Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Gadis Kecil


__ADS_3

Di suatu tempat yang tidak diketahui oleh manusia, di ruangan yang sangat luas namun gelap, terlihat jutaan mahluk yang bukan manusia sedang berkumpul.


Mereka berbaris dengan rapi, terlihat hamparan mereka memenuhi ruangan itu, mereka sedang menghadap pemimpinnya.


“yang mulia, penantian kita setelah sekian lama akhirnya terjawab.” Ucap salah satu dari mereka.


“kau benar, aku dapat merasakannya, kita bisa melakukannya  sekali lagi dan selamanya.” Jawab pemimpin mereka sambil tersenyum tanpa menyipitkan mata.


“kalau begitu, kapan kita akan memulai rencana itu yang mulia?.” Bertanya salah satu dari mereka.


“dalam waktu dekat, hahahaha.”  Jawab pemimpin mereka sambil tertawa keras.


jutaan dari mereka ikut tertawa, membuat ruangan luas itu bergema.


Aura mereka juga memenuhi ruangan itu, ruangan yang semula gelap menjadi gelap gulita.


--


Pagi hari di kota Xijing.


Terlihat antrian panjang ribuan manusia di depan gedung perguruan beladiri Xijing.


antrian itu adalah para generasi muda yang sedang mendaftar untuk mengikuti seleksi penerimaan murid baru.


Generasi muda yang dimaksud adalah mereka yang berumur tidak lebih dari 20 tahun.


Rata – rata dari mereka yang mendaftar adalah anak berumur 10 hingga 15 tahun.


namun banyak juga dari mereka yang berumur hampir 20 tahun, mereka adalah para generasi muda yang telah mencoba bertahun – tahun untuk masuk ke perguruan itu.


di antara ribuan orang yang mendaftar ada 2 orang yang sangat mencolok.


Mereka berdua terlihat mencolok karena mengikuti ujian di umur 7 tahun.


Kejadian itu sangat langka, dalam sejarah penerimaan murid di perguruan beladiri Xijing, ini pertama kalinya ada pendaftar dengan umur semuda itu.


Salah satu dari keduanya adalah Liang Wei dan yang satunya lagi adalah gadis kecil yang tidak dikenal.


Liang Wei saat itu sedang mengantri dan berdesak - desakan dengan para pendaftar lainnya.


“si*lan, kenapa aku harus mengantri di sini, dan juga kemana tua bangka itu pergi.”


Liang Wei sepanjang saat memasang raut wajah kesal.


Dia sangat bosan karena sudah lama mengantri namun gilirannya tak kunjung datang.


Tiba – tiba saja, terjadi hal yang membuat suasana hatinya makin memburuk.


“hey gadis kecil, mengapa kau ada disini?, lebih baik kau pulang saja bermain dengan ibumu.”

__ADS_1


Selang 5 orang di belakang  Liang Wei, Telihat 2 anak laki – laki berumur 15 tahun sedang merudung gadis kecil yang seumuran dengan Liang Wei.


Gadis itu tidak menanggapi keduanya. kedua anak laki – laki itu menjadi geram, salah dari mereka angkat bicara.


“beraninya kau mengabaikan tuan muda Ding Bang.” Ucap salah satu dari mereka dengan pakaian serba merah.


“Guo Tin, anak ini mungkin takut.” Ucap Ding Bang dengan pakaian serba putih.


Perkataan itu di tanggapi dengan tatapan tajam oleh gadis kecil itu.


“hey gadis kecil, beraninya kau memberikan tatapan seperti itu padaku.” Ucap Ding Bang.


“mungkin dia perlu diberi pelajaran, tuan muda.” Saran Gou Tin.


“kalau begitu lakukan apa yang kau mau.” Ucap Ding Bang menyetujui saran Guo Tin.


Dengan cepat Guo Tin mengeluarkan pedang dari cincin ruangnya, pedangnya Ia hunuskan dan hendak ia tusukkan ke perut gadis kecil itu.


Namun ketika jarak pedangnya dari tubuh gadis itu hanya tinggal 1 langkah, seseorang tiba – tiba meninju dadanya sehingga ia terpental sejauh 10 meter.


“boom” suara letupan yang lantang akibat pukulan itu.


Kejadian itu tidak ia duga sama sekali, bahkan Ding Bang yang menyaksikan dari awal, tidak dapat melihat dari arah mana orang itu datang.


“jangan membuat keributan di saat suasana hatiku sedang buruk.” Ucapnya dengan dingin.


“kau lah yang membuat keributan yang paling ribut barusan.” Pikir mereka yang menyaksikan kejadian itu.


“hey siapa kau!.” Teriak Ding Bang yang sedang membantu Gou Tin berdiri.


“aku Liang Wei, tapi tidak usah perkenalkan diri kalian, Karena itu tidak penting.” Jawab Liang Wei dengan wajah datar yang tidak antusias.


“lancang sekali kau kepada tuan mud..uhuk uhuk” sebelum menyelesaikan ucapannya, Gou Tin memuntahkan seteguk darah.


“hey tuan muda apalah, pergi cepat obati an**ngmu itu, aku melihat ada sesuatu yang retak di dadanya.” Ucap Liang Wei mengejek.


“aku akan mengingat kejadian ini.” Ucap Ding Bang dengan tatapan tajam.


“aku akan melupakan kejadian tidak penting ini.” Balas Liang Wei dengan santai.


Ding Bang hanya berlalu dan membawa Gou Tin untuk di obati. Setelah keduanya pergi, Liang Wei kembali ke antriannya tanpa mempedulikan tatapan semua orang.


Semua orang itu menatapnya bukan karena kagum atau takjub, tapi karena telah mendengar suara Liang Wei yang aneh.


Liang Wei sudah tiba di antriannya lagi, tapi ia merasakan ada hal aneh, ia merasa seperti ada yang mengawasi dan mengikutinya dari tadi.


Liang Wei reflek berbalik kebelakang, saat ia berbalik ia tidak sengaja melihat tatapan mata tajam seseorang.


“kenapa kau mengikutiku, gadis kecil ?.” Ucap Liang Wei dengan raut wajah datar kepada orang yang memberinya tatapan tajam.

__ADS_1


Ternyata gadis kecil itu dari tadi mengekor di belakang Liang Wei.


Gadis kecil itu tidak menanggapi perkataan Liang Wei, dia hanya bungkam sambil tetap terus konsisten dengan tatapan tajamnya.


“apa ini?, apa barusan dia mengabaikanku?.” Batin Liang Wei.


“hey apa kau mendengarku? Ada apa dengan tatapanmu itu?.” Ucap Liang Wei kembali kepada gadis kecil itu.


Namun gadis kecil itu tetap tidak menanggapinya, membuat urat di dahi Liang Wei sedikit muncul.


Liang Wei kemudian menarik napas yang dalam untuk menenangkan diri.


“sudahlah, lebih baik aku abaikan saja, mungkin dia bisu dan matanya kelilipan.” Batin Liang Wei berpikir positif mencoba menenangkan diri.


Liang Wei kemudian kembali menghadap ke depan.


Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya tiba giliran dia mendaftar.


“nama?.”


“Liang Wei.”


“umur?.”


“7 tahun.”


“benarkah umurmu 7 tahun?, bagaimana dengan suaramu itu?.” bertanya panitia itu dengan mengerutkan kening.


“itu adalah bawaan sejak lahir.” Ucap Liang Wei dengan santai.


“kemarikan tanganmu.” Ucap panitia itu. ia kemudian memegang pergelangan tangan Liang Wei bermaksud memeriksa umur tulangnya.


“dia benar – benar berusia 7 tahun.” batin panitia itu dengan mata sedikit membulat.


“apakah kau yakin sanggup mengikuti seleksi ini?, kau bahkan tidak memiliki tenaga dalam.”


“aku yakin.” Singkat saja Liang Wei menjawab.


“huftt, baiklah,tapi resikonya kau tanggung sendiri, silahkan masuk ke ruang tunggu.” Ucap panitia itu.


Liang Wei kemudian berjalan dengan santai  berniat memasuki ruang tunggu, Namun saat ia baru berjalan 2 langkah, ia tidak sengaja mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia dengar.


“nama?.”


“Lin Lixue.”


Ia reflek berbalik dan saat ia berbalik, urat didahinya muncul dengan tegas menandakan bahwa ia benar  - benar sedang kesal.


“ini menyebalkan, ternyata dia tidak bisu.” Batin Liang Wei melihat gadis kecil itu baru saja berbicara dengan panitia.

__ADS_1


 


 


__ADS_2