
"Dasar perempuan sialan, enak banget loe ngatain gue pelakor. Loe jangan asal tuduh gue ya, gue bukan pelakor.." Bentak Riska malu karena semua orang menatapnya dengan tatapan sinis.
"Kalau anda bukan pelakor, lalu anda siapa Nona? Apa anda lupa kejadian 4 tahun yang lalu. " Ucap Riana santai.
"Kau..
"4 Tahun yang lalu bukankah anda yang mengambil mas Andre dari saya?.."Sahut Riana sebelum Riska meneruskan ucapannya.
"Itu bukan salah gue, salah loe sendiri yang gak bisa ngurus mas Andre dengan benar perempuan sialan. Jadi wajar saja jika laki loe ninggalin loe dan berpaling pada wanita yang cantik dan lebih seksi seperti gue.."Jawab Riska sombong.
"Jadi bener wanita itu adalah pelakor..
"Perempuan murahan..
"Apanya yang cantik dan seksi sih.?Cantikan juga Nona itu, apa lagi badannya bagus banget.
Cewek kurang ajar itu mah gak ada apa-apanya..
"Lakinya juga bego, malah suka sama cewek yang begituan, jelas-jelas yang di rumah lebih cantik dan menggoda..
"Namanya juga sama-sama murahan, jadi cocok'in saja lah. Entar juga bakal ada karmanya..
Bisik-bisik mereka yang terdengar jelas oleh telinga Riska.
Wajah Riska memerah, karena menahan emosi bercampur rasa malu.
"Ha ha ha, anda dengar sendiri bukan ucapan mereka..?..
"Lalu loe mau apa sekarang hah? Apa tujuan loe kembali ke muka bumi ini hah? Apa loe akan membalas dendam pada gue? Ibu? Mas Andre? Atau jangan-jangan loe berencana mengambil mas Andre dari gue, iya? Ngaku loe, dasar perempuan sialan.." Bentak Riska.
"Ha ha ha, untuk apa saya mengambil laki-laki tidak bertanggung jawab itu dari anda?Malah saya sangat bahagia bisa lepas dari laki-laki brengsek itu. Fikiran anda salah besar Nona Riska, saya kembali ke kota ini karena saya punya pekerjaan di kota ini dan tentunya membuat kejutan untuk kalian semua. Soal mantan suami saya, anda tidak usah geer dulu, karena dalam kamus saya tidak ada yang namanya mengambil BARANG BEKAS.."Ujar Riana menekan kata terakhirnya.
"BARANG BEKAS itu seharusnya di buang ke tempat sampah, bukan untuk di ambil dan di letakan di tempat yang layak, itu sangat tidak pantas Nona Riksa. Selain itu, BARANG BEKAS juga bisa di jual dan di serahkan pada wanita di luar sana. Misalnya seperti anda gitu, karena sangat cocok jika barang bekas bertemu dengan barang bekas. Serasi, bukan.. "lanjut Riana santai.
Mendengar kata-kata itu, membuat Riska tidak bisa menahan emosi dan amarahnya.
"Kau.."Geram Riska, lalu..
__ADS_1
Plaakk..
Bunyi tamparan terdengar jelas di sana, saat Riana menampar wajah Riska lebih dulu sebelum Riska menampar wajahnya.
"Uh, mantap..
"Sadis banget guys, tapi pelakor itu pantas mendapatkannya..
"Mampus tuh pelakor, sekalian bunuh saja Nona biar sampah di kota ini berkurang.."Sahut orang-orang yang melihat adegan tersebut.
"Berani nya loe nampar wajah gue perempuan sialaaaannn.." Teriak Riska memegangi pipinya yang terasa panas.
Hancur sudah perawatan Riska yang ia jalanni hampir seharian ini karena bekas tamparan yang Riana ciptakan di sana.
"Anda pantas mendapatkannya Nona, tapi itu belum seberapa dengan apa yang anda pernah lakukan pada saya dan anak saya, Reyna."Ujar Riana menatap tajam mantan adik madunya.
"Jadi Nona cantik itu sudah punya anak? Tapi kenapa wajah dan tubuhnya seperti gadis saja,? Lebih malah..
"Awet muda juga..
"Kayanya janda makin terdepan nih.."Bisik-bisik mereka, malah ada juga di antara mereka yang merekam kejadian tersebut dengan ponsel pintarnya.
"Dan itu juga salah satu tujuan saya kembali ke kota ini, yaitu memberi pelajaran pada orang-orang yang dulu pernah menyakiti saya dan anak saya.."Lanjut Riana sebelum meninggalkan tempat tersebut. Ingin sekali ia melakukan hal lebih pada Riska, hanya saja ia urungkan karena tidak ingin merusak nama baiknya sendiri. Dan lagi pula kondisinya saat ini tidak tepat, karena cacing-cacing di perut Riana sudah berteriak minta di isi.
"Gara-gara wanita itu perutku sakit, sepertinya magh'ku kambuh.." Ucap Riana memegangi perutnya yang terasa sakit.
Makin lama sakit itu makin parah. Karena tidak bisa apa-apa, akhirnya Riana berjongkok di samping mobil putihnya sambil meringgis kesakitan di bagian perutnya.
"Nona, anda kenapa.."Tanya seseorang yang mengikuti Riana dari belakang..Orang itu juga melihat kejadian yang terjadi di dalam rumah sakit itu. Karena penasaran melihat Riana keluar malam-malam, akhirnya pria tampan nan gagah itu memutuskan untuk mengikuti Riana dari belakang., karena jujur saja, orang itu sangat mengkhawatirkan keadaan Riana.
"Perut sa-saya sakit, magh saya kambuh Tuan. " jawab Riana tanpa menoleh.
"Ya Tuhan, mari saya bantu ke dalam. Anda sepertinya harus segera di tangani oleh dokter."Ucap orang itu panik.
"Tidak Tuan, say.."Ucap Riana membulatkan mata setelah melihat wajah yang ingin menolongnya.
"Tuan Raymond.." Ucap Riana.
__ADS_1
Ya, orang itu adalah Raymond, yang mengikuti Riana dari belakang.
"Iya Nona, mari saya bantu masuk.." ucap Raymond hendak menggapai bahu Riana, namun Riana malah menepis tangan Raymond pelan.
"Tidak perlu Tuan, saya bisa sendiri. Lagi pula saya bukan butuh perawatan dokter, melainkan...
"Makanan, bukan.?"sahut Raymond.
"Heum.."Jawab Riana singkat.
"Baiklah, kalau begitu Nona tunggu di sini sebentar, saya akan mencarikan makanan untuk anda.."Ucap Raymond hendak beranjak, namun langkahnya pergerakan kakinya terhenti saat Riana mencekal pergelangan tangannya pelan.
Deg..
Seperti biasa jantung Raymond akan berdetak sangat kencang begitu bersentuhan dengan kulit mulus nan halus milik Riana.
"An-anda tidak perlu mencarikan makanan untuk saya Tuan Raymond. Saya masih bisa mencarinya sendiri.." Ucap Riana tidak ingin merepotkan orang lain.
"Anda tidak akan bisa mencari makanan di saat seperti ini Nona Riana.." Ucap Raymond.
'Dia benar, aku tidak akan bisa mencari makanan di saat perutku sakit seperti ini. Tapi aku masih kesal padanya.."batin Riana.
"Saya tahu anda tengah berfikir sesuatu dan saya tidak tahu apa yang anda fikirkan itu. Tapi yang jelas, izinkan saya untuk menolong anda Nona.?.."sahut Raymond.
'Dari mana dia tahu kalau aku memikirkan sesuatu? Apa Tuan Raymond bisa membaca isi pikiran orang.."batin Riana.
"Diam anda, saya anggap setuju Nona. " Ucap Raymond tanpa membuang-buang waktu, ia membantu Riana untuk bangun.
"Tolong lepaskan saya Tuan, saya bisa berdiri sendiri.."
"Saya tidak menerima penolakan, silahkan masuk.." Ucapnya memasukan Riana ke dalam mobil miliknya.
"Anda mau bawa saya ke mana."Tanya Riana setelah Raymond mengambil posisinya.
"Cari makanan." jawab Raymond melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Bersambung.
__ADS_1