
Keesokan harinya..
Para murid Perguruan Beladiri berkumpul kembali di lapangan, karena kemarin penyeleksian murid untuk misi besar itu sempat tertunda oleh insiden Zhou Wen.
Tempat Zhou Wen menderita semalaman penuh sudah bersih, hanya saja tanah di situ terlihat berlubang, Liang Wei sudah menggunakan kegelapan untuk menelan jasad Zhou Wen saat ia meregang nyawa.
“Baiklah seleksi untuk melakukan misi besar yang sempat tertunda, dilanjutkan hari ini.”
Liang Wei dengan santai mengucapkan tiap kata seolah – olah insiden kemarin tidak pernah terjadi.
Sedangkan para murid tidak bisa melupakannya.
Suara tangisan dan jeritan semalaman suntuk itu sangat jelas terdengar di telinga mereka dan masih tetap terngiang di ingatan.
Selain itu, pandangan mereka kepada Liang Wei sudah berubah karena melihat sisi lain darinya.
Mereka semua berpikir bahwa Liang Wei adalah sosok monster yang tak bisa mereka dekati sama sekali.
Sinar mata berwarna ungu di malam hari itu memberikan perasaan ketakutan tersendiri di hati para murid.
Sejak hari itu tidak ada murid yang berani menentang Liang Wei, bahkan menatap matanya sekalipun mereka tidak akan berani.
“Ada apa?, kenapa tidak semeriah kemarin?.” Liang Wei sudah tahu alasannya, tapi tetap saja dia bertanya.
Hari itu tidaklah seriuh hari kemarin, semua murid hanya berdiri dalam diam dengan kepala menunduk.
Jika sebelumnya mereka berebut untuk mengikuti misi besar itu, kini mereka berebut untuk tidak mengikuti misi itu.
Alasannya tentu saja karena tidak ingin melakukan interaksi dengan Liang Wei yang sudah menjadi mimpi buruk mereka dalam waktu semalam.
“Aku tahu apa yang ada dalam pikiran kalian, dan aku tidak akan menyalahkan kalian atas itu.”
Liang Wei tahu bahwa mental mereka masih belum sematang dirinya yang memiliki mental mahluk ratusan ribu tahun.
Mereka bisa diibaratkan bayi yang sekecil semut jika dibandingkan Liang Wei.
Baru mendengar penyiksaan saja, mereka sudah tidak kuat, apalagi insiden berdarah yang akan menjadi makanan sehari – hari mereka dalam beberapa tahun kedepan.
“Satu hal yang harus kalian akui, Kalian lemah!.”
Perkataan itu memberikan pukulan telak bagi para murid, mereka pun tidak membantahnya.
“Aku akan berada di sini sampai siang hari, jika sampai waktu siang tidak ada yang mengajukan diri, maka aku akan membunuh kalian semua.”
Para murid ketakutan pada Liang Wei yang dengan mudahnya mengucapkan kata ‘bunuh ’, tapi mereka yakin bahwa Liang Wei juga tidak akan kesulitan untuk mewujudkannya.
Semua murid jadi pucat dan panik, mereka saling menunjuk dan menyalahkan.
“Satu lagi, aku hanya ingin mendengar diskusi senyap!.” Ucap Liang Wei dengan lantang.
Setelah mendengar teguran itu, riuh yang sebelumnya bagai pasar, kini berubah menjadi bisikan – bisikan halus yang nyaris tak terdengar.
__ADS_1
Sedangkan Liang Wei dengan santai menyandarkan kepalanya pada kursi dan mulai tertidur.
Seseorang muncul dari belakang Liang Wei, ia membisikkan sesuatu kepada Liang Wei.
“Bawa aku juga dalam misi besar itu!.”
Liang Wei membuka matanya setelah mendengar suara yang familiar baginya.
“Oh, kau sudah kembali?, apakah Jing Mao melatihmu dengan baik?.”
Lin Lixue menganggukkan kepala membenarkannya.
Lin Lixue merasa sangat lemah dan sangat tertinggal oleh Liang Wei, maka dari itu ia meminta bantuan Jing Mao untuk melatihnya.
Jing Mao dengan senang hati melatihnya, hanya saja ia mengajukan satu syarat untuk Lin Lixue “berikan jatahmu 1 hari untukku.”.
Hanya Jing Mao dan Lin Lixue yang tahu kesepakatan itu.
Liang Wei memindai Lin Lixue, kekuatannya meningkat beberapa tahap hanya dalam waktu yang singkat.
“Kekuatanmu masih belum cukup, tapi kau beruntung, karena kali ini aku memang membutuhkan orang - orang dengan kekuatan yang tidak mencolok.”
Liang Wei punya maksud tersendiri memilih murid – murid yang seperti itu.
“Lalu, apakah kau akan membiarkan mereka membuang – buang waktu seperti itu?.”
Lin Lixue tahu bahwa Liang Wei hanya mengerjai para murid itu, dan para murid itu sudah jatuh dalam permainan Liang Wei tanpa mereka sadari.
Lin Lixue mendengus dan duduk di kursi kosong yang tersedia di dekat kursi Liang Wei, kursi itu adalah tempat Hong Bingwen sebelumnya.
“Kau dan balas dendam konyolmu itu!.”
Lin Lixue tahu bahwa Liang Wei hanya bergurau soal orang – orang yang telah meremehkannya, sebenarnya Liang Wei tidak peduli sama sekali tentang hal itu.
Di Hutan di Luar Ibukota…
“Suamiku aku merindukanmu, kapan hariku tiba lagi?.”
Jing Mao berbaring di atas sebuah pohon sambil bermain daun dalam bosannya.
Kembali di Lapangan Perguruan Beladiri….
Hari sudah menjelang siang, Liang Wei sudah bangun dari tidurnya setelah sempat tertidur lagi.
“Baiklah, 10 menit lagi kalian berikan keputusannya!.”
Liang Wei memberi jangka kepada para murid untuk memilih murid yang akan dipilih untuk mengikuti misi besar itu.
Para murid semakin panik, kini mereka berlari kesana kemari dan saling membujuk satu sama lain, bahkan ada yang menggunakan ancaman.
10 menit kemudian…
__ADS_1
“Waktu kalian habis, cepat bawa murid – murid yang kalian pilih ke atas panggung dalam 1 menit.”
Berbagai tingkah murid yang unik terlihat dalam waktu satu menit itu, ada yang mendorong paksa temannya, ada pula yang menendang murid yang mereka pilih, ada juga yang melemparnya ke atas panggung.
“Kau sangat kejam kepada mereka.” Lin Lixue mengkritik Liang Wei.
“Dunia Pendekar akan lebih kejam daripadaku hari ini, maka dari itu mereka harus belajar dari hal kecil.” Ucap Liang Wei dengan santai.
Tidak ada yang salah dengan kata – kata Liang Wei, kehidupan seorang pendekar yang penuh darah dan dendam jauh lebih kejam daripada tindakannya yang menakut – nakuti para murid.
Lin Lixue hanya menghela napas, dan menunjukkan raut wajah kesal.
Dia seolah tidak suka berbincang dengan Liang Wei, namun itu hanya dirinya yang biasa dan itu tidak bisa ia ubah dalam waktu sekejap.
Jika seseorang bisa melihat kedalam hatinya, maka orang itu akan tahu betapa senangnya Lin Lixue menghabiskan waktu dengan Liang Wei.
“Hanya ini?.”
Liang Wei menggelengkan kepala dan menghela napas setelah melihat murid yang berada di atas panggung hanya berjumlah 3 orang.
Ketiga murid itu terlihat ketakutan dan tidak meyakinkan, merekalah ketiga orang yang telah ditendang, dilemparkan, serta didorong paksa naik ke atas panggung.
Semua orang mulai meragukan keberhasilan misi besar itu dengan tiga murid itu yang tak terlihat menjanjikan itu.
Tidak ada yang menjawab pertnyaan Liang Wei. Mereka yang bebaris rapi di Lapangan, tetap bergeming di tempatnya dan hanya menundukkan kepala, tidak pernah mencoba untuk mendongak sekalipun.
Liang Wei menghela napas berat, Lin Lixue mendekatkan bibirnya pada telinga Liang Wei dan mengomentarinya lewat bisikan.
“Bukankah tadi kau berniat mengerjai mereka?, mengapa sekarang kau terlihat kesulitan oleh mereka?.”
Liang Wei menoleh Lin Lixue dengan raut wajah kesalnya, saat wajah mereka berhadapan dalam jarak yang dekat, Lin Lixue mendengus lalu membuang muka.
Liang Wei sudah terbiasa dengan tingkah Lin Lixue yang seperti itu, dia kembali menoleh para murid yang ada di depannya.
“Kalian boleh pergi!.”
Setelah mendengar ucapan itu, para murid langsung berhamburan pergi dari lapangan itu bagai kerbau hutan yang diincar seekor singa.
Liang Wei menggelangkan kepala sedangkan Lin Lixue tertawa ringan.
Liang Wei menoleh 3 murid yang berdiri mematung tepat di sampingnya.
“Kalian!.”
“Siap senior!.”
Liang Wei tidak tahu kenapa 1 gadis dan 2 laki – laki itu memanggilnya senior, padahal jelas – jelas mereka yang senior, tapi Liang Wei memilih tidak ambil pusing dengan hal itu.
“Kita akan berangkat lusa, siapkan barang – barang keperluan kalian, dan ingat jangan pernah mencoba untuk kabur dariku.”
Mereka tidak akan berani melakukan itu “Siap senior!.”
__ADS_1
“Satu lagi, dan ingat ini baik – baik!…. Aku akan menjadikan kalian singa sebelum sampai di Kekaisaran Yang.” Ucap Liang Wei sambil menyeringai.