
“kalian mengusikku di malam hari yang penuh kegelapan ini, tanpa sadar kalian sudah mengambil antrian di neraka.” Suara Liang Wei lagi – lagi menggema, membuat bulu kuduk mereka berdiri.
“apa kita sedang melawan hantu?.” Ucap salah seorang dari mereka, ia mengucapkannya dengan bulu kuduk merinding.
“tidak ada hantu di dunia ini!.” ucap yang lain mencoba memberanikan diri, kendati demikian terlihat jelas lututnya bergetar hebat karena ketakutan.
Mereka mulai berpikir bahwa mereka tidak sedang melawan manusia.
Melihat mental bawahannya tertekan, Shé Huo jadi geram.
“kenapa kalian bisa jadi penakut!, sebagai pembunuh bayaran, apakah kalian tidak malu?. dia hanya memainkan sebuah trik, hentikan kebodohan kalian!.” Ucap Shé Huo dengan nada meninggi sambil meletakkan tubuh Shé Yan dan berdiri dari posisi duduknya.
Perkataan Shé Huo seperti cambuk yang berhasil menghentikan ketakutan mereka, itu juga membuat mereka kembali waspada dan fokus.
“percuma kalian waspada!.” Suara lirih Liang Wei lagi – lagi terdengar di telinga mereka.
“keluarlah!, jangan seperti pengecut!.” Teriak Shé Huo, sambil melirik kekiri dan kekanan dengan waspada.
“kenapa harus muncul?, jika aku bisa membunuh kalian tanpa menampakkan diri.” Sahutnya.
Merasa diremehkan, raut wajah Shé Huo jadi jelek, sejak awal ia ingin menghabisi Liang Wei, namun hingga kini ia tidak bisa melakukannya.
“kau hanya membual!, ayo buktikan!.” Ucap Shé Huo, lalu memunculkan kembali api di kedua tinjunya.
“baiklah.” Singkat saja jawaban yang ia dapat.
“siapkan serangan terkuat kalian!” teriak Shé Huo kepada para pembunuh bayaran yang lain.
Mendengar perintah Shé Huo, Mereka semua memasang kuda – kuda yang kuat, pedang atau tombak mereka pegang dengan erat, mempersiapkan teknik terbaik dan paling mematikan yang mereka punya.
“dia akan segera datang.” Ucap Shé Huo dengan serius.
Mereka semua fokus menunggu serangan itu datang.
Membentuk formasi melingkar, agar tidak mendapat serangan dari titik buta, dengan tatapan mata tajam, masing – masing mereka waspada.
Semua persiapan sudah mereka lakukan dengan matang, namun sudah lama mereka melakukannya, serangan tak kunjung datang juga.
“si*laaaan! Dia mempermainkan kita!.” Teriak Shé Huo dengan kesal karena merasa telah dibodohi..
“pengecut!.”
“bi*d*b!”
Para pembunuh bayaran juga merasakan kekesalan yang sama, mereka mengumpat sambil berteriak sekeras – kerasnya melampiaskan kekesalan masing – masing.
__ADS_1
“lihatlah kebodohan kalian.”
“Ketamakan Memakan Jiwa.”
Suara Liang Wei terdengar, mengiringi pedang yang muncul dari bayangan mereka masing – masing.
dalam keadaan lengah dan tidak waspada karena kegiatan melampiaskan kekesalan, mereka tidak memperhatikan pedang itu datang.
Pedang itu berhasil menusuk jantung dan titik vital mereka, darah terciprat kesegala arah seperti air mancur dalam jumlah banyak.
Seketika mereka semua tumbang dengan tubuh yang sudah kurus kering, seketika juga mereka kehilangan detak jantung.
Namun entah mengapa pedang itu tidak menusuk Shé Huo, Shé Huo membelalakkan mata melihat puluhan pembunuh bayaran yang merupakan bawahannya tertusuk oleh pedang yang tidak ia tahu dari mana berasal.
“woosh” pedang itu terlihat kembali masuk secara perlahan ke bayangan masing – masing pembunuh bayaran yang sudah tidak hidup.
“pedang itu masuk ke bayangan? Berarti itu juga keluar dari sana.” Batin Shé Huo sambil tersenyum penuh makna.
Ia akhirnya tahu trik yang dimainkan Liang Wei, jadi ia memiliki strategi untuk mengantisipasi.
“aku akan menghancurkannya ketika ia muncul dari bayanganku.” Shé Huo tertawa dalam hati dengan rencana liciknya.
Tidak lama setelah Shé Huo membatin, tangan Liang Wei keluar dari bayangan dan menyentuh kaki Shé Huo, seolah akan menariknya masuk ke dalam bayangan.
“inilah yang kutunggu.” Batin Shé Huo, lalu membocorkan aura pendekar tingkat tinggi tahap puncak.
Sesuai dengan apa yang ia rencanakan, ia langsung menyerang Liang Wei dengan kekuatan penuhnya.
“matilah kau!!!.” Teriak Shé Huo.
Kedua tangannya mengeluarkan api yang lebih besar daripada sebelumnya, konsentrasi tenaga dalam yang ia alirkan, lebih besar juga.
Kedua tangan Shé Huo masuk kedalam bayangannya sendiri.
“sesuai dugaanku, selamat! trikmu tidak lagi berguna bagiku!.” Batin Shé Huo sambil menyunggingkan senyum kemenangan.
“boom” saat terdengar suara ledakan yang lantang, saat itu juga ia merasa telah menghantam tubuh manusia.
Namun..
“hahahahahaha” Liang Wei memunculkan wujudnya di sudut ruangan.
Ia menertawai Shé Huo yang menari di atas telapak tangannya, semua rencana yang ia susun sejak awal telah berhasil sepenuhnya.
“bagaimana bisa?, aku lebih kuat darimu, berkali – kali lipat!.” Ucap Shé Huo sambil membelalakkan mata seakan tidak percaya, melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
Kedua tinju api yang masuk ke dalam bayangannya sendiri, keluar dari bayangan di belakang tubuhnya, kedua tinju itu tanpa basa basi menghantam tubuhnya sendiri.
Berniat menghancurkan Liang Wei, namun yang terjadi ia malah menghancurkan dirinya sendiri.
Tubuhnya hangus akibat serangannya sendiri, sebagian besar bagian belakang tubuhnya sudah menjadi abu, bahkan darah yang seharusnya mengucur, malah menguap akibat panas.
Tak lama setelah kejadian itu, Ia pun tumbang dan seketika tidak bernyawa lagi.
“tidak ada gunanya kekuatan tanpa kecerdasan, tidak ada gunanya pedang tajam jika tidak pandai menggunakannya.” Ucap Liang Wei, lalu membuka tudungnya, memperlihatkan wajahnya.
Liang Wei bernapas lega karena semua rencananya berjalan lancar.
Liang Wei sudah tahu, jika ia melawan Shé Huo dengan kekuatannya yang sekarang, ia tidak akan bisa menang.
Namun ia selalu mengingat pesan Hong Cheung, bahwa mengalahkan lawan tak selalu harus menggunakan kekuatan.
Berdasarkan pemikiran itu, ia memutar otaknya untuk menyusun semua rencana dari awal, segala siasat ia lakukan dengan hati – hati dan tanpa celah.
Semua kesabaran dan kehatian – hatian dalam rencananya, akhirnya membuahkan hasil yang sesuai dengan keinginannya.
“cara ini tidak akan selalu berhasil, aku harus menjadi lebih kuat secepatnya.” Ucap Liang Wei dengan raut wajah serius.
Liang Wei sudah menyadari kelemahan tubuhnya daripada tubuh lamanya.
Fisiknya tidak sekuat saat ia masih Kaisar Siluman, namun ia tidak menyerah hanya karena hal itu.
Ia bertekad melampaui batas tubuh seorang manusia, ia yakin bisa mewujudkannya dengan kerja keras, pengalaman dari kehidupan sebelumnya, serta pelajaran dari Hong Cheung yang selalu ia ingat.
“ayah, aku tidak akan mengecewakanmu, aku akan menjadi lebih kuat sesuai dengan yang kau inginkan.” Batin Liang Wei dengan mata berkaca – kaca, karena Hong Cheung tiba – tiba muncul dalam ingatannya.
--
Liang Wei kembali ke tempat Lin Lixue sebelumnya, namun ia tidak mendapati seorangpun di tempat itu.
Kendati demikian, ia tidak khawatir, karena sangat yakin bahwa Lin Lixue sedang membawa mereka yang terluka untuk diobati.
Ia ingin segera mencari mereka, namun ia terlebih dahulu memulihkan tenaga dalamnya untuk berjaga – jaga.
Untuk memulihkan tenaga dalamnya, Ia pun duduk bermeditasi di tempat itu.
Seseorang yang bermeditasi akan menutup semua inderanya, karena hal itu juga Liang Wei tidak menyadari segala pergerakan di sekitarnya.
Itu sungguh kecerobohan yang sangat fatal, Ia lupa bahwa saat bermeditasi adalah saat paling lengah seorang pendekar.
Seseorang muncul di belakangnya sambil tersenyum tanpa menyipitkan mata, ia segera melompat ke arah Liang Wei.
__ADS_1