Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Membuat Kekacauan


__ADS_3

Liang Wei tidak menampakkan diri di depan Kaisar Huifang, ia hanya berbicara melalui telepati agar tak mengundang kehebohan tawanan lain yang meminta dibebaskan.


‘Kaisar Huifang!, aku Liang Wei dari Kekaisaran Yin akan menyelamatkanmu, tetapi aku butuh waktu yang tepat untuk melakukannya,  jadi aku meminta maaf karena harus membuatmu bersabar lebih lama lagi.’


Kaisar Huifang tersenyum, sudah lama ia menantikan ada suara yang terdengar di dalam kepalanya, karena sejak awal ia yakin penolongnya akan berbicara menggunakan cara itu ‘Meski suaramu berat, tetapi aku bisa mengingatmu nak…aku baik – baik saja, jadi, lakukan seperti yang kalian rencanakan!’


Setelah mengatakan beberapa rencananya, Liang Wei pergi dari tempat itu.


Kini tujuannya memeriksa setiap sudut ruangan dan siapa saja yang berada di ruangan – ruangan dalam Istana itu.


Dia sangat lihai seperti pembunuh senyap yang mahir bersembunyi, bahkan Para Pendekar Mutlak itu tidak menyadari kehadirannya, aura hitam pekatnya menyatu dengan kegelapan malam, sehingga siapapun tidak dapat merasakannya kecuali ia sendiri yang menampakkannya.


Liang Wei sedang mencari ruangan Cao Pi yang sejak awal ia incar. Sampai pada ruangan paling dekat dengan Aula Kekaisaran, ruangan Kaisar Huifang, akhirnya ia melihat seseorang yang dicari.


Aura membunuh Liang Wei hampir bocor, melihat wajah Cao Pi membawanya pada kenangan buruk dalam ingatan yang ayahnya berikan, meski begitu ia tetap tenang demi sebuah rencana besar untuk menang, sebuah rencana besar yang bisa menebus dirinya yang selama ini terpaksa bersabar.


Liang Wei tidak berlama – lama di tempat persembunyiannya, ia pergi dari situ dan hendak kembali ke kamar Yang Huian.


Setelah Liang Wei pergi “Apa itu barusan?.” Cao Pi merasakan sedikit aura membunuh yang ditujukan kepadanya. Tetapi itu hanya sepersekian detik sehingga berpikir “Sepertinya hanya perasaanku saja.”


--


Liang Wei tiba di kamar Yang Huian…


Liang Wei melihat ketiga murid di depannya bersama dengan angin putus asa yang mereka tiupkan.


Liang Wei tersenyum dan bertanya seolah tidak tahu “Ada apa dengan kalian?.” Bohong jika ia tidak tahu bahwa penyebabnya adalah dirinya sendiri.


“Se-senior Wei, sepertinya mental Da Ru tidak sanggup menerima guncangan.”

__ADS_1


“Oh, benarkah?.” Dengan nada suara santai Liang Wei menaikkan satu alisnya.


Mendengar pertanyaan Liang Wei, Ting Zhe menganggukan kepala dan Xiao Ba di dekatnya membenarkan.


Liang Wei mendekati Da Ru yang masih duduk di lantai dengan tatapan kosong dan menepuk pundaknya sembari berkata dengan dingin “Jika kemauanmu adalah mati sekarang, aku bisa mengabulkannya detik ini juga…tetapi jika kau masih ingin hidup, turuti perintahku tanpa berpikir macam – macam!.”


Ia jelas ketakutan mendengar ucapan itu, tanpa berani menatap mata Liang Wei , ia berbalik menyeret tubuhnya beringsut – ingsut ke pojok ruangan, di pojok ruangan ia duduk membelakangi Liang Wei sembari  menutup kepalanya dengan kedua tangan seolah akan ada sesuatu yang menimpanya.


Liang Wei mendengus kesal “Pengecut sepertimu tidak dibutuhkan dalam dunia ini, kau akan mati berkali – kali dengan kenaifanmu yang luar biasa.”


Memang kejam, tetapi menghadapi dunia pendekar yang sebenarnya jauh lebih kejam, dan untuk itu mereka harus diingatkan dengan cara kejam.


Kata – kata itu sangat mengena di hati kedua murid selain Da Ru, sejak awal Liang Wei berkata akan menjadikan mereka singa, tetapi menjadi singa atau tidak adalah keputusan mereka sendiri.


Jika mereka masih memelihara kenaifannya, maka selamanya mereka tak akan pernah menjadi singa.


Tatapan mata Ting Zhe dan Xiao Ba berubah serius “Terima kasih Senior Wei, kami akhirnya tahu maksud perlakukan kejammu selama ini!.”


Detik itu kedua murid itu mulai memandang Liang Wei secara berbeda, mereka bisa melihat kebaikan di balik kegalakannya, jika Liang Wei ingin membunuh mereka, maka sedari awal ia bisa melakukannya dengan mudah tanpa keringat sedikitpun.


Tetapi yang Liang Wei lakukan pada mereka bertiga hanya mengancam dan mengancam tanpa membunuh,  ancaman itu pun tak lain untuk kebaikan mereka semua, karena dengan ancaman barulah mereka akan menurut dengan pasti.


Liang Wei tidak menggubris ucapan terima kasih itu, ia mengalihkan pembahasan kepada Da Ru “Sepertinya dia butuh waktu, biarkan dia seperti itu sampai esok pagi, tetapi sembuh atau tidak sembuhnya dia, kalian harus tetap menjalan misi sesuai rencana, apa kalian mengerti!?.”


“Kami mengerti senior Wei!”


Meski masih penuh khawatir dan ketakutan, mereka berdua mengangguk tanpa keraguan lagi, mereka berpikir jika tidak memberanikan diri, lantas kapan mereka akan berani.


Akhirnya kedua orang itu telah keluar dari lingkarannya, esok hari tinggal melihat apakah Da Ru juga ikut bersama mereka berdua.

__ADS_1


--


Keesokan harinya ….


“Hey kau!, bawa ketiga tumbal ini ke penjara, dan jangan biarkan satupun orang menyentuhnya, atau Tuan Xiao Feng akan marah!.” Mendengar nama Xiao Feng, salah satu Pendekar Aliran Hitam yang berjaga itu memucat.


“Ba-baik tuan!.”


Liang Wei mengirim ketiga murid itu ke penjara adalah salah satu bagian dari rencananya. Walapun Da Ru masih belum menunjukkan tanda – tanda membaik, tetapi ia tetap di kirim ke penjara bersama dua rekannya.


Liang Wei melihat itu bukanlah kerugian, melainkan bisa jadi keuntungan, karena Da Ru bisa menjadi kunci keberhasilan dengan ketakutannya yang tidak dibuat - buat, sehingga mereka tidak perlu repot – repot bersandiwara.


Setelah ketiga murid dan orang yang membawanya sudah tak terlihat, Liang Wei menghilang dengan langkah kegelapan “Aku harus bergerak cepat!.”


Liang Wei tiba di gang sempit yang teduh tanpa sinar matahari, Ia kemudian memasang kalungnya, lalu mengenakan sebuah topeng dan mengenggam dua pedang Kaisar Siluman di tangannya. “Ini saatnya membuat kekacauan!.”


Ia mengunci seluruh Pendekar Aliran Hitam yang berada di Ibukota Kekaisaran Yang itu.


‘Amarah Sang Satan!’ matanya hitamnya berubah dan bersinar menjadi ungu seutuhnya, langit tiba – tiba menjadi gelap di tutupi awan hitam yang aneh.


Siang itu menjadi seperti tengah malam, dengan suasana yang sunyi dan udara dingin yang menusuk tulang, Fenomena itu disaksikan oleh semua orang di Ibukota, sehingga semua orang tak bisa menutupi kekhawatirannya.


“Ini?….apakah ini hukuman langit!?.” Salah seorang Pendekar Aliran Putih yang juga menyusup di Ibukota, sangat kaget melihat fenomena itu.


“Ini!, aku mengenali teknik ini!, Kaisar Siluman telah kembali!!!.” rekannya yang seorang sepuh mengingat teknik yang telah menerornya di masa lalu, saat invasi Bangsa Siluman ia bahkan masih kecil, tetapi ingatannya sangat jelas tentang fenomena itu.


Pendekar yang sepuh itu tak sengaja mengucapkannya dengan lantang, sehingga orang – orang – orang di sekitarnya mendengar itu dengan jelas, menimbulkan kepanikan yang tak terduga. Mereka berlarian bagai ayam yang berlari secara acak.


Di gang sempit tempat Liang Wei, ia menyeringai, rasa haus darahnya memuncak saat menggunakan teknik itu, ia menjilat bilah pedangnya, matanya berkilat menunjukkan bahwa ia sudah tidak sabar mengayunkan pedangnya untuk memakan korban.

__ADS_1


‘Langkah Kegelapan’


‘Ketamakan Memakan Jiwa’


__ADS_2