Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 91


__ADS_3

"Andra , bangun sayang. Sebentar lagi kita sampai.."Ucap Ima.


"Andra.." Ucap Ima menepuk pelan pipi Andra.


Namun Andra sama sekali tidak merespon panggilan atau sentuhan dari Ima.


Ima bingung, pasalnya Andra paling gampang untuk di bangunkan, tapi kenapa ini sulit sekali, pikir Ima.


"Andra, ini sudah sampai gerbang sekolah kamu sayang. Bangun yuk, katanya mau sekolah.." Ucap Ima masih berusaha.


"Gimana.." tanya pak Supir.


"Andra gak mau bangun pak, gimana ini.." jawab Ima mulai panik.


"Badannya masih panas.." tanya supir.


"Astagfiraallah, panasnya tambah tinggi pak.." Jawab Ima baru tersadar.


"Tidak salah lagi, Den Andra pasti pingsan."ucap Supir.


"Ping-pingsan.." ucap Ima terbata dengan mata membulat sempurna.


"Cepat hubungi Tuan atau Nyonya, bilang pada mereka kalau kita tengah di perjalanan menuju rumah sakit.." Titah Supir ikut panik.


"Tapi..


"Soal Nyonya biarkan saja dulu, lebih baik kita bawa Andra, dari pada sakitnya makin parah kita juga yang kena semprot Tuan Andre.." sahut Supir segera melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit terdekat.


"Iya pak.." ucap Ima.


Tutt


Tutt


Tutt


"Di angkat gak.." tanya supir.


"Saya hubungi Nyonya, tapi gak di angkat pak." jawab Ima.


"Ya sudah, cepat hubungi Tuan sekarang juga." titah supir.


'Mudah-mudahhan Nyonya tidak marah kalau aku memberitahu langsung pada Tuan Andra.."batin Ima.


Tutt


Tutt


"Hallo, ada apa kamu hubungi saya Ima.." tanya Andre di tempat kerjanya.


"A-Andra.." ucap Ima terbata, rasanya sulit sekali mengatakan yang sebenarnya begitu teringat dengan ancaman yang di lontarkan Nyonya'nya.

__ADS_1


"Andra? Kenapa dengan Andra? Cepat katakan dengan jelas.." Tanya Andre langsung berdiri begitu mendengar nama anak kesayangannya.


"An-anu Tuan..


"Pak.."Ima terkejut saat pak supir mengambil paksa ponselnya.


"Tuan, ini saya. Kami sedang di perjalanan menuju rumah sakit karena Den Andra tak sadarkan diri di mobil. " ucap pak Supir langsung ke intinya.


"APA.."Andre terkejut.


"Kalian bawa anak saya ke rumah sakit mana.." tanya Andre dengan tangan bergetar. Ini hal yang pertama terjadi pada anaknya.


"Rumah sakit terdekat dengan sekolah Den Andra, Tuan."Jawab Supir.


"Baik, saya akan kesana sekarang juga. Tolong jaga anak saya dengan baik, suruh dokter berikan perawatan terbaik untuknya.." Titah Andra.


"Baik Tuan.."


Tut


Tut


Sambungan langsung terputus.


"Andra? Apa yang terjadi sama kamu sayang? Kenapa kamu bisa begini.." Ucap Andre khawatir.


Andre mengambil kunci mobil, ponsel dan jass'nya. Setelah itu, ia keluar dari ruangannya dengan berlari.


"Kau, beraninya kau menabrakku. Apa kau tidak punya mata haahh.." Ucap orang yang di tabrak merasa geram.


"Tuan Raymond, saya minta maaf, saya tidak sengaja.." ucap Andre terbata.


"Ck ck,, "Raymond berdecak kesal, lalu mengibas-ibaskan jas'nya yang tertabrak oleh Andre, seolah-olah ia merasa jijik dengan karyawannya itu.


"Kenapa anda berlari,? Seperti di kejar hantu saja.." Tanya Han.


"An..


"Kau tidak boleh ke mana-mana sebelum pekerjaan kau selesai.." sahut Raymond tegas.


"Tapi Tuan, saya mohon izinkan saya cuti hari ini saja. Anak saya sakit, sekarang sedang di perjalanan menunju rumah sakit anda. Saya mohon Tuan, hari saja. Saya janji setelah itu, saya akan bertanggung jawab soal pekerjaan yang saya tunda.." ucap Andre.


"Bukankah kau mempunyai istri? Kenapa kau tidak menyuruh istri kau saja untuk menjaganya.." ucap Raymond bersikap cuek, namun dalam hatinya ia merasa iba.


"Ponsel istri saya tidak bisa di hubungi Tuan, saya mohon.." jawab Andre memelas.


"Sepertinya kau sangat menyayangi anakmu itu pak Andre.." tanya Raymond menyeringgai tipis. Teringat dengan perlakuan Andre pada anak perempuannya, membuat Raymond menyampingkan rasa iba itu.


"Sangat, saya sangat menyayanginya Tuan. Andra anak saya satu-satunya.." jawab Andre..


"Satu-satunya?."Ucap Raymond sinis.

__ADS_1


Deg.


Jantung Andre berdetak dengan kencang begitu teringat putri yang selama ini tidak di inginkannya. Namun walaupun begitu, Andre enggan untuk mengakuinya, baginya hanya Andra anak kandungnya.


"Ya, Andra memang anak saya dan istrinya, satu-satunya. Maka dari itu, tolong izinkan saya Tuan.."jawab Andre sedikit terbata.


'Satu-satunya dia bilang? Ck ck, lalu siapa ayah kandung Reyna selain kau? Tega sekali, dasar biadab.." batin Raymond menggempalkan tangan.


"Tuan Raymond, saya mohon.." ucap Andre.


"Izinkan saja lah Ray, kasihan. Masa kau tega melihat seorang anak kecil sakit tanpa di dampingi orang tua.."bisik Han.


"Aku tahu kau masih marah dengan perlakuan Andre pada putrinya, tapi kau harus ingat dengan Andra, anaknya. Jangan biarkan anak itu mengalami apa yang di alami anak perempuannya sebelumnya.." lanjut Han.


"Saya mohon Tuan Raymond.." ucap Andra menangkupkan tangan.


"Ya sudah, saya mengizinkanmu. Tapi ingat, hanya hari ini. Besok kau harus kembali bekerja.." jawab Raymond membuang muka, jijik rasanya menatap wajah melas Andre..


"Terima kasih, terima kasih Tuan.." ucap Andre senang.


"Sebegitu senangnya kau mendapat izin dari ku,? Tapi kenapa kau tidak seperti itu saat anakmu tengah memperjuangkan nyawanya di rumah sakit.? Dasar laki-laki tidak berguna.." ucap Raymond melihat Andre langsung berlari setelah mendapatkan lampu hijau darinya.


"Sudahlah, biarkan saja. Biar Tuhan yang menghukumnya.." sahut Han.


"Ck ck ck, kalau tidak ada kau di sini, sudah di pastikan orang itu masuk ke ruangannya kembali. Enak saja main pergi begitu saja, saat di jam kerja seperti ini. Memangnya perusahaan ini milik nenek moyangnya apa? Keluar masuk seenaknya.." ucap Raymond menggerutu kesal.


"Kau ini kenapa? Sensi sekali.." tanya Han.


"Wajah kau juga terlihat gelisah, tidak seperti biasanya. kau sedang ada masalah? Apa ini ada hubungannya dengan pemimpin cantik itu.." desis Han.


"Kau ini bicara apa? Cepat kerja sana, jangan ikut campur masalah pribadiku.." Jawab Raymond mengalihkan pembicaraan.


"Jadi benar, semua ini ada sangkut pautnya dengan si Cantik itu. Ha ha ha, sepertinya kau sedang patah hati Ray.."Han tertawa meratapi nasib sahabatnya.


"Diam kau, atau ku sumpal mulut itu pakai sampah. Biar kata-kata yang terucap dari mulutmu itu biar di saring ulang dan tidak membuat ulah.." Ucap Raymond meninggalkan Han begitu saja.


"Wahh, takut sekali ." ucap Han mengejar Tuannya.


"Tertawalah sepuas kau, sebelum tawa itu menjadi tangisan karena kau akan ku lempar dari perusahan ini. Di saat tangisan itu menjadi tangisan darah, sekalipun aku tidak sudi menolongmu." Ancam Raymond.


Mendengar ancaman itu, Han langsung menghentikan tawanya dan segera mengembalikan sikapnya ke asal semula .


"Maaf, saya tidak akan menggoda anda lagi Tuan.." ucap Han.


'Tangisan darah? Dari mana keluarnya tuh darah? Kalau aku di pecat, habis sudah harapanku menjadi orang sukses.."batin Han.


"Kau tidak akan menjadi orang sukses Han, kau akan tetap menjadi budakku untuk selama-lamanya.." sahut Raymond.


"Tega bener.."Ucap Han menggelengkan kepalanya..


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2