamu, karena dia sudah jadi milikku.”
Setelah mengatakan itu Lin Lixue memperlihatkan sesuatu pada Jing Mao, dan itu berhasil membuatnya jengkel.
“Cepat putuskan tali itu, kalau tidak, aku akan membunuhmu!.” Jing Mao kini tidak bisa tenang, sudah sejak lama ia menyadarinya, tapi baru kali ini ia melihat benda itu.
“Aku tidak dapat mati jika Liang Wei tidak mati.” Lin Lixue menyeringai, namun matanya tidak menunjukkan kebohongan, sehingga Jing Mao jadi gelisah.
Jing Mao menghela napas panjang, lalu berkata “Untuk saat ini, aku akan melepaskanmu, tapi ingat, aku akan tetap mengawasimu!.” Nada suaranya jelas mengancam.
Ia lalu berlari ke arah Ibukota, Lin Lixue mengikuti dari belakang.
“Jangan mengikutiku!.” Jing Mao risih melihat gadis kecil itu mengejarnya.
Keduanya sama – sama risih, tapi tujuan mereka adalah tempat yang sama.
Suaranya yang dingin mengiringi jawaban Lin Lixue “Enggan bagiku untuk mengikuti perempuan tak tahu malu sepertimu, aku hanya pergi mencari Liang Wei.”
“Kau!.” Jing Mao berbalik dan menunjuk Lin Lixue.
Tetapi tak berapa lama ia menurunkan telunjuknya seakan terpaksa. Lalu, melanjutkan perjalanan kembali.
__ADS_1
Jing Mao malas berdebat, ia hanya mendengus dan tetap menggerakkan kedua kakinya dengan cepat.
Jing Mao bisa saja terbang, tapi sebelumnya Liang Wei sudah memperingatinya untuk tidak melakukan itu, karena akan menarik perhatian.
Hanya Pendekar tingkat tertinggi ke atas yang bisa terbang, berarti bocah yang mampu terbang akan dianggap tidak biasa, ujung – ujungnya mereka diincar dan dibunuh.
--
Di Pusat Ibukota..
Liang Wei muncul di puncak menara Istana Kekaisaran. Tempat paling tinggi di Ibukota.
“Aku tidak boleh mencolok.” Ucapnya sambil memasang kembali kalung penyembunyi kekuatannya.
Liang Wei berniat tidak ikut andil melawan Pendekar Hitam itu, jika ia melakukannya maka secara otomatis orang – orang akan mempertanyakan tingkat kekuatannya.
Berada pada rana yang tinggi berarti berada pada bahaya yang tinggi, Liang Wei tak ingin mengambil resiko, sehingga ia tidak akan sembarangan memperlihatkan kekuatannya di depan umum.
“Aku hanya perlu menyelamatkan para penduduk yang belum terevakuasi.”
Itulah prioritasnya, ia sangat yakin bahwa para Pendekar Aliran Putih akan memenangkan perangnya, karena itu ia menyerahkan urusan pertarungan kepada senior – seniornya.
Liang Wei menyentuh lantai tepat dimana bayangannya berada.
“hemm, sepertinya sebagian penduduk telah dievakuasi di ruang bawah tanah, namun masih banyak yang berusaha menyelamatkan diri.”
Liang Wei mendeteksi dan mengunci orang – orang yang perlu ia evakuasi lalu menghilang dari tempat itu.
--
Sebelumnya..
“Lakukanlah rencana itu di sini!.” Jing Mao menggangguk dan melakukan hal yang Liang Wei perintahkan.
“Tunggu dulu!.” Liang Wei hampir lupa akan suatu hal. ‘Jika hal itu ku lakukan di sekitar area ini, maka orang yang menyandera Lin Lixue akan menyadarinya’
“Ada apa?.” Jing Mao bertanya.
Jing Mao tak paham maksud dan tujuan Liang Wei. “aku mengerti.” Meski begitu Ia memilih tak mempertanyakannya.
Jing Mao pun melakukan telepati skala luas yang akan didengarkan oleh seluruh manusia yang berada di Ibukota dan Hutan di dekatnya, kecuali di sekitar area Jing Mao berada.
Isi dari pesan telepati itu adalah
“Sesuatu berwarna hitam yang kalian inginkan tidak berada di tempat kalian bertarung..” artinya Kitab Hitam itu tidak berada di Ibukota dan Hutan area Zhang Bingjie bertarung.
“..silahkan lanjutkan pertarungan kalian, dan aku akan melenyapkan sesuatu yang kalian inginkan itu.” Itu bermaksud memberikan ancaman, bahwa Kitab Hitam itu akan dihancurkan jika Zhang Bingjie tidak segera mencarinya.
Pesan itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang mengincar Kitab Hitam, pihak lain yang tidak terlibat tidak akan tahu - menahu mengenai itu.
Zhang Bingjie di seberang hutan menjadi pucat setelah mendengar isi pesan itu.
Ia langsung memberi isyarat kepada rekan – rekannya agar tak membuang - buang waktu lagi mencari Kitab itu.
Para Pemimpin Sekte Aliran Hitam juga memahami isi pesan itu, mereka juga menjadi pucat, tapi dengan alasan yang berbeda.
Alasannya tidak lain, karena mereka khawatir jika Zhang Binjie sudah mendapatkan apa yang ia mau, maka ia bersama kelompoknya sudah tidak memiliki alasan lagi untuk campur tangan dalam perang itu.
Zhang Bingjie bersama rekannya yang meninggalkan Aliansi akan memberikan kerugian yang besar, karena di sisi Aliansi Para Pendekar Hitam, tidak ada ahli Pendekar Mutlak.
“Aku sudah melakukannya!.” Jing Mao sudah menyampaikannya tanpa tahu dampak apa yang terjadi setelah ia menyuarakan pesan itu.
--
Liang Ye dan para leluhur tiba di Ibukota, Mereka langsung menyapu para Pendekar Aliran Hitam.
“Sial, jika mereka berada di disini, berarti kelompok Zhang Bingjie telah pergi dari medan perang.” Apa yang para Pemimpin Sekte Aliran Hitam itu khawatirkan, akhirnya terjadi.
“Kita harus pergi dari sini.” Para pemimpin sekte itu saling mengangguk satu sama lain.
__ADS_1
“Bagaimana dengan para pengikut kita?.”
“Masa Bodoh dengan para pengikut dungu itu, kita harus pergi daripada mati konyol di sini.”
“Liang Ye tua itu menutup jalan keluar kita.” Salah satu dari mereka memberikan laporan yang semakin menambah kepanikan.
“Apa?.”
Tidak ada jalan pergi dari tempat itu, mereka hanya memiliki satu cara “Cepat cari sandera, gunakan manusia tak berguna semacam mereka untuk membawa kita keluar dari sini!.”
Perdebatan itu mereka lakukan melalui telepati, dan pada akhirnya mereka semua sampai pada kesepakatan yang sama.
“Itu dia, cepat tangkap anak kecil itu berserta ibunya.” mereka melihat dua orang penduduk yang mencoba menyelamatkan diri dari pertarungan yang brutal itu.
Mereka menyeringai dan melompat ke arah ibu dan anak itu, tapi sekelebat bayangan yang datang entah dari mana, mendahului mereka dan membawa kedua orang itu menghilang dari sana.
“Sial, siapa orang itu!.” mereka kesal karena sanderanya hilang begitu saja oleh sosok yang tidak mereka ketahui.
Mereka akhirnya terus berlari mengelilingi Ibukota sambil menghindari Liang Ye dan para leluhur ahli Pendekar Mutlak.
“Tidakkah kalian merasa aneh?, kenapa dari tadi tidak ada satupun penduduk disini?.” Setelah berjalan jauh, akhirnya menyadari keanehan itu
Di Ruang Evakuasi Bawah Tanah…
‘Sepertinya sudah semuanya’ Liang Wei membawa penduduk terakhir yang ia evakuasi.
“Kalian semua sudah aman, ruang bawah tanah ini diawasi oleh para leluhur..”
“..carilah keluarga kalian di sini, karena aku sudah mengevakuasi seluruh penduduk di segala sudut Ibukota..”
“..jika anggota keluarga kalian tidak ada di sini, maka sudah bisa dipastikan bahwa mereka telah tiada.”
Ada sebagian dari mereka yang menangis karena kehilangan keluarganya, ada pula yang senang karena telah dipertemukan lagi bersama orang yang mereka sayangi.
Tapi satu hal sama yang pasti mereka rasakan adalah terharu dan sangat berterima kasih kepada Liang Wei yang telah memberikan mereka kesempatan hidup lebih lama.
“Siapa namamu, kakak?.” Yang bertanya adalah salah satu dari anak kecil yang Liang Wei selamatkan.
“Liang Wei.” Ucapnya lalu menghilang dari tempat itu.
Liang Wei muncul di Kamarnya, tepatnya di asrama Perguruan Beladiri Xijing.
“Dengan begini semuanya sudah selesai.” Gumamnya dan berbaring santai untuk istirahat.
“Tapi kita belum selesai.”
Liang Wei mendengar suara yang familiar baginya, ia langsung mengintip ke bawah tempat tidurnya. Seperti yang ia duga, itu adalah orang yang ada dalam pikirannya.
‘Memang mustahil melarikan diri dari siluman kucing ini’
Liang Wei menghela napas menatap Jing Mao yang kini keluar dari kolong tempat tidur dan menepuk - nepuk pakaiannya.
Tanpa diduga Lin Lixue juga muncul dari tempat yang sama, sehingga membuat Liang Wei panik.
‘Aku harus berpikir cepat untuk terhindar dari krisis ini’ pikir Liang Wei yang kini berkeringat dingin.
“Jing Huli ada di belakangmu!.” Liang Wei berteriak dengan wajah panik.
Mendengar kata – kata itu, Jing Mao langsung menoleh kebelakang dengan waspada. “Di mana wanita rubah licik itu?.”
Sedangkan Lin Lixue penasaran dan ikut berbalik “Siapa lagi Jing Huli itu?.”
Tetapi setelah mereka berdua berbalik. “Eehh tidak ada siapapun?.” Ucap Jing Mao sambil mengerutkan kening.
Lin Lixue tiba – tiba membelalakkan matanya menyadari sesuatu, dengan cepat ia kembali melihat kedepan dan mendapati bahwa Liang Wei sudah tidak berada pada tempatnya.
“Dia menipu kita!.” Seperti biasa, suara yang keluar dari mulut Lin Lixue sedingin es.
“Kita harus menangkapnya!.”
__ADS_1
Entah sejak kapan mereka berdua akrab dan bekerja sama untuk tujuannya, yang pasti ada kesepakatan dibaliknya.