Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Perang dan Nyawa Liang Wei


__ADS_3

“Tidak, kaulah yang terlalu bodoh.” Ucap  Zhang Bingjie sambil memperlihatkan senyum meremehkan.


Wajah Liang Ye merah karena amarah yang tak dapat ditahan “Sebentar lagi senyuman ramah di wajahmu itu akan hilang!.” Ucapnya, lalu terbang dengan kecepatan tinggi ke arah Zhang Bingjie yang berada di bawahnya.


Jika dilihat dari darat, Liang Ye tak nampak, Hanya terlihat kilatan cahaya berwarna putih yang memanjang yang turun dari langit. Kedua pedang tanpa gagangnya mengikuti dirinya terbang di sisi kanan dan kirinya. “kali ini kau akan mati!.”  Sorot mata Liang Ye sangat menusuk Zhang Bingjie.


Zhang Bingjie mendongakkan kepala ke atas melihat kedatangan Liang Ye, dengan sorot mata yang juga tajam ia menggerakkan pedangnya besarnya ke atas kepala hingga kebelakang punggungnya, otot kekar di tubuhnya membesar “kaulah yang akan mati!.” Ucapnya.


Tak lebih dari satu tarikan napas, Liang Ye sudah berjarak 5 jari dari Zhang Bingjie.


Zhang Bingjie menebaskan pedang besarnya, sementara Liang Ye merentangkan tangan dan kedua pedangnya secara bersamaan menyerang Zhang Bingjie dari depan.


 


 


“Booomm!!!”


 


 


Pedang besar dan pedang ganda tanpa gagang bertemu menciptakan ledakan, fluktuasi angin yang sangat kuat membuat pohon di sekitar tempat itu tercabut hingga akar dan terbang kemana – mana, bahkan awan – awan yang menutupi langit di siang yang cerah itu ikut tertiup.


Zhang Binjie meluncur bebas kebawah dan membuat lubang pada tanah, sedangkan Liang Ye terlempar ke atas bagaikan batu yang dilempar ke atas.


Zhang Bingjie langsung bangkit dengan tubuhnya yang masih tanpa luka sedikitpun, Liang Ye pun sama.


Dalam sekejap mereka berdua kembali terbang dan saling menyerang satu sama lain seperti sebelumnya, ledakan yang lebih dahsyat dan memekakkan telinga lagi – lagi terdengar, dan itu bukan yang terakhir, mereka berdua terus melakukannya hingga setengah hari tanpa jeda.


Sore hari menjelang malam sudah datang, daratan di sekitar mereka sudah rata dengan tanah, tak ada lagi awan yang terlihat di langit, namun tak ada satupun dari mereka yang mau mengalah mereka masih tetap saja menyerang satu sama lain tanpa jeda sedikitpun.


Zhang Bingjie cukup terkesan karena Liang Ye  mampu membuat goresan di tubuhnya. itu sangat langka terjadi. “Untuk manusia dari Benua dalam kau tidak terlalu mengecewakan, tapi itu belum cukup untuk mengalahkanku.” Ucap Zhang Bingjie sambil tersenyum ramah.


“hemmmm, hentikan omong kosongmu, cepat angkat pedang bodohmu itu dan akhiri pertarungan ini!.” Liang Ye tidak menggubris perkataan Zhang Bingjie,  ia segera terbang menujunya secepat kilat.


Zhang Bingjie tak tinggal diam, ia kembali mengangkat pedangnya dan juga terbang secepat kilat ke arah Liang Ye.


 


 


“Bommm!!!!”


 


 

__ADS_1


Ledakan kembali terdengar tak jauh dari tempat itu, namun itu bukan berasal dari mereka berdua, Liang Ye dan Zhang Bingjie membatalkan serangannya dan reflek meloleh ke arah sumber ledakan itu.


Mereka menoleh bukan karena tertarik pada suara atau pemandangan ledakan itu, namun karena ledakan itu sepertinya mengarah kepada mereka berdua.


“ck! Menganggu saja!, padahal sebentar lagi aku akan menang!.” Liang Ye kesal saat pertarungannya diganggu, terutama saat ia yakin bahwa akan memenangkannya.


“Kau terlalu percaya diri Tua bangka.” Ucap Zhang Bingjie yang berjarak 10 meter di depannya.


 


 


“wooossh”


 


 


8 kilatan cahaya melintas di antara mereka berdua. Itu adalah pertarungan 4 lawan 4 antara rekan Liang Ye dan Zhang Bingjie.


8 orang itu reflek menoleh juga ke arah Zhang Bingjie dan Liang Ye, mereka pun menghentikan serangan, lalu terbang ke kelompoknya masing – masing.


“Untuk apa kalian datang kesini!.” Bukannya senang karena rekan datang, tapi Liang Ye malah mengomel kesal melihat wajah para leluhur yang merupakan teman segenerasinya.


“Kau sungguh menyebalkan, kita ini sedang perang, ini bukanlah kesengajaan!.” Benar kata Yin Angúo, bagi seorang pendekar tingkat mutlak  medan perang seluas puluhan kilometer pun tak akan cukup, itulah mengapa mereka pada akhirnya bertemu satu sama lain tanpa ada rencana.


Mereka sudah tahu sikap tempramen Liang Ye, maka dari itu mereka mengabaikannya dan memilih fokus kepada musuh yang berada di depannya.


“Lihatlah mereka berdebat seperti anak kecil, seperti kekuatannya yang kecil.” Sindir Zhang Bingjie. Rekan – rekannya tertawa dengan lantang mendengar ucapan itu.


Merasa tersinggung, mengalihkan pandangan pada musuh di depannya, urat di dahi Liang Ye muncul, begitupun rekannya yang lain. “sebentar lagi kalian akan berhenti menggonggong!.” Ucap Liang Ye.


Mereka berlima terbang ke arah musuh masing – masing.


 


 


“boom”


 


 


Ledakan demi ledakan saling bersahut – sahutan di sekitar tempat itu, meskipun mereka bertarung di langit namun yang dampaknya hingga kedaratan,  medan perang seluas puluhan kilometer itu jadi terbakar dan berlubang dimana - mana.


--

__ADS_1


Di pusat Ibukota.


Hong Bingwen datang dengan token teleportasi bersama pasukan yang berjumlah puluhan ribu orang, termasuk orang – orang dari Kekaisaran Yang.


“Aku tidak menyangka mereka akan menyerang wilayah paling kuat.” Ucap Hong Bingwen yang terbang melihat kebawah, kekacauan terjadi di mana - mana.


Hal itu diluar dugaan Hong Bingwen, Wilayah perbatasan merupakan wilayah yang paling rawan terhadap serangan, itulah mengapa Hong Bingwen dan yang lain rapat sambil berjaga di situ, mengabaikan Ibukota Xijing yang menurutnya tak perlu dijaga.


“Bantuan sudah datang!!!.” Teriak Zhi Qiang yang melihat kedatangan Hong Bingwen dan rombongannya terbang ramai – ramai seperti koloni lebah.


--


“Katakan apa yang terjadi pada Yang Mulia!.” dengan suara feminim namun tegas orang yang membawa Liang Wei membentak pria paruh baya itu.


Pria paruh baya itu terkesiap dan menatap orang itu dengan serius. “ada elemen cahaya pada jiwanya!.” Ucapnya.


“Apa kau bercanda!.” Kerah jubah Pria paruh baya itu ditarik, ucapannya itu terdengar tidak masuk akal di saat yang genting seperti itu.


“Aku tidak sedang bercanda Nyonya!.” Pria paruh baya itu tidak menunjukkan kebohongan di matanya.


“Tapi itu sangatlah mustahil, bagaimana bisa pendekar aliran hitam memiki elemen cahaya dalam tubuhnya.” sukar untuk dipercayai, jika itu benar, maka untuk menyembuhkan Liang Wei akan sangat sulit.


“Lakukan sesuatu!, apapun itu!.” sudah sangat putus asa orang itu memohon kepada Pria Paruh baya itu.


“Kita bisa menyelamatkannya!, tapi ….” Ucap Pria paruh baya itu, namun ia sedikit ragu dengan solusi yang Ia pikirkan, bukan karena ia takut itu tidak akan berhasil, tapi karena alasan lain.


“Tapi apa?. Tunggu apa lagi, cepat lakukan!.” bentak orang yang dipanggil Nyonya itu.


Pria Paruh baya itu menghela napas dan diam. tindakannya itu membuat orang yang masih mencengkram kerah jubahnya hilang kesabaran “Jing Jian! Katakan sesuatu!.” Bentaknya sambil menyebutkan nama Pria paruh baya itu.


“Untuk menyembuhkannya, dibutuhkan satu orang dengan elemen kegelapan dan satu orang dengan elemen cahaya. Keduanya harus bersamaan mengalirkan elemennya masing – masing ke tubuh Yang Mulia.” Itulah yang membuat Jing Jian jadi ragu dengan solusinya.


“Apa???. Berarti kita harus meminta pertolongan seorang pendekar aliran putih?.”


“Sekarang kita hanya punya pilihan itu jika ingin Yang Mulia selamat.” Ucap Jing Jian dengan berat hati.


“Dimana kita akan mendapatkannya?.” Ucapnya sambil melepaskan cengkeraman kedua tangan di kerah jubah Jing Jian dan beralih menjambak rambutnya, rambut hitam lurusnya yang panjang terurai jadi berantakan.



Di alam bawah sadar Liang Wei. “hufft sepertinya sebentar lagi aku akan bertemu dengan Ayah.” Ia cukup sedih karena keinginannya untuk mencari ketenangan dengan bereinkarnasi akan berakhir dengan cara seperti itu.


Namun Ia akhirnya menyadari  bahwa yang ia inginkan bukanlah ketenangan, melainkan sebuah kasih sayang. Hong Cheung sudah memberikan itu sebagai seorang ayah, itu bukanlah ilusi semata, keinginan Liang Wei sudah tercapai sehingga membuatnya tak keberatan meski harus meninggalkan dunia.


“Hey nak!, mengapa kau bisa sampai di sini?, dan secepat ini?.”


"Guru. Apakah dia yang engkau maksud anak kandungku?."

__ADS_1


"Apa kau tidak lihat wajahnya sama sepertimu."


__ADS_2