Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 53


__ADS_3

"Hallo om, ada apa.." Tanya Riana setelah ia mengangkat sambungan telpon tersebut.


"Kamu lagi di mana sayang? Apa kita bisa bertemu? ada hal penting yang Om ingin bicarakan denganmu.." Tanya Om Mike di sebrang sana.


"Aku lagi di rumah Om. Kalau boleh tahu, Om mau bicara soal apa?.." tanya Riana penasaran.


"Pokoknya ada sayang, Om tidak bisa jelaskan sekarang. Kalau begitu Om sama Tante ke rumah kamu saja ya.." Ujarnya.


"Baiklah Om, aku tunggu. Ingat, harus hati-hati.."Ucap Riana mengingatkan.


"Tentu sayang, Om selalu mengingat pesanmu itu."jawab Om Mike.


Selalu itu yang Riana ingatkan setelah mereka bertemu. Di mana saja, kapan saja Riana tidak lupa untuk mengatakan kata-kata tersebut. Dan itulah yang meembuat Om Mike dan Tante Shierra menyayangi cucu dan cicit dari sahabatnya.


Tidak hanya itu, Riana juga sering mengunjungi kediaman Leondra untuk menanyakan beberapa hal yang mengenai perusahaan. Tentu saat Riana berkunjung, ia tidak datang dengan tangan kosong. Kedua tangan itu selalu penuh dengan berbagai macam bawaannya yang ia beli dari pusat perbelanjaan atau juga Riana membawanya dari kediaman Sallex.


Kalau dari pusat perbelanjaan. Misalnya, sayur mayur, buah-buahan, beberapa daging dan tentunya sangat halal karena Riana masih memegang tangguh kepercayaannya itu.


Terkadang Riana membawa beberapa drees dan gaun yang ia ambil dari butik warisan Nyonya Maya, yaitu Yandra Boutique..Kadang juga ia sering membelikan beberapa set berlian untuk sekertaris setia nenenknya itu..


Bukan sering lagi, tapi hampir setiap Riana berkunjung ke Kediaman Leondra, Tante Shierra sering kali melarang dan terkadang juga menolaknya pemberian cucu sambungnya itu.


Namun ternyata Riana mewarisi sifat neneknya "Bukan Riana namanya kalau tidak memaksakan kehendaknya".


Lagi pula jarang-jarang juga Riana memberikan barang berharga, toh Riana saja jarang sekali kok ke kediaman Leondra. Bukan jarang lagi, kadang 1 bulan 1x, kadang juga 3 sekali itupun kalau pekerjaan Riana lagi renggang.


"Sepertinya ini penting sekali. Kira-kira apa ya yang Om Mike ingin bicarakan denganku.." Ucap Riana bertanya-tanya.


"Ahh, sudahlah. Nanti juga tahu sendiri jawabannya.."lanjutnya kembali.


"Oh' astaga. Reyna.." Riana baru tersadar kalau ia sudah meninggalkan anaknya terlalu lama..


"Semoga Reyna tidak marah kepadaku.."Ucapnya dengan langkah terburu-buru.


"Sayang, maaf ya bunda kelamaan. Kita lanjut lagi ya makan siangnya. "Ucap Riana.


"Lohh, makanan kamu habis.."Lanjut Riana melihat pering anaknya ternyata sudah kosong.


"Udah, dan Reyna sekarang pengen istirahat. Reyna duluan ya bun, dadah bunda Reyna yang cantik. Sehat selalu untuk bunda..."Ujar Reyna melangkah pergi dari bundanya.

__ADS_1


'Kenapa dengan Reyna? Sikapnya dingin kepadaku. Apa ini gara-gara tadi? Maafkan bunda sayang, bunda memang tidak bisa mengatur waktu untuk bersamamu..'batin Riana menatap sedih punggung anaknya yang sudah menjauh.


"Nilla, apa benar Reyna yang menghabiskan makanan ini.." tanya Riana beralih menatap pengasuh anaknya, karena ia yakin bahwa Nilla orangnya selalu berkata jujur. Karena tidak mungkin juga Reyna menghabiskan semua makanan itu dengan waktu yang singkat, apa lagi Riana menuangkan nasinya ke piring sang anak tidaklah sedikit, tapi banyak.


Riana sengaja menuangkan nasi serta lauk pauk dan sayur mayur dengan porsi yang lumayan banyak, karena ia berencana akan makan 1 piring berdua dengan anaknya. Namun, sepertinya di sini ada kejanggalan.


"Benar Nona.." jawab Nilla, tanpa melihat lawan bicara.


Dan Riana sadar kalau pengasuh anaknya itu sedang berbohong. Buktinya saat Nilla bicara, ia tidak melihat wajah majikannya. Karena apa? Karena Nilla tidak berani menatap mata majikannya saat ia sedang berbohong.


Riana menghela nafas panjang.


"Nona, kalau tidak ada yang di pertanyakan lagi. Boleh aku menyusul Reyna ke kamarnya.."Karena ia yakin, bahwa anak asuhnya itu sedang bersedih. Namun di sini ia tidak menyalahkan siapa-siapa karena ia tahu, bahwa posisi keduanya di sini sama.


Kali ini Nilla menatap wajah lawan bicaranya.


"Biar aku saja, kamu lanjut makan. Sepertinya kamu belum makan siang, karena piringmu masih bersih.." Tolak Riana.


Nilla membulatkan mata mendengarnya.


'Ya ampun, kenapa aku bisa ceroboh. Pasti Nona Riana sadar kalau aku membohonginya..'batin Nilla.


"Ya sudah kalau kamu sudah makan, aku ke atas dulu.." Ucap Riana setelah beberapa menit diam dalam kegelisahan.


"Iya Nona.."jawab Nilla pasrah.


Tentu, bisa apa lagi dia selain mengiya kan ucapan majikannya. Walaupun ia khawatir karena memikirkan kondisi Reyna.


'Semoga Reyna sudah tidur."batin Riana.


"Reyna.."panggil Riana sembari mengetuk pelan pintu kamar anaknya.


Di dalam sana..


Mendengar suara bundanya, Reyna buru-buru menghapus air matanya yang sedari tadi mengalir membasahi pipinya..


Setelah kering, Reyna langsung membaringkan tubuhnya di ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.


'Maafkan Reyna bunda, Reyna belum bisa menjadi anak yang baik yang bisa sepenuhnya memaklumi posisi bunda saat ini. Maafkan Reyna, karena Reyna bunda jadi seperti ini..'batin Reyna, setelah itu ia menutup mata..

__ADS_1


Tok


Tok


Tok.


"Rayna sayang, ini bunda nak.." Lanjutnya, karena tidak ada jawaban, Riana langsung membuka kamar tersebut.


'Apa Reyna sudah tidur. ?Tapi ini bukan kebiasaannya ."batin Riana. Karena yang ia tahu, anaknya itu tidak terbiasa langsung tidur setelah makan dan apa lagi saat ini Reyna tertidur dengan menggunakan selimut. Padahal anaknya itu tidak suka menggunakan selimut saat tidur, palingan juga kalau lagi tidak enak badan, baru Reyna mau menggunakannya.


Tunggu. Apa jangan-jangan Reyna sakit? Makannya dia jadi seperti ini? Pertanyaan itu melintas di benak ibu satu anak itu.


Tanpa membuang waktu, Riana segera medekati ranjang anaknya, lalu menempelkan punggung tangannya ke kening sang anak.


Riana bernafas lega setelah mengecek suhu anaknya, ternyata normal.


"Reyna, apa kamu sudah tidur sayang.."Riana coba bertanya, barang kali saja anaknya masih belum benar-benar terlelap. Karena ia ingin mengatakan kata maaf pada anaknya.


"Sepertinya Reyna sudah tidur.."Ucap Riana.


Setelah itu ia membaringkan tubuhnya di samping sang anak, lalu membawa Reyna ke dalam dekapannya..


'Hangat, ini yang Reyna inginkan selama ini dari bunda. Sudah lama sekali kita tidak seperti ini, Reyna benar-benar merindukan bunda yang dulu. Maafkan Reyna, bunda...'Batin Reyna menangis dalam diam.


"Maafkan bunda karena tidak bisa membagi waktu denganmu, maafkan bunda sayang. Tapi ingat, walau sesibuk apapun pekerjaan bunda, bunda selalu mengingatmu di setiap langkah bunda. Jadi bunda harap, kamu tidak meragukan kasih sayang bunda kepada Reyna. Karena Reyna yang paling bunda sayangi dan cintai di dunia ini.."ucap Riana pelan.


"Nona.."panggil Nilla pelan setelah memasuki kamar anak majikanya.


"Heuumm.."


"Di bawah ada Om Mike sama Tante Shierra.."jawabnya.


"Aku akan turun, tapi tolong jaga Reyna ya..


Nila menganggukan kepala.


"Tidur yang nyenyak sayang, bunda sangat mencintaimu..."Setelah mengecup kening sang putri, Riana langsung turun dari ranjang dan ke luar dari kamar, meninggalkan putrinya yang menangis di sana.


'Kenapa ayah meninggalkan Bunda dan Reyna? Seandainya ayah di sini, bunda tidak mungkin sesibuk ini dan melupakan keberadaan Reyna..Maafkan Reyna, bunda.."batinnya di balik selimut.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2