
'Bunda, ayah. Aku sangat merindukan kalian, maafkan aku karena sudah lama sekali tidak mengunjungi kalian. Tapi kalian tenang saja, setelah semua ini selesai, aku berjanji akan menetap di kota ini lagi bersama kalian.."batin Riana.
"Apa yang anda fikirkan Nona Riana.."Tanya Trisstan melihat Riana tengah memandangi kota kelahiran beliau dari jendela pesawat.
"Saya hanya tidak sabar ingin segera mengunjungi makan kedua orang tua saya Trisstan."Jawab Riana menoleh sebentar, lalu kembali lagi pada sport yang di lihatnya.
"Tinggal sebentar lagi pesawat kita mendarat Nona, lebih baik anda istirahat saja dulu. Saya lihat dari pertama mulai penerbangan sampai lebih dari pertengahan jalan, anda belum istirahat sampai sekarang..."Ucap Trisstan sangat perhatian.
"Terima kasih atas perhatiannya, tapi saya tidak bisa istirahat.." Jawab Riana menatap mata sekretarisnya.
Trisstan yang di tatap malah memalingkan wajahnaya karena merasa tidak sanggup bertatapan dengan mata bening milik Nona'nya.
Bukan karena tidak sanggup, hanya saja jantungnya berdetak dengan sangat kencang bila saling bertatap mata seperti itu.
"Ck ck, selalu saja seperti itu.."Riana terkekeh di buatnya. Bukan hanya sekali dua kali Trisstan seperti itu, mungkin sudah ratusan kali atau mungkin sudah tidak terhitung lagi.
Entah kenapa, Riana sendiri tidak tahu penyebab sekretarisnya bisa seperti itu.
Ya, Riana orangnya tidak terlalu peka terhadap perasaan orang di sekitarnya. Karena menurutnya, semua orang itu sama. Lagi pula, beliau belum terfikirkan soal itu, karena masih betah dengan statusnya yang sekarang.
"Kenapa sih setiap saya tatap mata kamu, kamu selalu menghindar gitu? Apa mata saya semenakutkan atau wajah saya seserem itu sehingga kamu sendiri enggan menatap mata dan wajah saya..."Tanya Riana melihat lawan bicaranya seperti orang gugup.
"Bukan seperti itu Nona.." Batah Trisstan memikirkan alasan yang tempat untuk di berikan pada wanita yang sudah menarik hatinya.
"Lalu seperti apa Trisstan.." Tanya Riana masih dengan posisi yang sama.
"Itu...".
"Permisi Nona Riana, Sekretaris Trisstan.."Sahut Pramugari memotong ucapan Sekretaris Trisstan.
'Hufftt, akhirnya aku tidak perlu menjawab pertanyaan Nona Riana.."batin Trisstan bernafas lega.
Sedangkan Riana geleng-geleng kepala melihat tingkah sekretarisnya. Tentu itu bukan hal aneh lagi baginya, karena hal itu juga sering terjadi saat Riana menanyakan hal tersebut.
"Kenapa.." Tanya Riana pada Pramugari tersebut.
"Saya hanya ingin memberitahukan pada anda, bahwa pesawat kita sebentar lagi akan mendarat di kediaman Sallex, Nona.." Jawabnya sopan.
"Baiklah, terima kasih Nona.." Ujar Riana ramah.
"Sama-sama Nona, saya permisi.." Ujarnya membungkuk hormat, lalu pergi dari sana.
__ADS_1
"Masih menghindari Wartawan.." Tanya Trisstan.
"Sudah pasti anda tahu jawabannya bukan.." Jawab Riana sekilas menoleh.
"Saya memang tahu, tapi kenapa harus selama ini,?, Bukankah semua orang berhak tahu kalau anda pemimpin perusahaan Sallex Group dan pewaris sah kekayaan keluarga Sallex? Saya rasa , anda sudah cukup menyembunyikan diri anda Nona.." Ucap Trisstan.
"Belum saatnya mereka mengetahui kebenaran tentang saya, Triss. Biarkan waktu yang menentukan, lagi pula ini tidak akan terbongkar terlebih dahulu sebelum saya memberi pelajaran pada orang-orang yang sudah menyakiti saya dan Reyna.."Jawab Riana.
Tanpa terasa, satu tetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.
Selama itu beliau berusaha melupakan kejadian-kejadian yang menimpanya dulu, namun selama itu pula Riana merasa tersiksa karena terus memaksakan diri untuk melupakannya.
"Saya minta maaf Nona.." Trisstan menyesal karena sudah membuat Riana menangis dengan pertanyaannya.
'Aku akan memberimu pelajaran karena sudah berani-beraninya membuat wanita ini terluka, dasar pria Brengseek.."batin Trisstan, menggempalkan tangannya kuat.
Hufftttt.,, Riana menarik nafas panjang sebelum menjawab ucapan sekretarisnya.
"Tidak apa-apa, saya baik-baik saja." Jawab Riana menghapus sisa air matanya.
"Kalau begitu, saya akan membangunkan Reyna dan Nilla terlebih dahulu.." Lanjut Riana bangun dari tempat duduknya, lalu melangkah ke bagian belakang pesawat.
'Semoga aku bisa.."batin Riana menguatkan diri.
"Reyna, bangun sayang. Sebentar lagi pesawat kita akan turun.."Ujar Riana membangunkan sang putri.
"Emmhh..."Lenguh Reyna saat tidurnya merasa terganggu.
"Emmhh,, kenapa kak? Apa pesawatnya sebentar lagi mendarat.." Tanya Nilla serak, ia langsung terbangun begitu mendengar suara majikannya.
"Ya, kamu cuci muka aja dulu setelah itu siap-siap. Kalau urusan Reyna, biar aku saja yang membangunkannya..." Jawab Riana.
"Iya kak.." Jawabnya terbangun, dan memasuki kamar kecil.
"Reyna.." Riana mengusap pipi chuby anaknya.
Hanya lenguhan seperti tadi yang ia dapat, namun Riana tidak melihat tanda-tanda bahwa anak semata wayangnya akan bangun.
"Putri bunda yang cantik, bangun dong. Sebentar lagi kita sampai sayang.." Bisik Riana, namun Reyna sama sekali tidak terusik.
"Huff, biarkan saja lah Reyna tidur. Lagi pula, pesawat ini mendaratnya di rumahku.." Ucap Riana mengusap rambut halus anaknya.
__ADS_1
"Reyna belum bangun kak.." Tanya Nilla setelah keluar dari kamar kecil.
"Belum.."Jawab Riana singkat.
"Biar aku yang membangunkan Reyna, kak.." Ucapnya, namun langsung di cegah oleh majikannya.
"Jangan... Jangan mengganggunya, biarkan saja ia tidur. Sepertinya kasur ini sudah berhasil membuat tidur Reyna nyenyak. Lihatlah, Reyna tidur sambil tersenyum. Padahal jarang sekali ia tidur seperti ini.." Ucap Riana tersenyum melihatnya.
"Kakak benar, mungkin kasur ini terasa berbeda dari kasurnya makannya Reyna seperti itu. Pulas sekali kamu cantik,.." Ujar Nilla mengusap pipi anak asuhnya.
"Kamu kalau mau lihat-lihat, keluar saja. Biar aku yang menjaga putri tidur ini..."Ujar Riana.
"Ok kak, sepertinya pemandangannya bagus.." Ujarnya..
"Ya sudah sana, sebelum pesawatnya landas.."Ucap Riana.
"He he he, aku keluar sekarang kak.."Ia membuka pintu meninggalkan Reyna dan majikannya yang terkekeh dengan tingkahnya sendiri.
'Ada kak Tan, sedang apa dia di sana?.."batin Nilla, Tan adalah Trisstan. Itulah panggilan khusus di buatnya.
'Apa aku ke sana saja ya,? tapi mau bicara apa, rasanya malu sekali.."batinnya ragu untuk mendekat.
Ya, Nilla menyimpan rasa pada sekretaris majikannya dari awal mereka bertemu, sekitaran 3 tahun yang lalu.
Selama itu pula, Nilla memendam rasa. Namun Nilla tidak tahu, kalau orang yang di sukainya itu menyukai wanita lain. Atau lebih tepatnya, wanita itu adalah majikannya.
"Kak Tan sedang apa.." Tanya Nilla.
Akhirnya setelah memberanikan diri, Nilla langsung menghadap pria tampan penuh kerismatik itu.
Ya, usia mereka hanya terpaut 2 tahun lebih tua dari Trisstan. Maka dari itu, Nilla memanggil Sekretaris Majikannya dengan sebutan kakak.
"Ehh, Nilla. Saya lagi lihatin pemandangan luar." Jawab Trisstan menampilkan senyum manis yang membuat Nilla langsung di mabuk kepayang.
"Apa indah kak.." Nilla mencoba mendekatkan diri.
"Sangat, kota ini sangat indah.."Jawabnya ramah..
Setelah itu, mereka melanjutkan obrolannya sampai Pesawat Jett itu mendarat dengan sempurna di landasannya.
Bersambung..
__ADS_1