
"Sekali lagi, saya minta maaf atas kecerobohan mereka Tuan Raymond.." Ucap Riana setelah kepergian Trisstan dan sebagian orang-orangnya.
"Tidak masalah Nona, saya mengerti.." Ucap Raymond.
"Apa ini ruangan putri kecil anda? Bagaimana keadaannya..." lanjut Raymond.
"Benar Tuan, putri kecil saya demam tinggi dan sekarang allhamdulillah keadaannya baik-baik saja." Ucap Riana sopan.
"Saya boleh menjenguknya.." Tanya Raymond.
'Sepertinya tidak masalah jika Tuan Raymond menjenguk anakku, toh ini rumah sakitnya juga.."batin Riana.
"Silahkan.." Ucap Riana kembali masuk dan di ikutu Raymond dari belakang.
"Reyna kok nangis..." Riana terkejut melihat putri kecilnya menangis sesegukan dalam dekapan Nilla.
'Tampan sekali.."batin Nilla menatap Raymond.
"Bunda bohong, katanya cuma sebentar keluarnya, tapi nyatanya lama hiks hiks hiks.." jawab Reyna.
"Maaf ya sayang, di luar ada masalah, makannya bunda selesaikan dulu.." ujar Riana mengusap air mata anaknya.
"Udah ya jangan nangis lagi, bunda di sini kok.." lanjutnya.
"Anak cantik gak boleh nangis, kalau nangis cantiknya bisa hilang loh.." sahut Raymond.
"Kaya kata-kata bunda dulu.." ucap Reyna.
"Bunda, tapi siapa Om itu.."tanya Reyna merasa asing.
'Om?Masih muda begini sudah di panggil Om, astaga.."batin Raymond tidak percaya jika Reyna akan memanggilnya dengan sebutan Om.
"Ini namanya Om Raymond, pemilik rumah sakit ini sayang.."jawab Riana..
"Tuan, maaf jika putri saya memanggil an..
"Tidak masalah, anda tidak perlu merasa tidak enak pada saya.." sahut Raymond tersenyum.
"Om ke sini mau jenguk Reyna, tapi maaf ya Om tidak bawa apa-apa sayang. Tapi Reyna tenang saja, besok Om pasti akan bawa sesuatu untuk Reyna.." ucap Raymond.
"Tidak apa-apa Om, Om datang saja Reyna sudah seneng kok.." jawab anak kecil itu.
"Seneng? Seneng kenapa sayang? Emang Reyna masih ingat dengan Om Raymond.." tanya Riana.
__ADS_1
"Ya seneng dong bund, kalau ada laki-laki asing di samping bunda , berarti bunda sudah membuka hati untuk orang lain, dan Reyna sebentar lagi akan mendapatkan ayah. Ayah yang tampan.." jawab Reyna dengan semangat 45.
Deg..
Riana membulatkan mata mendengar ucapan putrinya.
'Ayah? 'batin Riana terguncang begitu ingatannya tertuju pada seorang laki-laki yang dulu pernah menyakiti hatinya dan batin anaknya.
"Reyna, jangan bicara seperti itu bunda tidak suka ya.." ucap Riana serius.
"Maaf, bunda." Ucap Reyna menundukan kepala.
"Reyna janji, tidak akan mengulanginya lagi.."Lanjut Reyna.
'Ya Tuhan, tolong buang jauh-jauh rasa benci ini pada ayah kandung anakku. Aku ingin hidup normal tanpa masalah. Tapi kenapa sangat sulit sekali untuk di lupakan.."batin Riana sedih.
'Ternyata dia belum bisa melupakan masa lalu sulit itu."batin Raymond menatap iba pada ibu satu anak itu.
"Reyna menginginkan seorang ayah.." tanya Raymond.
Anak kecil itu menganggukan kepala dengan mata berkaca-kaca..
"Reyna bisa panggil Om dengan sebutan ayah, anggap saja jika om ini adalah ayah Reyna.." ucap Raymond membuat Riana membulatkan mata.
"Beneran om.." tanya Reyna dengan mata penuh binar dan menggambarkan kebahagiaan di sana.
Melihat itu, Riana mengurungkan niatnya karena tidak tega dengan wajah putrinya.
"Iya sayang, itupun jika Reyna mau.." jawab Raymond.
"Mau, Reyna mau kok Om."Jawab Reyna antusias.
" Horee, akhirnya Reyna punya ayah juga. Kak Nilla, Reyna punya ayah kak.."ucapnya.
"Iya sayang, selamat ya.." Ucap Nilla turut bahagia melihat anak asuhnya bahagia.
'Semoga Kak Riana bisa membuka hatinya untuk pria lain, dengan begitu ia bisa memberi ayah yang sesungguhnya pada Reyna.."batin Nilla.
"Reyna sayang, bunda pinjam Om Raymond sebentar ya.." Ucap Riana, tanpa menunggu jawaban si kecil, Riana langsung menarik tangan Raymond untuk keluar dari ruangan itu.
"Bunda, mau bawa ayah Reyna kemana kak.." tanya Reyna.
"Kakak juga tidak tahu sayang, mungkin bunda sama ayah tengah membicarakan sesuatu yang penting.." jawab Nilla.
__ADS_1
"Pasti bunda gak setuju kalau Reyna panggil Om Ray dengan sebutan ayah. " ucap Reyna berubah murung.
Hati Raymond merasa bergetar saat Riana menarik-narik tangannya dengan lembut.
'Ya Tuhan, apa aku benar-benar sudah jatuh cinta pada wanita ini..?Jika iya, aku berharap jika wanita ini yang di takdirkan untuk menjadi ibu dari anak-anakku kelak.."batin Raymond.
"Maaf.."Riana baru tersadar dengan ulahnya dan melepaskan tangan Raymond begitu saja.
"Hemm, kenapa anda membawa saya keluar Nona Riana.." tanya Raymond.
"Tuan Raymond yang terhormat, kenapa anda bicara seperti itu pada anak saya?Seharusnya itu tidak di ucapkan karena anda orang asing bagi kami. Anda tahu, dengan kata-kata anda seperti itu, anda sudah membuat Reyna mengharapkan seorang ayah yang sesungguhnya dan saya tidak ingin itu terjadi. Saya mohon, tolong luruskan masalah ini karena saya tidak ingin anak saya mengengemis-ngemis seorang ayah, pada siapapun itu termasuk anda. Saya permisi.." jawab Riana tegas.
"Kenapa? Apa karena pria brengsek itu anda seperti ini Nona Riana.." tanya Raymond berhasil menghentikan langkah Riana di ambang pintu.
Deg..
Jantung Riana seakan berhenti berdetak mendengar nama itu.
"Pria brengsek? Apa maksud anda Tuan.."Tanya Riana tanpa berbalik..
"Andre, bukankah Andre Wijaya yang sudah membuat anda terluka dan menutup hati anda rapat-rapat.." jawab Raymond.
Degg..
'Dari mana dia tahu soal laki-laki itu. "batin Riana bertanya-tanya..
"Kenapa? Pasti anda terkejut bukan? Pasti anda bertanya-tanya saya tahu dari mana soal itu kan?,dan jawabannya adalah laki-laki brengsek adalah salah satu karyawan saya, Nona.." Lanjut Raymond.
'Karyawannya?.."batin Riana.
"Tuan Raymond, itu masalah pribadi saya. Saya rasa anda tidak perlu untuk ikut campur.."ucap Riana langsung meninggalkan Raymond begitu saja.
'Shiiitt, kenapa aku malah membahas itu sih? Jelas-jelas hal itu sangat di hindarinya, kamu bodoh sekali Raymond, bisa-bisanya kamu membahas laki-laki brengsek itu saat kamu sendiri tengah melakukan pendekatan dengannya. Otakku sudah benar-benar tidak waras.."Batin Raymond kesal dengan tingkahnya sendiri yang sudah menjauhkan dirinya dengan wanita yang selama ini carinya itu.
"Bunda, ayah Ray mana.." tanya Reyna.
"Reyna, tolong dengar bunda. Itu Om Raymond, bukan ayah Reyna. Jadi bunda mohon sama Reyna, untuk tidak memanggil Om itu dengan sebutan ayah.. Reyna mengerti kan ucapan bunda.." ujar Riana.
Reyna langsung menundukan kepala dengan air mata yang mengalir dari sana. Kecewa, itulah yang Reyna saat ini rasakan pada bunda'nya.
"Reyna, bunda minta pengertiannya sama kamu sayang. Bunda lakuin ini karena tidak ingin membuat Reyna kecewa nantinya ."lanjut Riana.
'Ya Tuhan, aku harus apa? Jujur, aku tidak ingin di situasi seperti ini. Aku sudah membuat kebahagiaan Reyna sirna dengan ke egoisanku sendiri. Aku tidak ingin membuat Reyna tertekan dengan sikapku, lalu aku harus gimana Tuhan.."batin Riana.
__ADS_1
Bersambung..