
"Bapak mana bu? Gak ikut ibu.."Tanya Andre..
"Biasa, bapak kamu masih di lapaknya. Nanti juga ke sini.." jawab ibu Erin kesal, karena pak Ridwan selalu menolak jika di ajak pergi bersamanya.
"Selalu saja seperti itu, tak pernah menganggap Andra ada. Kenapa sih buk, bapak dari dulu gak pernah berubah? Diemin kita gak jelas, aneh banget. Bapak gak tahu apa, kalau Andra merindukan kasih sayang dari seorang kakek.?.."sahut Andre kesal.
"Tapi Yang bapak fikirkan adalah perempuan sialan itu sama anaknya, bapak mana mau fikirin perasaan istriku dan anak Andre. Mau sampai kapan mikirin orang yang sudah hilang bak di telan bumi itu.? Kali aja mereka sudah mati.."Lanjut Andre mencurahkan kekesalannya pada sang ibu.
Deg..
Ucapan Andre mengingatkan ibu Erin pada wanita yang tidak sengaja bertemu dengannya barusan.
'Wanita itu? Apa aku ceritakan saja pada Andre soal wanita itu?Tapi kalau Andre menemuinya, dan jatuh cinta lagi gimana, secara ku lihat wanita itu sangat cantik dan badannya sangat bagus, jauh berbeda jika di bandingkan dengan Riska, menantuku.."Batin ibu Erin berkata jujur.
'Tapi kalau mereka bertemu gimana? Secara wanita itu sekarang berada di sebelah ruangan ini.."lanjut ibu Erin di landa kebingungan.
"Bukannya kasih aku solusi, atau bantu aku mengambil hati bapak lagi , tapi ibu malah begong."Sahut Andre menyadarkan sang ibu dari fikirannya.
"Ah ya, kenapa Ndre.." tanya ibu Erin..
"Ibu Lagi mikirin apa sih buk?serius amat, sampai ucapan anak sendiri tidak di dengerin.." tanya Andre balik.
"Ti-tidak, ibu tidak sedang memikirkan apa-apa kok. Hanya saja ibu bingung, kenapa cucu ibu dari tadi belum sadar juga?Apa dokter tidak mengatakan sesuatu lagi tentang keadaan Andra.." Ucap ibu Erin mengalihkan pembicaraan.
Kini giliran Andre yang kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari ibunya.
'Kalau aku mengatakan yang sebenarnya pada ibu, sudah di pastikan ibu akan sangat terkejut mendengar kabar ini. Dan tidak hanya Ima dan Riska yang mendapat amukannya, tapi aku juga. Ibu tidak boleh tahu soal ini, tapi aku juga harus membantu Andra sembuh dari gangguan mentalnya, kalau di biarkan seperti ini terus lama-lama penyakitnya makin parah, dan aku tidak ingin itu terjadi pada anak kesayanganku. Lalu, Kalau Andra melakukan pengobatan itu di sini atau di bawa ke psikiater, ibu pasti curiga. Ya Tuhan, bantu aku keluar dari situasi ini.." batin Andre frustasi.
"T-tidak bu, dokter bilang kalau Andra hanya demam tinggi saja. Dokter juga sudah menyuntikan obat pada cairan infusnya, mungkin obat itu sedikit mengandung rasa kantuk, makannya Andra belum bangun juga. Ibu tenang saja, Andra pasti sebentar lagi bangun.."Andre segera menjawab begitu sang ibu menatapnya dengan curiga..
"Kamu gak sedang bohongi ibu kan.." tanyanya dengan selidik.
"Ya enggak lah bu, memang seperti itu hasil pemeriksaannya.." jawab Andre tenang..
"Ibu gak mau ya kalau kamu nutupi keadaan Andra yang sebenarnya dari ibu. Apa lagi Andra ini cucu kesayangan ibu, ibu bisa marah besar loh Ndre.."ucapnya..
__ADS_1
Deg..
"Ya, Andre tahu kok." jawabnya.
'Kenapa Tuan Andre tidak mengatakan yang sebenarnya saja sih? Kalau jujur kan, Nyonya bisa menyelidiki kejadian sebenar terjadi pada cucunya. Kalau begini caranya, kasihan Andra.."batin Ima.
Ruangan sebelah...
"Hiks hiks hiks..Bunda cepat pulang, Reyna rindu sama bunda."ucap Reyna..
"Kak Nilla, kita cari bunda saja yuk? Hati Reyna gak tenang.." lanjut si cantik.
"Kita mau cari bunda kemana sayang? Kita kan gak tahu bunda perginya ke mana. Tunggu saja dulu sebentar lagi, bunda sebentar lagi pasti kembali.." Ujar Nilla.
"Kak Nilla bilang sebentar lagi bunda kembali, tapi nyatanya bunda dari tadi gak ada. Ini sudah 4 jam bunda gak kembali-kembali kak..
"Kita tidak bisa mencari bunda, sayang. Tapi kak Nilla akan menyuruh penjaga itu untuk mencari bunda, Reyna tunggu di sini dulu ya.." Ucap Nilla akan meminta bantuan pada orang-orang majikannya.
"Iya kak, kalau mereka tahu langsung kasih tahu Reyna ya.."ucapnya menghapus sisa air mata.
Ceklek..
Sebelum Nilla beranjak dari ranjang Reyna, seseorang lebih dulu membuka pintu ruangan itu. Reyna maupun Nilla bertanya-tanya, siapa yang membuka pintunya??.
"Assalamualaikum.." Ucap seseorang itu.
"Suara itu.." Ucap Nilla menghadap anak majikannya.
"Bunda.." Teriak Reyna kegirangan, ternyata Riana yang membuka pintu itu..
"Jangan turun sayang, biar bunda ke situ.."Cegah Riana saat putri kecilnya hendak turun dari brankar..
"Bunda, bunda dari mana saja? Kenapa lama sekali kembalinya.? Hiks hiks hiks.." Reyna langsung menangis dalam pelukan bundanya.
"Sayang, kok Reyna nangis. " Tanya Riana bingung, lalu sedikit menjauhkan tubuhnya dari sang putri. Namun Reyna malah menangis sesegukan dan memeluk bundanya kembali.
__ADS_1
"Kenapa bunda bohongi Reyna? Bunda bilang perginya tidak akan lama, tapi nyatanya kenapa lama sekali? Reyna takut bunda, hiks hiks hiks.."Ucapnya.
"Maafin bunda ya, tadi pas di lokasi ada gangguan sedikit, makannya bunda telat kembali. Tapi Reyna takut kenapa? Siapa yang sudah membuat Reyna ketakutan seperti ini.." Tanya Riana cemas.
"Bunda, hiks hiks."jawab Anaknya.
"Bunda?Maksudnya apa sayang? Perasaan bunda tidak melakukan apa-apa pada Reyna.."tanyanya berubah bingung.
Namun Reyna tidak menjawab, malah ia mengeratkan pelukannya pada sang bunda.
"Syukurlah kak Riana kembali, aku sangat khawatir tadi." sahut Nilla tersenyum lega...
"Nilla, bisa jelaskan apa yang terjadi pada anakku. " tanya Riana tanpa melepaskan putrinya.
"Selepas kakak pergi, Reyna sempat tidur sebentar . Tak lama kemudian Reyna bangun langsung berteriak di barengi dengan pecahan gelas kak. Saat itu aku tidak tahu kenapa gelas itu bisa jatuh karena aku sedang berada di kamar kecil. Reyna menangis memanggil-manggil kakak, Reyna bilang kalau ia bermimpi kalau kakak di tembak seseorang dan kakak tergeletak di tanah dengan kepala di lumuri banyak darah." jawab Nilla menjelaskan.
'Ya Tuhan, jadi karena itu Reyna ketakutan seperti ini. Tapi kenapa kejadian itu bisa masuk ke dalam mimpi anakku?.."batin Riana..
"Bunda jangan pergi lagi ya,? Reyna takut.." Ucap Reyna...
"Iya sayang, bunda tidak akan pergi lagi kok. Lagi pula urusan bunda di sini sudah selesai, lahannya sudah bunda dapatkan dan sekarang giliran kita jalan-jalan.." jawab Riana.
"Beneran bun? Tapi Jalan-jalan kemana bun.."tanya Reyna melepaskan pelukannya.
"Ke kampung halaman kak Nilla mungkin, atau kemana saja yang Reyna mau pasti bunda turutin."jawabnya tersenyum.
"Bunda gak bohongi Reyna lagi kan..
"Insyaallah, enggak sayang.." jawab Riana.
"Asiikkkk, akhirnya Reyna jadi jalan-jalan juga sama bunda.." ucapnya kegirangan.
'Semoga saja kali ini aku tidak mengecewakan anakku.."batin Riana.
Bersambung..
__ADS_1