Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Menyelamatkan Lin Lixue dan Mengakhiri Perang (Bagian 2)


__ADS_3

Wossh!


Liang Wei muncul di sebidang tanah lapang yang penuh rumput. Dengan sengaja ia melepas kalungnya dan meninggalkan jejak auranya di situ, sekaligus ia membuat pesan dengan cara membentuk tulisan dari rumput – rumput itu.


“Aku sudah memasang umpan pada kailku, sekarang saatnya menunggu ikan besar memakannya.” Ia menyeringai kemudian berlalu dari tempat itu.


Tak lama setelah Liang Wei meninggalkan tempat itu…


Zhang Bingjie dan rekannya tiba. mereka melayang di udara, secara reflek mereka melihat kebawah dan membaca pesan itu.


Salah satu dari mereka cukup ragu perihal kebenarannya “Bingjie, apa kita harus mempercayainya?.”


Zhang Bingjie kesal diprotes oleh rekannya “apakah kau dungu?, orang yang tahu tentang kitab itu hanya kita, sekutu, dan pemilik kitab itu..”


“..menurut kalian, apakah masuk akal bahwa pesan itu berasal dari sekutu?.”


Perkataan Zhang Bingjie mencerahkan pikiran mereka, mereka akhirnya mengangguk setuju.


--


Di penjara bawah tanah..


Wossh!


Liang Wei muncul dengan aura asing bagi yang merasakannya.


“Hahaha akhirnya kau datang juga bocah!, tidak kusangka kau benar benar menemukanku!.”


Lu Bian menyeringai, semua berjalan seperti yang ia inginkan, tapi ada satu hal yang membuat dia sedikit gelisah.


‘Bukankah sebelumnya ia tidak memiliki aura?..’ dia sekarang dapat merasakan aura dari tubuh Liang Wei, namun itu cukup samar, sehingga ia tidak bisa memastikan berada pada rana apa itu.


‘..tapi, aku tidak perlu khawatir, lagipula dia hanyalah bocah.’


Pada akhirnya, Ia membuang kekhawatiran itu jauh - jauh, karena tubuh mungil Liang Wei memberi kesan bahwa ia lemah.


Liang Wei memindai sekitarnya, dan tidak lama ia mendapat apa yang ia cari.


Ia melihat Lin Lixue di dalam penjara, menatap dirinya seakan memohon untuk segera dikeluarkan dari situ, kondisinya terlihat sangat menyedihkan, banyak bekas luka di sekitar tubuh mungilnya itu.


Seolah ada duri yang menusuk di dada Liang Wei dan api yang membakarnya, kendati demikian ia harus mengendalikan diri agar rencananya berhasil.


Dengan suasana hati seperti itu, ia berusaha tetap tenang dan memasang wajah datar, meskipun nyaris saja ia mengepalkan tangan memperlihatkan kemarahannya.


“Mari kita bernegoisasi!.” Terdengar suara serak yang berat khasnya, tanpa basa basi Liang Wei langsung pada intinya.


“Hahaha, salah satu pihak sepertinya tidak memenuhi syarat untuk bernegoisasi.”


Lu Bian memberikan tanda kepada bawahannya, bawahannya pun berjalan mendekati penjara itu dan mengeluarkan pedang.


“Kau tidak punya pilihan selain menyerahkan kedua benda itu!, dia akan membunuh gadis kecil itu dengan satu kata dariku.” Begitulah ancaman yang Lu Bian katakan kepada Liang Wei.


Mata Liang Wei hampir membelalak, namun dengan cepat ia mengendalikan diri dan raut wajahnya.


“Kau langsung memakai kartu tersembunyimu, kalau begitu aku juga!.”

__ADS_1


Liang Wei dengan tenang mengikuti permainan Lu Bian, ia mengeluarkan kitab hitam pada tangan kanannya dan elemen kegelapan pada tangan kirinya.


“hahahaha, apa maksudmu melakukan itu?, apakah kau dengan suka rela menyerahkannya sekaligus benda yang ada pada jiwamu itu? .”


Lu Bian mengejek tindakan Liang Wei, bersamaan dengan itu, mata serakahnya tak dapat beralih dari Kitab Hitam itu.


Liang Wei menyeringai sambil melempar elemen kegelapan pada dinding batu yang berada di dekatnya.


Tanpa suara, elemen kegelapan itu memberikan lubang seukuran tubuh manusia dewasa.


“Apaa??.” Baru setelah melihat hal itu, Lu Bian jadi sedikit panik. ‘sial, bagaimana jika itu menelan kitabnya?, bukankah apa yang kulakukan selama ini akan sia – sia?.’


Ia tidak tahu bahwa elemen kegelapan mampu melakukan itu, setahunya elemen kegelapan hanya digunakan untuk meningkatkan kekuatan secara tidak wajar dengan memanfaatkan emosi negatif dari jiwa penggunanya.


Melihat sedikit keraguan pada mata Lu Bian, Liang Wei melanjutkan serangan argumennya.


“Hahahaha, aku tidak peduli dengan apa yang akan kau lakukan pada gadis aneh itu, dan aku pun tidak keberatan memusnahkan kitab ini!.”


Angin berubah arah, Kali ini Liang Wei balik tertawa mengejek. Tapi dalam hati, Liang Wei sangat cemas, karena kata – kata itu cukup kejam bagi Lin Lixue.


Mendengar perkataan kejam yang seakan tak peduli padanya, Lin Lixue di dalam penjara tidak tersingggung sama sekali, ia percaya pada Liang Wei.


“Hahaha, kau hanya menggertak bocah, jika memang demikian, maka kau tak perlu datang ke tempat ini…”


“.. sudah jelas bahwa tujuanmu datang hanya untuk menyelamatkan gadis kecil itu!.” Lu Bian mengucapkannya sambil menunjuk sanderanya.


Ia cukup cerdik menanggapi Liang Wei. Sehingga Liang Wei harus memutar otak lebih keras untuk mencapai tujuannya.


Liang Wei berpikir beberapa saat sebelum mengucapkan sesuatu sambil menyeringai. “Kau pikir kata – kataku hanyalah omong kosong?.”


Hanya ada dua kemungkinan dalam pertaruhan, menang atau kalah, dalam kasus Liang Wei, dua kemungkinan itu adalah berhasil atau Lin Lixue mati.


Tanpa ragu, ia mendekatkan elemen kegelapan di tangan kiri ke tangan kanannya dimana Kitab Hitam berada.


“Kalau begitu mari kita lakukan bersama!.” Lu Bian tak mau kalah, ia pun ikut dalam pertaruhan itu.


Setelah itu, dia menoleh kebelakang dan memberi perintah kepada bawahannya. “lakukan sesuai aba – abaku!.”


“Baik Tuan!.”


Saling menatap dengan tajam, tak sedikitpun beralih satu sama lain, menunjukkan permusuhan dari tatapan menusuk itu.


Setetes keringat hampir terjatuh dari pelipis Liang Wei, begitupun dengan Lu Bian. Masing – masing mereka berharap siasatnya akan berhasil.


Elemen kegelapan Liang Wei secara perlahan semakin mendekat pada kitab hitam, bersamaan dengan pedang yang secara perlahan mendekati tenggorokan Lin Lixue.


‘Jika rencana ini gagal, maka aku akan menghancurkan kitab ini serta tubuhku’ Liang Wei berencana mati jika orang yang ingin ia selamatkan mati, dan tak sedikitpun keraguan pada matanya.


‘Bagaimana jika ia benar – benar melenyapkan Kitab itu?’ Lu Bian gelisah, keserakahan membuatnya berpikir harus mendapatkan Kitab itu, bagaimanapun caranya.


“Tunggu!.” Lu Bian berteriak. ”Aku akan melepaskan gadis kecil itu, jika kau menyerahkan Kitab Hitam!.”


Raut wajah Liang Wei masih datar, tapi ia tertawa dalam hatinya ‘kena kau!.’ kini Liang Wei punya ruang untuk bernegoisasi.


“Aku tidak percaya padamu, bisa saja kau mengelabuiku!, bagaimana jika kita selesaikan dengan cara pendekar.”

__ADS_1


Cara pendekar adalah bertarung, dan tentu saja Lu Bian memahaminya.


“Hahaha kau sangat sombong bocah, baiklah mari kita lakukan!.” Lu Bian menyetujuinya dengan nada meremehkan, ia sangat yakin kemungkinan besar akan menang.


“Ikuti aku!, aku berencana membuat tubuhmu berceceran di tempat serigala bisa memakannya.”


Liang Wei berlari keluar dari penjara bawah tanah itu, Lu Bian mendengus lalu mengikuti dari belakang.


--


Di Hutan, jalan keluar penjara bawah tanah…


“Di sinilah kau akan ku akhiri, tua tak berguna!.”  Liang Wei berhenti berlari dan memasang kuda – kuda.


“Hahaha, kepercayaan dirimu tidak setinggi tingkat kekuatanmu.” Lu Bian meremehkan Liang Wei.


“Oh benarkah?.” Liang Wei lalu meledakkan aura pendekar tingkat tertinggi tahap awal.


Kedua aura saling berbenturan dan beradu, Lu Bian sedikit kaget merasakan tingkat kekuatan Liang Wei yang hanya satu langkah berada di bawahnya.


‘Bagaimana bisa di usia itu dia meraihnya, aku bahkan membutuhkan setidaknya 400 tahun…”


‘… dia jenius, karena itu dia harus kulenyapkan sebelum menjadi penghalang di masa depan’


Tak ada yang pernah melampaui Liang Wei pada usianya, itu membuat siapapun iri dan menginginkan kematiannya.


“Keluarkan pedangmu!.” Mengeluarkan pedang terlebih dahulu, Lu Bian berkata seperti memerintah Liang Wei.


“Kau akan menyesalinya.” Liang Wei mengeluarkan satu pedang Kaisar Siluman pada tangan kanannya.


Dengan satu pedang di tangan kanannya, ia sudah bisa bertarung imbang dengan seorang Pendekar Mutlak tahap awal.


Tak ada yang tahu keistimewaan pedang Kaisar Siluman, bahkan Lu Bian sekalipun tak menatap serakah pada pedang itu, baginya itu terlihat seperti pedang biasa yang berkarat.


Andai saja dia tahu bahwa pedang itu dapat melipatgandakan kekuatan Liang Wei, maka ia tidak akan pernah mencoba untuk menghadapinya, apalagi dengan kekuatannya yang hanya berada pada rana pendekar tertinggi tahap menengah.


“Kalau begitu mari kita mulai!.” Ucap Lu Bian sambil menyeringai, merasa memegang semua kendali atas pertarungan yang bahkan belum ia mulai.


‘Aku pasti menang, dia satu tahap di bawahku, tidak mungkin dia mengalahkanku!’ rana yang lebih tinggi memberinya alasan untuk percaya diri dan yakin dapat mengalahkan Liang Wei dengan mudah.


“Jangan berkedip!.” Ucapan Liang Wei bermaksud memperingatinya agar tidak lengah.


“Aku tidak tahu maksud perkataan bodohmu itu, tapi apa yang perlu ku khawatirkan dari tubuh kecil yang lemah itu?.”


Lu Bian mencemooh Liang Wei, dengan cepat ia melompat dan menusukkan pedangnya ke depan.


“Kerakusan Roh Hitam“


Liang Wei menggumamkannya, pedang yang awalnya terlihat biasa saja kini sepenuhnya berwarna hitam bercampur merah.


Liang Wei mengayunkan pedangnya kesembarang arah sebanyak tiga kali, ke kanan, ke kiri, diakhiri dengan gerakan menusuk ke depan.


Setelah melakukan tiga gerakan itu, ia memasukkan kembali pedang pada ruang dimensionalnya, lalu berdiri tanpa memasang kuda – kuda, sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.


“Kau bahkan tidak dapat mengayunkan pedangmu dengan benar, dan setelah itu kau menyimpan pedangmu sebagai tanda bahwa telah menyerah.”

__ADS_1


Lu Bian menertawakan teknik pedang Liang Wei yang terlihat sangat amatir, semua serangan itu terlihat bodoh, karena tak satupun yang menjangkaunya. tapi detik selanjutnya dia bahkan tak mampu tertawa lagi.


__ADS_2