Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 22


__ADS_3

"Mas maafkan aku.." ucap Riska hendak memeluk Andre,. Langsung Andre tepis.


"Kenapa kau melakukan itu Riska.." bentak Andre.


"Aku melakukan itu karna aku merasa iri sama mbak Riana.." jawab Riska jujur.


"Iri.." ucap ulang Andre.


"Apa maksudmu.." tanya Andre tidak mengerti.


"Aku iri karna mbak Riana punya kamar lebih besar dari kamarku, mas juga menjatah mbak Riana lebih besarkan dari pada jatah bulanan ku.." ucap Riska mengeluarkan unek-uneknya.


...Plaaakk......


Satu tamparan keras lagi mendarat di pipi Riska.


"Kenapa mas menanparku lagi.." Bentak Riska memegang pipinya.


"Kau berhak mendapatkan tamparan itu semua. Asal kau tahu, yang di bilang Riana itu benar kalau rumah ini adalah rumahnya sendiri, sedangkan aku hanya punya perabotannya di sini. Jadi wajar saja kalau Riana punya kamar lebih besar dari kamar mu. Soal uang bulanan, apa kau tau Ris, mas menjatah Riana lebih kecil dari pada jatah yang mas kasih ke kamu. Seharusnya mas menjatah Riana lebih besar dari kamu, karna apa? Karna Riana lebih banyak pengeluaran di bandingkan denganmu. Tapi karna mas mencintai kamu dan menyayangi calon anak laki-laki kita mas mengorbankan hak Riana pada kamu semua, apa itu kurang Ris bagi kamu.." ucap Andre panjang lebar.


"Jadi benar rumah ini punya mbak Riana.." Tanya Riska memastikan.


"Ya, memang kenapa.." tanya baliknya.


"Ti-idak.." jawab Riska terbata.


'Sialan, Aku akan merebut rumah ini jadi milikku apapun caranya.' batin Riska tak tahu malu.


"Ma-afkan aku mas,,," ucp Riska memeluk erat suaminya.


"Mas kecewa sama kamu.." ujar Andre melepaskan pelukan Riska, lalu ke luar dari kamarnya.


"Mas..."panggil Riska.


Namun Andre tak menghiraukan teriakan istri mudanya itu, pikirannya tertuju pada istri pertamanya yang ia sakiti tanpa salah.


'Ini semua gara-gara wanita sialan itu, aku akan melakukan segala cara untuk menyingkirkanmu dari mas Andre dan memiliki mas Andre seutuhnya..' Batin Riska menatap punggung Andre.


Dari kejauhan, Andre melihat anak istrinya tengah makan di meja makan di iringi dengan canda gurau.


"Riana..'." panggil Andre mendekati meja makan.


"Ya,, " jawab Riana tanpa menoleh.


"Maafkan mas.." ucapnya tulus.


"Ya.." jawabnya singkat.


"Mas serius Riana.." ucap Andre kesal merasa di acuhkan.


"Reyna, apa mau sekarang makan pudingnya.." tanya Riana pada Reyna, mengacuhkan suaminya.


"Ya unda, Eyna dah dak sabal ngen makan uding (Ya bunda, Reyna udah gak sabar pengen makan puding)" jawab Reyna senang.


"Ayah dak makan (Ayah gak makan)" lanjutnya .

__ADS_1


"Gak..", ujarnya singkat.


"Sayang ini pudingnya." ucap Riana membawa puding dari lemari pendingin.


"Hoyee, nak anget unda udingnya (Horee, Enak banget bunda pudingnya)" ucap Reyna melahap puding.


"Terima kasih sayang.." ucap Riana tersenyum manis.


"Riana, maaffin mas karna tidak percaya dengan perkataanmu. Mas minta maaf juga karna sudah berlaku kasar padamu.." ujar Andre tulus.


"Sudahlah, jangan di bahas lagi aku sudah maafin mas.." ucap Riana santai.


"Beneran.." tanya Andre meyakinkan.


"Ya.."


"Terima kasih,,, boleh mas makan..", tanya Andre tak tahu malu.


"Silahkan.." ujar Riana, tanpa mau melayani suaminya.


'Rupanya kamu tidak benar-benar minta maaf tulus mas. Betapa tak tahu malunya dirimu..'batin Riana melihat suaminya makan dengan lahap.


"Enak sekali makanannya,, kamu beli di restoran mana.?.", tanyanya dengan mulut penuh.


"Sallex Resto..." jawabnya.


Uhuk


Uhuk


Uhuk


"Pantas enak,," ucap Andre melahap habis makanannya .


Sedangkan di balik pintu, seseorang menggempalkan tangan dengan kuat karna melihat pemandangan di depannya.


Riska ke luar dari kamar hanya ingin mengejar Andre, tapi apa yang dia lihat, suaminya itu tengah makan dengan istri serta anaknya tanpa mengajaknya.


'Tunggu pembalasanku wanita sialan..' batin Riska menatap tajam.


************


3 Hari berlalu dari kejadian makan malam itu, selama itu juga Andre mendiami istri mudanya karna masih kecewa dengan tingkahnya yang bar-bar.


Pulang kerjapun Andre tidak berniat memasuki kamar Riska.


Berbagai cara Riska lakukan hanya untuk mendapatkan kata maaf dari Andre tapi hasilnya nihil karena Andre benar-benar kecewa padanya.


Kalau Riana masih santai dengan kesibukannya sehari-hari, membersihkan rumah seperti biasa dan mencuci bajupun hanya punyanya, Reyna serta suaminya. Riana tidak berniat sama sekali mencuci baju gundik suaminya itu, walaupun Riska mencampurkan baju kotornya dengan yang lain, tapi Riana akan memisahkan kembali saat akan mencuci.


Semua itu membuat Riska sangat marah, tapi ia tidak bisa apa-apa karena Andre masih berpihak pada istri pertama.


Hari ini, Riska akan merencanakan sesuatu hanya untuk mendapatkan perhatin Andre kembali. Riska menaburkan sabun cair di lantai yang akan di duduki.


"Awwwww..." Rintihnya terduduk di tempat pencucian.

__ADS_1


"Masss..." panggil Riska teriak.


Andre yang merasa di panggilpun mencari asal suara yang terdengar dari belakang..


Begitu juga dengan Riana saat sedang masak di dapur, otomatis ia mendengarnya sangat jelas.


"Mas, Riska kenapa teriak.." tanya Riana saat berpapasan dengan Andre.


"Mas juga gak tahu." jawab Andre mempercepat langkahnya. Riana yang penasaran lalu mematikan kompornya mengikuti langkah Andre.


"Riska.." ucap Andre terkejut mendapati istrinya tergeletak di lantai, Riana membelalakan mata melihatnya.


"Riska kamu kenapa.." tanya Andre khawatir, membantunya bangun.


"Tadi aku jatuh karna lantainya sangat licin, saat aku ingin memcuci pakaianku.." jawabnya.


"Tadi abis aku selesai mencuci, aku membersihkan lantai itu sampai bersih kok , tanpa ada tersisa sabun sedikitpun." sahut Riana bingung.


"Terus ini apa hah.?? Apa kau sengaja ingin membalas dendam atas perlakuan Riska tempo hari kepadamu Riana.." ujar Andre menuduhnya dengan menatap tajam.


"Tidak mas." bantahnya cepat.


"Mas aku gak kuat, perutku sakit..." ucap Riska merintih kesakitan.


'Rasain kau wanita sialan, mas Andre pasti akan menuduh wanita itu dan akan memarahinya habis-habisan.' batin Riska tersenyum samar.


"Kita ke dokter ya sekarang,, "ujar Andre membopong Riska, meninggalkan Riana seorang diri di tempat pencucian.


"Aku gak mau ke dokter mas, aku pengen istirahat saja.." bantahnya, gawat kalau ke dokter bisa gagal rencananya, pikir Riska.


"Tapi mas tidak mau terjadi sesuatu sama bayi kita, mas tidak menerima penolakan..." ujarnya tegas.


"Tapi aku gak mau ke rumah sakit mas, bagaimana kalau kita suruh dokternya aja yang kesini..Aww..." Rintihnya pura-pura kesakitan.


"Baiklah, kamu tunggu di sini mas ambil ponsel dulu.." ucap Andre membaringkan Riska di ranjangnya.


"Tunggu.." ujar Riska memegang tangan Andre yang hendak ke luar.


"Biar aku saja yang menghubungi dokter, kebetulan aku juga punya teman dokter kandungan.." lanjutnya,.


'Bisa mampus aku, kalau mas Andre benar-benar menghubungi dokter kandungan.' batin Riska takut.


"Baiklah, cepat hubungi teman kamu itu. Suruh cepat-cepat datang kemari.." ucapnya tidak sabar.


"Iya mas.. Mas boleh aku minta sesuatu.."


"Apa.."


"Boleh ambilkan makanan, dari pagi aku belum makan.." jawbnya menunduk.


"Mas ambilkan, tapi jangan lupa hubungi dokter.." titahnya.


"Iya mas.. "ucapnya pura-pura lemah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2