Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Ujian Tahap Kedua (Bagian Ketiga)


__ADS_3

Dalam sekejap ia berada 1 langkah di depan Liang Wei, ia segera mengayunkan pedang mengincar Liang Wei.


“Tarian Pedang Pemutus Kehidupan” gumam Lin Lixue, lalu melakukan gerakan pedang cepat yang halus dan indah, namun mematikan.


Liang Wei membelalakkan matanya melihat kecepatan Lin Lixue, selain tentang kecepatan, ia juga kaget karena tingkat kekuatan Lin Lixue, dari tingkat dasar tahap awal tiba – tiba meningkat ke tahap akhir atau puncak.


Bukan hanya dia yang kaget, bahkan seluruh yang menyaksikan hal itu juga kaget.


“bukankah tadi dia berada di tingkat dasar tahap awal?.” Jenderal Ding berdiri dari duduknya karena kaget.


Awalnya Liang Wei tidak berniat melawan Lin Lixue dengan serius.


Namun kini tingkat kekuatan Lin Lixue hanya satu tahap di bawah Liang Wei, hal itu bukanlah suatu masalah jika Lin Lixue sama seperti pendekar pada umumnya, namun Lin Lixue tidaklah normal.


Liang Wei bisa merasakan dari kecepatan dan tekanan auranya, Lin Lixue setidaknya bisa mengimbangi seseorang yang memiliki tingkat kekuatan 2 tahap di atasnya.


Liang Wei telah melakukan satu lagi kesalahan yaitu meremehkan lawan.


Dalam sepersekian detik, Liang Wei tidak punya pilihan selain bertarung dengan serius.


“si*l, aku tidak percaya dia bisa memaksaku untuk menggunakannya.”


“Langkah Kegelapan.”


Lin Lixue kaget karena serangannya hanya mengenai udara kosong, ia berpikir seharusnya serangan itu berhasil.


Dalam sekejap, Liang Wei berada dibelakang Lin Lixue, namun dia disambut oleh tendangan kaki belakang Lin Lixue.


Lin Lixue memang kaget karena pedangnya mengenai udara kosong, tapi dia bisa merasakan Liang Wei dibelakangnya.


Liang Wei menyambut tendangan itu dengan sebuah tangkisan tangan, namun meski berhasil menangkisnya, tubuhnya terseret 5 langkah kebelakang.


Para penonton sangat takjub dengan teknik yang disuguhkan keduanya.


“kenapa bukan dari tadi kalian begini.”


“kecepatan gadis kecil itu tidaklah normal.”


“hey bocah jangan mau kalah dari gadis kecil itu.”


“hey bocah keluarkan pedangmu.”


Berbagai komentar itu tidak lagi dihiraukan Liang Wei, ia sudah berada dalam kondisi fokus.


Di antara orang yang berkomentar, 2 orang misterius sedang melakukan percakapan.


“hey apa kau melihatnya?” salah seorang dari penonton dengan jubah hitam.


“yaa, itu benar - benar tekniknya, tidak salah lagi itu adalah dia.” sahut seseorang yang juga mengenakan jubah yang sama di didekatnya.


“jika itu memang dia, apakah kita harus memulainya sekarang?.”

__ADS_1


“jangan menarik pancing hanya karena kau merasakan ada ikan yang menyenggol umpanmu.”


“hahahaha aku mengerti.”


Di balik jubahnya, mereka berdua tersenyum tanpa menyipitkan mata.


Sementara di dekat kursi tamu kehormatan, Lu Bian berpikir dengan keras perihal marga Liang pada nama Liang Wei.


“Dia dari Keluarga Liang, tapi aku belum pernah mendengar bocah dengan nama ‘Wei’ .” pikir Lu Bian, lalu tiba – tiba matanya membelalak menyadari sesuatu.


Ia kemudian melihat kekiri dan kekanan memandang tribun penonton, ia seperti sedang mencari seseorang.


“jika Yi er tidak mati, Patriark sekte Pedang Jiwa adalah Yi er, intuisiku mengatakan bahwa orang itu yang membunuh Yi er.” Pikir Hong Cheung yang memperhatikan Lu Bian dari tadi.


Lu Bian tidak kunjung mendapat apa yang ia cari, ia mulai gelisah.


“hey ada apa?.” Tanya Jenderal Ding yang heran melihat Lu Bian gelisah.


“ahh ti- tidak apa – apa.” Lu Bian akhirnya hanya terdiam setelah menjawab pertanyaan Jenderal Ding.


“semoga saja apa yang kupikirkan tidaklah benar.” Pikir Lu Bian, keringat dingin mengucur di dahinya.


“tinggg” suara pedang yang menghantam lantai arena pertandingan mengalihkan perhatian Lu Bian.


Liang Wei dan Lin Lixue memulai pertarungannya kembali.


Setelah Liang Wei terseret 5 langkah kebelakang, Lin Lixue yang sebelumnya membelakanginya dengan cepat membalikkan badannya lalu berlari secepat kilat menuju Liang Wei.


“Tarian Pedang Pemutus Kehidupan”


“Langkah Kegelapan”


Namun juga lagi – lagi Liang Wei berhasil menghindarinya, sehingga pedang Lin Lixue hanya menghantam lantai arena pertandingan.


Lin Lixue kemudian menendang kebelakang, namun tidak seperti sebelumnya, di sana tidak ada Liang Wei.


Di waktu yang sama, tanpa ia duga, Liang Wei muncul setengah langkah depan Lin Lixue, Lin Lixue yang fokus menendang kebelakang tidak menyadari itu.


“Iblis Hitam Pembalas Dendam” gumam Liang Wei, lalu melakukan gerakan yang agresif dan kasar berkebalikan dengan gerakan Lin Lixue yang halus.


Dalam sepersekian detik yang singkat itu, tinju Liang Wei sudah tidak terhitung bersarang di perut dan dada Lin Lixue.


Semua mata tidak bisa mengikuti pergerakan Liang Wei, mereka pun tidak menyangka seseorang tanpa tenaga dalam bisa melakukan itu.


Namun yang terjadi sebenarnya adalah mereka hanya tidak bisa merasakan tenaga dalam Liang Wei.


Itu semua karena kalung yang Liang Wei milliki seperti sebuah perisai tak kasat mata yang tidak membiarkan aura Liang Wei bocor sedikitpun.


Jika tanpa kalung itu, mungkin para penonton sudah kaget merasakan tingkat kekuatan Liang Wei yang berada pada tingkat pemula tahap awal.


Lin Lixue terlempar keluar arena. Para penonton membelalakkan matanya, sebagian dari mereka kaget pada teknik yang disuguhkan Liang Wei, ada juga yang marah melihatnya.

__ADS_1


“hey kenapa kau terlalu kasar kepada gadis kecil itu!.”


“benar, bukankah itu terlalu berlebihan.”


“kau bertarung tidak seperti pendekar aliran putih.”


“b*nci!.”


Banyak yang menghujat Liang Wei yang melakukan serangan ganas tanpa mempertimbangkan gender.


Urat di dahi Liang Wei muncul dan berdenyut – denyut, ia sudah tidak tahan dengan semua komentar pedas itu.


“turun kesini hadapi aku bang*at, jangan hanya berkicau seperti burung.” Teriak Liang Wei diiringi umpatan.


“bocah kurang ajar!, tunggu aku di situ.” Ucap seorang pria paruh baya berdiri dari kursi penonton. lalu menggulung lengan jubahnya, bersiap melompat ke arena pertandingan.


Banyak orang melakukan hal yang sama seperti pria paruh baya itu, mereka semua bersiap melompat ke arena pertandingan.


“diaaammm!!!!” Sebelum terjadi kekacauan yang sebenarnya, Kaisar Aiguo turun tangan langsung melerainya, ia membocorkan aura pendekar tingkat tertinggi tahap puncak yang ia miliki.


Aura itu berhasil membungkam semua orang, mereka semua merasa seperti ada benda yang berat tak kasat mata menindih tubuhnya, bahkan ada dari mereka yang pingsan.


Dirasa sudah menenangkan para penonton, Kaisar Aiguo lalu menarik kembali auranya.


“ini adalah pertarungan, sama halnya dengan sebuah perang, apapun jurusnya, seagresif apapun caranya, itu tetap dibenarkan. Wasit, cepat umumkan hasilnya dan akhiri ini!.”


Chuang Li mengangguk atas perintah Kaisar Aiguo.


“pemenang ujian tahap kedua atau terakhir adalah  peserta Liang Wei.” Teriak Chuang Li dan mengangkat satu tangan Liang Wei ke atas.


Liang Wei mendongakkan kepalanya menunjukkan senyuman sombong kepada para penonton.


“tunggu aku di luar arena bocah.” Pikir para penonton yang jengkel pada Liang Wei.


Sementara itu Lin Lixue yang terlempar keluar dari arena berusaha berdiri sambil memegang perutnya, ia merasakan sakit yang teramat di perutnya.


Seharusnya dia mengeluhkan rasa sakit itu, namun malah senyuman tersungging di bibirnya, ia tersenyum tanpa menyipitkan mata.


“akhirnya kutemukan.” Gumam Lin Lixue.


Lin Lixue lalu berlari dengan cepat menuju Liang Wei. Sebuah energi berwarna merah keluar dari tangannya.


Liang Wei yang sedang memamerkan senyum sombongnya kepada para penonton tidak menyadari apa yang dilakukan Lin Lixue.


Hingga sebuah pukulan bersarang tepat di dada tempat jantungnya berada.


“uhhukk”


Liang Wei memuntahkan seteguk darah.


 

__ADS_1


 


__ADS_2