Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Gadis Barbar


__ADS_3

Beberapa jam setelah Ming Hao dihajar oleh Liang Wei.


Kondisi Ming Hao sudah membaik, ia sudah sadarkan diri setelah mendapatkan pertolongan dari tabib, namun ia tidak bisa bergerak terlalu banyak, Karena tubuhnya masih trauma akibat pukulan Liang Wei.


Kejadian hari itu tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup, begitu juga dengan Liu Changhai.


Mereka baru sadar, bahwa tidak semua akan Pendekar memperlihatkan senjata di depan mata, ada beberapa dari mereka yang menyembunyikan senjata di balik jubahnya.


Mereka berdua tidak akan pernah meremehkan kekuatan seseorang lagi.


Mereka berdua pun meminta maaf kepada Liang Wei dan Lin Lixue karena sebelumnya telah menyinggungnya.


Mereka sengaja melakukan itu agar tidak mendapatkan masalah saat perjalanan nanti, karena biar bagaimanapun mereka akan jadi rekan seperjalanan Liang Wei dan Lin Lixue.


Liang Wei pun menerima permintaan maaf itu dengan baik.


Lin Lixue hanya berwajah datar, tidak menanggapi apapun, namun Liang Wei menjelaskan bahwa Lin Lixue akan bertingkah baik selama mereka tidak memulai masalah.


Mereka pun berjalan bersama menuju ke Kereta Kuda yang akan mereka gunakan untuk perjalanan nanti.


“paman, dimana Tuan Putri itu?.”


Mendengar pertanyaan itu langkah Ming Hao dan Liu Changhai berhenti.


“seingatku tadi dia ada di ruangan itu.” ucap Ming Hao.


“seingatku tadi aku tidak melihatnya di ruangan itu.” ucap Liang Wei.


“sejak awal?.” Ucap Liu Changhai.


“sejak awal.” Jawab Liang Wei, dan Chuang Li menganggukkan kepala setuju.


“gawat.”


Mereka berdua jadi panik, sepertinya Tuan Putri itu membuat ulah lagi.


“apakah Tuan Putri adalah orang yang suka berbuat seenaknya?.” Tanya Liang Wei.


“bagaimana kau tahu nak?.”  Jawab Ming Hao dan Liu Changhai bersamaan.


Liang Wei menunjuk ke luar gerbang, terlihat seorang gadis berumur 10 tahun menginjak punggung seorang prajurit yang sedang sedang berjongkok.


Gadis itu mengenakan jubah putih yang terlihat mahal. Meskipun ia baru berumur 10 tahun, namun kecantikannya telah memancar, ia memilki kulit seputih salju, mata yang indah dan hidung yang mancung.


Namun dengan sifat yang ia miliki, entah mengapa tidak ada yang mengagumi penampilannya.

__ADS_1


Sebelumnya….


“Tuan Putri, sudah ada kereta kuda, apa masalahnya Tuan Putri?.” Ucap Prajurit itu.


“aku tidak suka, ambilkan aku yang lain.” Ucap Tuan Putri itu.


Prajurit itu tidaklah bodoh, ia tahu itu hanya alasan Tuan Putri untuk kabur dari tempat itu.


“aku tidak bisa meninggalkan tempat ini Tuan Putri, aku sudah ditugaskan untuk tidak membiarkan anda pergi sendiri.”


Prajurit itu tidak mau menyerah, hal itu membuat Tuan Putri jadi kesal.


“kalau begitu, jongkok!”


Prajurit itupun terpaksa berjongkok, dan tanpa ia duga Tuan Putri itu menginjak punggungnya dengan satu kakinya.


“jika kau tidak ingin pergi, baiklah, kau akan jadi tempat sepatu ku berpijak.”


Bukan hanya punggungnya yang terinjak, namun harga dirinya juga, Prajurit itu hanya bersabar berharap ada yang akan menolongnya.


“Tuan Putri tolong hentikan, kita akan berangkat sekarang juga.” Ming Hao datang menegurnya.


Prajurit itu akhirnya bernapas lega setelah Ming Hao datang, ia membungkuk sedikit sambil menangkupkan kedua tangannya kepada Ming Hao, Ming Hao hanya mengangguk.


“cih.” Gumam Tuan Putri itu, lalu berjalan memasuki Kereta kuda dan membanting pintunya.


“kalian harus berada di kereta yang sama dengan Tuan Putri.” Ucap Ming Hao kepada Liang Wei dan Lin Lixue.


Mereka berdua pun berjalan memasuki kereta kuda yang tadi dimasuki oleh Tuan Putri itu.


Saat Liang Wei membuka pintu kereta itu, terlihat wajah Tuan Putri sangat kesal memandangnya.


“untuk  apa kalian berada di sini?.” Ucap Tuan Putri saat Liang Wei dan Lin Lixue masuk ke kereta itu.


Liang Wei sudah berpengalaman menghadapi orang seperti Tuan Putri itu. meskipun dalam hati Liang Wei kesal tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkannya.


“tidak masalah kami berada di sini, Gadis jelek.” Ucap Liang Wei.


“apa? Jelek?.” Tentu saja Tuan Putri itu tersinggung, ia tidak pernah diperlakukan seperti itu.


“iya namamu Gadis Jelek kan?.” Ucap Liang Wei dengan wajah datar.


“namaku Yang Huian, bukan Gadis jelek.” Jawab Yang Huian dengan kesal.


“tetap saja kau Gadis jelek, kau diam saja dan nikmati perjalanan ini.” Ucap Liang Wei acuh tak acuh.

__ADS_1


“kau? rakyat jelata memerintahku?.” Yang Huian akhirnya menunjukkan sifat sombongnya sebagai seorang anak Kaisar.


“itu bukan perintah, tapi aku menyelamatkanmu dari dia.” Ucap Liang Wei sambil mengarahkan matanya kepada Lin Lixue.


Yang Huian pun mengalihkan pandangannya pada Gadis kecil yang berada di samping Liang Wei, dan saat itu juga entah mengapa dia jadi terdiam dan pucat, lalu menundukkan kepala.


“apa ini?, kenapa aku menunduk?, apa aku takut?.” Batin Yang Huian.


Ini adalah hal baru baginya, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia takut melihat tatapan seseorang.


Liang Wei menyadari Lin Lixue memang dari tadi memelototi Yang Huian. Ia berpikir mungkin Lin Lixue juga tidak menyukai Tuan Putri itu, terpancar kebencian dari tatapan mata Lin Lixue.


Lin Lixue kemudian memegang lengan Liang Wei sambil tetap memelototi Yang Huian.


“hey gadis aneh, apa yang kau lakukan?.” Tanya Liang Wei.


Lin Lixue hanya memberi tatapan tajam pada Liang Wei seperti biasa.


“huffft terserah kau.” Ucap Liang Wei sambil menghela napas.


Liang Wei  memilih untuk mengalah saja, ia tahu sifat keras kepala Lin Lixue.


Akhirnya kereta itu jadi sunyi tanpa ada suara yang terdengar, kesunyian itu baru terpecah ketika kusir mulai mengendalikan kuda untuk menarik kereta.


Kereta itu pun berjalan dengan kecepatan sedang, tidak terlalu cepat, juga tidak terlalu lambat.


Kecepatan kereta itu tidak berubah hingga keluar dari gerbang kota Xiijing dan menuju ke jalur hutan, jalur satu – satunya menuju ke Kekaisaran Yang.


Banyak bahaya di dalam hutan itu, itu lah kenapa rombongan itu membutuhkan pengawal dari Perguruan Beladiri Xijing.


Bahaya yang dimaksud tidak lain adalah Para Hewan Spiritual, Hewan Spiritual yang sering muncul adalah yang memiliki kekuatan yang setara dengan Pendekar Tingkat Pemula Tahap Akhir.


bahkan kadang ditemukan Hewan Spiritual yang setara dengan Pendekar Tingkat Mahir tahap Akhir.


Liang Wei sudah menduga bahaya itu cepat atau lambat akan mereka hadapi, maka dari itu ia tetap terjaga dan tidak mengendorkan kewaspadaanya.


Liang Wei yang tidak pernah menggunakan Pedang Ganda Kaisar Siluman kini mempersiapkannya di balik jubahnya, ia sadar jika pertarungan kali ini akan mempertaruhkan nyawa, jadi ia tidak bisa main - main.


Namun semua persiapan yang dilakukan oleh Liang Wei entah mengapa sia - sia, karena tidak ada hal yang terjadi selama beberapa jam perjalanan di hutan itu.


“ada apa ini?, kenapa dari tadi tidak ada hewan spiritual, entah mengapa aku merasa ada hal yang tidak beres di sini.” Batin Liang Wei.


Liang Wei mulai berfirasat buruk, ia merasa ada suatu hal yang berbahaya menantinya di depan.


Firasat itu tidaklah  salah, karena tidak lama setelah itu terlihat banyak orang dengan pakaian hitam  mengepung kereta kuda rombongan Yang Huian.

__ADS_1


“hahaahahah akhirnya kita mendapatkannya.”


__ADS_2