
"Maaf, saya tidak bisa memperbolehkan anda untuk ikut ke kediaman saya. Bukan karena saya berfikir kalau anda ada niat jahat pada saya, tapi ini peraturan langsung dari kakek Allex untuk tidak membawa orang asing ke mansion kami. Sekali lagi saya minta maaf Tuan Raymond.." Jawab Riana merasa tidak enak, tapi itu memang benar-benar peraturan dari kakeknya saat masih hidup.
"Saya mengerti, tolong hati-hati dan sampaikan salam saya pada putri kecil anda Nona.." ujar Raymond.
"Baik, kalau begitu saya duluan Tuan.."
"Ya, silahkan.."Kini hanya tinggal Raymond sendirian di sana.
"Nona, anda sudah selesai. " Tanya Trisstan mengikuti langkah Nona'nya dari belakang.
Melihat itu, Han langsung menghampiri di mana Tuannya berada.
"Ya..
"Kenapa anda terlihat sangat buru-buru, ada apa? Tanya Trisstan.
"Reyna sakit, saya harus membawanya sekarang juga ke rumah sakit. " Jawab Riana.
"Apa? Reyna sakit? ..".
"Ya, dan sekarang Reyna demam tinggi, saya harus segera pulang..
"Biar kita pulang pakai mobil saya, dan mobil Nona akan di urus anak buah kita..."tawa Arv.
"Tidak perlu, kita pulang dengan membawa mobil masing-masing saja."Tolak Riana cepat dan masuk ke dalam mobil putihnya.
Trisstan juga sama, ia masuk ke dalam mobilnya dan mengejar mobil Riana yang sudah melesat jauh.
Ruang VVIP..
"Ekheem,, sepertinya ada lagi bahagia nih..."Ucap Han melihat Raymond yang senyum-senyum sendiri di sana.
"Ya pasti bahagia dong, secara bisa bertemu lagi dengan wanita yang selama ini sudah membuat kita pusing bersama karena mencari keberadaannya, hi hi hi . Sungguh kisah cinta yang merumitkan.." lanjut Han.
"Apanya yang rumit? Menuritku itu hal wajar.." ujar Raymond.
"Jelas rumit dong, kau mencari keberadaan wanita itu kemana-mana, tahunya wanita itu tinggal di Jerman dan menjadi seorang pemimpin hebat yang identitasnya tidak di ketahui oleh siapapun. Kalau dari dulu tahu wanita itu tinggal di san dan memiliki jabat tertinggi di sana, pasti kau akan mengejarnya juga bukan? Sayangnya kita terlalu bodoh mencari kenyataan.."jawab Han.
"Kau yang bodoh, aku tidak." sahut Raymond.
"Tidak apanya? Jelas-jelas kau sangat bodoh, mencari seorang wanita yang ternyata di lindungi Sallex Group, ya jelas tidak bisa karena wanita itu adalah pemiliknya."Ujar Han.
"Terserah kau saja, yang jelas aku tidak bodoh. Yang bodoh itu kau dan anak buah kau itu karena kalian tidak becus mencari wanita itu dan anaknya...
__ADS_1
"Jelas kami tidak bisa menemukannya, toh wanita yang kita cari bukan wanita biasa, tapi wanita luar biasa.."jawab Han.
"Tetap saja kau dan anak buah kau yang bodoh."sahut Raymond.
"Ck ck ck.."Han berdecak kesal.
"Tapi, apa yang Nona Riana katakan padamu tadi Ray? Sepertinya serius sekali.."Tanya Han.
"Dia hanya mengatakan terima kasih padaku." Jawab Raymond.
"Terima kasih? Terima kasih untuk apa? Apa kau pernah melakukan sesuatu padanya dulu ." Tanya Han penasaran.
"Ya, soal putri kecilnya dulu yang pernah di rawat di rumah sakit kita Han, karena kita sudah mendapatkan pendonor darah untuk purtinya sekaligus kita sudah mempertemukan dia dengan orang-orang yang di carinya selama ini..."Jawab Raymond.
"Kalau soal pendonor, aku rasa beliau pantas mengucapkannya. Tapi soal kita mempertemukan dengan orang-orang di carinya, sepertinya aku tidak faham dengan maksud kau.." Ucap Han.
"Kau masih ingatkan dengan pendonor darah yang mendonorkan darahnya untuk putri kecil Nona itu.." Tanya Raymond.
"Tuan Allex.."Jawab Han.
"Benar, beliau beserta istrinya'lah yang selama ini di cari ibu kandung dari putri kecil itu.." Ucap Raymond.
"Maksudnya..
"Jadi, maksud kau adalah Nona Riana itu adalah cucu dari Tuan Allex dan Nyonya Maya, seperti itu.." Tanya Han terkejut.
"Ya.." Jawab Raymond.
"Wah, pantas saja dunia mengatakan kalau Nona Riana adalah pewaris sah 3 perusahaan besar itu, ternyata beliau adalah anak kandung dari Tuan Juan.."ucap Han mengangguk-anggukan kepala.
"Lalu kau tahu dari mana kalau Tuan Juan beserta istrinya sudah meninggal.? Aku tidak mendengar soal itu.."Lanjut Han.
"Nona Riana sendiri yang mengatakannya padaku. Aku bertanya soal malam itu di TPU, dan dia menjawab kalau dia tengah mengunjungi makam kedua orang tuanya di sana."Jawab Raymond.
"Jadi, Tuan Juan dan istrinya di makamkan di kota ini? Wah, ini sungguh kabar mengejutkan bagi seluruh jagad raya. Sudah sekian lama mencari keberadaannya, dan ternyata beliau bersembunyi di kota kita Ray? Pintar sekali beliau bersembunyi.." Ucap Han.
"Kita cukup tahu saja, dan diam." Ucap Raymond.
"Tentu, aku tidak mengatakannya pada siapapun. Tapi ada apa dengaan Nona Riana tadi? Beliau pergi dengan tergesa-gesa.." Tanya Han.
"Oh itu, karena putrinya saat ini sedang demam tinggi, makannya ia buru-buru pergi..
"Kenapa kau tidak ikut dengannya..
__ADS_1
"Tidak bisa, ada peraturan di sana. Dia tidak di perbolehkan membawa orang asing masuk ke dalam mansionnya, itu perintah langsung dari beliau."..
"Benarkan,? Padahal aku berharap sekali kita bisa tahu tempat tinggalnya..
"Kenapa kau berharap?.." tanya Raymond menautkan alisnya.
"Ya, kalau kita tahu tempat tinggalnya kan, bukankah itu sangat bagus? Kau bisa bertamu ke sana jika kau ingin menemuinya, apa kau tidak berniat mendekati wanita yang selama ini kau cari, heumm? Bukankah ini kesempatan emas.."tanya Han menggoda.
"Tentu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri.."Jawab Raymond menyeringgai tipis.
"Janji apa.."Tanya Han.
"Kau tidak perlu tahu. Lebih baik kita sekarang kembali ke perusahaan karena pekerjaan masih menunggu kita di sana.." Ucap Raymond bangkit dari duduknya, dan pergi dari sana dengan hati berbunga-bunga.
Bagaimana tidak, wanita yang di harapkan adanya kini muncul kembali di sininya. Raymond tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu lagi, dan ia bedo'a semoga keinginannya tercapaikan.
Aminkan saja..
Kediaman Sallex..
"Ya Tuhan, badan Reyna tambah panas, aku harus gimana.." ucap Nila panik saat suhu badan Reyna 40°c.
"Kak Riana, cepat pulang kak.." Ucap Nilla.
"Reyna ,bangun sayang, ini kakak Nilla.."Selalu itu yang Nilla ucapkan pada Reyna.
"Dingin kak.." Reyna menggigil tanpa membuka matanya.
Nilla bingung, kenapa Reyna bisa kedinginan di saat wajah dan tubuhnya basah oleh keringat seperti itu.? Nilla panik.
"Selimut kak.." Ucap Reyna membuyarkan kepanikan Nilla.
"Ah iya sayang, biar kakak selimuti. " jawab Nilla.
"Kak, bunda mana? Reyna pengen di peluk bunda.." tanya Reyna dengan bibir pucat dan bergetar.
"Bunda masih di jalan sedang menuju pulang, biar kakak yang peluk Reyna ya..
Reyna menganggukan kepala, lalu mendekap tubuh Nilla dengan sangat erat.
"Ya Tuhan, Reyna..
Bersambung..
__ADS_1