Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 110


__ADS_3

Masih di Molland Group..


"Terima kasih karena anda sudah mengantar saya sampai ke sini Tuan Raymond. Tapi maaf, saya tidak bisa menawarkan anda masuk karena ini sudah malam, dan saya takut Reyna terbangun, lalu melihat anda di sana...." Ucap Riana.


"Memangnya kenapa kalau Reyna melihat saya, Nona.." Tanya Raymond bingung.


'Aduhhh, ini mulut kenapa bisa keceplosan sih."batin Riana.


"Ti-tidak apa-apa sih Tuan, saya hanya tidak ingin istirahat Reyna terganggu, itu saja...


"Saya mengerti Nona. Baiklah kalau begitu, saya pamit dan terima kasih atas traktirannya malam ini. Dan terima kasih juga karena sudah membawa saya ke tempat sederhana namun soal rasa masakannya sangat luar biasa..Saya sangat senang untuk itu..


"Sama-sama Tuan, saya masuk dulu. Selamat malam..".


"Ri-anna.."ucap seseorang membuat Riana menoleh ke belakang dan mencari pemilik suara tersebut..


"Bapak.." Ucap Riana membelalakkan mata setelah menangkap sosok yang di rindukannya selama 4 tahun belakangan ini.


'Bapak,? Siapa bapak itu? Sepertinya aku tidak pernah melihat bapak itu.."batin Raymond.


"Ka-kamu beneran Ri-Riana, an-anakku.." Tanya pak Ridwan mendekat.


"Iya pak, Aku Riana anak bapak.." jawab Riana haru.


"Riana, oh Tuhan putriku. Kamu di mana saja selama ini nak,? Kenapa tidak pulang-pulang?Bapak merindukanmu sayang.."Desis Pak Ridwan langsung memeluk Riana.


"Maafkan aku pak, aku tidak bisa menyempatkan diri untuk pulang karena pekerjaanku sangat sibuk di sana. Aku juga sangat merindukan bapak.." jawab Riana.


"Allhamdulillah, akhirnya anak bapak sekarang menjadi orang sukses. Semua orang menyanjungimu nak, hanya saja kamu menyembunyikan jati dirimu. Tapi bapak sangat bangga pada kamu.. "Ucap Pak Ridwan melepaskan pelukan mereka.


"Hanya untuk menjaga diri saja pak, bapak apa kabar." Tanya Riana.


"Allhamdulillah kabar bapak baik nak..


"Ekhhemmm.."Raymond berdehem karena merasa terabaikan di sana, jelas saja sih, toh orang asing ini.


"Eh ya pak, kenalkan ini Tuan Raymond, pemilik rumah sakit ini. Dan Tuan Raymond, kenalkan beliau ini adalah pak Ridwan, dia bapak..


"Saya bapaknya, senang bertemu dengan anda Tuan." sahut pak Ridwan cepat.

__ADS_1


"Ahh ya, saya juga pak." Raymond tidak bisa fokus merasa ada yang tidak beres pada ucapan Riana.


"Reyna mana, Rian? Lalu, kamu sedang apa di rumah sakit ini? Kamu sakit.." Tanya pak Ridwan.


"Bukan aku yang sakit, tapi Reyna pak. Dan ini ruangan Reyna di rawat.."Jawab Riana.


"Apaa.? Reyna sakit? Mana? Bapak mau lihat cucu bapak sekarang.." Ucapnya panik.


'Cucunya? Berarti pak Ridwan ini adalah mantan mertuanya Riana. jadi, Beliau bapak si Brengsek itu.."Batin Raymond.


"Tuan Raymond, sepertinya saya harus segera masuk sekarang. Selamat malam.." Desis Riana segera membawa mantan mertuanya ke ruangan anaknya.


"Ah ya, silahkan , selamat malam juga." ucap Raymond sebelum pintu tersebut tertutup sempurna.


'Sedang apa bapaknya Andre di sini? Oh God,,aku lupa kalau Andre cuti hari ini karena menjaga anaknya yang sakit dan dia bilang anaknya di rawat di rumah sakit ini juga. Berarti mereka semua berada di sini.."batin Raymond.


"Ah sudahlah, biarkan saja. Anggap saja ini kejutan untuk mereka semua.."ucapnya, lalu pergi dari sana.


Dalam sana..


"Riana, apa itu cucu bapak..." Pak Ridwan syok melihat cucunya sudah tinggi besar di sana.


Sedangkan Nilla sudah tertidur di sofa.


"Ya Tuhan, cucuku.." Pak Ridwan menangis di samping ranjang cucunya.


"Kamu sudah tumbuh besar rupanya sayang, sangat cantik seperti bunda'mu.." Ucapnya.


"Bunda.." Ucap Reyna begitu terbangun dari tidurnya, mungkin ia merasa terganggu dengan suara mereka.


"Sayang, kamu sudah bangun.." Riana segera mendekati Reyna.


"Bunda, kakek ini siapa.."Tanya Reyna merasa tidak asing di matanya, tapi siapa? Reyna tidak ingat.


"Reyna, ini kakek, sayang. Reyna lupa sama kakek.."Hati pak Ridwan sedikit sakit melihat cucu sendiri tidak mengenalinya.


"Kakek.." Reyna terlihat bingung di sana, pasalnya yang Reyna tahu kakeknya itu sudah meninggal.


"Iya sayang, ini kakek.." Ucapnya.

__ADS_1


'Kenapa dengan Reyna? Apa Reyna lupa dengan wajahnya kakeknya.?Apa karena waktu itu Reyna masih kecewa pada kakeknya.." batin Riana, teringat saat-saat terakhir mereka sebelum terbang ke Jerman. Saat itu Reyna marah karena kakeknya tidak menjenguk Reyna saat anak kecil itu di rawat di rumah sakit.


"Pak sepertinya Reyna.."Ucap Riana terputus begitu Reyna bangun dari ranjangnya dan..


Grepp..


"Reyan juga kangen sama kakek. " Ucap Reyna sembari memeluk kakeknya.


Riana tersenyum, ternyata anaknya sudah melupakan masa-masa itu.


"Maafkan kakek, nak.." Ucap pak Ridwan mengusap punggung cucunya..


"Kakek, hiks hiks hiks.." Reyna menangis karena saking rindunya pada pak Ridwan.


10 menit kemudian, Riana, Reyna dan pak Ridwan kini tengah duduk bersama di sofa ruangan itu setelah melepas rindu dan tangis mendalam selama 10 menit lamanya.


"Gimana kabar kakek?.. "Tanya Reyna duduk di pangkuan Pak Ridwan.


"Allhamdullilah, kakek baik sayang. Reyna ngapain saja di Jerman?Sekolah kan.." tanya balik Pak Ridwan.


"Gak ngapa-ngapain kek. Kalau sekolah, ya Reyna sekolah dong kek. Kakek tahu gak, Reyna menjadi murid terunggul di sekolah, dan Reyna juga mendapatkan peringkat selalu nomor 1 di sekolah, dan di tempat bela diri juga.."Jawab Reyna antusias.


"Reyna belajar bela diri juga.." Tanya Pak Ridwan sedikit terkejut.


"Iya pak, Reyna belajar bela diri di sana. Hanya untuk menjaga diri saja. Kita kan tidak tahu, kapan bahaya akan datang pada kita. Maka dari itu aku memutuskan Reyna untuk belajar bela diri."sahut Riana mengusap rambut anaknya.


"Kamu benar Rian, bapak sangat setuju itu. Tapi apa kamu juga bisa belajar bela diri.."


"Kalau bunda mah tidak usah di tanyakan lagi kek. Semua ilmu bela diri sudah bunda pelajari dan bunda kuasai semuanya. Dari Taekwondo, Karate, Muay Thai, Aikido, Kung Fu, Jiu-Jitsu, Juda dan mungkin masih banyak lagi yang bunda kuasai, sedangkan Reyha hanya itu saja soal kehebatan bunda dalam dunia seni.." Kali ini Reyna yang menyahuti ucapan kakeknya.


"Apa benar begitu Rian.." tanya Pak Ridwan.


"Iya pak." jawab Riana sedikit malu karena sudah mempelajari kekuasaan laki-laki.


"Hebat sekali anak sama cucu kakek ini, kakek bangga pada kalian berdua." ucap pak Ridwan tersenyum.


Pukul 10 malam pak Ridwan memutuskan untuk pulang dari sana. Sebenarnya pak Ridwan masih betah, hanya saja waktunya tidak memungkinkan untuk tetap di sana. Dan Reyna sempat menahan kepulangan kakeknya, karena ia masih rindu pada kakeknya itu. Mengingat waktu sudah malam, akhirnya Reyna pasrah dan membiarkan pak Ridwan pulang dari sana.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2