Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Rencana ke Ibukota


__ADS_3

Sudah 3 bulan sejak Liang Wei memulai latihannya lagi. Pada masa latihan itu Liang Wei berlatih setiap hari dari pagi hingga sore, menjelang malam ia berhenti untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Pada masa latihan itu tentu saja Hong Cheung menemaninya dengan araknya seperti biasa.


Liang Wei menguasai bagian dasar pertama dari tiga kitab misterius itu dalam waktu sebulan, bagian selanjutnya dia kuasai pada bulan kedua, dan pada bulan ketiga ia menguasai bagian dasar yang terakhir.


bagian dasar dalam kitab itu memilki 3 bagian, bagian pertama adalah ‘langkah kegelapan’, langkah kegelapan seperti yang sudah dijelaskan, kecepatan yang mengandalkan unsur kegelapan sebagai medianya.


bagian dasar kedua adalah Aura Iblis, Aura Iblis merupakan hal yang berasal dari unsur kebencian dalam hati yang diubah menjadi aura untuk mengintimidasi.


Bagian dasar ketiga adalah Amarah Sang Satan, Amarah Sang Satan merupakan hal yang berasal dari unsur kemarahan yang diubah menjadi kekuatan yang berlipat ganda.


ke-3 bagian dasar dalam kitab itu termasuk ‘langkah kegelapan’ sudah ia kuasai dengan sempurna, atau lebih tepatnya sejak awal memang Liang Wei sudah menguasainya dengan sempurna.


Waktu 3 bulan itu tentu saja merupakan sebuah kesengajaan yang direncanakan oleh Liang Wei.


Meski begitu, Kesengajaan yang tidak diketahui Hong Cheung itu tetap membuatnya takjub, karena jangka waktu latihan itu masih lebih cepat dibandingkan dirinya yang dianggap jenius.


Karena Hong Cheung sudah menganggap Liang Wei menguasainya dengan sempurna, Liang Wei kini mendapat izin untuk memiliki kitab itu, sesuai janji yang dikatakan Hong Cheung sebelumnya.


“sesuai janjiku, ambillah kitab ini nak, simpan baik – baik, pergunakan dengan bijak, dan selalu ingat menggunakannya dengan niat baik.” ucap Hong Cheung diiringi sebuah nasehat untuk Liang Wei.


“pelajari secara berurutan, pelajarilah sendiri teknik inti dalam kitab ini dalam waktu 7 bulan.” Lanjut Hong Cheung menegaskan perkataannya.


Bukan tanpa alasan Hong Cheung menyuruh Liang Wei berlatih sendiri, melihat pemahaman Liang Wei pada bagian dasar dalam kitab itu sudah sampai pada tahap sempurna, Hong Cheung yakin walaupun membiarkan Liang Wei belajar dengan caranya sendiri, ia tetap akan bisa melakukannya dengan baik.


“baiklah ayahanda guru, aku mengerti!. Lalu, dalam waktu 7 bulan itu, apakah aku harus menguasai semua bagian inti dalam kitab ini? .” Tanya Liang Wei sambil menunjuk kitab yang sekarang berada ditangannya, ia bertanya karena bingung dengan maksud dari perkataan Hong Cheung.


“aku tidak bermaksud memaksamu menguasai semua bagian inti itu, namun aku hanya menyuruhmu menguasainya semampumu selama waktu itu.” Jawab Hong Cheung memperjelas maksudnya.

__ADS_1


“dan setelah itu kita akan berangkat ke ibukota.” lanjut Hong Cheung.


Liang Wei cukup penasaran dengan ucapan Hong Cheung tentang Ibukota, pasalnya tidak ada hal yang Liang Wei ketahui tentang Ibukota. jadi, pergi ke Ibukota merupakan hal yang bagus karena dengan itu mungkin ia akan mendapatkan banyak informasi, ia berpikir satu hal yang mungkin ada di Ibukota, yaitu..


“Apakah disana banyak daging panggang?.” Mata Liang Wei berbinar, tanpa sadar air liurnya menetes. Informasi adalah hal belakangan, karena daging panggang adalah satu – satunya yang membuat ia senang semenjak Ia berada di tubuh manusianya.


Liang Wei sangat antusias hingga tidak menyadari dirinya mengucapkan sesuatu dengan polos, ucapan polos itu tidak sesuai dengan suara berat dan seraknya, sehingga membuat Hong Cheung tidak merasa gemas sedikitpun.


“ya ampun hentikan itu, itu bisa membuatku bermimpi buruk.” Batin Hong Cheung di iringi raut wajah datar.


Meskipun tidak merasa gemas, tapi Hong Cheung tetap mencintai anak angkat yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya itu dari lubuk hatinya yang terdalam, itulah mengapa dia merencanakan segala hal untuk kehidupan Liang Wei.


Dimulai dari latihan, hingga kemana ia akan membawa Liang Wei, semua sudah Hong Cheung rencanakan dengan matang. dia menginginkan Liang Wei agar menjadi kuat secepatnya.


Semua itu demi satu tujuan, satu tujuan sama yang dimiliki semua orang di dunia yang kejam itu, tujuan itu tidak lain adalah ‘bertahan hidup’.


“benar, disana banyak daging panggang nak.” Jawab Hong Cheung dengan tersenyum, ada perasaan  bahagia melihat wajah anaknya yang selalu senang memikirkan daging panggang.


Mendengar pertanyaan itu, Hong Cheung sedikit tersenyum lalu menjawab.


“begini nak, 7 bulan lagi bertepatan dengan usiamu yang genap 7 tahun, pada waktu itu juga akan di adakan seleksi penerimaan murid baru di perguruan beladiri terbaik yang berada di Ibukota.” Jawab Hong Cheung.


“apakah itu menyenangkan?. Jika tidak, lebih baik aku disini saja.” Tanya Liang Wei cukup ragu karena ia belum pernah berinteraksi dengan dunia luar semenjak ia berada di tubuh manusianya.


“tentu saja itu menyenangkan, karena kelak kau akan menemui banyak orang untuk melakukan latih tanding.” Ujar Hong Cheung memang sudah merencanakannya.


“bukannya sudah cukup dengan ayahanda guru sebagai lawan latih tandingku?.” Pertanyaan Liang Wei mewakili rasa herannya,


“yang kau katakan ada benarnya tapi apakah kau tidak ingin memiliki satu atau dua teman?.” Hong Cheung menjawab pertanyaan Liang Wei dengan pertanyaan juga.

__ADS_1


Pertanyaan yang keluar dari mulut Hong Cheung membuat Liang Wei terdiam dan berpikir.


“teman?, bagaimana rasanya berteman?.” Dalam hati Liang Wei bertanya – Tanya.


di kehidupan sebelumnya sebagai Kaisar Siluman, ia tidak pernah memiliki teman, semua ia lakukan dengan kekuatannya, semua orang hanya patuh pada kekuatannya, semua orang takut pada kekuatannya.


adapun pengikut, permaisuri, dan selirnya, mereka hanya tunduk karena menghormatinya dan meng-agungkannya sebagai Kaisar.


Karena hal itu Liang Wei tidak pernah bisa mendefinisakan apa itu teman, dan bagaimana rasanya berteman.


Ia berpikir mungkin inilah saat yang tepat untuknya mengetahui apa itu teman dan bagaimana rasanya berteman.


Setelah beberapa saat memikirkan hal itu, Liang Wei mulai membuka mulutnya berbicara.


“aku tidak tahu seperti apa rasanya berteman, tapi sepertinya menarik, sekarang juga aku akan mulai berlatih ayahanda guru.” Ucap Liang Wei dengan tegas..


Hong Cheung hanya mengangguk sambil tersenyum dan terbang menuju rumah pohon. Hong Cheung sangat menantikan waktu 7 bulan yang akan datang, alasannya adalah karena ia tidak sabar ingin melihat sejauh mana perkembangan Liang Wei jika waktu itu tiba.


Setelah perginya Hong Cheung, Liang Wei memantapkan hati berlatih sesuai dengan perintah dari Hong Cheung.


Kini saatnya ia melatih bagian inti dari kitab misterius itu, karena sedang tidak diawasi oleh Hong Cheung, ia melakukannya tanpa membuka kitab misterius itu.


meskipun membosankan harus melatih hal yang sebenarnya sudah ia kuasai, namun ia tidak terlalu mempermasalahkannya, karena suasana hatinya sedang baik.


“daging panggang, daging panggang, daging panggang, daging panggang, daging panggang.” Liang Wei mulai berlatih lagi, sambil membayangkan kesenangan yang akan ia temui 7 bulan lagi.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2