Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 111


__ADS_3

"Darahnya normal, suhu badannya juga normal, serta keadaan tubuh lainnya juga sangat normal. Jadi karena semuanya sudah kembali normal, putri ibu hari ini sudah boleh pulang.."Ucap Dokter yang menangani Reyna.


"Reyna sudah bisa pulang dok.." Tanya anak itu gembira karena sudah di perbolehkan pulang.


"Iya cantik, jaga kesehatannya ya.." jawab Dokter tersenyum ramah.


Begitupun Riana dan Nilla bernafas lega mendengar hari anaknya sudah di nyatakan pulang.


"Yeesss, akhirnya Reyna pulang. Setelah itu kita akan jalan-jalan.." Ucapnya kegirangan.


"Jangan jalan-jalan dulu sayang, harus istirahat dulu. Reyna kan baru sembuh.." sahut Riana.


"He he, iya bunda." jawab anak itu cengengesan.


Riana geleng-geleng kepala melihat kelakukan anak semata wayangnya yang sangat menggemaskan.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi. " sahut dokter indit.


"Terima kasih Dok."Sahut Riana tersenyum.


"Sama-sama Nona.." Katanya sambil membalas senyum Riana.


"Yes yes yes.." sahut Reyna setelah kepergian dokter tersebut.


"Senengnya anak bunda.." ucap Riana mengacak rambut putrinya, sembari tersenyum lega. Namun Riana menangkap sesuatu yang berbeda dengan pengasuh anaknya. Tumben? Biasanya Nilla paling senang mengajak Reyna bicara, apa lagi Reyna saat ini tengah bahagia karena bisa pulang? Tapi kenapa Nilla diam saja?, pikir Riana bingung.


'Semoga saja bapak bisa sembuh.."batin Nilla meremas tangannya.


"Nilla.." panggil Riana pada Nilla yang tengah menundukan kepala.


"Iya kak.." Nilla langsung mengangkat kepalanya begitu sang majikan memanggilnya.


"Kamu Kenapa? Kayanya sedih gitu.."tanya Riana.


"iya kak, dari tadi Reyna lihat kakak diam saja. Kenapa? Kak Nilla gak suka ya kalau Reyna di perbolehkan pulang. " tambah Reyna.


"Eh eh, gak gitu kok sayang. Kakak seneng kok, Reyna sudah di perbolehkan pulang sama dokter. Dengan begitu kan kita bisa main bersama lagi, hanya saja fikiran kak Nilla saat ini tidak tenang."Jawab Nilla.

__ADS_1


"Tidak tenang kenapa Nilla? Ceritalah, siapa tahu kakak bisa membantumu.." sahut Riana.


"Iya kak, siapa tahu Reyna juga bisa membantu kak Nilla.." Tambah Reyna.


"Semalam aku dapat kabar dari emak di kampung, emak bilang penyakit bapak makin parah dan susah di sembuhkan. Dan aku di suruh pulang sama emak, karena bapak ingin bertemu denganku..Aku tidak minta bantuan apa-apa pada kak Riana dan Reyna, yang aku butuhkan hanya izin dari kalian. Izinkan aku pulang hari ini kak? Aku janji, tidak akan lama.." Jawab Nilla sedikit panik, takut Riana tidak memberinya izin mengingat Reyna baru sembuh dari sakitnya..


Riana tersenyum, lalu meletakan tangan kanannya di bahu Reyna.


"Kamu boleh pulang hari ini juga. " jawab Riana.


"Beneran kak.." Tanya Nilla bahagia.


"Sesuai janji kakak pada kamu dulu, kakak akan mengantarkan mu ke kampung halaman." jawab Riana.


"Yee, Reyna ikut kak Nilla." anak itu kembali bersorak kegirangan.


"Tapi bagaimana dengan Reyna, kak? Reyna kan baru sembuh. Kalau di bawa perjalanan jauh, takutnya Reyna drop lagi. Bagaimana kalau aku pulang sendiri saja, lagi pula aku masih ingat jalan untuk pulang.." ucap Nilla.


"Yahh.." Reyna terlihat kecewa mendengar penuturan Reyna.


"Tapi Reyna pengen ikutnya sekarang kak. "Ucap anak itu dengan mata berkaca-kaca.


"Terima kasih karena sudah sangat menyayangi anakku, Nilla. Tapi kamu tenang saja, aku sudah menyiapkan segala sesuatu keperluan Reyna dengan baik, termasuk alat transfortasi yang akan kita gunakan, dan tentunya membuat istirahat Reyna dengan nyaman.." sahut Riana.


"Jadi, kita akan mengunjungi rumah kak Nilla kan, bund.." tanya Reyna.


"Iya sayang..


"Horeeee...


"Tapi kak..


"Sudahlah, kamu jangan fikirkan apa-apa dulu. Yang penting sekarang kamu bisa pulang ke kampung halaman dan bertemu dengan keluargamu.."sahut Riana.


"Terima kasih kak,."..


"Sama-sama. Ya sudah , sekarang kita saatnya beres-beres karena saat ini juga kita akan pulang.." ucap Riana...

__ADS_1


"Lat's go.." sambut mereka tersenyum.


Ruangan Direktur Utama berada.


"Jadi pasien itu sudah sembuh total dan sekarang sudah di perbolehkan pulang dok." tanya Raymond.


"Benar Tuan, ini hasil pemeriksaannya." jawab Dokter memberikan berkas kesehatan milik Reyna.


"Ya, kau boleh pergi."Ucap Raymond.


"Baik Tuan, saya permisi..


'Kalau mereka pulang hari ini, bagaimana denganku?Aku ingin mengetahui tempat tinggal mereka, tapi bagaimana caranya. " batin Raymond.


Ruangan VIP sebelah..


"Selamat pagi kesayangan papah.." ucap Andre melihat anaknya membuka mata.


"Pagi juga papahku.." jawab Andre dengan suara serak khas bangun tidur.


"Sini papah cek suhu tubuh kamu.."Andre meletakan punggung tangannya di kening Andra.


"Emm, sepertinya demam kamu sudah turun sayang.." lanjut Andre.


"Yang bener pah? Berarti Andra hari ini sudah bisa pulang ya.."Tanya Andra tidak menunjukan ekspresi senang sama sekali. Biasa semua orang langsung kegirangan saat di perbolehkan pulang dari rumah sakit karena rumah sakit adalah tempat membosankan bagi semua orang. Tapi Andra berbeda, ia sepertinya malah enggan untuk pulang ke rumah secepat itu. Dan sebagai orang tua, Andre menyadari keanehan dari anaknya itu.


Tidak hanya Andre, Riska maupun ibu Erin juga merasakan hal yang sama. Sedangkan Ima sudah mengerti apa yang di maksud Andra itu, pasti Andra merasa lebih aman dan nyaman di sini di bandingkan di rumah, pikir Ima .


Karena pas Andra sakit, semua orang yang ia sayangi datang padanya. Dan Riska tidak bisa berperilaku bebas seperti biasanya, karena ruangan itu pasti di awasi ibu Erin.


"Andra kenapa sayang? Gak seneng ya kalau pulang. .." tanya Andre lembut.


'Dasar anak sialan, seharusnya di jangan bicara seperti itu, itu mah sama saja membunuh gue dari belakang. Awas saja kalau anak itu bicara macem-macem sama mas Andre, gue akan memberinya pelajaran yang akan membuat anak itu jera.."batin Riska menatap tajam anaknya sendiri.


'Mana badan gue terasa sakit banget lagi, dia mah enak tidur di ranjang empuk. Nah gue, di sofa itu. Gak jelas banget, seharusnya anak itu tidak melarang gue untuk tidur di sana, kan gak akan begini jadinya. Gue Pengen cepet-cepet pulang, gak betah lama-lama di sini. Serba mewah sih, tapi kan biayanya pasti mahal, mendingan uangnya gue pake untuk shooping dari pada bayar rumah sakit ini dan biaya pengobatan anak itu. Kan sayang banget.."batin Riska menatap tidak suka dengan percapakan Andra dengan anaknya sendiri.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2