
Hari Minggu, yang di mana hari minggu ini bertepatan dengan hari pesta yang di gelar di kediaman Andre Wijaya.
Riska langsung mengurus semua keperluan setelah mendapatkan izin dari suaminya.
Awalnya Andre bingung, kenapa Riska ingin membuat pesta di saat keadaannya seperti itu. Andra tidak berada di rumahnya, video Riska masih tersebar luas di jagad raya, apa tidak malu jika teman-teman sosialitanya bertanya tentang video itu? Pertanyaan itu terkumpul di benak Andre, meskipun begitu tetap saja Andre mengizinkannya karena tidak ingin membuat istri kesayangannya terpukul dengan video tersebar.
Mungkin hanya dengan cara itu Riska sedikit terhibur.
Masabodoh lah..!!
"Bersihkan rumah ini sebersih mungkin, gue tidak mau ada kotoran sedikitpun di rumah ini.." ucap Riska pada seluruh pelayannya.
"Baik Nyonya.." ucap mereka serempak, setelahnya mereka pergi ke tempat masing-masing.
"Semoga saja teman-teman gue tidak membahas soal video virral itu. Tapi kalau iya, gue harus mempersiapkan alasannya.." ucap Riska.
Kota B berada...
Setelah dua hari menetap di kampung halaman Nilla, kini Riana beserta yang lainnya kembali ke kota, begitu pula dengan Nilla.
Pengasuh Reyna itu sudah berjanji akan mengabdikan seluruh hidupnya pada Riana.
Tak lupa dengan Raymond dan Han, keduanya masih setia mengikuti Riana pergi. Seperti hari ini keduanya juga memutuskan untuk pulang karena pekerjaan mereka menumpuk di kantor.
"Sebaiknya kalian istirahat dulu sekarang karena nanti malam kita akan kembali ke Jerman.." ucap Riana.
"Hah? Kok bunda gak ngasih tahu Reyna kalau mau balik ke sana.? Padahal Reyna kan masih pengen liburan di sini.." Reyna kecewa.
"Maaf sayang, Om Mike menghubungi bunda tadi. Katanya kita di suruh balik, lagi pula masa cuti Reyna kan sudah habis.."
"Yahh,.
Riana mendekati putri cantiknya, lalu memegang kedua tangannya.
"Bunda janji, setelah semua urusan di sana sudah beres, kantor pusat kita sudah beres, kita akan kembali lagi ke kota ini. Dan mungkin saja kita akan menetap di kota ini untuk selamanya. Tapi sebelum itu, Reyna juga harus menyelesaikan tugas Reyna juga..
__ADS_1
"Tugas Reyna? Tugas apa bun..
"Ok bunda.." jawab Reyna dengan semangat setelah sang bunda menjelaskan tugasnya.
"Ya sudah, kalau begitu kalian berdua istirahat dulu. Bunda mau ke luar sebentar karena ada yang harus bunda beli.."
"Mau aku temani kak.." tawar Nila.
"Tidak usah, kamu cukup jaga Reyna saja untukku..
"Tapi kakak hati-hati ya..
Kediaman Andre Wijaya...
"Bersulam.."teriak para wanita dengan gelas cantik di tangannya.
"Ha ha ha,, kita harus merayakan kepergian anaknya Riska.."ucap Rindy, geng sosialita.
"Itu harus,,, jarang-jarang loh kita bikin pesta di rumah Nyonya Wijaya ini. Mana makanannya sangat enak-enak lagi, the best deh pokoknya.." ucap Ranum.
"Biasa, mas Andre lembur di kantornya. Kalian kan tahu sendiri, jabatan mas Andre kan sangat tinggi, jadi dia selalu di butuhkan bos'nya dalam urusan apapun.." ujar Riska dengan sombongnya, padahal tidak seperti itu, hanya saja Riska tidak ingin teman-temannya tahu kalau ternyata Andre akhir-akhir ini sering di hukum oleh Tuan'nya. Bisa-bisa malu.
"Percaya dong, sang Direktur keuangan gitu loh." sambung Hany menjunjung tinggi jabatan Andre.
"Em Ris, gue mau tanya Nih..Tapi loe jangan kesinggung ya.." Ucap Ranum.
Deg..
Jantung Riska berdetak, inilah yang ia takutkan.
'Riska, loe harus menyusun strategi agar nama baik loe tetap aman." batin Riska dag dig dug.
"Tanyakan saja.." jawab Riska dengan wajah tenang.
"Mengenai video itu, itu bukan loe kan.." tanya Hany.
__ADS_1
Deg..
Mata Riska membulat.
"Iya, gue juga mau tanya soal itu. Karena yang kita-kita tahu, loe kan bukan cewek kaya gitu. Mana mungkin loe pelakor, jelas-jelas kita semua tahu perjuangan loe mendapatkan hati Tuan Andre..." sahut Ranum, meskipun mereka tahu perjuangan itu di katakan lewat lisannya.
"Hiks hiks hiks." Riska menangis.
"Loh beb, kok malah nangis sih.." tanya Ranum.
"Jadi benar kalau loe Pelakor Ris.." sahut Hany..
"Iy-a.." jawab Riska.
"Wah gila loe, ternyata loe di geng kita ada pelakornya. Kita mati-matian ya perjuangan geng kita ini tanpa yang ada namanya pelakor. Eh tahu-tahunya kita selama ini memelihara wanita yang ternyata perebut laki orang. Wahh, benar-benar hebat.."Ucap Hany, dialah yang membangun antara geng anti pelakor tersebut.
"Aku bukan pelakor, aku korban di sini.." ucap Riska sesegukan.
"Loe bilang korban? Mana ada pelakor itu korban. Yang ada pelakor itu pelaku, dasar bodoh.." ucap Hany.
"Tenang Jeng, lebih baik kita dengarkan penjelasan Jeng Riska dulu. Siapa tahu benar kalau dia memang korbannya di sini.." ucap Ranum menenangkan Hany.
"Sekarang tolong loe jelaskan pada kami, tentang alasan loe perebut laki orang.." tanya Ranum menatap Riska.
"Malam itu saat kami merayakan kenaikan jabatan mas Andre, seseorang memasukan obat perangsang pada minuman mas Andre. Aku tidak tahu orang itu siapa, tapi yang jelas saat kami akan pulang, mas Andre malah membawaku ke hotel. Aku pikir itu rumah aku, karena aku tidak sadar sepenuhnya karena pengaruh minuman beralcohol.. Setelahnya aku tidak sadar apa yang di lakukan mas Andre padaku. Pagi itu, a-aku terkejut mendapati diriku tidak menggunakan sehelai benangpun di tubuhku, dan mendapati mas Andre di sampingku dengan keadaan yang sama..Hiks hiks hiks.." Riska menangis.
Mereka semua masih mendengarkan alasan Riska dengan jelas, tanpa ada yang menyahutinya.
"Aku menangis, aku terpukul, aku kecewa. Bagaimana tidak, kehormatan yang aku jaga selama ini dengan mati-matian, telah hancur oleh laki-laki yang sudah mempunyai istri dan seorang putri. Begitu pula dengan mas Andre, ia juga merasa bersalah padaku atas kelakuannya sendiri. "
"Aku tidak tahu siapa pelaku yang menjebak kami, dan alasannya melakukan itu. Yang jelas aku tidak bisa berfikir apa-apa sampai dokter mengatakan bahwa, d-di dalam rahim ku ini a-ada kehidupan.." lanjut Riska.
"Aku ingin mengakhiri hidupku setelah tahu kalau aku hamil, tapi mas Andre melarangku dan pada akhirnya dia bertanggung jawab pada kami. Awalnya mbak Riana baik padaku dan menerimaku sebagai adik madunya. Tapi itu awal, setelah itu mbak Riana memperlakukanku dengan kasar, menganggapku seperti pembantu, dia juga sering memfitnah ku. Bahkan dia juga sering menjambak rambut dan manampar wajahku. Diam-diam ternyata mas Andre menempatkan CCTV di rumahku karena ia curiga melihat wajahku setiap hari sembab dan merah-merah. Setelah menemukan jawaban dari kebingungannya, mas Andre langsung saja menceraikan mbak Riana.." jelasnya penuh tipu muslihat.
Bersambung..
__ADS_1