Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 95


__ADS_3

"Ri-Riana.." ucap Wanita paruh baya itu terbata...


"Ibu.." ujar Riana sama terkejutnya, ia tidak menyangka jika bertemu dengan orang yang dulu pernah memperlakukannya dengan kasar secepat itu.


Ya, wanita itu adalah mantan mertua Riana, ibu Erin.


"Nona, apa anda tidak apa-apa.." tanya pengawal.


"Tidak pak, terima kasih.."Jawab Riana tenang.


'Benar, wanita ini adalah Riana, perempuan sialan yang dulu pernah hidup di tengah-tengah keluargaku. Tapi sedang dia di sini.? Setelah sekian lama tidak bertemu, penampilannya banyak berubah. "batin ibu Erin menampilkan wajah juteknya..


'Tapi tetap saja kampungan.."batin ibu Erin menatap Riana dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan sinis.


Wajar jika ibu Erin berkata demikian, karena Riana saat ini hanya menggunakan pakaian biasa yang sering ia gunakan di dalam rumah.


Tapi walaupun begitu, tidak menutupi wajah cantik dan tubuhnya bak Gitar Spanyol itu.


"Apa kabar ibu Erin.." Ucap Riana berbasa-basa.


"Seperti yang kau lihat, kabar saya selalu baik, perempuan sialan.." jawab ibu Erin menatap tajam.


"Sepertinya ibu Erin masih ingat dengan julukan saya dulu.?Sungguh ingatan yang bagus.." ucap Riana tenang..


"Tentu, saya tidak akan pernah melupakan julukan itu sampai matipun.." ujarnya berkacak pinggang.


Riana terkekeh mendengarnya.


"Kenapa? Ada yang lucu? Dasar perempuan tidak jelas..


"Tenang ibu Erin, santai saja.."ucap Riana.


"Setelah sekian lama kau menghilang dari muka bumi ini, dan sekarang kau datang lagi. Untuk apa? Mau balas dendam pada keluargaku? Tidak akan, kau tidak akan bisa menghancurkan kebahagiaan keluarga kami perempuan sialan. Kami sudah sangat bahagia karena mendapatkan seorang keturunan yang kami harapkan dari menantu kesayangku. Tidak seperti kau, minta keturunan laki-laki tapi malah yang di lahirkan anak perempuan itu."bentaknya.


"Saya turut bahagia jika anda mendapatkan keturunan yang di inginkan, Ibu Erin. Tapi ingat ibu Erin, semua itu takdir."ujar Riana.


"Nona, sepertinya kita harus pergi sekarang.."bisik salah satu anak buahnya.


Riana menganggukan kepala pelan.

__ADS_1


"Ibu Erin, saya harus pamit Karena ada pekerjaan yang harus saya selesaikan sekarang juga."Ucap Riana.


"Pekerjaan apa? Pekerjaan jual diri, iya?." sahut Ibu Erin.


"Jual diri? Apa yang anda maksud ibu Erin.." tanya Riana tidak paham.


"Kau selama ini bekerja sebagai pemuas nafsu hidung belang bukan? Makannya kau banyak berubah, kau juga membayar orang-orang ini dengan uang hasil jual dirimu kan? Dulu sok alim, tapi nyatanya hanya seorang ******.."Jawab ibu Erin.


"Jaga mulut anda, atau saya .."


"Sudah pak, biarkan saja ibu ini berkata semaunya." sahut Riana menghalangi anak buahnya yang ingin menyerang mantan mertuanya.


"Tapi saya tidak terima jika ibu ini mengatakan yang tidak-tidak soal Nona.." ucapnya.


"Gak apa-apa pak, saya baik-baik saja.." ucap Riana menenangkan..


"Di bayar berapa kalian sama perempuan sialan ini sampai kalian takluk padanya hah? Satu juta, dua juta, tiga juta atau."Ucap Ibu Erin terhenti.


"100 juta." sahutnya.


"Ha ha ha, 100 juta kau bilang? Ha ha ha ha, 500 ribu atau mungkin saja 50 ribu. Kalian pikir saya percaya dengan kata-kata kalian begitu saja gitu? Tentu tidak, jelas-jelas saya tahu kalian melindungi perempuan sialan ini kan, biar dia tidak malu di depan semua orang. Dasar perempuan murahan, ******, perempuan sialan. Jangan-jangan , kau membayar mereka dengan tubuh kau juga kan.." sahutnya tanpa perasaraan.


Ibu Erin membulatkan mata melihat songsong senjata tajam itu tepat di depan mulutnya.


"Turunkan senjata anda pak, lebih baik kita pergi sekarang karena masih ada urusan yang lebih penting dari ini.." Sahut Riana tegas, ia paling tidak suka dengan namanya kekerasan.


"Saya peringatkan sekali lagi, tolong jaga mulut anda jika berhadapan dengan Nona kami.." Ucapnya menurunkan senjata itu, dan memasukannya ke dalam kantong jas.


'Brengsek.."batin ibu Erin dengan nafas memburu. Ia merasa terhina dengan perlakuan orang-orang mantan menantunya.


"Awas kau perempuan sialan, saya akan membalas penghinaan ini.." ucap ibu Erin menatap kepergian Riana dengan mata tajamnya.


"Tolong pergi dari sini Nyonya, anda sangat mengganggu ketenangan Nona Kecil kami.."ucap penjaga yang menjaga pintu ruang VVIP.


"Tanpa kalian suruhpun saya akan pergi, emang kalian pikir saya betah berhadapan dengan kalian atau ****** itu, tentu tidak. Saya malah jijik dengan kalian semua." ujar Ibu Erin memberanikan diri berkata seperti itu. Tapi dalam lubuk hatinya, ia merasa sangat takut melihat wajah mereka yang menyeramkan. Apa lagi kejadian barusan yang membuat ibu Ida syok setengah mati.


"Saya pastikan anda akan menyesal karena sudah berkata yang tidak-tidak soal Nona kami, Nyonya.." ucapnya.


"Cihh.."Nyonya Rianty berdecih, lalu meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


"Tua-tua keladi, makin tua makin jadi. Bukannya ingat umur, malah tidak bener.."ucap penjaga melihat kepergian wanita baya pembuat rusuh.


'Mereka bilang Nona Kecil? Siapa Nona Kecil mereka? Apa anak sialan itu yang sakit? Tapi rasanya tidak mungkin, palingan mereka sedang menjaga anak majikan yang sesungguhnya. Gayanya seperti orang pengusaha sukses saja, tapi nyatanya hanya pengasuh anak dari pelanggannya...Dasar perempuan halu.."batin ibu Erin.


Mobil..


"Kita ke mansion dulu pak, tolong lebih cepat ya pak.." ucap Riana pada supir.


Awalnya Riana ingin mengemudikan mobilnya sendiri karena mengingat waktu yang sempit. Tapi sepertinya moodnya berubah setelah bertemu dengan mantan mertuanya..


"Baik Nona.." ucapnya.


'Hufffft, ternyata ibu tidak berubah, masih sama seperti dulu. Apa ibu tidak ingat dengan anakku, cucunya juga? Sepertinya tidak, ibu malah tidak menanyakan keberadaan Reyna. Tapi ya sudahlah, biarkan saja ibu mau apa, itu hak nya. Tapi ibu sedang apa di rumah sakit? Apa bapak sakit. "batin Riana bertanya-tanya, pasalnya ia juga merindukan mantan mertuanya itu.


"Kita sudah sampai Nona. " ucap supir.


"Ah ya, terima kasih pak." ujar Riana tersadar dari lamunannya.


Riana keluar dari mobil setelah penjaga mansion membukan pintu untuknya, masuk, membersihkan diri dan menggunakan pakaian formalnya.


Lapak..


"Pak, minta berasnya 2 karung ya, sama telor 2 kg. Tapi tolong di antar ke rumah ya pak Ridwan, hari ini saya tidak bawa kendaraan.." ucap pembeli.


"Iya buk, nanti pegawai saya anterin ke rumah ibu. Dan ini totalnya. " ucap pak Ridwan melayani pembelinya dengan ramah tamah..


"Ini pak, uangnya.." ucap ibu itu menyedorkan uang pecahan 100 ribu 6 lembar..


"Sebentar ya bu, saya ambilkan kembaliannya dulu..


"Iya pak.. Em, pak Ridwan emangnya gak ke rumah sakit? Saya denger-denger, cucu pak Ridwan masuk rumah sakit.." tanya ibu itu. Tetangga pak Ridwan, dan ia tahu soal itu dari ibu Erin.


"Sore ini rencananya saya akan menjenguknya.."jawab pak Ridwan.


"Pak Ridwan sepertinya tidak terlalu sayang pada Andra, padahal Andra cucu pak Ridwan satu-satunya loh. Biasanya kan kalau cucu pertama paling di sayang, apa lagi cucunya laki-laki.." ucapnya..


'Cucuku tidak hanya satu, tapi dua. Di mana kamu sekarang Reyna, kakek merindukan kalian.."batin pak Ridwan.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2