
"Dokter, apa saya sudah boleh membawa anaknya pulang.." Tanya Riana.
Kejadian semalam membuat Riana jadi tidak betah berada di rumah sakit itu, namun ia tidak boleh egois, ia juga harus memikirkan keadaan Reyna yang butuh perawatan..
"Maaf Nona, sepertinya belum bisa. Karena kondisi pasien saat ini masih lemah dan butuh perawatan intensif untuk menanganinya.." jawab Dokter.
"Intensif? Maksudnya apa Dok.." tanya Riana.
"Menurut diagnosa yang saya dapat, anak anda tidak hanya harus melakukan pemulihan saja pada badannya tapi pada otaknya juga."jawab Dokter.
"Ot-otak.."ucap Nilla dan Riana terkejut.
"Psikisnya sedikit terganggu, dan itu harus segera di sembuhkan secepatnya. Kalau di biarkan seperti itu, saya takut psikisnya tambah parah." jelasnya.
"APA.."kedua wanita itu terkejut.
"Saya sarankan untuk tidak terlalu menentang keinginan anak anda, Jangan membuatnya merasa tertekan atau memaksakan sesuatu yang tidak bisa membuat anak anda berfikir dengan jernih, karena saya lihat, itulah penyebab yang terjadi pada putri anda Nona.."lanjutnya menjelaska.
Deggg..
Jantung Riana terasa berhenti berdetak mendengar penjelasan dari dokter.
Dan tentunya penyebab dari kekacawan itu adalah Riana sendiri.
Riana sudah egois, ia memetingkan dirinya tanpa memikirkan apa yang akan terjadi pada putrinya kelak.
"Kalau tidak ada pertanyaan lagi, saya permisi Nona.." ucap Dokter.
"Silahkan Dok.." sahut Nilla karena Riana masih terlihat syok dengan penjelaskan sang Dokter.
Dokter keluar, dan tak lama kemudian..
Bruukk...
Tubuh Riana jatuh ke lantai.
"Kak Riana.." Nilla terkejut, lalu berusaha untuk membantu Riana bangun. Namun si empunya menolak.
"Ayo bangun kak, jangan seperti ini.." ucap Nilla.
"Aku orang tua yang paling bodoh di dunia ini,benar-benar sangat bodoh. tega-teganya aku menyampingkan keinginginan anakku hanya demi memenuhi ambisiku yang tidak akan pernah ada kata akhir. Aku menjadi kebanggaan semua orang, tapi aku orang yang sangat buruk di mata anakku sendiri. Ayah, bunda maafkan aku karena tidak bisa menjadi orang tua yang baik seperti kalian. Dulu kalian sangat menyayangiku, selalu mengutamakanku dalam segala hal, apapun itu. Tapi kenapa aku tidak bisa seperti kalian? Aku Selalu mengutamakan urusan bisnis, dengan membelakangi anakku sendiri, hiks hiks hiks.."Riana menangis sejadi-jadinya di sana..
Tapi Reyna tidak melihat itu, karena ia masih betah dengan mimpi indahnya. Indah, karena bisa kumpul bersama dengan kakek neneknya dan bundanya.
__ADS_1
Ya, Reyna tengah memimpikan kelurganya yang dulu sudah pulang ke rumah Tuhan, dalam mimpi itu Reyna di kelilingi orang-orang tercinta dan tersayang.
Sungguh Reyna tidak ingin mimpi itu segera berakhir, dan kalau bisa selamanya seperti itu. Tapi rasanya tidak mungkin, mengingat bundanya yang tidak punya siapa-siapa lagi di dunia selain dirinya.
Reyna tahu itu hanya mimpi, karena ia juga tahu kalau orang yang sudah meninggal tidak mungkin menemuinya lagi kecuali lewat mimpi.
Kediaman Andre Wijaya..
Pagi yang cerah, secerah hati Riska saat ini. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari bertepatan dengan tanggal 01, yang berarti ia sebentar lagi akan mendapat transferan jatah bulanan dari sang suami.
"Tambahhin dong mas, jatah bulanannya. Kebutuhan aku sama anak kita kan bertambah dan harga bahan-bahan pokok lainnya juga naik.." Ucap Riska manja.
"Emang apa saja yang bertambah Ris.." tanya Andre.
"Ya banyak, dari harus membeli buku, tas, meja, alat tulis, belum lagi jajan anak kita yang tidak sedikit. Kalau aku, mas pasti tahu sendiri lah kebutuhanku apa saja.." jawab Riska.
"Ya sudah, nanti mas tambahin." ucap Andre.
"Asiikkk, terima kasih mas'ku. Kamu memang yang terbaik.." ucapnya langsung jingkrak jingkrik kesenangan.
"Sama-sama, tapi Andra mana? Tumben jam segini belum turun? Apa Andra gak mau sekolah hari ini.." Tanya Andre.
"Ya pastinya sekolah dong mas, anak kita kan rajin. Jadi mana mungkin ia bolos sekolah. Palingan juga sebentar lagi turun.." jawab Riska santai, padahal ia tidak tahu apa yang terjadi di atas sana.
'Mana sih anak itu.? Jam segini malah belum turun-turun juga. Apa benar dia tidak ingin sekolah? Awas saja jika bolos, gue akan memberi hukuman pada anak kurang ajar itu karena sudah membuat gue menunggu.."batin Riska.
"Andra, bangun sayang." ucap Ima.
"Kok tangannya anget.." ucapnya, lalu meletakan punggung tangannya di kening Andra.
"Astaga, panas sekali.." ucapnya terkejut.
"40°C.."Ima terkejut setelah melihat alat pengecek suhu badan.
"Andra, bangun sayang. Badan kamu panas, kita ke dokter ya. Suster panggilkan papah dulu ya.."ucapnya.
"Sus.." panggil Andra pelan.
"Iya sayang, kamu sudah bangun. Suster keluar sebentar ya.."
"Jangan sus.." cegah Andre..
"Kenapa sayang?Kamu harus segera di bawa ke rumah sakit, badan kamu sangat panas."
__ADS_1
"Andra gak apa-apa sus, Andra minta obat penurun panas saja, setelah itu pasti Andra sembuh.." jawabnya.
"Buka mulutnya sayang, aaa..."Ima membantu Andra meminum paracetamol.
"Sekarang sus tolong bantu Andra pakai seragam ya.."
"Sebaiknya hari ini Andra jangan sekolah dulu ya sayang, kan lagi sakit..
"Andra sudah mendingan kok sus. Ayo cepat bantu Andra sus, keburu siang..
"Tapi..
"Kalau Andra tidak sekolah, Andra pasti di hukum sama mamah, sus.." sahut Andra.
Ima membuang nafas kasar.
"Tapi kan ada papah Andra..
"Tetap saja sus,,, papah kan jarang di rumah.."sahutnya.
"Ayo sus, jam bergerak terus tuh. Andra gak mau kalau kita sampai telat..
"Ya sudah, sus bantu. Tapi kalau badan Andra sudah tidak kuat lagi, tolong segera kasih tahu suster ya.."Ujarnya.
"Iya sus.." jawabnya lemah.
'Ya Tuhan, kasihan sekali Andra ini.."batin Ima.
"Itu anak kesayangan kita Pah.." Ucap Riska melihat Andra menuruni anak tangga.
"Sini sayang, ayo kita sarapan bersama.." sahut Andre..
"Iya pah.." jawab Andre.
"Biar suster gendong saja ya, biar cepat.."bisik Ima.
"Jangan sus, nanti papah bisa curiga kalau Andra di gendong, mamah juga pastinya marah. " jawab Andra.
Ya, Andra berniat tidak memberitahu perihal keadaan yang sebenarnya pada sang ayah, karena ia tidak ingin membuat sang ayah khawatir.
"Ya sudah, pelan-pelan saja kalau begitu.." bisik Ima.
"Tumben, Andra hari terlihat lemes sekali ? Apa Andra sakit, Ris.." tanya Andre melihat cara jalan dan wajah anaknya berbeda.
__ADS_1
"Tidak kok mas, aku sudah mengeceknya tadi pagi dan suhu badannya normal saja-saja.."dustanya.
Bersambung..