
“Satu.”
“Tunggu dulu senior, kami masih belum siap, beri kami waktu sed…” Ting Zhe ikut panik.
“Dua.”
“Ti….dak Jadi!.” Liang Wei mengucapkannya dengan lantang.
Seseorang di antara para pengunjung rumah makan itu melompat dengan pedangnya.
Lalu, mengarahkan pedang itu untuk menangkis pedang ketiga murid yang mungkin saja menyasar leher Rou Lin.
Tetapi, saat mendengar ucapan Liang Wei dia langsung terjatuh dari udara dan berhasil mencium lantai dengan sukses. “Apa? Seharusnya kan dia berkata ‘Tiga’ ?. “
Ketiga murid pengecut itu bersujud dan memohon pengampunan untuk nyawa mereka, bahkan Da Ru sudah menangis seperti kambing yang akan disembelih.
Selain itu, Da Ru adalah orang kedua yang membasahi celananya siang itu, dan kedua rekannya hampir melakukan hal yang sama.
“Apa? Seharusnya kan ‘Tiga’?.”
Mereka mendongakkan kepala secara bersamaan dan mengucapkannya secara bersamaan.
Mata Para pengunjung rumah makan itu sudah hampir keluar dari tempatnya karena berpikir akan melihat peristiwa berdarah.
Hingga akhirnya mereka baru sadar bahwa Liang Wei telah mengerjai seisi Rumah makan itu.
“Hahahaha.” Chuang Li tertawa terbahak – bahak. “Mana mungkin kami membunuhnya, dia bukanlah Pendekar Aliran Hitam.”
Itu benar, ia bukan seseorang yang harus dibunuh.
Tetapi Liang Wei berpikir dengan cara yang berbeda, ia adalah sosok yang tanpa pandang bulu akan membunuh setiap orang yang mengusiknya, tetapi saat itu ia berpikir bisa mendapatkan beberapa hal dari Rou Lin, seperti informasi dan kompensasi.
Selain itu, ia tidak ingin dirinya jadi pusat perhatian karena menjadi sosok kejam di depan umum, saat orang tahu bahwa seorang bocah menjadi otak dalam kejadian berdarah, beberapa orang akan mencarinya termasuk mencari tahu tingkat kekuatannya.
Untuk Bilah pedang yang telah ia hancurkan bagai abu rokok, ia bisa mengklaim bahwa itu hanyalah sebagai sebuah trik, dan semua orang akan percaya tanpa mempertanyakannya lagi.
Alasannya kembali lagi pada pandangan umum orang – orang, mereka secara alami tidak akan percaya bahwa seorang bocah mampu melakukan itu.
Mereka hanya menduga bahwa tiga orang dan satu bocah itu bersekongkol untuk melakukan trik, dan tujuannya hanya untuk menakuti – nakuti Rou Lin.
Semua mata kini memandang kesal kepada Liang Wei yang telah melanjutkan makannya seolah tidak terjadi apa – apa.
__ADS_1
Lin Lixue tidak peduli, raut wajahnya datar, sumpitnya ia gerakkan dengan tenang dan pelan untuk menyantap hidangannya.
Sedangkan, Rou Lin sudah pingsan. “Bangunkan Tuan Muda kalian!.” Liang Wei santai dan masih menggerakkan sumpitnya untuk mengambil nasi di mangkuk.
Para pengikut Rou Lin tanpa mengatakan apa – apa langsung membangunkannya.
Rou Lin tersentak kaget dan napasnya terengah engah saat bangun. “Aku masih hidup!.”
Ia memeriksa seluruh tubuhnya, tidak ada luka sama sekali, dan dia baik – baik saja selain rasa malu karena telah mengompol di celana.
“Terima kasih telah mengampuniku, Tuan!.”
Dia bersujud berulang kali, ia satu – satunya orang yang belum sadar telah dikerjai.
“Kau tahu?, itu tidak gratis!.”
Dan Liang Wei tetap melanjutkan permainannya. ‘Senior Wei tidak tahu malu’ pikir ketiga murid yang saat itu telah duduk di kursinya masing - masing.
Rou Lin dengan cepat merogoh saku, mengambil dari balik jubah, bahkan dari dalam sepatunya, dan meletakkan semua kantung yang berisi emas di depannya.
“Semua ini adalah yang kumiliki Tuan!....kumohon ampuni aku!.”
“Itu belum cukup!.”
Tidak memiliki penyetara untuk nyawanya, ia bersujud memohon nyawanya diampuni.
“Tenanglah terlebih dahulu!.” Liang Wei menghela napas “Mendekatlah.”
Rou Lin langsung berlari sambil membawa kantung - kantung itu, saat tiba di dekat Liang Wei, ia langsung berlutut di lantai.
“Berhenti berlutut, Ting Zhe, berikan dia tempat dudukmu!.”
Tanpa memprotes Liang Wei, Ting Zhe langsung berdiri dari kursinya, kursi itu adalah tempat duduk yang berhadapan dengan Liang Wei.
Rou Lin duduk di kursi Ting Zhe dengan ragu - ragu dan raut wajah yang terlihat kebingungan.
Ia berpikir mungkin itu adalah semacam keramahan sebelum nyawanya dicabut, ataukah Liang Wei mengubah cara untuk membunuhnya, dan mulai menggunakan racun padanya.
Berbagai penerkaan itu membuat ia semakin mengkhawatirkan nyawanya.
Liang Wei bisa membaca pikiran Rou Lin.“Kau tidak perlu berpikir terlalu banyak, cukup ceritakan beberapa informasi yang kau tahu mengenai Kekaisaran Yang.”
__ADS_1
Rou Lin merasa lega, berdasarkan perkataan Liang Wei, ia bisa menyimpulkan bahwa mereka hanya orang – orang dari Kekaisaran Yin yang membutuhkan informasi darinya, bukan mengambil nyawanya.
“Baiklah, akan kuceritakan apapun yang kutahu….”
Rou Lin menceritakan tentang keadaan Kekaisaran Yang, tentang para bangsawan yang mengambil keuntungan atas persekongkolannya dengan Pendekar Aliran Hitam.
Setelah berhasil menggulingkan Kaisar Huifang, Masalah yang saat ini Para Bangsawan pengkhianat itu hadapi adalah perebutan Tahta Kaisar, mereka semua memiliki ambisi dan pemikiran yang sama untuk duduk di Singgasana itu.
Masing – masing dari mereka mencoba menjilat para Pendekar Aliran hitam untuk mendukungnya menjatuhkan bangwasan yang berebut tahta dengannya, tetapi para Pendekar Aliran Hitam memilih untuk tidak ikut campur dengan alasan yang tidak diketahui.
Menurut pendapat beberapa pihak, Para Pendekar Aliran Hitam bukannya tidak mengingikan tahta, melainkan… mereka hanya bermain licik kepada bangsawan serakah itu.
Mereka akan membiarkan satu orang bangsawan duduk di Tahta itu, dan mereka akan mengendalikannya di balik layar dan membunuhnya jika sudah tidak berguna.
Ada juga yang berpendapat bahwa mereka memang tidak memiliki tujuan untuk ikut campur dalam perkara Tahta Kaisar yang kosong, tetapi mereka memiliki tujuan lain yang mungkin lebih besar, seperti menguasai dunia, dan Kekaisaran Yang hanyalah secuil dari tujuan mereka.
“…hanya itu yang kutahu, Tuan.” Rou Lin selesai dengan informasi yang ia sampaikan.
Meskipun mendengar informasi penting, Liang Wei tidak merasa puas sama sekali dengan itu, karena itu hanya keadaan umum yang biasa dilakukan oleh para pengkhianat Kekaisaran maupun kerajaan, dan itu bisa terjadi dimanapun.
Liang Wei setidaknya mengharapkan bisa mendapat informasi tentang tujuan khusus Pendekar Aliran Hitam itu, seperti benda apa yang mereka inginkan dan mengapa mereka masih membiarkan Kaisar Huifang hidup.
“Aku mengerti, kau boleh pergi sekarang.” Liang Wei mempersilahkan Rou Lin pergi.
Rou Lin menarik napas lega, ternyata tidak ada trik yang Liang Wei perlihatkan.
Di atas meja ia meletakkan beberapa kantung yang sudah ia genggam sedari tadi, setelah itu ia berdiri dari kursinya dan pergi dari Rumah makan itu bersama para pengikutnya.
“Senior Wei.. Lalu, kita apakan beberapa kantung ini?.” Xiao Ba sudah tahu apa isinya dan bertanya kepada Liang Wei tentang bagaimana menggunakannnya.
“Kantung uang itu ada 3, itu untuk kalian bertiga.”
“Benarkah senior?.” Ting Zhe yang masih berdiri di dekat kursinya menjadi antusias.
Liang Wei meletakkan sumpitnya dan menyelesaikan makannya “Jika kalian tidak menginginkannya, aku bisa menghancurkannya seperti pedang tadi.” Ucapnya dengan santai.
“Kami mengingikannya senior!.” ketiga murid itu bersamaan mengatakannya.
Liang Wei hanya menggerakkan tangannya sebagai isyarat bahwa mereka boleh mengambilnya, dan tanpa menunggu waktu lebih lama, ketiganya langsung mengambil bagiannya dengan senang hati.
Ting Zhe pun kembali duduk di kursinya dengan kantung berisi emas itu, suasana hatinya membaik.
__ADS_1
Saat ia duduk “Apa ini?, kenapa celanaku jadi basah?.” Ia langsung berdiri kembali dan menengok kursinya….ia melihat air di kursinya, bahkan sudah terjatuh di lantai dan membuat beberapa genangan.
Ting Zhe langsung tahu darimana air itu berasal, Suasana hatinya yang baik tiba – tiba memburuk karena kesal. “Sial!, bekas ompol orang itu sangat banyak!.”