
"Andra sayang, wajah kamu nambah pucat. Kita balik lagi saja yuk ke rumah, suster takut sakit kamu nambah parah.." ucap Ima saat di perjalanan.
"Tidak sus, Andra pengen sekolah saja. Palingan juga bentar lagi Andra sehat.." jawab Andra. Bukan karena keras kepala, tapi ia takut dengan hukuman kalau ia tidak sekolah.
"Tapi sayang, badan kamu juga nambah panas ini.." Ucap Ima panik.
"Hanya panas biasa, Andra masih kuat kok.." jawabnya tersenyum dengan wajah pucat.
Awalnya juga Andre melarang anaknya untuk pergi sekolah karena ia merasa anak semata wayangnya itu tidak sedang baik-baik saja. Namun pada saat Andra ingin meng'Iya kan ucapan papahnya, Andra tidak sengaja beralih pada mamahnya dan mamahnya saat itu tengah menatap Andra sangat tajam, yang membuat Andra ketakutan.
Akhirnya Andra meyakinkan sang papah kalau ia baik-baik saja, dan memberi alasan kalau wajahnya pucat karena kelelahan saat mengerjakan tugas dari sekolah.
Di tambah Riska yang menguatkan ucapan Andra, membuat Andre tidak bisa berkutik dan percaya anaknya baik-baik saja..
Sakit,, itu yang Andra rasakan saat itu. Tidak hanya sakit di badan, tapi jiwa dan batinnya pun ikut terguncang dengan kobodohan mamahnya sendiri, Riska.
Namun apalah daya Andra di sana, ia tidak bisa apa-apa selain mengikuti keinginan mamahnya, walaupun ia sendiri saat tengah lemas dan membutuhkan pertolongan medis.
"Suster, Andra mau tidur sebentar. Kalau sudah dekat, tolong bangunkan Andra ya sus.." ucap Andra.
"Iya sayang, sini tidur di pangkuan suster saja." ucap Ima meletakan kepala Andra di pahanya.
"Nyaman.." ucap Andra pelan, setelah itu Andra menutup matanya rapat-rapat.
Entah tidur atau apa, hanya Andra yang tahu.
"Kasihan sekali kamu nak, dari kecil selalu di perlakukan tidak baik sama mamah kamu sendiri. Sebenarnya apa yang terjadi sampai Nyonya Riska begitu membenci mu sayang.." ucap Ima mengusap kening Andra.
"Bapak juga tidak menyangka, jika Nyonya Riska memperlakukan Den Andra seperti itu. Den Andra seperti orang asing di mata Nyonya, tapi kalau di mata Tuan Andre, Den Andra ini adalah permata yang sangat indah, bagaikan berlian yang harus di jaga dengan sangat hati-hati. Tapi sayangnya itu tidak bertahan lama, begitu beliau sibuk bekerja, Kehidupan Den Andra langsung balik ke semula.." sahut pak supir turut sedih.
"Apa kita katakan saja perbuatan Nyonya Riska pada Tuan Andra, biar Nyonya dapat hukuman.." tambah pak supir.
"Jangan pak.." sahut Ima.
"Kenapa jangan? Bukankah itu sangat bagus untuk menolong Den Andra? Seharusnya kita dari dulu mengatakan semua ini, tapi sayangnya kita bodoh dan membiarkan Den Andra di perlakukan kasar oleh ibu kandungnya.." Tanya Pak Supir.
__ADS_1
"Karena Nyonya Riska pernah mengancam saya.." jawab Ima.
"Mengancam? Mengancam apa.." tanya pak supir.
"Jika saya mengadukan semua ini pada Tuan Andre, Nyonya Riska bilang akan membunuh Andre saat itu juga. Dan Nyonya Riska juga bilang pada Andre, jika Andre mengadukan semua perbuatannya, Nyonya Riska juga tidak segan-segan akan membunuh saya. Maka dari itu, saya dan Andra menutup mulut rapat-rapat untuk melindungi satu sama lain." jawab Ima menjelaskan.
"APA..?"Pak supir terkejut.
"Kamu serius Im.." tanya pak supir tidak percaya jika seorang ibu akan membunuh darah dagingnya sendiri hanya karena gara-gara hal spele.
"Iya pak, saya sendiri yang mendengarnya." jawab Ima.
"Sadis sekali..
"Iya pak, bapak jangan katakan ini pada siapapun ya, termasuk Tuan Andre. Saya takut, kalau Nyonya Riska benar-benar mengabulkan ucapannya.."ucap Ima.
"Tapi sampai kapan Im?Kasihan Den Andra, dia masih kecil, butuh kasih sayang bukan kekerasan.." sahut pak Supir.
"Sampai Tuan Andre tahu dengan sendirinya, kita tidak punya cara lain selain diam pak." jawab Ima.
Molland Hospital..
"Reyna makan dulu ya sayang, biar bunda suapi.." ucap Riana.
"Reyna gak mau makan, Reyna masih kenyang.." tolak Reyna tanpa menatap bundanya.
"Ayolah sayang, dari pagi kamu belum makan apa-apa. Bagaimana kamu bisa minum obat jiks kamu saja tidak makan.? Makan dulu ya, sudah itu minum obat, biar kamu cepet sembuh.." bujuk Riana.
Reyna menggelengkan kepala dengan pandangan kosong ke samping.
Dari Reyna sadarkan diri, ia langsung mendiami bundanya, bersikap cuek, kadang juga bersikap dingin. Reyna bisa bicara panjang jika bersama Nilla, tapi kalau bersama Riana, ia akan bicara seperlunya saja.
Reyna masih kecewa dengan sang bunda, karena tindakannya yang semalam.
Nilla menghella nafas panjang, dan mencoba untuk membujuk Reyna.
__ADS_1
"Reyna makan ya, biar kak Nilla yang suapi.." ucap Nilla lembut, namun Reyna tidak bergeming sedikitpun.
"Sayang, kalau Reyna sakit begini kapan kita bisa main lagi?Belajar masak? Berenang? dan masih banyak lagi kegiatan yang belum kita lakukan di rumah baru itu. Emang Reyna gak mau main lagi gitu sama kak Nilla atau bunda?Katanya Reyna mau ikut kak Nilla pulang kampung, tapi kalau Reyna sakit begini ya terpaksa kak Nilla pulang kampung sendiri saja.."Ucap Nilla berusaha untuk memancing anak asuhnya.
"Jangan kak, jangan tinggalin Reyna. Reyna mau ikut kemanapun kakak pergi.." cegah Reyna.
Ceessss...
Mata Riana memanas seketika melihat itu.
"Kalau Reyna gak mau kak Nilla tinggal, berarti Reyna harus sembuh dulu. Dan kalau Reyna mau sembuh, jadi harus makan dan minum obat. Dengan begitu Reyna akan sembuh total dan kita bisa pulang ke rumah kak Nilla.." ucapnya.
"Iya kak, Reyna mau makan. Asal yang nyuapinya kak Nilla.." jawab Reyna.
"Dengan senang hati sayang.." Ucap Nilla.
"Kakak tenang saja, Reyna pasti kembali seperti dulu. Kita hanya butuh waktu untuk menenangkannya.." bisik Nilla menguatkan hati majikannya. Sebenarnya ia tidak tega melihat Riana yang seperti itu, tapi ia tidak punya pilihan lain.
"Terima kasih karena sudah buat anakku mau makan.." ucap Riana sembari menahan tangis yang siap di luncurkan.
Nilla menanggapi ucapan Riana dengan senyumnya, senyum tulus yang membuat Reyna betah di sampingnya.
'Mulai sekarang, bunda akan berusaha membuatmu tenang sayang, maafkan bunda."batin Riana menangis.
"Bunda ke toilet dulu ya sayang.." ucap Riana dengan suara berat.
Namun sang putri sama sekali tidak menggubris ucapan bundanya, Reyna malah mengajak Nilla tertawa.
'Ya Tuhan, sangat sakit sekali.."batin Riana.
Perlahan menurunkan kakinya dari ranjang, dan melangkah ke toilet dengan langkah limbung.
Selepas kepergian sang bunda, Reyna menghentikan makan siangnya dan menundukan kepala dengan wajah sedih.
"Tenang sayang, kak Nilla yakin, bunda begitu karena sayang pada Reyna.." Nilla membawa Reyna ke dalam dekapannya, dan Reyna menangis sejadi-jadinya di sana.
__ADS_1
Bersambung..