
"Maafkan aku mas, itu di luar kendali aku dan aku tidak bisa mengendalikan emosi. Mungkin itu salah satu bawaan ibu hamil mas jadinya aku marah-marah tidak jelas seperti ini. Maafkan aku ya? .."Ucap Riska mengeluarkan air mata buayanya hanya untuk menyempurnakan actingnya.
"Baiklah, mas memaafkanmu. Tapi mas harap kamu bisa mengendalikan emosi, apa lagi saat berbicara dengan yang lebih tua dari kita. Pokoknya mas tidak ingin mendengar lagi kamu berkata tidak sopan pada bik Yem. Apa lagi kami saat ini lagi hamil, orang hamil harus banyak sabar supaya saat persalinan kamu di lancarkan." ucap Andre..
'Hari gini masih percaya sama begituan, enggak banget. Lagi pula itu kan hanya mitos belaka. Dan juga kalau lahiran gue bermasalah, kan bisa melakukan opeasi caesar."-batin Riska tidak suka saat Andre menasehatinya. Padahal itu deminya juga..
"Kamu denger kan mas bilang apa tadi..." tanya Andre menyadarkan Riska dari lamunannya..
"Iya mas, aku denger. Aku minta maaf ya, aku akan berusaha mengendalikan emosiku dari mulai saat ini." jawab Riska.
"Minta maaflah pada bik Yem, karena dia yang paling ketakutan saat kamu membentaknya tadi.." Ucap Andre.
'Ogah banget gue. Tapi gak apalah, dari pada mas Andre diamin gue."batin Riska.
"Iya mas.." jawabnya pasrah.
"Ayo sekarang kita ke dapur, sepertinya bik Yem sudah menyiapkan sarapan untuk kita. Sampai aromanya tercium sampai ke sini..".
"Ayo mas. Aku juga sekalian mau minta maaf sama bik Yem.." jawab Riska tersenyum.
"Nah gitu dong, itu baru istri kesayangan mas.."Ucp Andre mencium bibir Riska hanya sekilas.
Belum sempat mereka melangkah, bik Yem lebih dulu tergopoh-gopoh menghampiri kedua majikannya..
"Nyonya, Tuan. Sarapannya sudah saya siapkan.." Ucap Bik Yem dengan nafas tersenggal-senggal.
"Iya bik, terima kasiih. Kami akan memakannya segera, tapi sebelum itu ada yang ingin istri saya bicarakan pada bibik.." sahut Andre..
'Hadeehh, kalau bukan demi mas Andre ogah sekali gue minta maaf pada pembantu ini.'batin Riska tersenyum sinis.
"Bicarakan dengan saya? Soal apa Tuan.." Tanya bik Yem dengan menautkan kedua alisnya.
"Soal tadi. Saya ingin meminta maaf pada bibik. Jujur bik, saya tidak bisa mengendalikan emosi saat saya hamil seperti ini. Sekali lagi saya minta maaf atas kata-kata yang saya lontarkan tidak sopan pada bibik. Saya berharap, semoga bibik bisa memaklumi keadaan saya yang seperti ini.."Jawab Riska dengan raut wajah yang di buat-buat sesedih mungkin.
Andre tidak sadar jika istri barunya tengah berakting saat ini. Namun tidak dengan bik Yem, ia bisa melihat dengan jelas kalau Riska tidak benar-benar tulus mengatakannya..
__ADS_1
Tapi sudahlah. biar itu menjadi urusan Tuhan, pikir bik Yem..
'Sialan si tua bangka ini. Udah capek ngomong panjang lebar, eh dianya malah diam saja seperti ini. Awas loh, gue akan memberi loe hukuman karena sudah berani mencampakan gue di depan Mas Andre." batin Riska.
"Pasti bibik masih marah ya sama aku,? aku minta maaf bik, aku sangat menyesal atas perbuatanku tadi.."Ujar Riska..
"Bibik sudah memaafkan Nyonya sebelum Nyonya Minta maaf sama bibik. Lebih baik Nyonya dan Tuan segera sarapan , mungpung nasi gorengnya masih hangat.." ujar bik Yem.
"Iya bik, kami sarapan dulu. Ayo sayang.." Andre menggandeng tangan istrinya dengan lembut.
Tanpa Andre ketahui, ternyata Riska mengibarkan bendera perang melalui matanya yang mengarah ke belakang.
'Astagfiraallah, ternyata dugaanku benar kalau Nyonya Riska tidak benar-benar meminta maaf padaku...."batin Bik Yem setelah pandangannya bertemu dengan pandangan majikannya. Setelah itu, bik Yem melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda barusan.
Kalau di kediaaman Andre tengah mengibarkan bendera perang, beda hal yang terjadi di kediaman Sallex.
Pagi ini penampilan Riana benar-benar memukau setelah Nyonya Maya mempermak wajah dan penampilannya seelegant dan secantik mungkin.
Awalnya Riana menolak keinginan neneknya dengan alasan bahwa ia merasa tidak cocok dengan pakaian yang akan di gunakannya. Menurutnya sangat mewah dan tentunya pasti mahal, karena itu Riana menolaknya.
"Unda sangat tantik sekali.."puji Reyna takjub dengan penampilan Riana yang sekarang.
"Terima kasih sayang, anak bunda juga cantik sekali pagi ini, wangi pula." Ujarnya menggoda balik sang putri.
"Ini cus yang membuat Eyna sepelti ini unda.", jawab Reyna.
"Terima kasih mbak, karena mbak sudah mengurus anak saya dengan sabar.." Ujar Riana tersenyum ramah.
"Sama-sama Nona, ini sudah menjadi tanggung jawab saya menjaga dan mengurus Reyna dengan baik."Jawab babby sitter Reyna yang bernama Nila.
"Kamu sangat cantik nak, wajah kamu mirip sekali dengan Alm. ayah kamu.." sahut Tuan Allex.
"Benarkah? Bukannya wajah aku lebih mirip ke bunda..." tanya Rinaa.
"Bukan sayang. Yang mirip denga alm. bunda kamu itu Reyna sedangkan wajah kamu mirip sekali dengan Juan'ku." sahut Nyonya Maya.
__ADS_1
"Waktu sudah mulai siang, sebaiknya kita sarapan sekarang. Setelah itu, kakek dan Reyna akan ke pengadilan." sahut Tuan Allex.
"Holle, kita sarapan. Unda nanti suapin Eyna ya.." sahut Reyna kegirangan.
"Ok putri bunda yang cantik.."- Jawab Riana mengusap pipi chubby anaknya.
Ya, seperti yang Tuan Allex bilaang bahwa ia akan mendampingi langsung cucunya sampai kasus perceraiannya benar-benar selesai dengan mantan suaminya.
Tak lupa, Tuan Allex juga sudah menghadirkan pengacara terhebat dari Italia untuk membantu Riana mendapatkan hak asuh cicitnya.
"Mbak Nila, ayo kita makan bersama.." Ajak Riana.
"Tidak, terima kasih Nona. Saya akan sarapan di belakang saja bersama yang lain." Tolak Nila dengan cara halus..
"Cus, cus makan di sini saja. Sama Eyna.."sahut Reyna dengan cadelnya.
"Tapi Nona kecil.."Ucap Nila terpotong.
"Makanlah bersama kami Nila.."Sahut Nyonya Maya ramah.
Karena tidak punya pilihan lain untuk menolak. akhirnya Nila pasrah dan makan bersama dengan majikannya.
Nila Liyana, seorang gadis yatim piatu yang hidup sebatang kara di kampungnya. Dari kecil, ia sudah tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Kecelakaan dalam berkendara membuat kedua orang tua Nila tewas di tempat saat usia Nila saat itu menginjak 10 bulan. Untung pada saat itu Nila di titipkan pada tetangganya, mungkin kalau tidak, sudah di pastikan Nila bisa ikut pergi dengan kedua orang tuanya ke kehidupan yang ke dua.
Setelah itu Nila di besarkan oleh tetangganya yang kebetulan tidak mempunyai keturunan. Jadi tetangganya itu sudah menganggap Nila seperti anaknya sendiri sampai Nila tumbuh besar menjadi seorang gadis cantik yang lemah lembut.
1 bulan yang lalu, Nila memutuskan untuk merantau ke Jakakarta demi mengubah hidupnya lebih baik serta ingin membantu keluarga angkatnya yang serba kekurangan di sana. Dengan bermodalkan ijazah SMP, akhirnya Nila mendapatkan pekerjaan yang layak untuknya. Dengan menjadi babby sitter, membuat Nila senang karena pada dasarnya Nila sangat menyukai anak kecil.
Nila menjadi babby sitter tentu dengan pihak bantuan yayasan yang mempelajarinya bekerja dengan baik di rumah majikan. Jadi sebelum Nila di panggil, sudah di pastikan kalau ia sudah lulus tes.
Dan kini usia Nila terpaut 3 tahun dengan Riana, kalau ia berusai 20 tahun sedangkan Riana berusia 23 tahunan.
Maka dari itu Riana memperlakukan Nila seperti adik kandungnya sendiri. Apa lagi meninggalnya kedua orang tua mereka dengan cara yang sama. Sama-sama kecelakaan hebat dan sama-sama tewas di tempat. Hal itu bisa membawa Riana ke masa lalunya yang suram.
__ADS_1
Bersambung..