
“apaaaaa???!!!!” teriak para peserta bersamaaan.
Mereka bahkan belum melakukan ujian jadi mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan.
“penguji, bisa anda ulang perkataan barusan?.” Merasa salah mendengar, salah seorang peserta bertanya.
Melihat raut wajah para peserta, Chuang Li dapat memahami kebingungan yang dialami para peserta, dia tersenyum lalu berkata.
“apa yang kalian dengar adalah suatu kebenaran, hanya keduanya yang lolos dalam ujian tahap pertama ini.” Ucapnya sambil menujuk Liang Wei dan gadis kecil yang bernama Lin Lixue.
Ini pertama kalinya terjadi dalam sejarah seleksi penerimaan murid Perguruan Beladiri Xijing, hanya ada 2 orang yang lolos, dan mereka berdua hanyalah bocah dan gadis kecil berumur 7 tahun.
“aku tidak setuju dengan keputusanmu.” Ucap salah seorang dari mereka yang keberatan dan mengajukan protes.
“siapa namamu?.” Chuang Li bertanya kepada pemuda yang melakukan protes.
“Ding Bang, aku adalah tuan muda keluarga Ding, dan juga anak ‘Jenderal’ Ding.“ ucap pemuda bernama Ding Bang dengan wajah sombong dan menekankan suara pada kata ‘Jenderal’.
Mendengar kata ‘Jenderal’, para peserta sedikit kaget, dan mulai terdengar bisikan – bisikan seperti segerombolan lebah di sarangnya.
“ternyata dia anak Jenderal Ding.”
“aku tidak menduganya, ayahnya adalah pahlawan kekaisaran ini, dia selalu menumpas pendekar aliran hitam.”
“dengan identitas sebagai anak Jenderal, mungkin saja dia akan diloloskan.”
Suasana yang sebelumnya sunyi seketika jadi seperti pasar saat itu. tapi tiba – tiba saja ada peserta lain yang mengajukan protes.
“aku Xie Lan, aku adalah nona muda Keluarga Xie, dan murid terbaik Sekte Pedang Jiwa dari Kekaisaran Yang, aku juga tidak setuju dengan keputusan penguji.” Ucap seorang gadis cantik bernama Xie Lan.
“wah bahkan ada murid Sekte Pedang Jiwa disini” ucap salah seorang peserta.
“bukankah itu adalah sekte terkuat di Kekaisaran Yang.” ucap peserta lain menimpali.
“sepertinya sekte itu sedikit familiar, tapi dimana aku pernah mendengarnya.” Batin Liang Wei mendengar sekte pedang jiwa disebutkan oleh seseorang.
Para peserta sangat kaget dengan latar belakang yang dimilki Xie Lan.
__ADS_1
sedangkan Chuang Li tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat protes kedua pemuda dan pemudi itu.
“siapa pun kalian, darimana pun kalian berasal, sekalipun jika kalian adalah anak Kaisar.” Jawab Chuang Li sambil memandang Ding Bang dan Xie Lan dengan santai secara bergantian.
“kalian tidak tidak bisa mengganggu gugat keputusanku karena akulah penguji disini, aku adalah Kaisar dalam ujian ini.” lanjut Chuang Li dengan nada dingin dan tatapan mata yang menajam.
Ding Bang, Xie Lan, dan seluruh peserta yang lain menelan ludah dengan kasar, mereka takut membuat marah Chuang Li, mereka masih mengingat sensasi aura Chuang Li yang menyesakkan mereka.
“tapi kami bahkan belum ujian, bagaimana anda menilai kami.” Meskipun takut dan gugup, Xie Lan memberanikan diri bertanya.
“bukankah tadi sudah kuberikan kesempatan, tapi kalian sendiri yang tidak mau, hanya mereka berdua yang berani berdiri.” Ucap Chuang Li sambil mengarahkan jari telunjuk pada Liang Wei dan gadis kecil Lin Lixue.
Mendengar perkataan Chuang Li, akhirnya mereka mengerti dimana letak kesalahan mereka.
Mereka mengingat lagi kata – kata yang sebelumnya Chuang Li ucapkan.
“kalian yang menyerah pada ujian ini silahkan tetap duduk, sebaliknya yang masih ingin mengikuti ujian ini silahkan kalian berdiri.”
Mereka mengumpati diri masing – masing karena tidak memilih berdiri karena takut akan menghadapi kematian.
“kelihatannya kalian sudah mengerti kesalahan kalian, perlu aku ingatkan jika karena alasan takut mati kalian menyerah, lebih baik kalian berhenti jadi pendekar, Perguruan Beladiri Xijing tidak akan mendidik seorang pengecut!.” Ucap Chuang Li dengan nada sedikit meninggi.
Kata – kata itu seolah menggema dan menusuk ke hati mereka, mereka semua menunduk karena malu kepada diri masing – masing. Mereka menyesali kebodohan yang mereka lakukan tadi.
“Sifat sejati seseorang baru akan kelihatan ketika dalam keadaan terdesak.” Ucap Chuang Li kepada para peserta.
“lihatlah betapa menyedihkannya kalian sekarang, jika kalian menghadapi perang yang sesungguhnya, kalian tidak akan diberi kesempatan untuk berpikir maju atau tidak, setengah detik pun kalian ragu, musuh akan mengambil nyawa kalian.” Lanjut Chuang Li memberikan kuliah singkat.
“di dalam sebuah perang hanya ada kata membunuh atau dibunuh, bahkan kata ‘menang’ di dalam perang hanya untuk mendifinisikan siapa yang membunuh paling banyak.” Chuang Li lalu menutupnya dengan sebuah kata – kata yang mungkin tidak akan mereka lupakan selama mereka hidup.
“lalu tentang orang 100 lebih peserta yang tadi.” Ucap Chuang Li lalu menjentikkan jemari, seketika pintu ruangan tempat peserta tadi diuji menghilang beserta bekas darah yang tadi terlihat.
Hewan spiritual, manusia yang terbantai, Bahkan peserta yang tadi merangkak juga menghilang tanpa bekas.
“semua yang kalian tadi saksikan termasuk aura hitam pekat yang keluar dari tubuhku adalah ilusi.”
“apaaa!!!!!” teriak para peserta bersamaan, kecuali Liang Wei dan Lin Lixue.
__ADS_1
Para peserta pun mengalihkan pandangannya pada Liang Wei dan Lin Lixue yang tidak terlihat kaget sama sekali.
“jadi mereka berdua sudah tahu, si*lan.” pikir para peserta sambil mengumpati Liang Wei dan Lin Lixue.
Lin Lixue hanya diam tidak menanggapi para peserta yang memandang dirinya.
Sedangkan, Liang Wei menunjukkan senyum yang sangat arogan membuat para peserta jadi jengkel.
“kalian bodoh.” Hanya gerak mulut dari Liang Wei tanpa mengeluarkan suara, ia melakukannya sambil tersenyum mengejek.
Meski Liang Wei tidak bersuara, tapi mereka tentu mengerti apa yang Liang Wei katakan melalui gerak mulutnya, sehingga mereka menjadi semakin jengkel.
Bahkan ada peserta yang hampir kehilangan kesabarannya dan ingin menyerang Liang Wei, tapi peserta lain berhasil menahan peserta itu.
Peserta yang hampir menyerang Liang Wei adalah Ding Bang, karena belum lama ini Liang Wei pernah memukul temannya hingga tulang rusuknya retak.
Ding Bang masih menaruh dendam pada Liang Wei, namun Liang Wei sudah melupakan kejadian itu.
“ahh dia memang sangat pandai membuat orang marah.” Pikir sebagian peserta sambil mengela napas panjang sambil menggelengkan kepala.
“baiklah kalian yang tidak lolos ujian ini silahkan keluar dari ruangan dan menuju ke kursi penonton.” Ucap Chuang Li sambil menunjuk pintu keluar ruangan itu.
Para peserta tidak mengerti maksud perkataan Chuang Li tentang ‘kursi penonton’.
Namun para peserta tetap menuruti perkataan Chuang Li.
Para peserta pun satu persatu meninggalkan ruangan itu dengan lesu, mereka masih belum bisa menerima kenyataan tentang kegagalan mereka.
Saat para peserta menginjakkan kaki di luar ruangan barulah mereka mengerti maksud perkataan Chuang Li sebelumnya.
Di luar ruangan itu ada tribun yang mengelilingi sebuah arena pertandingan yang berada ditengah.
sebagian besar tribun telah terisi oleh penonton yang terlihat duduk sambil berbincang – bincang dan tertawa.
bahkan ada Kaisar Kekaisaran Yin di kursi kehormatannya bersama para Petinggi Perguruan Beladiri.
Suasana sangat ramai, berbeda dengan suasana di dalam ruangan tadi.
__ADS_1
Para peserta serentak menganga dan membelalakkan mata karena terlalu kaget.
“bagaimana bisa?, jadi dari tadi kita berada di dekat arena pertandingan.”