
“siapa kau pak tua berkumis uban yang mengomentari suaraku.” Teriak Liang Wei kepada Kaisar Aiguo.
Hong Cheung menepuk jidatnya melihat tindakan tak tau diri Liang Wei.
Para penonton pun menganga tidak percaya melihat keberanian Liang Wei.
“lancang kau bocah kepada Kaisar!.” Teriak Jenderal Ding An yang berdiri dari kursinya.
“hahahahahahahaha” suara tertawaan Kaisar Aiguo berhasil mengalihkan perhatian Ding An dan yang lainnya.
“kau anak yang menarik.” Entah apa yang dipikirkan Kaisar, justru ia memuji Liang Wei.
Ding An dan yang lainnya tidak tahu harus menanggapi seperti apa, mereka jadi mematung, Kaisar yang seharusnya tersinggung dengan ucapan itu, malah menanggapinya dengan pujian.
Apa yang tidak mereka ketahui adalah sebenarnya sejak kecil Kaisar Aiguo tidak suka diperlakukan dengan hormat.
Dia selalu menyuruh bawahannya untuk memanggilnya dengan santai, tapi tidak ada yang berani melakukannya.
Semua orang hanya hormat padanya karena darah biru yang ia miliki, Karena hal itu, ia tidak pernah merasa memiliki teman yang sebenarnya.
saat ia mendengar perkataan tidak sopan Liang Wei, ia merasa sedikit senang karena baru kali ini ada yang memperlakukannya santai seperti seorang teman.
“ jadi pak tua, kau juga adalah Kaisar?.” Liang Wei bertanya.
“juga?”
“ahhh maksudku jadi kau adalah Kaisar?.” Liang Wei tadi tidak sengaja mengucapkan ‘juga’.
“benar aku adalah seorang Kaisar.” Ucap Kaisar Aiguo, dalam hati ia sedikit khawatir jika Liang Wei berubah karena telah mengetahui statusnya.
“hufft pasti rasanya sepi bukan berada di puncak.” Perkataan Liang Wei itu tepat sasaran mengena di hati Kaisar Aiguo, bukannya tersinggung, tapi Kaisar Aiguo merasa baru kali ini ada yang mengerti perasaannya.
Ia hampir mengeluarkan air mata, namun ia menahannya karena menjaga wibawanya.
“hahahahahhahaha kalau tidak salah namamu Liang Wei bukan?.” Ucap Kaisar Aiguo sambil tertawa keras.
“ia benar pak tua, kenapa?.” Balas Liang Wei dengan mengkerutkan kening.
ia sedikit bingung karena tingkah Kaisar itu, dan tadinya Liang Wei marah karena perkara suaranya yang dikomentari, namun entah mengapa ia sekarang tidak marah.
“temui aku setelah pertandinganmu.” ucap Kaisar Aiguo tersenyum, lalu melempar sebuah token, token itu adalah token tamu kehormatan Kekaisaran.
mata para penonton membelalak tak lepas dari token itu, mereka terus menatapnya, leher mereka bergerak kemana token itu berada, bagaimana tidak, sangat jarang rakyat jelata seperti mereka diundang memasuki istana.
Banyak dari mereka yang merasa iri, di waktu bersamaan juga mereka bingung atas dasar apa Kaisar dengan mudahnya memberikan itu pada Liang Wei.
Liang Wei menangkap token itu dengan tangannya, lalu menyimpannya di saku bajunya, ia tidak menyimpannya di ruang dimensi untuk menghindari reaksi berlebihan dari orang lain.
“baiklah tidak usah berlama – lama lagi, mulai pertandingannya!.” Ucap Kaisar.
Chuang Li menganggukkan kepala, lalu bersiap di tempatnya.
“kalian berdua, apa kalian sudah siap untuk ujian tahap kedua ini?.” Ucapnya menatap Liang Wei dan Lin Lixue secara bergantian.
__ADS_1
Mereka berdua dengan kompak mengangguk menandakan bahwa telah siap.
“mulai!.”
Tatapan mata Lin Lixue menajam, ia kemudian memasang kuda – kuda, Liang Wei juga memasang kuda – kudanya.
“aku penasaran, kenapa kau berbicara kepada setiap orang tapi tidak pernah berbicara padaku.” Ucap Liang Wei dengan menatap tajam Lin Lixue.
Lin Lixue seperti biasa tidak menanggapi Liang Wei, Lin Lixue tiba – tiba melakukan serangan pertama, ia menggunakan tinju dari tangannya yang mungil.
Tinju itu ia arahkan ke dada Liang Wei, Liang Wei tersenyum melihat itu, ia kemudian melakukan gerakan yang sama.
“duuk” suara kedua tinju bertemu, mereka masing – masing mundur sejauh 5 langkah.
Walaupun Liang Wei tidak menggunakan kekuatan penuh, tapi ia sedikit kaget karena Lin Lixue bisa mengimbangi kekuatannya.
“kau gadis yang menarik.” namun Liang Wei merasa senang karena kekuatannya diimbangi.
Mendengar perkataan Liang Wei, Lin Lixue berlari secepat kilat dan secara tiba – tiba berada di depan Liang Wei.
Ia kemudian mengayunkan tinjunya secara horizontal menuju ke wajah Liang Wei.
Liang Wei sedikit kaget pada kecepatan Lin Lixue, namun ia masih sempat bereaksi, ia menunduk lalu melakukan serangan balasan dengan mengarahkan tinjunya ke dagu Lin Lixue.
Lin Lixue melihat tangan Liang Wei menuju ke dagunya, tapi ia cepat menghindarinya dengan salto belakang lalu mengambil jarak dari Liang Wei.
Kini Liang Wei dan Lin Lixue berada di jarak 5 langkah.
“kenapa wajahmu memerah seperti tomat? Wah telingamu juga. Apakah kau sangat marah dengan perkataanku tadi?.” Liang Wei mengkerutkan dahi bertanya kepada Lin Lixue.
Ia kemudian menutup mata dan menarik napas dalam – dalam, beberapa saat kemudian ia membuka matanya.
Saat ia membuka matanya, wajahnya tidak lagi memerah dan tatapan matanya makin menajam.
Ia kemudian berlari lagi dengan kecepatan yang lebih tinggi, dalam sekejap tinjunya sudah berjarak 5 jari dari wajah Liang Wei.
Liang Wei memiringkan kepala kekiri, alhasil tinju tangan kanan Lin Lixue hanya mengenai udara kosong, Liang Wei lalu menggerakkan tangannya berniat meraih lengan Lin Lixue untuk membantingnya.
Namun dengan sigap Lin Lixue menampar telapak tangan Liang Wei dengan tangan kirinya, Liang Wei hanya tersenyum melihat Lin Lixue melakukan itu.
“kena kau.”
Di waktu yang sama saat tangan Lin Lixue menampar telapak tangannya, tangan Liang Wei yang satunya meninju perut Lin Lixue.
Lin Lixue tidak menyadari sudah terkena pukulan sampai pada saat ia merasakan sakit di perutnya, ia hampir terpental, namun tangannya dengan cepat meraih tangan kiri Liang Wei sehingga ia tidak jadi terpental.
Melihat tangan kirinya digenggam oleh Lin Lixue, Liang Wei reflek menarik tangannya untuk lepas dari genggaman itu.
Namun bukan hanya tangannya yang berhasil ia tarik melainkan tubuh Lin Lixue yang ringan.
“oh tidak.”
Liang Wei sedikit ceroboh tidak memperkirakan berat badan Lin Lixue. Lin Lixue juga tidak menduga tubuhnya akan ikut tertarik, secara tidak sengaja kepala Lin Lixue menyundul dada Liang Wei yang tubuhnya lebih tinggi darinya.
__ADS_1
Liang Wei merasa sedikit sakit “apa kepalanya terbuat dari batu.” Pikir Liang Wei.
“hey kalian bertarung atau berkencan.”
“benar, dari tadi kalian hanya seperti menari berdua.”
“keluarkan pedangmu bodoh”
“inilah mengapa sepasang kekasih tidak boleh bertarung”
Para penonton mengomentari cara bertarung Liang Wei dan Lin Lixue.
Mendengar semua komentar itu urat di dahi Liang Wei sedikit muncul.
“hey kami bukan kekasih! .” Liang Wei yang ingin melakukan serangan lagi segera berhenti karena terganggu dengan komentar – komentar itu.
Namun kerena ia berhenti, ia sekarang berada di posisi yang canggung dengan Lin Lixue.
Tangan Liang Wei saat itu masih digenggam oleh Lin Lixue, wajah dan tubuh Lin Lixue menempel di dada Liang Wei.
Posisi canggung itu tidak disadari oleh Liang Wei, ia hanya melihat telinga Lin Lixue yang memerah.
“ahh apa dia juga marah karena komentar para penonton?.” Pikir Liang Wei.
Lin Lixue segera melepaskan genggamannya itu lalu melompat kebelakang sejauh 10 langkah.
“hey mari kita tidak mendengarkan komentar monyet – monyet itu, anggap saja dunia ini hanya ada kita berdua, ayo kita lanjutkan dan cepat akhiri ini.” Liang Wei memberitahu Lin Lixue untuk tidak terganggu lagi.
Niat hati memberi masukan, Liang Wei malah mendapat tatapan tajam dari Lin Lixue.
“huffttt kalau kau marah setidaknya katakan sesuatu kepadaku, jangan hanya diam saja.” Liang Wei menanggapi tatapan tajam itu.
“heey heyy apa ini pertengkaran kekasih.”
“waah mereka masih terlalu muda untuk itu, dimana orang tua mereka.”
Walau wajah Liang Wei kesal mendengar komentar itu, ia hanya menghela napas dan diam Karena saat ini ia sedang dalam pertarungan.
“kenapa mereka selalu salah paham.” Meski begitu ia masih mengeluh dan mengumpat dalam hati.
Saat Liang Wei masih larut dalam pikirannya.
“sringg” terdengar bilah pedang yang tersarung dari tempatnya, hal itu memaksa Liang Wei fokus kembali.
Lin Lixue terlihat mulai serius, ia kini menggenggam pedang di tangan kirinya.
Ia mulai mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya dan tubuhnya mengeluarkan aura berwarna ungu, kekuatan pun aslinya mulai terlihat, ia saat ini berada pada tingkat dasar tahap akhir.
Ia segera berlari secepat kilat, kecepatannya lebih cepat dari sebelumnya karena ia mulai menggunakan tenaga dalam.
Dalam sekejap ia berada 1 langkah di depan Liang Wei, ia segera mengayunkan pedang mengincar Liang Wei.
__ADS_1