
Kelompok Liang Wei keluar dari rumah makan karena merasa tidak akan mendapat informasi lagi dari tempat itu.
Saat ini mereka berjalan mengelilingi desa untuk mencari penginapan, tetapi di tengah jalan mereka di cegat oleh seseorang, orang itu adalah petapa yang tadi juga berada di dalam Rumah Makan itu.
Orang dengan jubah berwarna merah dan tudung di kepalanya.
“Tuan Muda Liang!.” Menelangkupkan tangannya, orang itu mengenal Liang Wei.
Liang Wei diam – diam memasang kewaspadaan kepada orang itu, ia masih belum merasakkan niat membunuh orang itu, tetapi ia berjaga – jaga bilamana niat itu muncul dari orang yang kini berdiri tepat di depannya.
Liang Wei mendongak menatap tajam orang yang lebih tinggi daripadanya itu
“Kau sangat sopan untuk seseorang yang mencurigakan, kau pun sudah tahu namaku, siapa kau?.” Siapapun dapat kedinginan ketika mendengar suaranya.
Inilah yang paling Liang Wei khawatirkan, orang – orang semacam itu adalah yang paling ia takuti, bukan takut karena kekuatannya, tetapi takut kalau orang itu mengungkap rahasianya kepada orang banyak.
Tetapi, Liang Wei salah kaprah…
“Kau melupakanku Tuan Muda?.”
Orang itu menyingkapkan tudungnya, sehingga kelompok Liang Wei dapat melihat wajahnya dengan jelas.
Liang Wei memicingkan matanya kepada orang itu, mencoba mengingatnya. Orang itu memang familiar bagi Liang Wei, tapi ia masih belum yakin apakah orang itu adalah orang yang ia kenal seperti dalam pikirannya.
“Katakan, siapa namamu?.” Mungkin dengan mengetahui namanya ia bisa memastikannya.
“Namaku adalah Xie Jian, Tuan Muda.”
Saat Liang Wei menyelesaikan misi untuk mengawal Yang Huian, Xie Jian menjumpai Liang Wei di Aula Kekaisaran Yang. ia adalah salah satu Pejabat Kekaisaran Yang.
Xie Jian mengenal Liang Wei sebagai murid jenius Perguruan Beladiri Xijing, namun Liang Wei mengenal Xie Jian dengan cara yang berbeda.
“Kita pernah bertemu di Aula Kekaisara….” saat Xie Jian mengucapkan itu, secara bersamaan Liang Wei mengucapkan sesuatu juga “Berarti kau adalah adik dari Ibu kandungku!.”
Liang Wei sama sekali tidak mengingat Xie Jian di Aula Kekaisaran Yang, tetapi Liang Wei pernah melihatnya dari ingatan yang diberikan oleh ayah kandungnya.
__ADS_1
Dalam ingatan itu, ayah dan Ibunya berkunjung ke rumah Xie Jian, Xie Jian bahkan sempat menggendong Liang Wei yang masih bayi dan memperlakukannya dengan sangat baik.
Dari ingatan itu, Liang Wei bisa mengingat fitur wajah Xie Jian, dan berkat ingatan itu ia mendapat kesan baik kepada Xie Jian yang saat ini sedang menunjukkan raut wajah tidak senang.
“Apa kau bercanda?.”
Xie Jian tidak bisa mempercayainya, dalam pikirannya, keponakannya yang bernama Liang Wei sudah lama mati bersama ayah dan Ibu kandungnya.
Ia berpikir apakah bocah itu menipunya dengan omong kosongnya.
Liang Wei mengerti bahwa tidak setiap orang akan langsung mempercayai kata – katanya, ia pun tidak menyalahkan Xie Jian, karena ia memang asal mengucapkannya tanpa memberi bukti.
“Ibuku bernama Xie Yian, dan ayahku bernama Liang Yi, kedua orang tuaku telah tewas oleh Cao Pi, aku beruntung karena diselamatkan oleh ayah angkatku yang bernama Hong Cheung.”
Liang Wei tidak punya tanda lahir, maka dari itu ia hanya bisa menceritakan apa yang ia tahu berdasarkan ingatan dari Liang Yi dan fakta bahwa ia telah diselamatkan oleh Hong Cheung.
Perkataan Liang Wei persis seperti cerita yang Xie Jian dengar dari informannya, hanya berbeda pada bagian tertentu karena ia tidak tahu fakta tentang diselamatkannya Liang Wei oleh Hong Cheung.
Raut wajah Xie Jian yang awalnya marah menjadi lara dan luluh. “Tidak salah lagi, kau adalah keponakanku!.”
Xie Jian mendekati Liang Wei dan memeluknya “Nak, Maafkan aku..selama ini pasti kau sudah menderita, menderita karena merindukan dua orang yang bahkan tidak pernah kau lihat wajahnya.”
Liang Wei tidak mengucapkan apapun dan tak membenarkan perkataan itu.
Tetapi secara naluri ia meneteskan air mata, secara tidak langsung itu mengisyaratkan bahwa ia memang merasakannya.
Liang Wei menggelengkan kepala dan menyingkirkan setetes air matanya bersama perasaan itu, karena menurutnya ada hal yang lebih penting.
“Paman, aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk reuni!.”
Liang Wei melepaskan diri dari Xie Jian, dari lubuk hatinya ia juga menginginkan reuni itu, tapi ada hal yang harus ia prioritaskan saat itu.
“Nak, kau sangat keras kepada dirimu sendiri!.” Xie Jian menggelengkan kepala dan menatap prihatin kepada Liang Wei.
Ia yakin anak itu sengaja mengalihkan perhatiannya ke hal lain agar dapat melupakan sesuatu yang tidak menyenangkan yang tidak ingin ia ingat.
__ADS_1
“Paman, mari kita buang basa basinya dan antarkan kami menuju ke tempat ‘orang itu’ !.”
Xie Jian sedikit tersentak, Liang Wei tahu bahkan saat ia belum mengatakan atau membahas apapun tentang tujuannya “Bagaimana kau tahu bahwa ‘orang itu’ bersama kami, nak?.”
“Sederhana saja, sejak hari kejadian, tidak ada utusan yang datang ke Kekaisaran Yin, dan aku yakin salah satu utusan adalah ‘orang itu’.”
Utusan yang dimaksud adalah pembawa kabar sekaligus orang yang ditugaskan menyampaikan pesan untuk meminta bantuan kepada Kekaisaran Yin.
Para utusan tidak langsung pergi ke Kekaisaran Yin karena Para Pendekar Hitam itu memiliki banyak mata – mata dan itu mengkhawatirkannya, maka dari itu mereka memilih menunggu di tempat paling aman dan strategis.
Tempat paling berbahaya adalah tempat paling aman, Perbatasan adalah salah satu titik yang paling ketat pengawasannya, tetapi berada di situ bisa mengelabui musuh, musuh tidak akan menduga mereka berada di tempat yang ketat pengawasan seperti itu.
Selain itu, Perbatasan adalah tempat yang paling strategis untuk menunggu bala bantuan dari Kekaisaran Yin.
Para utusan menunggu dengan keyakinan bahwa meski mereka tidak datang langsung ke Kekaisaran Yin, Kekaisaran Yin akan datang sendiri mencari mereka.
“Dengan temperamenmu, dulu aku mengira bahwa kau hanya jenius di beberapa aspek.” Xie Jian tertawa ringan.
Liang Wei yang gampang marah, ia sangka lemah dalam aspek berpikir, karena secara umum memang begitu, orang yang gampang marah dianggap bodoh karena gampang diprovokasi.
“Paman, jangan mengejekku! .”
Xie Jian tersenyum dan menggelengkan kepala, lalu berjalan terlebih dahulu, kelompok Liang Wei mengikuti dari belakang.
Chuang Li menyenggol lengan Liang Wei, dan berkata dengan setengah berbisik “Hey nak, siapa ‘orang itu’ yang kalian bahas dari tadi?.”
“Yang Huian.” Liang Wei menjawab singkat tanpa menoleh ke Chuang Li yang berjalan bersama di sampingnya.
“Secepat itu?.”
Chuang Li mengernyitkan dahi, prioritas utama mereka adalah menemukan Tuan Putri, Dalam pikirannya, mencari Tuan Putri di antara ratusan juta manusia adalah hal yang merepotkan dan butuh waktu yang lama.
Maka dari itu, ia tidak menyangka bahwa mereka akan secepat itu menemukan Tuan Putri.
‘Sekarang aku mengerti, setiap kali bocah itu menyeringai, itu berarti ia telah memikirkan 10 langkah di masa depan’
__ADS_1
Chuang Li hanya bisa menghela napas yang dalam, kepalanya pusing dan lehernya kaku karena kecerdasannya tidak mampu untuk memprediksi pikiran Liang Wei.