
Liang Wei tidak menggunakan Langkah Kegelapan agar menghemat tenaga dalam yang telah ia kuras selama perjalanan. Ia harus memiliki sisa tenaga dalam untuk berjaga – jaga dalam kondisi darurat.
Ia tidak bermeditasi mengembalikan tenaga dalamnya, karena berpikir itu adalah waktu yang tepat untuk menyusup.
Liang Wei melihat mereka begitu pasif di siang hari itu, ia menduga menjelang sore mereka akan semakin memperketat pengawasan dan memaksimalkan pengawasan pada malam hari saat kekuatan mereka menjadi lebih kuat, atau berada pada puncaknya.
Sebelumnya Yang Huian menggambar denah Istana, Liang Wei menghafalnya sekali lihat. saat ini ia sedang berjalan menuju ke kamar Yang Huian yang diduga kosong.
Kamar itu bisa ia gunakan untuk mengamankan ketiga murid yang sedang ia seret dengan kasar sepanjang jalan sejak dari gerbang Istana.
Di setiap sudut Istana sudah dijaga oleh Pendekar Aliran Hitam, namun sepanjang jalan tidak ada Para Pendekar Aliran Hitam yang mencegatnya, Liang Wei dengan sengaja terus – menerus membocorkan aura hitam pekatnya, sehingga para penjaga itu takut menghentikannya.
Dari sudut pandang mereka, Liang Wei akan membawa tiga murid itu untuk ditumbalkan seperti yang biasa mereka lakukan, dengan penumbalan itu, mereka akan menjadi lebih kuat dengan cepat.
Beberapa saat kemudian, Liang Wei sudah tiba dan memasuki kamar Yang Huian, lalu melepaskan ikatan ketiga murid itu.
Seperti dugaan Liang Wei, kamar Yang Huian memang kosong, Para Pendekar Aliran Hitam suka sesuatu yang mewah, tetapi mereka benci hal yang feminim, kamar Yang Huian sangat feminim dan tidak menggambarkan seseorang yang jahat, mereka tidak akan tahan dan lebih memilih menghancurkan kamar itu daripada menempatinya.
Berada di kamar Yang Huian, Liang Wei memilih bermeditasi di sudut ruangan untuk memulihkan tenaga dalamnya sampai malam tiba.
Beberapa jam kemudian….
Malam hari telah tiba dan Liang Wei telah selesai bermeditasi ‘Kini aku punya tenaga dalam yang cukup untuk menjalankan rencanaku’
Liang Wei berdiri dan menatap bergantian ketiga murid yang sedang duduk di kursi. “Sekarang kalian beristirahat dulu di ruangan ini dan silahkan keluar kalau sudah ingin mati!.” ia memberi perhatian berbentuk ancaman yang biasa dia ucapkan.
Setelah itu Liang Wei melangkahkan kaki menuju pintu. Da Ru berlari dan merentangkan tangan di depan Liang Wei, mencegatnya yang hendak memegang gagang pintu. “Senior Wei, jangan tinggalkan kami, bagaimana jika mereka masuk ke sini!?.”
“Kau mulai tidak mempercayaiku dan sudah memutuskan mati?.” Mata Liang Wei samar – samar berubah keunguan.
Mata itu membawa ingatan saat Liang Wei membuat Zhou Wen meregang nyawa semalaman, sehingga Da Ru tanpa berkata apa – apa langsung meminggir dua langkah ke samping memberi jalan Liang Wei.
__ADS_1
Saat Liang Wei keluar dari kamar itu, Ting Zhe menceramahi Da Ru “Apakah kau sudah gila?, suasana hatinya jelas sedang tidak baik, dan kau mencoba membuatnya marah?, apakah kau mau kita semua mati di bunuh olehnya!?.”
Xiao Ba membenarkan Ting Zhe dan menambahkan “Jika kau ingin mati, jangan mengajak kami!.”
Da Ru jatuh dalam keadaan berlutut, ia memegangi kepalanya sembari menatap kosong.
Mereka bertiga sudah ketakutan setengah mati, dan Da Ru adalah yang paling parah, tatapannya sudah bagai ikan mati, dan harapannya sudah seperti api yang redup.
“Aku juga takut, tapi kita harus bekerja sama, setidaknya Senior Wei menjamin keamanan kita selama kita menuruti perintahnya.” Ting Zhe menguatkan Da Ru, meski dalam hati ia pun tak kuat.
Ucapan Ting Zhe hanya angin berlalu bagi Da Ru yang mentalnya sudah benar – benar terguncang.
Keadaanya itu membuat kedua rekannya cemas, sehingga Ting Zhe dan Xiao Ba mencoba menenangkannya, tetapi dalam waktu yang cukup lama ia masih seperti sebelumnya, hanya diam dan tidak menggubris setiap kata dari kedua rekannya.
“Dia sudah tidak tertolong, sepertinya lingkungan ini terlalu keras untuknya.” Xiao Ba ikut pesimis melihat Da Ru yang sudah putus asa.
Ting Zhe menghela napas dalam – dalam “Ini juga terlalu keras untuk kita!.”
Seseorang yang bergerak secara acak di saat pengawasan sedang ketat adalah orang yang mereka anggap mencurigakan, maka dari itu Liang Wei mulai bergerak sembunyi – sembunyi.
Ia sudah sampai di tempat tujuannya saat melihat banyak orang dalam jeruji di kiri dan kanan sepanjang ruang bawah tanah itu, satu penjara memuat 2 sampai 5 orang tahanan.
Di tempat yang paling ujung terdapat satu penjara yang khusus mengurung satu orang, orang di dalamnya adalah orang yang Liang Wei cari.
Liang Wei masih bersembunyi dibalik bayang – bayang dan memantau keadaan, karena saat itu ada dua orang Pendekar Aliran Hitam yang sedang berada di depan Kaisar Huifang yang terlihat lebih tua daripada waktu terakhir Liang Wei melihatnya.
“Sialan, kau sengaja selalu menunjukkan wujud tua itu agar membuatku tidak tertarik!.” Kaisar Huifang sangat cerdas melindungi dirinya dari pelecehan dengan cara tidak mengalirkan tenaga dalam untuk meregenerasi kulitnya, penampilan yang awalnya terlihat muda 20-tahunan akhir berubah menjadi nenek tua keriput yang tidak terurus.
Kaisar Huifang tertawa meski seluruh tubuhnya sudah berdarah memperlihatkan bekas penyiksaan para orang biadab itu. “Kalian tidak akan mendapat apapun dari Kekaisaran ini seperti kalian tidak mendapat apapun dari tubuhku.”
Kedua orang itu terprovokasi oleh ucapan Kaisar Huifang “Dasar jal*ng tua!.” Ia menampar dan menendangnya dengan keras, tak seperti perlakuan kepada seorang wanita yang sepatutnya dilakukan.
__ADS_1
Kaisar Huifang meludahi wajah orang yang memperlakukan dirinya dengan kasar “Aku memang kesakitan hari ini, tapi akan ada hari esok di mana kalian yang akan kesakitan seperti kambing yang hendak disembelih!.”
Saat satu orang ingin melayangkan tangannya ke wajah Kaisar Huifang, rekannya mencegahnya. “Tenang!, sepertinya dia sengaja memprovokasi kita!.”
Orang yang mencegah rekannya juga awalnya terprovokasi, tetapi cepat menyadari saat Kaisar Huifang terlihat dengan sengaja berusaha memancing emosi keduanya, menurutnya sebuah pukulan tak akan membuat Kaisar Huifang takut karena dirinya yang telah lama hidup di dunia Pendekar yang keras dan kejam.
“Dalam 7 hari kami akan menyerang Kekaisaran Yin.” orang bernama Xiao Feng yang mengucapkannya. Dan yang memukul tadi adalah Xu Xiaosi.
Xiao Feng adalah pemimpin sebenarnya dari Para Pendekar Aliran Hitam itu dan Xu Xiaosi adalah tangan kanannya. Mereka berdua adalah 2 dari 5 Pendekar Mutlak yang Pendekar Aliran Hitam miliki.
Raut wajah Kaisar Huifang berubah panik setelah mendapat informasi penyerangan itu dari Xiao Feng. Menurut perhitungannya, Pendekar Aliran Hitam itu bisa saja berhasil menaklukkan Kekaisaran Yin, mempertimbangkan kekuatan mereka yang sangat besar, menalukkan Kekaisaran Yin berarti telah menaklukkan dua Kekaisaran, artinya sama saja dengan menguasai dunia.
Xiao Feng menikmati raut wajah itu “Hahaha, kelihatannya kau sudah tahu kelanjutannya seperti apa?...benar!. seperti yang kau pikirkan, kami akan menguasai dunia dan memperbudak orang – orang yang telah mendiskriminasi kami selama ribuan tahun hanya karena aura kami yang menyerupai para siluman!.”
Latar belakang Pendekar Aliran Hitam melakukan balas dendam sudah jelas atas sakit hati mereka di masa lalu, saat Invasi bangsa siluman seribu tahun silam, mereka ikut andil dan banyak merugi nyawa membela dua Kekaisaran, tetapi pada akhirnya mereka tetap dipandang sebelah mata oleh pihak tertentu yang menganggap mereka kotor dan tak beradab, atau aura mereka menjijikkan seperti bangsa siluman.
Perlakukan tidak adil itu awalnya kecil, tetapi semakin lama semakin besar karena semakin banyak yang membenarkannya, dan semakin besar pula dendam dihati mereka yang menerima perlakukan itu.
Ketidakadilan menumpuk seiring dendam mereka yang juga menumpuk, mereka tidak tahan dan akhirnya bersatu melakukan penyerangan brutal yang melenyapkan banyak nyawa, penyerangan brutal itu semakin membuat orang – orang ingin menyisihkan mereka dari masyarakat, dan secara sepihak menjadikan mereka sebagai contoh buruk yang abadi.
“Aku tidak merasa iba sedikitpun oleh sejarah menyedihkan kalian yang bodoh!.” ejek Kaisar Huifang, ia berusaha tetap tidak terprovokasi sampai akhir walau dengan wajah paniknya.
Di sisi Pendekar Aliran Putih, mereka tidak membenarkan cara Pendekar Aliran Hitam mendapatkan kekuatan dengan membunuh, menumbalkan, dan memperlakukan manusia biasa seperti ternak, maka dari itu mereka menentang keras keberadaan Pendekar Aliran Hitam karena menganggapnya sebagai noda dari dua Kekaisaran yang mereka sucikan.
Xiao Feng mencekik leher Kaisar Huifang sampai terbatuk batuk dan secara alami menepuk – nepuk tangan di lehernya “Aku tidak butuh rasa ibamu! … saat aku berhasil menaklukkan Kekaisaran Yin, kau akan menjadi orang pertama yang kubunuh!.”
Satu – satunya alasan membiarkannya tetap hidup adalah untuk membatasi Pergerakan Pendekar Aliran Putih di Kekaisaran Yang, mencegah pergerakannya berarti tidak membiarkan mereka menyatukan kekuatan dengan Kekaisaran Yin.
Jadi, jika mereka sudah menaklukkan Kekaisaran Yin, maka nyawa Kaisar Huifang tidak dibutuhkan lagi mengingat sudah tidak ada pihak yang dianggap sebagai ancaman terbesar.
Xiao Feng melepaskan cekikannya dan membuat Kaisar Huifang bernapas pendek dan dalam. Setelah itu ia meninggalkan tempat itu bersama Xu Xiaosi tanpa menyadari kehadiran Liang Wei yang sedang bersembunyi di balik bayang - bayang.
__ADS_1