Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Pelaku Pembunuhan yang Sangat Kejam


__ADS_3

‘Langkah Kegelapan’


‘Ketamakan Memakan Jiwa’


Pedangnya ia sarungkan di sarungnya, pedang yang disarungkan menghilang dan menyatu dalam kegelapan di dalam sarung pedang itu, pedang itu kemudian muncul dari bayangan musuh dalam bentuk yang jauh lebih besar.


Liang Wei menghilang kedalam bayangan dan muncul dari bayangan musuh, kemunculannya selalu diiringi dua pedang besar sepanjang 5 meter dan seukuran tubuh manusia dewasa, kedua pedang itu menusuk tubuh musuh dari depan dan belakang tanpa ampun, semua korbannya tebelah, terpotong, dan tewas tanpa sempat melakukan perlawanan.


Di Istana Kekaisaran…


Seorang Penjaga Gerbang yang merupakan Pendekar Aliran Hitam, berlari terbirit – birit dan menyerobot masuk ke Aula Kekaisaran, saat ia masuk, semua Petinggi Pendekar Aliran Hitam sudah berada di dalamnya. Dengan nafas pendek dan memburu ia berniat melaporkan kekacauan yang terjadi di Ibukota.


“Lancang, keadaan apa yang membuatmu berpikir bisa masuk dengan cara yang tidak sopan seperti itu?.” Dia tidak disambut dengan hangat oleh Cao Pi.


Penjaga Gerbang itu memucat setelah mendapat teguran keras, tetapi ia tetap memberanikan diri berbicara “Tuan Xiao Feng ini darurat!, ada serangan dari musuh!.”


Xiao Feng yang sejak tadi hanya duduk menyimak, kaget dan berdiri dari Singgasana yang ia jadikan tempat duduknya. “Apa?, mereka (Pendekar Aliran Putih) sudah datang?.”


“Bu-bukan mereka, Tuan. Tetapi menurut beberapa orang, itu adalah serangan Bangsa Siluman.”


Xiao Feng mengeluarkan pedangnya dan menebaskannya ke arah depan, kilatan cahaya keluar dari pedangnya dan memanjang hingga membelah tubuh Penjaga Istana itu “Omong Kosong macam apa itu!?.”


Setelah itu, Xiao Feng dan Para Petinggi Pendekar  Aliran Hitam serta Bangsawan pembelot keluar dari Istana.


Saat mereka berada di halaman Istana, secara alami mereka melihat ke langit dan suasana yang tiba – tiba berubah menjadi seperti tengah malam, bahkan suhunya juga demikian, Cao Pi merasa itu sangat janggal ‘Apa?, kenapa jadi gelap dan dingin seperti ini?.’


Saat Cao Pi menoleh dan ingin bertanya kepada orang di sampingnya , tetapi  ia melihat Xiao Feng dan Empat Pendekar Mutlak lainnya gemetaran.


Xiao Feng dengan bibir bergetar mengucapkan “Kenapa di saat seperti ini Bangsa Siluman datang!?.”


Ucapan Penjaga Gerbang tak mungkin Para Petinggi itu percayai, tetapi kali ini itu keluar dari mulut Xiao Feng, mereka harus dan pasti percaya pada hal itu, mempertimbangkan dirinya sebagai pemimpin, serta raut wajah Xiao Feng yang sedikit ketakutan.


Beberapa saat kemudian fenomena itu menghilang begitu saja dan kembali menjadi siang hari yang terik, memberi kesan kejadian sebelumnya hanya sebuah mimpi, dan tak memberi  kesan bahwa fenomena itu pernah terjadi.


“Sudah berhenti?, apakah itu hanya gertakan?.” Xiao Feng menerka – nerka tujuan musuh, ia mulai berpikir bahwa itu bukanlah serangan Bangsa Siluman, Bangsa Siluman tak akan berhenti sampai semuanya luluh lantak.


Cao Pi mengambil inisiatif untuk memeriksanya “Tuan, kita harus memeriksa apa yang terjadi di Ibukota, karena bidak – bidak yang ada di Ibukota belum kembali melapor sampai saat ini.”

__ADS_1


Xiao Feng setuju, ia mengutus Xu Xiaosi pergi bersama Cao Pi.


“Habisi musuh tanpa pandang bulu.” Suara dingin Xiao Feng mengiringi  perintahnya.


“Kami laksanakan perintah, Tuan!.”


Baru keluar dari gerbang Istana dan berjalan sekitar 100 meter, mata kepala mereka berdua sudah disuguhkan dengan pemandangan yang tidak biasa dan mengerikan, sebuah bukit setinggi 10 meter, bukit itu adalah tumpukan bagian dan organ tubuh manusia dengan darah menetes dan menggenang di bawahnya yang bagai sungai kecil  berwarna merah.


Xu Xiaosi dan Cao Pi tiba – tiba gemetaran dan mual, padahal mereka adalah orang yang sudah biasa membunuh, tetapi mereka tidak pernah menyaksikan kekejaman diluar nalar seperti yang ia saksikan di depan mata mereka saat itu.


Xu Xiaosi mengungkapkan pikirannya “Pendekar Aliran Putih tidak bisa melakukan ini.. jika begitu?…” ia bertukar pandang dengan Cao Pi yang berada di sampingnya.


Cao Pi membalas perkataan Xu Xiaosi “Semoga tidak seperti yang kita pikirkan.”


Masih merasa harus memastikan sesuatu, Cao Pi dan Xu Xiaosi berjalan melewati tumpukan menyeramkan itu dan berniat memasuki pusat Ibukota.


Sampai di Ibukota, mereka menyaksikan hal yang serupa, mereka mual berkali – kali tetapi mereka tidak bisa mencapai titik terbiasa dengan pemandangan itu, sehingga mereka merasa mual sepanjang waktu.


Mereka tiba – tiba malu, sebagai seorang Pendekar Aliran Hitam, mereka tidaklah sebanding dengan pelaku kejadian itu, jika kekejaman mereka dibandingkan, maka mereka hanya ibarat bayi yang baru lahir, dan pelaku kejadian itu adalah orang yang sudah sepuh dalam hal kekejaman.


“Sial, siapa yang melakukan ini!?.” Xu Xiaosi geram, Pendekar Aliran Hitam yang menggantikan Penduduk Ibukota, habis tak tersisa.


Hari menjelang petang, mereka memutuskan kembali ke Istana Kekaisaran, walau tanpa ada apa – apa di tangan.


“Apa yang membuat kalian terlalu lama?.” Xiao Feng menyambut Xu Xiaosi dan Cao Pi dengan pertanyaan itu.


“Tuan, Kami menyisir setiap sudut Ibukota!.” Cao Pi menjawab Xiao Feng.


“Tetapi mengapa raut wajah kalian seperti itu?.”


Xiao Feng perhatikan raut wajah mereka seperti tidak senang dan gelisah.


“Itu karena yang kami temukan adalah…” Xu Xiaosi menceritakan temuan mereka sepanjang jalan di Ibukota.


Saat mendengar cerita itu, raut wajah Xiao Feng tak  bisa dijelaskan, berubah – ubah setiap waktu, kadang kaget, kadang marah, tapi kebanyakan dia sedikit ketakutan.


Ia takut karena berpikir jika benar seperti yang Xu Xiaosi jelaskan, maka mereka harus berhadapan dengan Bangsa Siluman.

__ADS_1


“…kami tidak menemukan jejak musuh, tetapi sepertinya mereka ada  banyak.” Xu Xiaosi mengakhiri ceritanya dengan dugaannya yang masuk akal, bahwa kejadian itu dilakukan oleh pelaku yang membawa banyak pasukannya, karena mustahil itu dilakukan oleh sedikit orang di waktu singkat.


“Lalu, apa yang harus kita lakukan, Tuan?.” Xu Xiaosi kembali berbicara, dan menanyakan tindakan apa yang akan Xiao Feng ambil setelah adanya kejadian itu.


“Kita tidak boleh lengah, meskipun itu terlihat seperti tindakan Bangsa Siluman, tetapi kita belum melihat dengan mata kepala kita sendiri.” Ia memberi jeda.


Xu Xiaosi mengernyitkan keningnya mendengar perkataan itu “Tapi, aku pikir Pendekar Aliran Putih tidak akan pernah melakukan itu, Tuan.”


“Semua bisa saja terjadi selama Perang!.”


Akhirnya Xu Xiaosi diam, Xiao Feng kini mengalihkan pandangan kepada Cao Pi yang berdiri di dekat Xu Xiaosi. “Cao Pi bagaimana pendapatmu tentang ini?.”


Cao Pi tersenyum dan menjawab “Aku sependapat dengan Tuan, meskipun sepanjang jalan Ibukota aku mendapati kekejaman diluar nalar, tetapi bisa saja itu bagian dari rencana mereka yang ingin mengelabui kita.”


“Apalagi tak ada bangunan yang hancur, dan korban yang mati hanyalah bawahan kita, bukan bawahan musuh.” Lanjut Cao Pi.


Penduduk Ibukota itu sepenuhnya memang sudah diisi oleh ribuan Pendekar Aliran Hitam yang menggantikan Penduduk Ibukota sebelumnya yang merupakan Pendekar Aliran Putih.


Para Penduduk Ibukota yang sebelumnya sebagian telah tewas, sebagian ditawan untuk dijadikan tumbal dan sisanya melarikan diri.


“Kau ada benarnya!.” Xiao Feng  mengangguk - anggukan kepala. “Tetapi kita sudah rugi banyak, kita harus mengutus ribuan lagi untuk menggantikan mereka!.”


Xiao Feng tidak merasa cemas dengan ribuan korban mati di pihaknya, karena ia masih punya banyak pengganti untuk mereka.


Xu Xiaosi menawarkan diri untuk membawa pengganti orang – orang itu “Tuan, aku akan memanggil ribuan lagi dari markas di belakang Istana.”


Di belakang Istana ada hutan yang luas, yang digunakan sebagai markas jutaan pasukan Pendekar Aliran Hitam yang sudah siap untuk berperang.


Para Petinggi sengaja menyembunyikannya di hutan agar tidak terlihat oleh Pendekar Aliran Putih.


“Lakukanlah!.” Ucap Xiao Feng, dan Xu Xiaosi bergegas keluar dari Aula Kekaisaran menjalankan perintah itu.


Saat Xu Xiaosi pergi, Xiao Feng kembali mengalihkan pandangan kepada Cao Pi “Menurutmu apa tujuan mereka?.”


Cao Pi tersenyum dan berkata “Aku rasa tujuan mereka adalah menakut – nakuti kita agar pergi dari Istana ini, dan sayang sekali itu tidak berhasil!.”


Setelah Cao Pi mengatakan itu, dua puluh Petinggi Pendekar dan 10 Bangsawan pembelot yang berada di Aula Kekaisaran itu tertawa terbahak dengan lantang, gemanya terdengar sampai keluar ruangan.

__ADS_1


Di balik bayang – bayang disudut ruangan, Liang Wei menyeringai ‘Teruslah menari di atas telapak tanganku.’


__ADS_2