Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 82


__ADS_3

"Tapi aku sudah memesan mejanya, gimana dong mas? Kalau di batalin kan uangnya tidak bisa kembali, mana udah bayar mahal. lagi pula malu juga kalau uangnya di minta balik."Ucap Riska kecewa.


"Ya gimana lagi, mas bener-bener gak bisa sayang. Kan kamu tahu sendiri Tuan Raymond belakangan ini sangat rese, ngasih pekerjaan selalu banyak. Ya jadinya seperti ini deh, selalu pulang telat, capek juga." jawab Andre.


"Yah, gimana dong.." Riska cemberut.


"Ya kalau mas gak bisa, kenapa tidak kamu saja yang makan di sana sama Andra. Dari pada di batalin kan malu." Ucap Andre mencoba untuk bernego.


"Tapi aku pengennya sama kamu juga mas.." Ujar Riska manja.


"Riska sayang, mas mohon kamu mengerti posisi mas dong. Mas lagi kerja, cari uang buat kamu dan anak kita...Ayolah, mungkin kita bisa makan bersama di lain waktu." ujar Andre.


"Ya sudah deh kalau begitu aku saja yang makan di luar, tapi jangan salahkan aku jika aku mengundang temen-temenku untuk menemaniku makan.." Jawab Riska.


"Kamu bawa Andra juga kan.."Tanya Andre.


"Gak usah lah mas, takut Andra kecapean. Anak kita kan udah aktif sekolah, takutnya aku pulang kemalaman nanti. Mas kan tahu sendiri kalau aku sudah kumpul sama teman-temanku, aku sering lupa sama waktu."Jawab Riska.


Andre menghela nafas panjang mendengar ucapan istrinya, Riska selalu menghambur-hamburkan uangnya jika sedang bersama teman-teman geng sosialitanya itu. Jadi Andre paling kesal jika Riska pergi bersama mereka, karena teman-teman Riska itu selalu membuat dompet sang istri menipis dan berimbas pada dompet Andre juga.


"Gak apa-apa ya mas kali ini aku pergi tanpa Andra? " Lanjut Riska karena tidak mendapat jawaban dari suaminya.


Riska harus mencari cara agar ia mendapat izin dari sang suami.


"Boleh, tapi ingat jangan terlalu baik sama mereka. Mereka hanya memanfaatkan kamu saja.." Jawab Andre.


"Ok mas.." Ucap Riska.


"Jangan pulang terlalu malam. Sebelum mas pulang, kamu lebih dulu harus berada di rumah.." sahut Andre.


"Ok sayang, terima kasih..


"Hemm.."Sambungan terputus.

__ADS_1


"Akhirnya gue mendapat izin dari mas Andre, waktunya sekarang gue dandan yang cantik, pake tas mahal, sepatu mahal dan berlian biar mereka iri sama gue." ucap Riska.


"Biar mereka tahu kalau gue orang kaya.." lanjut Riska mengambil pakaian seksi dari dalam lemarinya.


Molland Group..


"Riska selalu saja begitu, tidak pernah lupa sama teman-teman kerenya itu.. Berteman kok sama yang kere sih, cari yang lebih kaya ke biar dia kecipratan kekayaannya juga. Lah ini bukan kecipratan kaya, yang ada dompet gue yang kecipratan kere.."Ucap Andre kesal dengan tingkah istrinya.


"Akhirnya berkas penting ini selesai juga, gue harus anterin sekarang ke ruangan Tuan Raymond, sebelum dia menegur gue lagi kaya dulu.." Ucapnya, lalu ke luar dari sana.


"Lane, apa Tuan Raymond ada di ruangannya.." tanya Andre pada Sekretaris Tuan'nya.


"Tuan Raymond tidak ada di ruangannya pak Andre, beliau sedang keluar bersama Sekretaris Han.."Jawab Lane.


"Keluar?Apa meeting dengan klain kita..."Tanya Andre.


"Meeting dengan perusahaan tersebut di batalkan karena beliau punya janji temu dengan tamu pentingnya yang dari Jerman.."Jawab Lane.


"Soal itu saya tidak tahu pak, karena Tuan Raymond dan Sekretaris Han tidak memberi tahu siapa tamu pentingnya."Jawab Lane.


"Baiklah, terima kasih. Kalau begitu, saya titip berkas penting. Kalau beliau sudah datang, segera berikan." Ujar Andre menyedorkan berkas di tangannya.


"Baik pak Andre."Jawab Lane sopan.


'Tamu penting? Tamu penting dari Jerman, tapi siapa?Setahuku, Tuan Raymond dan perusahaan ini tidak punya colega atau klain dari sana.."batin Andre bertanya-tanya.


"Sudahlah, mungkin Tuan Raymond bertemu sahabatnya.." ucap Andre kembali pada ruangannya.


"Ehh, loe-loe pada sedang apa di ruangan gue.."Tanya Andre terkejut saat masuk ke dalam ruangannya, ia melihat kedua sahabatnya itu tengah duduk di sofa dengan santainya.


"Kita hanya sedang mengecek pekerjaan loe saja." Jawab Dimas..


"Ck, gaya loe pada kaya bos aja pake cek pekerjaan gue segala. Pangkat aja masih di bawah gue, pake sok-sok'an sombong segala." sahut Andre menduduki kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Kalau pangkat gue sama Dimas memang kalah, tapi soal pekerjaan loe lebih dari pangkat kita kok.. Kerjaan gue sama Dimas sudah selesai, sedangkan kerjaan loe masih menumpuk kaya gitu. Apa tidak salah tuh.." sahut Hadi.


"Ini semua kerjaan Tuan loe pada yang ngasih gue berkas segini banyaknya. ." jawab Andre kesal.


"Aneh gue, padahal Tuan Raymond dulu tidak begini selama 4 tahun belakangan ini gue menjabat sebagai Direktur keuangan di perusahaannya. Tapi kenapa dua minggu ini beliau kejam banget pada gue. Merasa ada yang aneh gak sih.." Lanjut Andre.


"Aneh apanya? Perasaan beliu dari dulu memang seperti itu, buktinya pekerjaan gue saja Hadi lancar-lancar saja sampai sekarang." Jawab Hadi.


"Bener tuh, pekerjaan kita fine-fine saja.." tambah Dimas.


"Tapi kenapa pada gue beda.? Perasaan gue tidak punya salah apa-apa selama ini, hanya gara-gara berkas waktu itu, tapi udah gue kerjaan kok sesuai waktu yang di anjurkan beliau. tapi kenapa gue merasa Tuan Raymond selalu menatap dengan tatapan benci?."Tanya Andre bingung dengan Tuannya.


"Sepertinya dia ingin membuat gue menderita kerja di sini.." lanjut Andre.


"Mungkin ini karma buat loe.." sahut Dimas.


"Karma apa? Emang loe pikir gue pernah berbuat jahat gitu pada orang lain dan menurut loe ini balasannya ini gitu? Mana pernah gue begitu, gue mah orang baik ya, jadi gue tidak pernah berbuat jahat pada siapapun. Kecuali.."


"Kecuali pada mantan istri dan anak perempuan loe kan.." Sambung Dimas.


"Dim, loe ngomong apaan sih?Jangan memanas-manasi suasana dong.." bisik Hadi melihat Andre membulatkan mata mendengar ucapan Dimas.


"Diam loe Had." jawab Dimas.


"Andre marah baru tahu rasa loe Dim.." Bisik Hadi.


"Itu masa lalu gue, lagi pula itu bukan salah gue kok. Salah perempuan sialan itu sendiri kenapa gak bisa ngurus badan dan wajah. Masa Istri seorang Menejer kok bentuknya kaya gembel gitu sih, gue kan malu. Lagi pula, salah dia juga kenapa ngasih gue anak perempuan. Jelas-jelas gue mengharapkan anak laki-laki. Ya perempuan kaya gitu mending di buang saja, dari pada gue dan keluarga gue kena sialnya.." sahut Andre tidak ingin salah di mata sahabatnya.


"Buktinya, gue bisa sukses dan menjadi orang kaya setelah lepas dari perempuan sialan itu. Berarti perempuan dan anaknya itu memang benar-benar pembawa sial." Lanjut Andre dengan sombongnya.


Karma pasti ada...


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2