Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 92


__ADS_3

"Riska kemana sih? Di hubungi malah tidak di angkat-angkat.."desis Andre kesal setelah beberapa kali menghubungi istrinya, tapi tak kunjung jua di angkat.


"Masa udah pergi?Pergi kemana coba pagi begini? Riska bilang, Andra baik-baik saja. Tapi pada kenyataanya Andra masuk ke rumah sakit.."gerutunya kesal, lalu membelokan mobilnya di belokan tajam.


Sedangkan Riska saat ini sedang melakukan perawatan di salah satu rumah kecantikan, yang sudah menjadi langganannya itu. Sedangkan ponselnya ia sailent, biar tidak ada yang mengganggunya pas melakukan perawatan.


Mulai dari perawatan kaki, badan, rambut, tangan, kulit, serta yang lebih pentingnya lagi adalah melakukan perawatan di bagian wajah.


Sebulan sekali Riska selalu memanjakan tubuhnya dengan pijatan-pijatan halus yang dokter itu lakukan pada anggota tubuhnya.


Setiap mendapat jatah dari sang suami, Riska akan menghabiskan waktu satu hari di luar rumah. Jika sudah puas, ia akan pulang jam 7 malam sebelum Andre berada di rumah.


Ya, rupanya Andre tidak tahu tentang kebiasaan istrinya selepas mendapat transferan uang darinya. Yang Andre tahu, Riska itu selalu di rumah menemani sang anak, dan kalau keluar paling tidak ke supermarket untuk membeli bahan-bahan dapur. Selain itu pergi ke salon, dan sisanya Riska gunakan untuk mengajari anaknya dalam segala hal.


Itulah yang Andre tahu dari mulut istrinya, tapi pada kenyataannya Riska tidak seperti yang dia katakan sendiri pada suaminya.


Jangankan untuk menemani Andra main, menatap wajah putra kecilnya saja merasa tak sudi, pikir Riska.


"Kaki, tangan dan lainnya sudah selesai. Sekarang Nona tinggal melakukan perawatan wajah." ucap dokter kecantikan.


"Buat wajahku tambah cantik dan kinclong ya dok.." ucap Riska membaringkan tubuhnya di ranjang khusus pasien kecantikan.


"Tentu, itu sudah menjadi tugas saya untuk membuat wajah anda cantik Nona.." jawab Dokter kecantikan tersenyum manis pada setiap pelanggannya.


"Saya ingin selalu tampil cantik, terutama di depan suami saya.." ucap Riska memejamkan mata.


"Itu harus Nona, apa lagi saat ini pelakor sedang marak, dan sebagai istri, kita harus hati-hati dan menjaga suami kita, agar suami kita tidak ke cantol dengan bujuk rayu pelakor bangsat itu."Sahut dokter kecantikan.


Uhuk

__ADS_1


Uhuk


Riska terbatuk begitu dirinya merasa tersindir dengan kata-kata dokter kecantikan itu.


"Nona Riska kenapa?Mau minum.." tawar dokter kecantikan.


"Ah tidak, tenggorokan saya cuma gatel saja kok dok.." jawab Riska.


'Sialan banget dokter ini." batin Riska kesal.


"Ucapan anda memang benar sih dok. Tapi ya wajar-wajar saja lah jika seorang pria beristri kecantol wanita di luaran, kalau yang di rumah membosankan." sahut Riska tidak ingin kalah.


"Tergantung." ujar Dokter.


"Tergantung apanya Dok.." tanya Riska.


"Ya, sebagai seorang suami harusnya mikir dong, tubuh sama wajah istri jelek karena apa.?Dan jawabannya adalah karena suami. Istri bangun pagi untuk beres-beres rumah, menyiapkan makanan, mencuci piring, mencuci pakaian, kadang nyiapin air mandi juga, nyiapin baju kerja suaminya, melayani suaminya di atas ranjang, belum lagi mengurusi anaknya, apa lagi kalau anaknya masih kecil, sudah di pastikan itu sangat repot. Jangankan untuk mengurus dirinya sendiri, untuk kebutuhan istri sehari-hari saja tidak cukup, bukan? belum lagi waktunya sangat tipis..Jadi Jika seperti itu, yang salah bukan istrinya, tapi suaminya karena tidak bisa memenuhi kebutuhan pribadi si istri. Jika begitu, suami harus menerima keadaan istrinya apapun itu, jelek buruknya sama saja itu istrinya. Bukan malah mencari wanita lain di luaran sana, dengan alasan kalau yang di rumah jelak lah, gendut, wajahnya kusam lah. Itu si suaminya saja yang brengsek, pelakornya juga kegatelan...."ucap Dokter Kecantikan membeberkan pendapatnya.


"Tidak semua laki-laki brengsek seperti itu kali Dok. Mungkin istrinya saja salah kasih keturunan, atau alasan lain gitu, makannya suami berpaling pada wanita lain. Tahu sendiri lah ya, secara wanita di luaran sana itu lebih menggoda dari pada yang di rumah.."Sahut Riska dengan manahan emosi sang dokter mengatai dirinya sebagai pelakor kegatelan.


"Kalau soal kasih keturunan, menurut saya itu tidak ada yang salah. Perempuan atau laki-laki sama saja, sama-sama anugrah dari Tuhan yang di titipkan pada kita. Semua anak membawa anugrah, dan rezeki bagi kehidupan kita. Dan Tuhan juga sudah memberi takdir kita seperti itu, jalannya harus begini, seperti ini. jadi kita tidak bisa menyalahkan takdir begitu saja, jika seperti itu sama saja kita menyalahkan Tuhan. Kita juga yang kena dosanya.." ujar Dokter kecantikan sembari mengoleskan sesuatu pada wajah Riska dengan alat-alat kecantikan lainnya.


'Apa dia masih hidup? Atau sebaliknya? Aku harap, dia baik-baik saja dan tumbuh sehat di sana.."Batin Riska, entah apa maksudnya mengatakan seperti itu, hanya ia yang tahu.


"Sepertinya Nona mendukung pelakor di sini?.." tanya Dokter kecantikan dengan serius


"S-siapa bilang,? Justru saya pemburu pelakor di sini, makannya saya ingin selalu tampil cantik agar suaminya tidak kecantol yang namanya pelakor, dok.." jawabnya terbata.


Pelakor bilang pelakor..

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu, setidaknya pelanggan-pelanggan saya berhati suci."Ucap Dokter Kecantikan.


'Kalau saja loe bukan pemilik rumah kecantikan ini, sudah ku pastikan mulut ku sumpal pake sambal dok.."batin Riska emosi.


Meski dokter kecantikan mengatakan kata-kata itu, tapi Riska tidak bisa bertindak semaunya karena ia harus menjaga nama baiknya di depan teman-temannya.


Kalau saja identitasnya terbongkar, otomatis semua orang akan tahu julukan Riska yang sebenarnya, yaitu Pelakor (Perebut Laki Orang.) Dan Riska tidak ingin itu terjadi, bisa malu banget jika semua orang tahu kebenarannya.


Molland Hospital..


"Dokter.." teriak pak Supir begitu sampai ke rumah sakit.


Dokter dan beberapa suster langsung mendatangi asal suara dan menyiapkan brangkar untuk meletakan calon pasiennya.


"Dokter, tolong tangani anak majikan saya.." ucap Ima membaringkan Andra di brankar.


Dokter anak langsung memimpin perjalanan menuju ruang rawat anak.


"Mbak sama bapak'nya tolong tunggu di sini saja, biar kami menangani anak majikan kalian.." Ucap suster menghalangi jalan Ima dan pak supir.


"Baik sus, tapi tolong berikan perawatan yang terbaik untuk anak majikan saya.." sahut pak Supir sesuai perintah Tuan'nya.


"Bapak tenang saja, kami akan melakukan yang terbaik untuk anak majikan kalian." ucap suster, setelah itu ia menutup pintu rapat-rapat.


"Ya Tuhan, semoga tidak terjadi sesuatu dengan Andra.." ucap Ima cemas.


"Amin, semoga saja ya Im."ujar pak Supir.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2