Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Aura itu Lagi


__ADS_3

Perjalanan dari Ibukota kekaisaran Yin ke Ibukota Kekaisaran Yang akan memakan waktu kurang lebih 3 bulan dengan berjalan kaki, dapat di persingkat menjadi 50 hari saja  jika berkuda dengan kecepatan sedang.


Perjalanan harus melewati jalur hutan selama 21 hari, jalur itu merupakan jalur satu – satunya untuk menuju ke Kekaisaran Yang.


Bisa saja orang mengambil jalur lain, namun tidak ada yang ingin mencobanya, karena jalur selain hutan hanyalah tebing dan tebing.


Makanya hutan itu disebut jalur satu – satunya, karena hanya jalur itu yang bisa di tempuh dengan kereta kuda.


Setelah keluar dari hutan, wilayah yang akan ditemui selanjutnya adalah Kerajaan Yuan.


Kerajaan Yuan adalah Kerajaan di bawah pemerintahan Kekaisaran Yin, Kerajaan Yuan merupakan wilayah yang berbatasan dengan Kekaisaran Yang.


Ibukota Kerajaan Yuan adalah kota Wen. Saat ini Liang Wei dan rombongannya sedang berada di kota Wen.


Setelah 21 hari melakukan perjalanan yang melelahkan dan hanya beristirahat di kereta kuda yang membuatnya kurang nyaman, Liang Wei akhirnya mendapatkan tempat beristirahat yang lebih nyaman.


Liang Wei kini menikmati waktu istirahatnya di kasur empuk yang telah lama tidak ia rasakan semenjak melakukan perjalanan.


“inilah hidup.” Ucap Liang Wei yang sudah merebahkan tubuh dan mulai menutup mata.


“tok tok tok” sebelum ia berhasil memasuki alam bawah sadarnya, tiba – tiba ada seseorang yang mengetuk pintunya.


“si*l\, ini sungguh si*al\, siapa yang mengetuk pintu si*lan itu?.” batin Liang Wei yang sangat kesal waktu istirahatnya diganggu.


Liang Wei pun beranjak dari tempat tidurnya dengan langkah malas dan ia pun membuka pintu tanpa semangat.


“huft kau ternyata. Ada apa, gadis aneh?” ucap Liang Wei melihat Lin Lixue di depan pintu kamarnya.


Lin Lixue hanya menarik lengan Liang Wei tanpa berkata apa – apa seperti biasa.


“bodohnya aku selalu bertanya pada orang yang sengaja bisu.” Batin Liang Wei dengan wajah datar.


Liang Wei hanya menghela napas sepanjang waktu saat Lin Lixue menarik lengannya dan berjalan di keramaian kota.


Lin Lixue terus melakukan itu, ia baru berhenti ketika sudah tiba di depan sebuah rumah makan yang sederhana.


“untuk apa kau membawaku kesini?, jika kau ingin makan, makanlah sendiri, aku tidak akan menemanim….”


Ucapan Liang Wei terhenti ketika mencium aroma yang membuat air liurnya tidak sengaja menetes.


“daging panggang.” Batin Liang Wei dengan mata berbinar.

__ADS_1


Liang Wei kemudian melepaskan tangan Lin Lixue dari lengannya, namun ia segera memegang tangan Lin Lixue dengan erat dan menariknya masuk ke rumah makan itu tanpa menunggu lama lagi.


“aku harus berterima kasih padamu gadis aneh. aku hampir lupa tujuanku ke kota, dan kau telah mengingatkanku, kau boleh memesan makanan apa saja yang kau mau, aku akan membayar semuanya!.” ucap Liang Wei yang sedang dalam suasana hati yang baik.


Di saat Liang Wei dan Lin Lixue mengambil tempat duduk, seorang pelayan datang.


“ingin memesan makanan apa tuan dan nona muda?.” Ucapnya dengan sopan.


“aku ingin daging panggang 5 porsi untukku sendiri, dan dia…” ucap Liang Wei lalu mengalihkan pandangannya pada Lin Lixue, dia bingung harus bagaimana berbicara, karena Lin Lixue selalu diam.


“aku memesan satu porsi makanan yang sama dengan dia.” Ucap Lin Lixue kepada pelayan itu sambil melirik Liang Wei.


Ucapan  itu pada kenyataannya malah membuat urat di dahi Liang Wei sedikit muncul.


“dengan mudahnya dia menyahut perkataan orang lain, tapi tidak denganku, apa dia dari dulu mengerjaiku?.” Batin Liang Wei yang kesal.


Liang Wei ingin bertanya, tapi juga tidak ingin bertanya, karena sudah pasti tidak akan mendapat jawaban apapun, melihat dari sikap Lin Lixue yang selalu bungkam padanya.


Saat Liang Wei sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, pesanannya datang, Ia pun dengan segera melupakan semua hal yang ia pikirkan sebelumnya.


“ini sungguh enak!.” Gumam Liang Wei yang sedang menikmati makanan dengan santai dan tidak tergesa – gesa.


Saat sedang asyiknya dia menikmati makanan, tiba – tiba secara samar ia merasakan aura yang familiar.


Liang Wei segera meletakkan makanannya, Ia melihat ke kiri dan ke kanan dengan wajah yang serius, sambil  mencoba  fokus mencari  darimana asal aura itu.


Namun aura itu lama kelamaan semakin samar dan secara perlahan menghilang dari deteksi Liang Wei.


“sungguh aneh, aura itu kurang lebih sama seperti sebelumnya, tapi mengapa malah hilang tanpa jejak.” Batin Liang Wei yang kebingungan.


Jika memang pemilik aura itu memiliki tujuan khusus kepada Liang Wei. pasti setidaknya, pemilik aura itu akan memberi tanda kepada Liang Wei, untuk datang ke tempat dimana pemilik aura itu berada.


Tindakan pemilik aura kali ini,  benar – benar di luar perkiraan Liang Wei.


“lalu apa tujuannya?.” Batin Liang Wei sambil memegang dagunya.


Liang Wei berpikir sangat keras untuk menemukan jawaban yang tepat, sangat lama ia memikirkan itu, sampai - sampai makanannya tidak lagi hangat.


Lin Lixue jadi bingung melihat Liang Wei yang terdiam dengan wajah serius.


Dengan sigap Lin Lixue mengambil tindakan.

__ADS_1


“plaak” Lin Lixue menampar wajah Liang Wei, tamparan itu berhasil  membuat Liang Wei sadar.


“hufft aku tahu tadi aku melamun, tapi apakah kau tidak bisa menggunakan cara lain?.” Ucap Liang Wei dengan kesal sambil memegang pipinya yang merah.


“yang lebih penting, apakah kau juga merasakan aura tadi?.” tanya Liang Wei kembali serius.


Lin Lixue mengerti maksud Liang Wei, ia menganggukkan kepala lalu memasang wajah yang juga serius.


“kita lanjutkan makan!.” Ucap Liang Wei lalu melirik ke kiri dan ke kanan.


Itu merupakan isyarat dari Liang Wei, dan Lin Lixue dengan mudah memahaminya.


Liang Wei dan Lin Lixue pun melanjutkan makannya namun tetap waspada, berjaga – jaga bilamana ada  serangan dadakan.


Setelah beberapa lama, akhirnya Lin Lixue dan Liang Wei menyelesaikan makannya.


“baru kali ini aku tidak menikmati makanan kesukaanku.” Gumam Liang Wei.


Di dalam batinnya, Liang Wei terus mengumpat kepada pemilik aura itu, yang telah membuatnya terus waspada dengan sia – sia, karena pada akhirnya tidak ada pergerakan ataupun serangan dari pemilik aura itu.


Mereka berdua tidak berhasil menemukan aura yang mereka cari, akhirnya mereka berdua memutuskan kembali ke penginapan untuk beristirahat.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun tiba di penginapan.


Lin Lixue langsung masuk ke kamarnya sendiri untuk beristirahat, dan Liang Wei masih berjalan santai menuju kamarnya yang berada paling ujung di antara kamar yang berjejer.


Liang Wei berjalan santai, namun pikirannya tidak santai, ia masih memikirkan kejadian yang baru ia alami tadi.


Hingga saat ia berada di depan pintu kamarnya, terjadi sesuatu yang membuat matanya membelalak dengan sempurna.


“dia ada di dalam.” Batin Liang Wei merasakan aura yang sebelumnya ada di sekitar rumah makan.


Tanpa mengurangi kewaspadaan, Liang Wei memberanikan diri membuka pintu kamar yang sudah berada di depan matanya.


Tangannya memegang gagang pintu, seluruh tubuhnya merinding kala aura itu semakin kuat saat pintu secara perlahan ia buka.


Pada akhirnya pintu itu pun terbuka sepenuhnya.


“kau!” ucap Liang Wei melihat sosok di depannya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2