Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Tiba Di Wilayah Kekaisaran Yang


__ADS_3

Di Hutan Perbatasan Kekaisaran Yang.


Saat mereka tiba di perbatasan Kekaisaran Yang, Jing Mao langsung bergerak cepat dan bersembunyi di jarak tertentu, tidak ada yang menyadari keberadaan Jing Mao selain Liang Wei.


Liang Wei tidak pernah memerintahkannya untuk ikut, bahkan tak menduga bahwa dia bisa berada di situ.


Liang Wei berbicara  dengan Jing Mao melalui telepati.


‘Apa yang kau lakukan di sini?’


Ia benar – benar tidak mengerti pola pikir Siluman kucing itu.


‘Suamiku, aku khawatir padamu!’ balas Jing Mao di sisi hutan yang teduh dan tersembunyi.


‘Cepat pulang! atau aku ak…’


‘Jika aku menampakkan diri dengan auraku di depan mereka dan menciummu?, kira – kira apa reaksi mereka?’


Tentu saja mereka akan ketakutan dan langsung menyimpulkan Liang Wei adalah adalah mata – mata Bangsa Siluman.


Dengan kekuatan Liang Wei yang sekarang, ia tidak berdaya menghentikan setiap gerakan secepat cahaya Jing Mao yang ratusan kali lebih kuat daripadanya.


Jing Mao kini punya senjata untuk membuat Liang Wei patuh padanya.


‘Sekarang sudah sudah berani padaku?’ Ancam Liang Wei.


‘Aku hanya ingin melihat siapa yang lebih berani saat aku melakukannya’


‘Baiklah, kau boleh mengikuti perjalanan ini’ Akhirnya Ling Wei mengalah sambil memikirkan siapa yang telah mengajari Jing Mao untuk berani padanya.


Saat telepati itu diakhiri, Jing Mao mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.


“Aku tidak percaya bahwa ini sangat ampuh, tidak sia – sia aku membelinya di Ibukota!.. Suamiku…sebentar lagi kau akan tunduk padaku!.”


Jing Mao membayangkan banyak hal sembari memandangi buku di tangannya sambil tersenyum dengan mata berbinar, setelah beberapa saat, ia kemudian menciumnya berkali - kali, pada sampul buku itu tertulis ‘Cara Menaklukkan Pria Galak’.


“Ini adalah hartaku yang paling berharga.”


Jing Mao tidak tahu bahwa keberhasilan itu hanya kebetulan semata, di masa depan ia akan mengalami banyak kesialan akibat buku itu.


--


Kerajaan Ruo, kerajaan yang berada di wilayah Kekaisaran Yang paling timur atau di perbatasan…


Cun Ruo adalah desa pertama yang akan Liang Wei dan rekannya singgahi, ia bisa saja langsung bergerak ke kota dan kerajaaan lain, tetapi Liang Wei menyuruh mereka untuk singgah dengan alasan mencari alat transportasi dan memeriksa desa itu.


Alat transportasi yang dimaksud adalah kuda dan keretanya, sehingga dapat menyingkat perjalanan mereka.

__ADS_1


Sedangkan, tujuan Liang Wei memeriksa Desa itu karena ia berpikir mungkin dapat menemukan beberapa informasi penting.


Kini Liang Wei dan rekannya berjalan memasuki sebuah rumah makan yang cukup sederhana.


Rumah makan itu adalah satu – satunya di Desa itu. sehingga tempat itu cukup antri di jam makan siang.


Liang Wei dan kelima rekannya mengambil tempat duduk kosong terakhir.


“Melihat keramaian ini, aku sempat berpikir kita tidak akan mendapat tempat duduk.”


Chuang Li senang mendapat tempat duduk, dengan begitu mereka tidak perlu susah payah mengantri.


Sebenarnya mereka tidak perlu makan, bagi pendekar itu tidak masalah, tapi Liang Wei sengaja mengarahkan mereka ke rumah makan itu karena melihatnya sebagai tempat paling ramai.


Bagi Liang Wei, Tempat paling ramai adalah tempat paling ideal untuk perputaran dan pertukaran informasi.


Setelah memesan makanan mereka bercerita ringan sambil tetap memperhatikan sekitar dan memasang telinga baik – baik.


Hanya saja, ketiga orang murid yang masih memiliki kekuatan yang lemah, tidak dapat mendengarkan apapun selain keramaian rumah makan itu.


“Kita tidak bisa berbuat apa – apa, aku mulai meragukan peran kita di sini.” Da Ru berbisik kepada Ting Zhe.


Jika dirinya memang tidak berguna, mengapa ia harus turut serta dalam perjalanan itu, benar – benar buang tenaga.


“Diam, jika mereka bisa mendengarkan suara dari ratusan orang di tempat ini, maka mereka juga bisa mendengarkan bisikan kita berdua.”


Sementara, Liang Wei dan Chuang Li sedang fokus mendengarkan suara orang – orang yang berada di tempat itu.


Mereka berdua terus memfokuskan indera pendengarannnya dari bagian tengah rumah makan itu, hingga ke bagian pojok, dan semua bagian ruangan.


“Kabarnya para pendekar hitam itu bekerja sama dengan para pejabat kekaisaran untuk menjatuhkan Kaisar.”


“Mereka benar – benar licik, jika saja aku punya daya, maka aku akan menghancurkan mereka.”


Di bagian pojok kanan ruangan itu, Liang Wei dan Chuang Li sudah mendapatkan beberapa informasi.


Tetapi setelah itu, orang – orang mulai membahas sesuatu yang tidak penting, sehingga keduanya harus bersabar.


Saat masih fokus mencari informasi degan pendengarannya, Makanan yang mereka pesan akhirnya sudah datang.


Mereka memakan makanan itu dengan sangat pelan atas instruksi dari Liang Wei, karena ia masih belum puas dengan informasi minim yang ia terima.


Informasi mengenai Kaisar yang dijebak oleh Para Pejabat Kekaisarannya sendiri sudah Liang Wei duga sejak awal, ia pun sudah membersihkan beberapa darinya dan memperingati Kaisar Huifang.


Tetapi, meski membunuh satu semut, semut yang lain akan memanggil semut yang baru untuk bergabung dengan koloni pengkhianat itu.


“Hey kalian, cara makan kalian sangat lambat. Bisakah kalian mempercepatnya, bukan hanya kalian yang ingin makan!.”

__ADS_1


Sebenarnya itu hak orang itu mau makan lambat atau cepat, karena ia berada di tempat umum, dan orang – orang yang lain juga bahkan bercerita di tempat itu, bahkan sampai berjam – jam.


Liang Wei dan rekannya baru berada di situ kurang dari setengah jam, dan mereka sudah ditegur oleh beberapa orang dengan baju berwarna hijau berwajah garang dan tubuh yang kekar.


Melihat mereka mendatangi meja Liang Wei, siapapun bisa tahu bahwa orang – orang itu hanya mengincar pengunjung yang terlihat lemah.


Ketiga murid yang duduk di dekat Liang Wei adalah penyebabnya, ketiga orang itu bahkan bisa dikatakan sangat awan bagi semua orang yang sekilas melihatnya.


Dengan alasan itu, para Pendekar dengan pakaian serba hijau itu menganggap bahwa kelompok Liang Wei adalah sasaran yang empuk untuk ditindas.


Liang Wei memegang pundak Da Ru dan mengatakan padanya.


“Untuk inilah kalian kubutuhkan!.”


Ketiga murid itu adalah yang terlemah, tentu saja mereka akan jadi mencolok dan jadi perhatian siapa saja.


Ketiga murid itu bingung untuk beberapa saat sampai Liang Wei melanjutkan perkataannya.


“Aku butuh kesialan kalian!.” Liang Wei membutuhkan ketiga orang itu untuk memulai pertengkaran yang beralasan.


Jika Liang Wei memukuli orang secara asal, maka ia akan dianggap orang gila, tetapi berbeda halnya saat seseorang menganggunya duluan.


Maka dari itu ia membawa orang – orang terlemah itu, dan itu sudah ia rencanakan.


Sebelumnya, saat ia  menyuruh para murid  untuk membawa beberapa orang ke panggung, ia sudah menduga bahwa murid yang akan naik ke panggung adalah mereka yang terlemah.


Alasannya, tidak mungkin orang yang terlemah mendorong orang yang lebih kuat darinya ke atas panggung.


“Jadi seperti itu, akhirnya kami bisa berguna!.” Da Ru malah merasa bangga.


Tetapi kedua rekannya memijat pelipisnya melihat kebodohan temannya itu, karena jika memang itu alasan Liang Wei membawa mereka, bukankah itu adalah sebuah ejekan  dan penindasan kepada mereka bertiga.


‘Kalian berpikir terlalu jauh, kalian akan tahu peran kalian nanti’


Liang Wei mengucapkan sesuatu kepada mereka bertiga melalui telepati.


Ketiga murid itu langsung berdiri dari kursinya karena kaget.


Mata mereka bertiga tidak sengaja membelalak, dan kebetulan posisi mereka berdiri berhadapan dengan orang – orang yang mencoba menganggunya.


“Oh, kalian bertiga cukup berani mencoba memperlihatkan raut wajah yang menyeramkan!.”


Orang – orang itu salah kaprah, mereka mengira bahwa ketiga orang di depannya melotot karena mengancam mereka.


‘Senior Wei menjebak kita’


Keringat  ketiga murid itu langsung mengucur deras.

__ADS_1


__ADS_2