Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 71


__ADS_3

"Nilla, aku titip Reyna dulu sebentar ya. Kalau Reyna sudah bangun, bilang padanya kalau aku beli makanan di luar.."Ucap Riana setelah meletakan Reyna di kamar yang berdominasi dengan warna pink.


"Tapi kakak mau kemana? Ini kan sudah malam sekali.." Tanya Nilla.


"Aku mau ke rumah orang tuaku dulu.." Jawab Riana mengambil sesuatu dari dalam kopernya.


"Malam-malam begini? Apa tidak takut pergi ke kuburan di malam seperti ini kak? Pasti kan ada banyak hantunya di sana.." Ujar Nilla.


"Untuk apa takut, kita kan punya Tuhan. Justru yang kita takutkan itu Tuhan kita, bukan Hantu..." Jawab Riana santai.


"Aku tahu, tapi kenapa tidak besok saja kak? Kan ini sudah jam 11 malam. Mending kakak istirahat sekarang, kan dari awal penerbangan aku lihat kakak tidak istirahat. Pasti badan kakak lelah kan,? Besok saja ya ke sananya, kan Reyna juga pengen kesana, aku juga ingin ke sana sekalian kirim do'a untuk alm. kedua orang tua kakak.." Nilla mencoba membujuk Riana, karena bagaimana pun Nilla tidak ingin majikannya sakit.


"Terima kasih Nila, tapi aku harus pergi sekarang juga. Ada yang ingin aku diskusikan dengan mereka.."Jawab Riana setelah mendapatkan barang yang di carinya.


"Diskusi? Diskusi apa? Sama siapa? Masa sama orang meninggal.."batin Nilla bingung.


"Kamu tidak perlu tahu soal itu Nilla, pokoknya kakak titip Reyna ya. Aku pergi, Assalamualaikum.." Ucap Riana menutup pintu kamar itu pelan-pelan karena takut membuat istirahat anaknya terganggu.


"Diskusi seperti apa yang akan di lakukan kak Riana bersama orang yang sudah meninggal? Apa kak Riana punya ilmu yang bisa bicara dengan orang yang sudah tiada? Atau beliau mempunyai indra ke 6?.."Ucap Nilla bertanya-tanya.


"Kalau benar, berarti kak Riana busa melihat hantu dong.." Lanjutnya hanya menebak.


"Ngomong-ngomong soal hantu, kok bulu kudukku merinding ya? Apa jangan-jangan di sini ada hantunya.." Ucap Nilla bergidik ngeri.


"Ingat kata kak Riana, Nilla. Kita tidak boleh takut sama yang namanya hantu, yang seharusnya kita takutkan adalah Tuhan. Karena Tuhan maha segalanya.." Ucap Nilla membuat dirinya lebih berani. Tapi tetap saja, rasa takut itu menyerangnya. Alhasil, Nilla bersembunyi di samping Reyna dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.


"Semoga malam ini cepat berubah dengan hari esok.." ucapnya.


Di bawah sana.


"Nona mau ke mana.." tanya penjaga.


"Saya ada urusan sebentar di luar pak, dan tolong jaga anak saya ya.." Ucap Riana sopan. Lalu mengambil kunci mobil, dan pergi ke tempat mobilnya berada.


"Kalian mau kemana.." Tanya Riana merasa ada yang mengikutinya dari belakang.


"Saya akan ikut kemanapun anda pergi Nona dan kami tidak menerima penolakan itu.." Jawab salah satu dari 6 orang itu.


"Ck ck, pasti ini kerjaannya om Mike.." ucap Riana pelan.

__ADS_1


"Ya sudah, kalian boleh ikut. Tapi kalian hanya boleh memantau saya dari jauh, jangan dari dekat karena saya risih. Dan saya juga tidak menerima penolakan.." Ucap Riana.


"Baik Nona.." Jawab mereka serempak.


Sedangkan Trisstan sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi, karena ini sudah sangat malam, jadi Trisstan memutuskan akan bermalam di kediaman Riana.


"Apa mobil ini sering di panaskan pak.." Tanya Riana menunjuk mobil berwarna putih kesukaannya.



"Setiap hari semua mobil kami panasi mesinnya, Nona.." Jawabnya.


"Baiklah, saya akan menggunakan mobil yang ini. Dan untuk sementara, kalian pakai saja mobil itu.." Ujar Riana menunjuk mobil hitam yang sesuai dengan profesi anak buahnya.



"Tidak, terima kasih Nona. Soal kendaraan anda tidak perlu khawatir, karena Tuan Mike sudah menyiapkan segala keperluan kami, termasuk mobil.." Ucap nya.


"Benarkah.." Riana tidak tahu kalau Om'nya itu sudah menyiapkan segala hal untuk menjaganya dengan baik.


"Benar Nona, bahkan beliau sudah menyiapkan 10 mobil untuk penjagaan anda dan Nona kecil.." Jawab nya.


'Terima kasih Om Mike karena sudah menjagaku dengan ketat sejauh ini.."Batin Riana.


Ya, setelah kakek dan neneknya meninggal, Om Mike dan istrinya lah yang menjaga Riana dan Reyna dengan baik.


Tidak hanya menjaga, tapi beliau juga selalu ada di saat Riana membutuhkannya. Mau pagi, siang, sore, bahkan tengah malampun Om Mike selalu hadir jika cucu dari sahabatnya itu tengah membutuhkan bantuannya.


Semua kebutuhan, dari sekolah Reyna, kebutuhan Reyna, kebutuhan semua pelayan dan penjaga di kediaman Sallex, Tante Shierra yang menanggungnya. Bahkan kebutuhan Riana'pun beliau yang menyiapkannya, dari pakaian kerja, aksesoris, tas, sepatu, serta barang lainnya Tante Shierra siapkan untuk Riana. Karena yang beliau tahu, kalau Riana itu tidak suka dengan yang namanya shoping-shoping. Karena butik masih di kendalikan Tante Shira, jadi ia sendiri yang merancang semua pakaian untuk Riana.


Mungkin karena Tante Shierra tidak memiliki anak perempuan, makannya beliau sangat sayang sekaligus menganggap Riana dan Reyna sebagai cucunya sendiri.


Brumm


Brumm


Brumm


Riana mengeluarkan mobil putih itu dari sangkarnya, lalu pergi meninggalkan kediamannya sendiri dengan 1 mobil pengawal di belakangnya.

__ADS_1


Trisstan yang sudah selesai membersihkan diri, telinganya langsung mendengar suara mobil nan halus itu.


"Siapa yang tengah malam seperti ini keluar.." Ucap Trisstan bertanya-tanya.


"Apa jangan-jangan Nona Riana.."Trisstan segera memakai pakaian ganti, lalu ke luar dari kamarnya.


"Siapa yang barusan pergi pak.." Tanya Trisstan pada penjaga.


"Nona Muda, Tuan.." Jawab penjaga itu.


"Nona Riana yang pergi? Pergi kemana malam-malam seperti ini.." Tanya Trisstan.


"Saya tidak tahu beliau pergi ke mana Tuan, tapi saya sempat dengar kalau Nona Muda punya urusan di luar sebentar." jawabnya.


"Tapi Tuan Trisstan tenang saja, karena Nona Muda pergi tidak sendirian. ada 6 pengawal yang mengikuti beliau. " lanjutnya.


Trisstan bernafas lega mendengarnya.


Tapi tetap saja Trisstan merasa cemas sebelum ia melihat sendiri Nona'nya.


"Apa di sini masih ada kendaraan lagi.." Tanya Trisstan.


"Banyak, Tuan.."jawabnya.


"Bagus, tolong siapkan satu mobil untuk saya, karena saya harus menyusul Nona Riana.." Ujarnya.


"Baik Tuan.."


Setelah perintah itu di katakan, Trisstan kembali ke kamarnya untuk mengganti celana dan bajunya.


'Jalannya masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah sedikitpun.."batin Riana sembari menikmati angin malam yang masuk dari jendela mobilnya.


"Angin ini mengingatkanku pada malam itu, malam yang di mana aku tidak bisa apa-apa selain meratapi hidupku yang tengah di ambang kehancuran.." Ucap Riana.


"Malam yang di mana membuatku tidak bisa tidur karena memikirkan nasib anak ku yang di ambang kematian. Mencari darah kesana kemari, tidak membuahkan hasil sedikitpun. Bahkan laki-laki itu saja enggan membantuku. Jangankan untuk membantu, menjenguk anaknya sendiri saja tidak sudi.."Lanjutnya menerawang jauh.


"Mengingat masa-masa itu membuatku sangat sakit dengan perlakuan yang laki-laki itu torehkan padaku.


"Tapi aku bersyukur, karena dengan peristiwa itu , kerena dengan musibah itu, aku bisa bertemu dengan keluargaku yang selama ini ingin aku ketahui keberadaannya..

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2