
"Ayo bangun jagoan.."ucap Andre lagi, karena tidak mendapatkan hasil dari usaha yang pertamanya.
"Andra, ayo bangun.."Ucapnya kembali...
"Belum bangun juga Andra'nya mas.."Tanya Riska di ambang pintu kamar anaknya yang bernuansa kanak-kanak.
"Belum sayang. Tahu sendiri, anak kita kan susah di bangunkan.."Jawab Andre menoleh ke balakang.
"Kaya kamu ya mas, yang susah banget di bangunkan."Sahut Riska mendekati keberadaan anak serta suaminya..
"Mana ada sayang, mas gak seperti itu kok.? Kamu kali.."sahut Andre melempar balik istrinya.
"Yee, malah nyalahin orang lain lagi. Gak sadar sama kebiasaan diri sendiri apa.."Sahut Riska.
"Sayang bangun.." Lanjut Riska membangunkan anaknya.
"Kebiasaan yang mana dulu sayang? Yang ini,? apa yang ini.." Tanya Andre pertama mencium bibir Riska, dan ke dua Andre meremas gunung kembar istrinya.
"Mas Andre iikhh, jangan kurang ajar.. Kalau Andra lihat , gimana? Anak kita kan masih kecil, tidak sepantasnya kelakukan seperti ini di perlihatkan pada anak kita mas. Tidak baik nantinya..."Tegur Riska.
"Maaf sayang, mas lupa. Abisnya kamu pake baju beginian sih, jadi mas pengen cubit. Lagi pula Andra lagi tidur, mana mungkin ia melihatnya."sahut Andre. Wajar saja jika Andre ingin memegang gundukan Riska, tanpa Riska sadarri ternyata kancing dres yang ia pakai belum terpasang sempurna di lubang kancing tersebut.
"Iiikhh, kenapa mas gak bilang dari tadi sih kalau baju aku ke buka ke gini.."Sahut Riska .
"Kenapa di tutup sayang, biarkan saja seperti itu. Mas sangat menyukainya.." sahut Andre ingin menghalangi tangan Riska, namun tidak bisa karena Riska lebih dulu menepis pelan tangan Andre .
"Jahat banget sih sama suami sendiri? Mas kan hanya ingin mempertahankan kepemilikan mas saja.."Sahut Andre cemberut.
"Aku tahu ini memang milikmu, bahkan semua yang ada pada diriku itu milikmu mas. Tapi ingat, ini bukan tempatnya untuk itu mas Andre'ku tersayang.." Jawab Riska.
__ADS_1
"Berarti kalau di kamar kita boleh dong sayang.."Andre mengedipkan mata.
"Ya boleh, kapan aku melarangmu mas.? Tidak pernah bukan.."Kali ini Riska yang mengedipkan mata.
Ya memang dari dulu Riska tidak pernah menolak keinginan suaminya itu. Apa lagi ini masalah ranjang dan Riska'pun sangat menggemari permainan tersebut.
"Ini yang buat mas jatuh cinta padamu untuk kesekian kalinya sayang. Kamu selalu memberi pelayana terbaik yang pernah mas rasakan sayang.."Ujar Andre.
Apa itu pujian? Atau membandingkannya dengan perempuan yang di benci Riska itu? pertanyaan itu melintas dalam benak Riska. Namun ia tidak ingin mempertanyakan masalah itu, karena ia tidak ingin membuat suaminya kembali mengingat perempuan itu, mantan kakak madunya, Riana.
Itu tidak boleh di biarkan. Maka dari itu, Riska selalu menutup mulutnya rapat-rapat saat sesuatu pembahasan yang menyangkut nama mantan istri suaminya dan anak kandung dari suaminya, Reyna.
Namun Riska tidak seperti dulu, yang mungkin sering ketakutan dan sering memikirkan cara untuk mempertahankan posisinya di samping sang suami.
Tentu Riska tidak seperti itu lagi saat ia berhasil memberikan bayi laki-laki pada suaminya . Karena soal itu yang paling kuat mempertahankan posisi Riska berada di samping Andre untuk selama-lamanya.
"Sudahlah, jangan di teruskan lagi. Mas Andre mandi saja gih, biar aku yang bangun kan anak kita ini.."sahut Riska mengalihkan pembicaraan. Kalau tidak, bisa gawat urusannya. Bukan karena menolak keinginan suaminya, hanya saja waktunya tidak tepat di sini.
"Tapi aku pengen mandi bareng bersama anak kita sayang. Sudah lama sekali aku ingin mengulangi momen indah itu.."Ucap Andre.
"Ya Andra'nya masih tidur, gimana dong.? Masa iya mas mau bawa Andra begitu saja ke kamar mandi.."ucap Riska.
"Ya enggak gitu juga kali sayang. Coba sekali lagi kamu yang bangunkan Andra, siapa tahu kali ini Andra bangun setelah mendengar suaramu."Titah Andre..
"Baiklah, aku akan membangunkan Andra sekali lagi. Tapi kalau Andra belum mau bangun juga, mas mandi duluan ya.? Kan sebentar lagi harus berangkat ke kantor.."Ucap Riska..
"Tentu sayang. Ya sudah, cepat bangunkan Andra sekarang ." ujar Andre.
Sesuai perintah raja, sang ratu langsung mengabulkan permintaan sang raja.
__ADS_1
"Andra sayang, bangun nak. Ini sudah siang, waktunya kamu mandi. Ayo bangun dong sayang, papah lagi nunggu kamu ini.."Ucap Riska mencoba kembali membangunkan anaknya, dan hasilnya tetap sama. Andra sedikitpun tidak melakukan pergerakan apa di sana-sana. Hanya saja yang terdengar suara deru nafas beliau, dan itu terdengar jelas di telinga bundanya.
"Ingat, kesepakan kita sudah bulat dan tidak bisa di batalkan."sahut Riska, karena ia tahu, bahwa suaminya itu selalu mengingkari janjinya. Apa lagi janji ini bisa di katakan tidak penting.
"Sedikitpun aku tidak lupa sayang. "Sahutnya ,lalu mencium pipi istrinya dengan gemas.
"Ya sudah sana mandi.."titah istrinya.
tanpa membuang-waktu Andre lagi, Andre langsung mengikuti apa kata istrinya. Meninggalkan Riska dan anaknya yang tengah tertidur lelap di sana.
"Heii, bangun.."Ucap Riska membangunkan anak kecil itu dengan cara tidak wajar.
"Ini anak susah banget ya di banguninnya. Udah siang juga, masih molor saja. Andra, cepat bangun.."Lanjutnya, namun hasilnya nihil Andra masih betah berada di dalam mimpinya.
'Kalau bukan karena mas Andre, ogah banget gue jadi seorang ibu kaya gini. Capek, apa lagi anak nyusahin gue terus kerjanya."batin Riska.
Dari lahir, Andra memang sudah di perlakukan demikian oleh Riska.
Riska tidak seperti ibu yang lain pada umumnya yang menyayangi dan mencintai anaknya. Namun Riska terbalik, ia malah memperlakukan anak itu dengan sangat tidak wajar.
Seperti sering berkata kasar, membentak, dan sering main tangan pada Andra jika anak itu tengah rewel.
Entah kenapa Riska tidak menyayangi anak itu, malah ia sepertinya sangat membenci anak itu.
Bukankah Andra adalah buah cinta Riska dan Andre? Dan kehadirannya sangat di nantikan keduanya? Lalu kenapa Riska memperlakukan anaknya kandungnya seperti itu? Tidak seperti Andre yang selalu menyayangi anaknya. Sepulang kerja, setiap hari ia sempatkan pergi ke toko mainan untuk membeli beberapa mainan untuk anak kesayangannya itu.
Tidak seperti Riska, tidak pernah sekalipun ibu satu anak itu membelikan mainan untuk anaknya. Kadang pas Andra di ajak ke pusat perbelanjaan pun, anak itu tidak pernah di belikan apa-apa di sana. Malah Riska sendiri yang heboh membeli kebutuhan pribadinya, dengan kisaran harga tinggi ia mampu membelinya. Sedangkan untuk membeli satu mainan saja dan harganya tidak sampe 1 juta, Riska malah ogah membayarnya.
Pernah dulu Andra sangat menginginkan mainan robot yang di jual di suatu toko. Riska bukannya menuruti keinginan anaknya, malah ia memarahi Andra habis-habisan di sana. Untung ada pengasuh Andra yang menenangkan anak itu. Kalau tidak, bisa di pastikan Andra pasti di tinggalkan di sana.
__ADS_1
Ibu yang kejam..👿👿
Bersambung...