Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 75


__ADS_3

'Sepertinya Trisstan sangat menutup rapat identitas perempuan itu. Sebenarnya siapa wanita itu?Trisstan bilang jangan mencari masalah dengan nona'nya jika perusahaanku tidak ingin bangkrut, Apa wanita itu pemimpin perusahaan Sallex Group.? Karena Sallex Group'lah yang bisa membuat perusahaanku bangkrut. Karena setahuku, Keluarga Trisstan sangat dekat sekali dengan keluarga Sallex. Jika benar perempuan itu adalah pewaris sah keluarga Sallex , lalu tujuannya apa datang ke TPU malam-malam seperti ini.?.." batin Raymond bertanya-tanya, sampai mobil itu melesat ke kediamannya..


Sedangkan di kediaman Riana..


"Kenapa kalian memberi tahu soal ini pada Trisstan?Bukankah sudah saya katakan untuk tidak turun tangan tanpa ada perintah dari saya? Tapi kenapa kalian malah mengabaikan larangan saya dan malah menghubungi Trisstan.." Cecar Riana kesal.


"Kami takut pemilik mobil itu melukai anda Nona.."Jawab Jo.


"Bukankah saya menguasai ilmu bela diri? Dan juga bukankah kalian bisa melindungi saya jika pemilik mobil itu menyerang saya.? Tapi kenapa kalian malah minta bantuan pada Trisstan? Dengan kalian meminta bantuan Trisstan, itu sama halnya kalian meragukan kemampuanku dan kemampuan kalian sendiri.." Ucap Riana.


"Bukan mereka yang meminta bantuanku Nona, tapi saya sendiri yang meminta informasi anda pada mereka.."Jawab Trisstan di ambang pintu, lalu ia mendekat di mana Riana berada.


"Kalian boleh istirahat. Tapi ingat, jangan berbuat sesuatu tanpa seizinku." Ucap Riana menghela nafas panjang.


"Baik Nona, kami minta maaf.." Ucap mereka, lalu pergi ke tempat istirahat mereka masing-masing.


"Kenapa kau menyerang pemilik mobil itu Tan." Tanya Riana dingin..Jika sedang seperti itu, Riana akan memanggil nama Trisstan bagian ujungnya saja.


"Maaf.." Hanya itu yang terucap di bibir Trisstan.


"Apa kau sempat melukainya. "tanya Riana.


"Tidak Nona, saya hanya menggertak mereka dengan pistol ini saja. Tadinya saya memang ingin melukai orang yang sudah mengikuti anda, tapi setelah saya melihat pelakunya, saya urungkan.." Jawab Trisstan jujur.


"Kau kenal dengan pemilik mobil itu Tan.." Tanya Riana.


"Kenal, bahkan beliau orang terkenal di sini sebagai pengusaha muda tersukses.." jawab Trisstan.


"Pengusaha muda tersukses?.." Ucap Riana mengulangi, alisnya bertaut menjadi satu.

__ADS_1


"Benar Nona. Apa Nona tahu dengan pemimpin Molland Group.." Tanya Trisstan.


"Tentu, bukankah perusahaan Molland Group terbesar seAsia setelah perusahaan Sallex Group. Lalu, apa hubungannya dengan perusahaan itu..?.." Tanya Riana.


"Karena pemimpin perusahaan itu yang mengikuti anda bersama Sekretaris Han.." Jawab Trisstan.


Riana membulatkan mata mendengarnya.


"Apa tujuan Tuan Raymond mengikutiku.." Tanya Riana setelah menetralkan detak jantungnya. Walau bagaimapun, ia pernah berhutang budi dengan pemimpin perusahaan itu dan sampai sekarang Riana belum sempat mengucapkan terima kasih karena sudah menolong anaknya 4 tahun yang lalu.


Karena bantuan Raymond'lah, Reyna bisa kembali sehat seperti sedia kala dengan mencarikan pendonor darah untuk anaknya. Serta dengan bantuan Raymond, Riana dan Reyna bisa bertemu dengan kakek dan Nenek yang selama ini di carinya. Dan jika tanpa bantuannya, mungkin saja sampai sekarang ini Riana tidak bisa menemukan kedua sepuh itu, secara keberadaan kakek dan neneknya sangat jauh dari tempat kelahiran Riana.


Tanpa bantuan campur tangan Raymond, Riana tidak mungkin seperti sekarang yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan keluarganya.


Mungkin Tuhan sudah memberi jalan untuk Riana seperti sekarang melewati bantuan Raymond.


"Saya tidak tahu dengan tujuan Tuan Raymond mengikuti anda, karena pada saat itu beliau menanyakan identitas anda. Karena anda masih merahasiakan identitas anda, jadi saya memilih pergi dari sana." Jawab Trisstan.


'Ada apa dengan Nona Riana? Tidak biasanya melamun seperti ini saat orang sedang bicara. Apa Nona mengenal Tuan Raymond? Tapi tidak mungkin, secara selama beliau menjabat sebagai pemimpin di perusahaan keluarganya, beliu tidak pernah menjalin kerja sama atau bertemu langsung dengan Tuan Raymond.. Tapi kenapa Nona bisa seperti ini.."batin Trisstan bertanya-tanya..


Trisstan tidak tahu saja kalau orang yang di todongnya dengan senjata itu adalah orang yang pernah menyelamatkan hidup Reyna.


"Nona Riana.." panggil Trisstan menaikan 1 oktaf nada bicaranya.


"Ya.." Jawab Riana sudah kembali ke alam sadar.


"Anda sedang memikirkan apa Nona.." Tanya Trisstan.


"Saya tidak memikirkan apa-apa. Kau bicara apa tadi.." Tanya balik Riana.

__ADS_1


"Sepertinya anda harus berhati-hati pada Tuan Raymond, karena beliau adalah rival bisnis mendiang Tuan Allex. Saya takut, Tuan Reymond berbuat sesuatu pada anda mengingat perusahaan kita selalu unggul dari perusahaannya.." Jawab Trisstan, itu baru dugaannya saja.


"Memang beliau adalah rival binisnya kakek, tapi mereka bersaing dengan cara sehat dan tidak menggunakan cara kotor. Bukankah kau tahu soal itu Tan? Jangan menuduh orang sembarangan jika tidak tahu kebenarannya..." Sahut Riana.


"Tapi..


"Saya sendiri pernah melihat mereka berinteraksi dengan baik. Dan bahkan, beliau juga pernah menolong saya 4 tahun yang lalu.."Sahut Riana.


"Segera urus pertemuan saya dengan Tuan Raymond secepatnya, karena ada yang harus saya ucapkan pada beliu.." Lanjut Riana, setelah itu ia pergi meninggalkan Trisstan yang di landa kebingungan.


'Pernah menolong Nona 4 tahun yang lalu? Bukankah 4 tahun yang lalu beliau di bawa pergi ke Jerman? Jadi, sebelum aku mengenal Nona Riana, Tuan Raymond lebih dulu mengenalnya..."batin Trisstan.


'Lalu, kira-kira apa yang ingin di katakan Nona Riana pada Tuan Raymond.."lanjutnya bertanya-tanya.


Setelah meninggalkan Trisstan di lantai dasar, Riana pergi ke kamar anaknya sekedar ingin melihat anak kesayangannya.


Ceklekk.


Pintu terbuka sangat pelan, dan Riana langsung melihat pemandangan yang setiap malam di lihatnya.


Nilla tertidur dengan memeluk putrinya erat, begitupun Reyna yang membalas pelukan pengasuhnya. Mereka tertidur sambil berpelukan. Hati Riana sedikit tersentil dengan pemandangan itu. Bagaimana tidak, sudah 4 tahun belakangan ini ia jarang sekali tidur bersama putrinya.


Mengingat masa kecil Reyna yang selalu tidur dalam dekapannya, membuat Riana merindukan masa-masa itu dan berharap semua kembali seperti dulu.


Namun tidak segampang itu, karena pada saat Reyna ingin tidur bersama dengan bundanya, bundanya selalu tidak ada, masih di tempat kerja. Dan saat Riana ingin tidur bersama, Reyna lah lebih dulu tidur dengan pengasuhnya..


"Maafkan bunda sayang.." Ucap Riana, lalu menutup pintu itu secara perlahan dan pergi ke kamarnya.


"Hufft,,, hari yang melelahkan. Tapi aku bahagia karena sudah di beri kesempatan untuk mengunjungi rumah bunda dan ayah.." Ucap Riana membaringkan tubuh di ranjang king size nya.

__ADS_1


"Ayah, Bunda besok aku akan datang lagi dengan membawa cucu kalian.." lanjutnya, kemudian terlelap tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Bersambung.


__ADS_2