Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Si Ramah yang Dingin


__ADS_3

Liang Wei tiba di gang sempit tempat ia muncul pertama kali.


“Keluarlah, aku tahu dari tadi kalian mengikutiku!.” Ia mengucapkannya dengan raut wajah yang sangat serius.


Sejak dari rumah makan itu, Liang Wei sudah sadar bahwa ada beberapa sosok yang mengawasinya, untuk membuat mereka menampakkan diri ia pergi ke tempat sepi, dan gang sempit dengan lebar tak cukup dari 1,5 meter itu adalah tempat yang ideal.


Tiga orang pria dengan tubuh besar turun dari atap rumah di dekat gang itu. “boom” tanah jadi berlubang ketika ketiga orang itu mendaratkan kakinya.


“Apa mau kalian?.” Masih dengan raut wajah yang sama, Liang Wei memindai mereka satu persatu, dilihatnya mereka mengenakan jubah dan pakaian serba hitam dengan tudung yang menutupi kepala, mata dan hidungnya.


Bisa Liang Wei duga bahwa ketiga orang itu adalah pendekar hitam, apalagi samar – samar aura hitam keluar dari tubuh ketiganya.


Tak menjawab pertanyaan Liang Wei, justru mereka malah balik bertanya “Katakan, apakah kau adalah Liang Wei?.” yang berbicara adalah orang yang berdiri di tengah dan memiliki tubuh paling tinggi di antara ketiganya.


“Tidak usah bertanya sesuatu yang sudah kalian tahu, majulah!, dan kalian akan kubereskan seperti tikus – tikus sebelumnya.” Ucap Liang Wei dengan dingin. ia tahu, tidak ada pendekar hitam lain yang mengincarnya selain sekutu Shé Tóu atau Shé Tóu itu sendiri.


Mendengar ucapan provokatif Liang Wei, orang yang berdiri di sisi kanan dari ketiga orang itu berkata “aku kupastikan kau membayar lunas hutang atas kematian bawahanku!.” Ucapnya dengan dingin.


“Akan kupastikan menambah hutang itu!.” Ucap Liang Wei dengan senyum mengejek.


Ia melotot marah mendengar ucapan itu dan langsung membocorkan aura pendekar tingkat tertinggi tahap menengah miliknya “Kau cari mati bocah!.” lalu terbang dengan kecepatan tinggi ke arah Liang Wei.


Saat terbang di udara, angin yang berhembus kencang membuat penutup kepalanya tak sengaja terbuka, dan memperlihatkan wajah kakek dengan sorot mata tajam.


Dia adalah Shé Dú, pemimpin utama Klan Pembunuh Bayaran Shé Tóu, Shé Dú sudah menyimpan dendam yang amat dalam kepada Liang Wei, karena Shé Hú dan Shé Huo, serta banyak bawahannya telah dihabisi oleh Liang Wei.


“Taring Racun” Tenaga dalam mengelilinginya dan berubah menyerupai ular berwarna ungu yang berputar - putar di tubuhnya. dalam waktu tak cukup dari 2 tarikan napas dia sudah berada tepat di depan Liang Wei.


“Racun Korosif.” Gumamnya, lalu Ular yang berputar di tubuhnya menjalar ke ujung tinjunya, tinju itu ia arahkan ke wajah Liang Wei.


Liang Wei tak tinggal diam, ia mengeluarkan kedua pedang ganda Kaisar Siluman miliknya dari ruang dimensional dan menangkis serangan dari Shé Dú.


“hahahaha berakhir sudah!, pedangnya akan meleleh saat bertemu dengan tinjuku.” Shé Dú tersenyum penuh kemenangan, ia sudah kerap kali membuat pedang musuh meleleh karena kekuatan korosif dari ular ungu di  ujung tinjunya itu.

__ADS_1


“booom” suara lantang terdengar kala pedang dan tinju beradu.


“apa?.” Matanya melotot, Alangkah kagetnya ia Melihat kedua pedang Liang Wei tidak meleleh.


“Kau sudah selesai?.” Ucap Liang Wei dengan dingin,”Langkah Kegelapan.” tak menunggu Shé Dú menjawabnya ia sudah menghilang dan muncul di belakang Shé Dú.


“Mustahil.” Batin Shé Dú, dengan ruang gerak yang sempit dari gang itu, ia sama sekali tak melihat sedikitpun pergerakan dari tubuh Liang Wei yang tiba – tiba menghilang di hadapannya.


Meskipun kaget tapi Shé Dú masih sangat cepat bereaksi, ia merasakan fluktuasi udara di belakangnya dan segera menendang kebelakang.


Melihat tumit Shé Dú datang ke arahnya, Liang Wei menggeser tubuhnya 3 jari kekiri dan bersandar pada dinding gang sempit itu, gerakan yang minimal itu nyatanya berhasil membuat kaki Shé Dú menendang udara kosong.


Liang Wei kemudian menebaskan kedua pedangnya secara menyilang ke arah punggung Shé Dú, Shé Dú melirik kebelakang dan melihat serangan itu.


Ia membungkuk dan menggerakkan kedua tinjunya kebelakang punggung untuk menyambut serangan itu, dengan konsentrasi tenaga dalam yang tinggi, tenaga dalam di kedua tinjunya sekali lagi bertransformasi menyerupai kepala ular cobra yang besar berwarna ungu.


“boom” suara lantang akibat satu dua serangan yang beradu kembali terdengar.


Shé Dú menyangka bahwa kedua serangan itu imbang, tapi pada nyatanya tubuhnya terlempar jauh kedepan karena tolakan dari kedua pedang Liang Wei lebih kuat.


Pedang di tangan kirinya  dipegang dengan cara biasa, namun Liang Wei mengubah cara memegang pedang di tangan kanannya menjadi seperti memegang sebuah belati, lalu memutar tubuhnya berlawanan arah jarum jam dengan cepat sambil mengayunkan kedua pedangnya secara horizontal.


Kedua Pedang itu mengikis dinding gang sempit itu, namun tak berhenti bergerak, Serangan itu menuju ke perut Shé Dú, Shé Dú tak sempat bereaksi dan kedua tangannya pun masih di belakang punggung.


“argght.” Keluh dan umpat Shé Dú karena tubuhnya terkena goresan pedang ganda Liang Wei dua kali sebelum ia terlempar lagi ke belakang.


Tak sampai disitu, Liang Wei menyamakan cara memegang kedua pedangnya seperti memegang belati. Lalu  ia segera berjongkok dan menusukkan kedua pedangnya ke bayangannya sendiri.


“Ketamakan Memakan Jiwa.” Kedua pedangnya masuk ke dalam bayangannya dan muncul dalam bentuk yang lebih besar dari bayangan Shé Dú, kedua pedang itu datang dari depan dan belakang Shé Dú.


Namun ketika kedua pedang itu hendak mengenai tubuh Shé Dú yang tinggal satu jari darinya, Pria yang memiliki tubuh paling tinggi dan besar daripada ketiga orang itu terbang secepat kilat dan membawa tubuh Shé Dú yang terluka sehingga terhindar dari teknik mematikan Liang Wei.


“Itu tadi nyaris!.” Jika serangan itu mengenai Shé Dú maka berakhir jugalah hidupnya. “Uhhuk” Liang Wei tiba – tiba memuntahkan seteguk darah.”si*l aku sudah sampai pada batasku.” Lalu ia memasukkan kedua Pedang Kaisar Siluman ke ruang dimensionalnya.

__ADS_1


Setelah mengalahkan Shé Dú, Liang Wei masih memilki dua musuh yang kekuatannya pasti berada jauh di atasnya, namun tubuhnya sudah tidak sanggup menggunakan kedua pedang gandanya.


Sangat disayangkan karena pedang gandanya merupakan satu – satunya cara untuk mengimbangi kedua musuh yang masih tersisa, jika dipaksakan maka ia akan mendapatkan luka dalam yang sangat berat hingga mengalami kematian.


Ingin melarikan diri, tapi efek samping penggunaaan Pedang Ganda Kaisar Siluman masih terasa pada tubuhnya, bahkan untuk melangkah rasanya sangat berat dan sakit.


“Sepertinya inilah efek menggunakannya terlalu sering dengan tubuh lemah ini.” Batin Liang Wei yang menahan sakit dengan nafas yang sudah tidak beraturan dan wajah pucat pasih.


“Wooshh” Pria yang membawa Shé Dú mendarat dan berjongkok meletakkan tubuh Shé Dú di dekat rekan yang satunya.


Rekan yang satunya juga berjongkok dan memindai tubuh Shé Dú. Ia mendapati sesuatu yang membuatnya kaget “Ada semacam energi kegelapan yang kuat seperti kutukan dan itu bersarang di perutnya.” Ucapnya sambil melihat pendarahan dari perut Shé Dú yang tak kunjung berhenti.


Rekannya itu lalu mengalirkan tenaga dalam untuk menyembuhkan luka Shé Dú.


“Aku tadi melihat itu hanya luka goresan.” Ucap Shé Dú  sambil menggertakkan giginya menahan sakit, Biasanya luka seorang pendekar tingkat tertinggi akan sembuh dalam sekejap mata, namun luka hasil tebasan kedua pedang Liang Wei tak kunjung membaik, malahan semakin lama semakin parah.


Saat Shé Dú  terus mengeluhkan rasa sakitnya orang yang tadi menyelamatkan Shé Dú berdiri dan  membuka penutup kepalanya, terlihat senyuman dari wajahnya yang ramah, jika tidak mengenakan pakaian serba hitam, maka orang lain akan menyangka ia adalah pendekar aliran putih karena wajah ramahnya itu.


Ia adalah Zhang Bingjie, ‘Si Ramah yang Dingin’  “Teknik itu, darimana kau mempelajarinya?, atau lebih tepatnya, apakah kitab hitam itu ada padamu?.” Ia memang tidak pernah sekalipun melihat isi dari kitab itu, namun ia pernah diam – diam melihat gurunya melatih teknik itu dan sama persis seperti teknik yang Liang Wei tunjukkan.


Mata Liang Wei sedikit membulat mendengar pertanyaan itu. “apa?, ada orang lain yang tahu tentang Kitab Misterius itu?.” batinnya


Zhang Bingjie menyadari mata Liang Wei yang sedikit membelalak “ahh sepertinya memang ada padamu yah?.” Seolah seperti membaca pikiran Liang Wei.


Zhang Bingjie tiba – tiba berada di depan Liang Wei dalam waktu kurang dari satu kedipan mata, bahkan suara langkah kakinya pun tak terdengar.


Mata Liang Wei membelalak, kecepatan Zhang Bingjie diluar ekspektasinya, tak sempat bereaksi hingga tak ia sangka tangan orang itu sudah mencekik lehernya dan mengangkat tubuhnya sejajar dengan kepala orang itu.


“Lepaskan aku si*lan!.” Keluh Liang Wei, sambil berusaha melepaskan cekikan itu.


“Bocah, serahkan Kitab itu padaku, atau kau akan menjadi seperti tikus yang telah kau habisi.” Nada bicaranya datar dan tidaklah seperti orang yang mengancam, wajahnya pun menunjukkan senyum ramah dan bersahabat, namun entah mengapa itu sangat mengintimidasi siapapun yang mendengar dan melihatnya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2