
“Siapa Kalian?.”
Meski tahu bahwa orang - orang di depannya adalah mahluk yang sama seperti dalam pikirannya, namun tetap saja Liang Wei bertanya.
Semua itu semata – mata untuk mengetahui motif dari orang – orang itu.
“Kami..”
Gadis cantik berumur 15 tahun itu memberikan jeda pada jawabannya, bukan dengan sengaja, namun ia terlalu gugup untuk memberikan jawaban.
Penyebab ia gugup tak lain adalah karena perasaannya yang campur aduk, selain itu, ia juga belum siap menghadapi Liang Wei yang familiar baginya.
“Buanglah rasa gugupmu yang bodoh, aku tidak membutuhkan itu dalam keadaan ini, sekarang jawablah dengan cepat!.”
Liang Wei menuturkan kata demi kata dengan pedas, Tak peduli dengan air mata yang terlihat jelas di kedua pipi gadis itu.
Semua itu karena ia tak ingin gadis itu membuang waktunya.
“Kau benar – benar melupakanku?.”
Tadinya air mata hampir berhenti membasahi pipinya, namun setelah mendengar ucapan Liang Wei, itu sudah tak terbendung lagi, bahkan lebih deras daripada sebelumnya.
“Jangan banyak tingkah, cepat jawab pertanyaanku!.”
Hawa dingin yang terasa dari perkataan Liang Wei menunjukkan ketidakpeduliannya terhadap duka gadis itu.
Bangkit dari posisi berbaring, ia duduk sambil menatap sekitarnya, selain gadis itu, ia melihat Jing Jian yang berdiri dengan tenang, namun bisa terlihat jika matanya berkaca – kaca, pun hampir mengeluarkan air mata.
Liang Wei bingung menganalisa suasana hati mereka berdua namun ia tiba - tiba menyadari sesuatu.
“Kau kan!.”
Melompat dengan waspada, jauh kebelakang, tempat itu cukup luas sehingga memberikan Liang Wei ruang untuk menjaga jarak aman dari keduanya.
Gadis itu menatap cemberut kepada Jing Jian. Reaksi yang ditunjukkan Liang Wei tentu saja menunjukkan bahwa ia mengingat Jing Jian.
“Kau mengingat dia, tapi tidak mengingatku!.”
Resah berubah menjadi amarah, Air mata berubah jadi Api marah, Matanya membulat, urat dahinya berdenyut kesal, ia pun mengeluarkan pedangnya tanpa sadar.
Dari tubuhnya yang sudah menunjukkan awal – awal kematangannya, keluar Aura yang familiar bagi Liang Wei.
‘dia orang yang sama’ pikir Liang Wei.
Aura itu adalah aura yang identik dengan sosok berjubah yang pernah ia temui di penginapan, saat itu Liang Wei melakukan perjalanan ke Kekaisaran Yang.
“Tidak salah lagi, kalian adalah bangsa siluman!.” Seakan baru menyadarinya, Liang Wei berkata seperti itu.
Sedari awal ia sudah tahu, namun hanya memastikan bahwa mereka benar – benar mahluk yang sama seperti dalam pikirannya.
__ADS_1
Pandangan mata Liang Wei kini tertuju pada gadis yang kini berdiri menatapnya dengan sangat menusuk.
“Nyonya tenanglah!.”
Jing Jian menatap dan memberikan peringatan dengan menyambarkan auranya kepada gadis itu, aura yang melebihi kekuatan seorang pendekar tertinggi.
“Cihh!.”
‘Sebenarnya siapa yang bawahan? dan siapa atasan?’ meski sangat kesal, namun gadis itu harus membendung api di hatinya.
Untuk beberapa alasan ia menurutinya, sambil menghentakkan kakinya, dengan sangat enggan ia menyimpan kembali pedang ke dalam cincin ruangnya.
Jing Jian beralih menatap Liang Wei yang berada di depannya.
“dan juga Yang Mulia, tolong turunkan kewaspadaan anda.”
Jing Jian berkata dengan hati – hati kepada Liang Wei, agar Liang Wei menurutinya. namun tentu saja tak semudah itu.
“Katakan tujuan kalian!.”
Liang Wei tak menurunkan sedikitpun kewaspadaannya terhadap mahluk sejenis yang telah menewaskan Hong Cheung.
‘Apa kini mereka memaksa membawaku?, bukankah sebelumnya mereka sudah kuancam dengan teknik terlarangku?.’
Teknik terlarang yang Ia maksud adalah reinkarnasi paksa menjadi manusia.
Jing Jian cepat tanggap, ia tahu alasan Liang Wei seperti itu, salah satunya tentu saja karena bangsa siluman yang telah membunuh Hong Cheung.
“Engkau salah paham Yang Mulia. Kami membawamu kesini untuk menyelamatkanmu..”
“..dan juga, kami tidak berada di pihak mereka yang telah membunuh ayahmu.”
Mata Liang Wei membelalak, jika memang perkataan Jing Jian benar, berarti apa yang ia duga selama ini benar.
“Katakan dengan rinci!, jangan bertele - tele.”
Jing Jian mengangguk. “begini Yang Mulia…”
Jing Jian menceritakan bahwa setelah Liang Wei menggunakan teknik terlarangnya, Bangsa Siluman terpecah menjadi 3 kelompok yang dipimpin oleh 1 Permaisuri dan 2 Selir.
Kelompok pertama adalah mereka yang menginginkan invasi bangsa siluman untuk kedua kalinya.
Kelompok itu dipimpin oleh Jing Huli, Siluman Rubah Putih yang juga merupakan Sang Permasuri Siluman, ia dikenal dengan sifatnya sangat dingin dan serakah.
Kelompok kedua adalah mereka yang netral, mereka memutuskan untuk berbaur dengan bangsa manusia, namun tak melakukan tindakan apapun meski dalam keadaan terdesak sekalipun.
Kelompok netral itu juga tak pernah menganggu manusia, Jing Jian pun tak jelas dengan alasannya.
Pemimpinnya adalah selir pertama yang bernama Jing Ci Gui, Siluman Kura – kura yang dikenal dengan sifatnya yang pemalas dan tidak ingin mencampuri urusan orang lain.
__ADS_1
Lalu, kelompok ketiga atau yang terakhir adalah mereka yang setia kepada Liang Wei, dengan kata lain, jika Liang Wei tak mengingikan invasi maka mereka juga tidak menginginkannya.
“…lalu pemimpin dari kelompok ketiga adalah Selir kedua, Jing Mao, Siluman Kucing yang dikenal dengan sifatnya yang manja, dan sekarang Ia berada di depan anda.”
Jing Jian mengakhiri penjelasannya sambil menunjuk ke arah gadis berumur 15 tahun yang berada di depan Liang Wei.
Tidak merasakan adanya kebohongan, Liang Wei tersenyum cerah sambil menatap Jing Mao, Jing Mao merasa malu dan salah tingkah, wajahnya meniru warna tomat.
‘Yang Mulia tersenyum kepadaku’ ia jadi senang sendiri dalam hatinya. kemarahannya pun sirna bagai ditelan lumpur hisap.
Namun tak seperti yang ia pikirkan, Liang Wei tersenyum karena memikirkan hal lain.
‘Ternyata itulah penyebab mengapa mereka baru akan memulai invasi dalam 20 tahun’
Selama ini Liang Wei bingung tentang alasan Bangsa Siluman tidak memulai invasi keduanya sekarang, namun pertanyaan itu akhirnya terjawab dan itu sesuai dengan dugaannya.
Liang Wei sadar bahwa saat ini Jing Huli membutuhkan dirinya untuk mempersatukan kembali ketiga pihak yang terpecah.
Selain itu, ia yakin bahwa waktu 20 tahun merupakan jangka yang diberikan Jing Huli padanya untuk meningkatkan kekuatan.
“Dengan keserakahan Jing Huli, meskipun ia dapat berhasil melakukan invasi, namun ia pasti akan rugi banyak, dan ia benci itu.”
Gumamam kecil Liang Wei terdengar oleh Jing Jian. “Anda benar Yang Mulia, mohon ikuti hamba, ada yang ingin hamba tunjukkan kepada anda.”
Melihat Liang Wei yang sudah tidak waspada, Jing Jian menuntunnya berjalan kesuatu tempat.
Menanjak di bukit yang lumayan tinggi, Liang Wei mengikuti Jing Jian dari belakang, sementara Jing Mao berjalan sejajar dengan Liang Wei.
“Apakah kau sudah mengingatku?.” Jing Mao masih belum terima dilupakan, tapi kali ini ia tidak terlalu marah seperti sebelumnya.
‘Sial, jika saja aku tidak melihat senyumannya, aku mungkin tidak akan seperti ini.’ Pikir Jing Mao sambil memegang pipi meronanya yang hangat.
“Tentu saja aku mengingatmu, penampilanmu berubah sangat banyak, itulah mengapa aku tidak mengenalmu sebelumnya.”
“Aahh, itu….aku belajar teknik untuk merubah penampilan, tapi tak kusangka aku tidak dapat kembali ke bentuk semula.”
Dalam batin, Jing Mao merutuki kebodohannya, ia lupa bahwa penampilannya sudah berubah, sangat wajar jika Liang Wei tak mengenalinya.
Jing Mao tanpa aba – aba memeluk lengan Liang Wei dan merapatkan lengan itu dengan dadanya, ada hal lain yang ia khawatirkan.
“Suamiku, meskipun ‘itu’ sedikit datar aku harap kau masih menyukainya.” Kini telinga Jing Mao ikut memerah, ia tidak tahan untuk mengutarakannya.
Liang Wei bingung, Sebelum ia mencerna maksud dari perkataan itu, Jing Jian memanggilnya.
“Yang Mulia lihatlah daratan yang membentang luas di bawah bukit ini.”
Liang Wei menghentikan langkahnya dan menatap hal yang dimaksud Jing Jian.
“ini….”
__ADS_1