
"Kenapa bunda malah lihatin Reyna kaya gitu? Katanya mau temani Reyna makan siang? Tapi kok diam saja.." Pertanyaan Reyna berhasil membawa kesadaran bunda kembali ke awal.
"Ahh, iya sayang maaf. Ayo bunda temenin."Ujar Riana.
"Tapi Reyna pengen di gendong.." Reyna merengek.
"Reyna sayang. Reyna gendong sama kakak aja ya sayang, kasihan bundanya pasti capek.." sahut Nilla.
"Tidak Nilla, aku tidak capek kok. Malah aku seneng bisa di beri kesempatan untuk menggendong anakku.." sahut Riana Tersenyum manis.
"Tapi Reyna berat, Nona.."Ucap Nilla.
"Kamu tenang saja, saya kuat kok menggendongnya. Apa kamu lupa kalau saya sudah menguasai ilmu beladiri? Otomatis saya bisa mengangkat beban berat, termasuk Reyna..."Ucapnya, setelah itu Riana merentangkan kedua tangannya. Lalu mengangkat putrinya setinggi-tingginya..
"He he he, aku kira Nona melupakan itu."Nilla cengengesan.
Benar, saat Riana melanjutkan studynya di Jerman. Ia memutuskan untuk belajar ilmu bela diri, guna mempertahankan kedudukannya sebagai wanita yang kuat dan tidak boleh di pandang sebelah mata.
Setelah kuliahnya lulus dengan nilai yang sangat-sangat sempurna. Tak lama kemudian, Riana di nyatakan lulus oleh guru bela dirinya.
Setelah di nyatakan lulus ilmu bela diri, Riana tidak perlu lagi di jaga ketat oleh orang kepercayaan keluarga Sallex. Karena mereka yakin kalau Riana sudah bisa menjaga dirinya dengan baik.
Tapi sejauh ini, tidak ada yang mengganggu atau yang ingin berbuat jahat kepada. Entah mereka takut atau apa, yang jelas Riana bersyukur dengan keadaan seperti ini.
"Wahh, ternyata kak Nilla benar sayang. Kalau berat badan kamu meningkat.. "Ucap Riana setelah menggendong anaknya.
"Masa sih bun? Perasaan Reyna, tubuh Reyna seperti ini aja, tidak berubah sama sekali. Dan lagi pula, badan Reyna kecil. Lalu bagaimana bisa tubuh Reyna berat? Bunda pasti bohongin Reyna kan ? Ayo ngaku.."Reyna menatap bundanya dengan penuh selidik.
Nilla terkekeh melihatnya.
"Mana ada bunda bohongi kamu sayang? Tubuh kamu memang dari dulu seperti ini, hanya tinggi badannya saja yang terus meningkat."- jawab Riana.
"Jadi, Reyna sudah tinggi bun.."Tanya Reyna.
"Tinggi, tapi tak setinggi bunda, sayang.."Jawab Riana..
"Ha ha ha, iyalah bun. Reyna umur berapa, bunda juga umur berapa? Masa di samain sih,? Kan curang itu namanya, kalau di bandingin yang seumuran dengan Reyna, itu baru afdoll "Ujar Riana.
"Kamu benar sayang. Kalau begitu kamu duduk di sini. Dan sekarang Reyna bilang, Reyna pengen makan apa saja? Bunda ambilin.." Tanya Riana setelah mendudukan putrinya di depan meja makan.
"Nona silahkan makan siang saja, biar aku yang mengurus Reyna." sahut Nilla.
"Justru sebaliknya yang seperti itu. Kamu yang makan, biar aku yang mengurus anak cantik ini.."Tolaknya halus.
__ADS_1
'Mungkin Nona Riana sangat merindukan kebersamaannya dengan Reyna. Makannya Nona Riana selalu melarangku saat aku ingin melayani putrinya.. Sudahlah, aku tidak bisa apa-apa lagi selain menuruti perintahnya ."batin Nilla, lalu mendudukan bokongnya di samping Nonanya.
"Aku mau makan sama ayam goreng, sayur ini dan itu.." jawab Reyna menunjuk beberapa menu yang di inginkannya.
"Ok sayangku.."Ujar Riana.
"Sekarang buka mulutnya lebar-lebar. Aaaa.."Lanjutnya.
Sesuai perintah, Reyna langsung membuka mulutnya sesuai anjuran sang bunda.
Namun belum sempat sendok berisi makanan itu masuk ke dalam mulut anaknya, pergerakan tangan Riana terhenti di tengah-tengah jalan saat mendengar suara getaran ponselnya.
Dreeett.
Dreeett..
Om Mike is colling...
"Sayang.."ucapan Riana terhenti saat sang putri menyelanya duluan.
"Angkat saja bunda, Siapa tahu kakek Mike hubungi bunda karena ada hal penting..", sahut Riana.
"Tapi sayang.
Riana menghela nafas panjang mendengar ucapan anaknya. Bukan karena marah pada anaknya, hanya saja Riana sedikit tersinggung dengan kata-kata yang di lontarkan oleh anaknya.
" Tentu sayang, Yang di katakan Reyna banar, Nona. Biar saya yang menyuapinya, Nona angkat saja telponnya.."tambah Nilla.
"Baiklah, bunda akan mengangkat panggilan ini. Hanya sebentar, bunda janji tidak akan lama. Kalau sudah selesai, bunda akan segera kembali sayang. Maafkan bunda ya.."Ujar Riana pasrah.
Tadinya Riana berniat akan mendiamkan saja panggilan itu, karena ia tidak ingin mengecewakan anaknya yang sudah kegirangan itu saat menginginkan suapan dari sang bunda. Namun ternyata tidak bisa, malah anakknya sendiri yang menyuruhnya untuk menerima panggilan tersebut.
Alhasil Riana di sini tidak bisa apa-apa selain menuruti keinginan anaknya.
"Bunda jangan terburu-buru, aku siap kok menunggu bunda sampai kapanpun.."Ujar Reyna.
Degg..
Terasa terhimpit batu besar begitu mendengar ucapan terakhir anaknya.
'Menungguku sampai kapanpun? Apa Reyna sudah kecewa padaku."batin Riana.
Dreeettt
__ADS_1
Dreeettt
"Ponsel bunda bunyi lagi itu..",sahut Reyna.
"Iya sayang, bunda angkat dulu ya. Nilla, tolong suapi Reyna.."Ucap nya sekaligus perintah.
"Dengan senang hati saya akan melakukannya Nona..."Ucap Nilla.
"Ayo sayang, kakak suapi ya.."lanjut Nilla.
"Iya kak.."Jawab Reyna lalu melahap makanan yang di suapi pengasuhnya.
'Maafkan bundaa, nak..'batin Riana sedih.
Setelah itu ia meninggalkan meja makan, meninggalkan anak dan adik angkatnya di meja makan.
Sepeninggalan bundanya, Reyna langsung menghentikan pergerakan mulutnya yang membuat Nilla kebingungan.
"Kenapa sayang? Kok malah diam? Ayo lanjutkan lagi makannya.." Tanya Nilla..
"Reyna sudah kenyang kak.."jawab Reyna dengan suara berat.
"Kenyang? Bagaimana bisa? Reyna kan baru makan satu suap dan sayurannya masih utuh. Kita lanjutkan makan lagi ya..." Nilla sadar dengan perubahan di wajah Reyna, namun ia tidak ingin menanyakan hal tersebut. Karena ujung-ujungnya pasti Reyna menangis.
"Tapi Reyna sudah kenyang kak.."Jawab Reyna serak, seperti sedang menahan tangis.
"Kalau bunda tahu Reyna gak makan, pasti bunda khawatir sayang.. Makan lagi ya? Gak di abisin juga gak apa-apa sayang, setengahnya pun boleh.." Nilla kembali membujuk Reyna agar mau makan, namun Reyna tetap saja bertahan pada pendiriannya.
Entah kenapa itu anak bisa seperti ini, padahal tidak biasanya Reyna begitu.
Apa semua ini karena bundanya,?, pikir Nilla.
"Ayo sayang, 3 suap lagi aja ya? Setelah itu biar kakak yang menghabiskan makanan Reyna, agar bunda Reyna tidak khawatir dan merasa bersalah.." lanjut Nilla. Rupanya gadis itu juga mementingkan perasaan kedua wanita yang di sayanginya itu.
"Bener ya kak?- Hanya 3 suap, tidak lebih..."Tanya Reyna tidak percaya.
"Bener kok sayang, kakak tidak bohong. Ayo cepetan Reyna makan lagi, sebelum bunda kamu tahu kalau kalau Reyna tidak menghabiskan makanan ini.." Jawabnya.
"Baiklah, Reyna akann makan. Tapi kakak janji ya tidak akan mengatakan ini pada bunda..",.
"Iya sayang, kakak janji.."Ujarnya, lalu menyuapi Reyna sesuai ucapannya.
Bersambung..
__ADS_1