Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 124


__ADS_3

"Non Riana, emak ucapkan terima kasih banyak atas bantuan Non selama ini pada keluarga emak. Tanpa Non, kami bukan apa-apa..Terima kasih juga atas bantuan pengobatan yang selama ini Non lakukan pada ibu, terutama pada bapaknya Nila. Jujur Non, emak pasrah dengan keadaan. Karena tahu sendiri, di sini susah untuk mencari pekerjaan. Jangankan untuk berobat bapak, untuk makan sehari-hari saja kadang ada, kadang tidak ada. Tapi setelah Nila bekerja pada Non, kehidupan kami ada banyak berubah. Terima kasih untuk bantuannya Non, emak sangat bersyukur bisa di pertemukan dengan orang sebaik Non Riana." Ucap Ibu Naimah.


"Panggil saya Riana saja mak,. Emak tidak perlu berterima kasih pada saya. Justru saya yang harusnya terima kasih pada anak emak, tanpa bantuan dari anak emak, anak saya tidak mungkin sepintar ini dan sehebat ini. Saya juga sangat senang bisa di pertemukan dengan orang-orang sebaik kalian..


"Tidak hanya itu saja, bahkan Nak Riana juga mengirimi kami uang di setiap bulannya untuk pengobatan bapak. Terima kasih nak Riana, tanpa nak Riana, bapak tidak mungkin seperti sekarang ini.."sahut pak Marjo.


"Sama-sama pak, saya ikhlas membantu bapak dan emak..


"Tunggu-tunggu, tadi aku denger kalau bapak bilang kak Riana mengirimi kalian uang setiap bulannya. " sahut Nila, ia tidak tahu apa saja yang di lakukan Riana pada keluarga sambungnya.


"Benar Nila. Nak Riana mengirimi kami uang sebanyak 20 juta di setiap bulannya.." jawab Pak Marjo sedikit bingung dengan pertanyaannya.


"Beneran kak.." Tanya Nila, memastikan.


"Seharusnya bapak tidak mengatakan soal ini pada Nila, dia pasti marah sama saya.." sahut Riana.


"Beneran kak.."- Tanya Nilla ulang.


"Iya Nila, kakak memang mengirimi uang untuk orang tua kami. Tidak banyak juga kok, cuma tambah-tambah untuk pengobatannya saja.."Jawab Riana.


"Kenapa kak Riana melakukan itu? Kan aku sudah mengirimi mereka dengan uang gajiku. Itu saja sudah lebih dari cukup kak, kenapa kakak malah tambahin.."Sahut Nilla tidak terima, bukan karena marah, tapi malu karena terlalu banyak yang Riana lakukan pada keluarganya.


"Uang gaji kamu selama ini utuh Nilla, kakak simpan. Kakak juga tidak mengirimkan orang tua kamu dengan menggunakan uang hasil kerja kerasmu...


"Kenapa kak..


"Sayang, mending uangnya kamu tabung untuk masa depan kamu." jawab Riana.


"Dan kartu ini adalah milik kamu. Di dalamnya ada uang hasil kerja kerasmu selama 4 tahun belakangan ini Nila. Dan pin'nya adalah tanggal lahir kamu.." Riana meletakan kartu ATM dan buku tabungannya di karpet, karena mereka saat ini duduk hanya beralaskan karpet tipis.


Nilla mengambil ATM dan tabungannya dengan tangan sedikit bergetar. Perlahan Nila membuka buku tabungan itu dan melihat total tabungannya selama 4 tahun belakangan ini.


Nilla tercengang melihat nol yang tidak sedikit di sana.

__ADS_1


"1 Milyar 500 ju-juta. " Ucapnya terbata, begitupun juga dengan kedua orang tuanya yang terkejut.


"Tidak. Maaf kak, aku tidak bisa menerima nya.." Ucap Nila mengembalikan kartu tersebut pada Riana.


"Loh, kenapa.." Tanya Riana bingung.


"Ini sangat banyak, dan lagi pula jika gaji aku di total semuanya, tidak akan sebanyak itu. Kakak simpan lagi saja uangnya, aku tidak mau." Tolak Nila merasa tidak pantas menerima uang sebanyak itu.


"Emang gaji kamu segini Nila. Ini juga belum termasuk gaji 2 bulan belakangan ini. Ambil saja, kakak tidak berhak mengambil uang itu, karena uang itu adalah milik kamu." Riana kembali menyedorkan kartu dan buku tabungan itu hadapan Nila.


"Ambil saja kak, nanti bunda sedih loh.." sahut Reyna yang sedari tadi diam saja.


"Tapi Reyna sayang..


"Kalau kak Nila gak terima uang itu, gak masalah, ambil lagi saja bund uangnya.."Sahut Reyna.


"Reyna kok bicara seperti itu sayang? Ini kan uang kak Nila." sahut Riana.


"Tapi jangan salahkan Reyna, jika Reyna tidak ingin bertemu dan berbicara lagi pada kak Nila.." ancam anak kecil itu, karena Reyna yakin Nilla akan menerima uang tersebut..


"Andra mau pulang gak sayang? Nenek anterin ya, mamah kamu nanyain Andra mulu.." Ucap Ibu Erin


"Gak mau nek, Andra pengen tinggal di sini saja sama kakek." tolak Andra.


"Iya, Andra akan tinggal di sini kok. Sekarang Andra lanjut belajar lagi ya sama sus Ima, kakek mau bicara dulu dengan nenek.." sahut pak Ridwan tersenyum.


'Waduuhh,,pasti bapak marah lagi ini mah. Seharusnya aku tidak menuruti ucapan Riska,.." batin ibu Erin takut melihat wajah suaminya yang sangar setelah mendengar nama menantunya.


"Iya kek, tapi jangan lama-lama ya. Andra mau istirahat, tapi di temani sama kakek..


"Iya sayang, hanya sebentar kok. Ima, tolong jagain Andra ya.


"Iya Tuan..

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, pak Ridwan langsung pergi dari hadapan Andra, dan melewati ibu Erin begitu saja tanpa mengajaknya.


Ibu Erin Tak bisa berkata apa-apa selain mengikuti suaminya dari belakang.


"Kenapa kamu berkata seperti itu pada Andra? Kamu gak suka Andra tinggal di sini.." Tanya Pak Ridwan.


"Bukan begitu pak, ibu juga seneng Andra tinggal di sini bersama kita. Hanya saja Riska dari tadi mengirimi ibu pesan mulu. Katanya dia kangen sama Andra, makannya Ibu mengajak Andra pulang karena itu perintah darinya.." jawab ibu Erin jujur.


"Kenapa tidak menantu ibu saja yang di suruh ke sini?Kenapa mesti repot-repot menyuruh ibu segala? Tidak punya sopan santun sakali dia sebagai menantu.."Ucap Pak Ridwan.


"Sebenarnya Riska pengen ke sini pak, mau jemput Andra. Tapi katanya dia gak enak badan, makannya Riska menyuruh ibu mengantarkan Andra ke sana.." jawab ibu Erin.


"Lalu, ibu percaya saja."


"Ya gimana lagi pak, emang saat ini wajah Riksa terlihat pucat. Mungkin akibat bekas tamparan perempuan sialan itu, eh maksudnya mantan menantu kita. " ucap ibu Erin buru-buru membenarkan ucapanya sebelum sang suami murka.


"Dia pantas mendapatkannya, bahkan lebih dari itu..


"Kenapa bapak membela wanita itu? Jelas-jelas wanita itu bukan siapa-siapa lagi di keluarga kita pak. Seharusnya bapak membela Riska, karena Riska adalah menantu kita.."Ucap ibu Erin kesal..


"Bapak tidak membela siapa-siapa di sini, tapi bapak membela kebenaran. Jangan mentang-mentang Riska menantu kita ibu jadi membela yang salah..


"Jadi maksud bapak..


"Ibu belum membuka ponsel juga.."


"Ponsel lagi, ponsel lagi. Sebenarnya ada apa sih di dalam ponsel itu.."


"Jadi ibu belum membukanya..


Ibu Erin menggelengkan kepala.


"Pantas saja. Tapi bapak rasa, percuma juga ibu lihat video viral itu. Karena pada akhirnya ibu akan selalu menyalahkan Rian." ujar pak Ridwan meninggalkan ibu Erin dalam kebingungan.

__ADS_1


"Video viral? Menyalahkan perempuan sialan itu? Apa maksudnya.." ucapnya bingung.


Bersambung..


__ADS_2