Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 46


__ADS_3

Suara keributan itu mengundang semua perhatian semua orang di dalam sana, termasuk hakim.


"Kalau kalian mau ribut, jangan ribut di sini. Ini pengadilan Agama, bukan tempat orang berkelahi.."sahut Hakim.


"Siapa kau berani memerintahkanku.."sahut Tuan Allex.


"Ahh tidak Tuan Allex. Saya berkata pada laki-laki itu, bukan kepada anda. Saya minta maaf.."ujar Hakim.


"sudah kek, lebih baik kita keluar dari sini." bisik Riana.


"Pak, kita bicarakan ini di luar saja ."lanjut Riana pada mantan bapak mertuanya.


Mereka langsung pergi dari sana meninggalkan Andre beserta istri barunya yang tengah di landa kekesalan.


'Kurang ajar sekali pak Tua itu. Membentak anak sendiri demi membela perempuan sialan itu. Benar-benar tidak bisa di biarkan..'batin Riska menggeram emosi.


"Kalian juga pergi dari sini, mengganggu saja.."- sahut Hakim.


Andre dan istrinya langsung pergi tanpa meninggalkan sepatah katapun.


"Kemana mereka pergi mas.." tanya Riska.


"Sepertiny mereka ke cafe itu ." jawab Andre.


"Apa kita perlu ke sana.."Tanya Riska.


"Ngapain kita ke sana? Kaya tidak punya pekerjaan lain saja. Dengerin mereka bicara dan marah tidak jelas membuat mas malas. Lebih baik kita rayakan kemenangan kita sayang.." Ujar Andre.


"Betul itu mas. Bagaimana kalau kita ke mall saja? Kita shooping, setelah itu kita makan-makan. Gimana.." Ujar Riska dengan mata berbinar.


"Setuju. Ayo kita pergi.."Jawab Andre.


Kalau mereka sedang bersenang-senang, beda halnya dengan di dalam cafe sana.


Sememenjak keluar dari gedung Pengadilan Agama, pak Ridwan tidak henti-hentinya mengucapkan kata maaf pada Riana. Padahal Riana tidak mempermasalahkan hal itu lagi, yang penting baginya Reyna aman tinggal bersamanya.


"Sudah pak, aku tidak apa-apa. Mungkin sudah jalan takdir aku seperti ini. Aku ikhlas kok, sekarang bapak yang tenang, ini minum dulu.. "Meski sudah tidak ada ikatan mertua dan menantu, tapi tetap saja Riana memperlakukan mantan mertuanya dengan baik dan penuh perhatian.


"Riana, apa dia mertuamu.." sahut Tuan Allex penasaran dengan laki-laki yang memperlakukan cucunya dengan sayang.


"Oh ya, aku lupa memperkenalkan kalian. Kek, kenalakan ini bapak Ridwan ,Mertuaku. Dan bapak. kenalkan ini Kakek Allex, kakekku.."Jawab Riana dengan jelas.

__ADS_1


"Kakekmu? Maksudmu Tuan Allex ini adalah kakei angkatmu, seperti itu.." tanya pak Ridwan bingung.


"Bukan. Saya orang tua dari mendiang ayah kandung dari Riana, Juandra Sallex Robert."jawab Tuan Allex...


"Apa.." Pak Ridwan terkejut.


"Ja-jadi Riana termasuk ke-kelu.." Ucapnya terpotong.


"Keluarga Sallex. Pemimpin Perusahaan Sellex Group." sahut Tuan Allex.


Setelah itu Tuan Allex menjelaskan hubungannya dengan Riana dan Reyna. Sampai pada akhirnya pak Ridwan mengatakan keinginannya.


"Rian, bapak ingin bertemu dengan Reyna. Sudah lama sekali bapak tidak bertemu dengan cucuku, bapak sangat merindukannya. Apa boleh bapak bertemu dengannya..." tanya pak Ridwan penuh harap.


"Gimana kek. " tanya Riana.


"Izinkan saja, lagi pula ini terakhir kalinya mereka bertemu ." jawab Tuan Allex.


"Terakhir? Maksudnya apa Tuan Allex.." tanya pak Ridwan dengan hati berdebar-debar tidak menentu.


"Aku memutuskan untuk ikut kakek ke kota kelahiran ayah, pak.." jawab Riana.


"Maksudmu ke Jerman.." tanya Pak Ridwan dengan raut wajah terkejut.


"Kenapa kamu mesti ikut ke sana Rian? Kenapa tidak tinggal di sini saja sama bapak dan Reyna.." Tanyanya tidak setuju.


"Ingat pak, kalian sudah tidak ada kaitan kekeluargaan lagi, hanya sebantas mantan menantu dan mantan mertua. Sedangkan dengan saya, kami mempunyai ikatan darah yang kuat,, jadi saya berhak membawa mereka ke tempat aslinya. Yang menguatkan kalian di sini adalah Reyna. Dan Reyna tidak pantas untuk tinggal di sini lagi." sahut Tuan Allex


"Baiklah, kalian boleh pergi. Tapi Rian, bapak harap kamu tidak melupakan bapak. Meski kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, tapi bapak sudah menganggapmu seperti anak bapak sendiri.."pak Ridwan menitikan air mata.


"Bapak tenang saja, suatu saat aku juga pasti akan kembali untuk menjenguk kedua orang tuaku di sini. Dan aku berharap, aku bisa melihat bapak lagi saat itu.." Ujar Riana mengusap punggung tangan kriput mertuanya.


"Baiklah, lebih baik kita pulang sekarang. Reyna pasti sudah menunggu kedatangan kita.." sahut Tuan Allex..


Lalu mereka pergi dari sana, tapi sebelum itu Riana terlebih dahulu membayar minuman yang di pesannya menggunakan kartu blackcard pemberian dari kakeknya.


"Mas, aku pengen yang itu.." Riska menunduk salah satu tas brended berwarna merah.


'Waduh, pasti itu harganya mahal.'batin Andre.


"Mas Andre denger aku bicara gak sih.." Riska cemberut.

__ADS_1


"Denger kok sayang. Ya sudah kamu ambiil saja, tapi ingat hanya boleh 1 soalnya uang mas udah menipis.." Jawab Andre.


Bagaimana tidak menipis, toh barang belanjaan yang di tenteng Andre bukan hanya satu. Tapi lima paperbag sekaligus dengan isi yang berbeda-beda serta dengan harga di atas 1 juta.


"Ok mas'ku. Kamu memang suami yang sangat baik dan sangat perhatian. Aku ambil tassnya dulu kalau begitu.."Riska kegirangan bisa mendapatkan tas yang di inginkannya..


"Tunggu dulu.." Ucapan Andre berhasil menghentikan langkah Riska.


"Kenapa mas.." tanya Riska bingung.


'Jangan-jangan mas Andre ingin membatalkannyam."batin Riska.


"Kamu boleh mengambil tas yang kamu mau, tapi setelah itu kamu harus menggantikan uang yang sudah mas keluarkan hari ini.."jawab Andre dengan wajah mesumnya.


"Menggantikan? Maksudnya mas, aku harus gantiin uang mas yang mass keluarkan hari ini dengan uang aku. Gitu?.."Riska kesal. Sudah seneng-senengny, eh malah di jatuhkan begitu saja.


"Jangan keras-keras sayang, orang-orang pada lihatin kita itu ." Ucap Andre.


Riska langsung melihat sekitarnya dan Ya, beberapa pengunjung tengah menatapnya, ada pula yang membicarakannya.


"Cowoknya perhitungan banget.."bisik perempuan yang seumuran dengan Riska.


"Itu mah bukan perhitungan lagi, tali cowok pelit." jawab temannya.


"Hi hi hi, jangan berisik. Mereka lihatin kita ituh..


"Abisnya kamu bikin aku kesel sih .", Ujar Riska memanyunkan bibirnya.


"Kalau gak mau beliin, gak apa-apa. Tapi jangan mempermalukan aku dong mas..",lanjut Riska menatap tajam suaminya.


"Siapa yang mempermalukan kamu sayang? Siapa juga yang gak mau beliin kamu tas? Kamu jangan salah paham dulu dong, maksud mas tuh gak kaya gitu.." Ucap Andre lembut.


"Terus maksud mas apa ngomong kaya gitu.." tanya Riska dengan wajah ngambeknya.


"Maksud mas, kamu jangan membayarnya dengan uang kamu. Tapi dengan ini sayang..."Andre melihat gunung kembar Riska dengan ekor matanya.


"Itu.."tanya Riska dengan mata bulat.


Andre menganggukan kepala dengan senyum jahilnya.


'Kenapa tidak bilang dari tadi sih, tau gitu kan tinggal aku Iyain saja. Buang-buang waktu, bikin malu saja..."batin Riska.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2