
Setelah Tuan Allex dan Nyonya Maya pergi ke dunia ke dua, kepergian mereka meniggalkan cucu dan cicitnya dalam kesedihan yang mendalam..
Saat-saat pertama mereka tiada, kehidupan Reyna sedikit berubah. Yang tadinya selalu ceria, kini menjadi pendiam. Sering melamun di kamarnya, terkadang Reyna juga menangis saat memasuki kamar orang-orang yang di sayanginya.
Tidak hanya Reyna, Riana'pun juga demikian. Namun ia tidak memperlihatkan kesedihan itu pada sang anak, karena ia tidak ingin membuat putrinya tambah bersedih atas kehilangan orang-orang yang baru datang di kehidupannya dan kembali pergi untuk selama-lamanya.
Kalau bukan Riana yang menghibur anaknya, lalu siapa lagi.? Kalau Riana sedih dalam keterpurukan, lalu siapa yang akan membuat putrinya tersenyum.? Tidak, Riana tidak boleh seperti itu. Ia harus kuat demi putri kecilnya, pikir Riana saat itu.
Meskipun ada Nila yang menjaga sekaligus menenangkan putrinya, tapi di sini Riana yang paling berwenang atas keadaan sang putri.
1 bulan berlalu, keadaan Reyna tetap seperti itu saja, tidak ada perubahan sama sekali.
Di bulan ke dua, kondisi Reyna sedikit membaik. Ia sudah mau di ajak bicara, tersenyum dan kembali masuk ke sekolahnya.
Di bulan ke 5, sikap Reyna kembali seperti dulu lagi. Yang cerewet dan selalu ceria. Di bulan tersebut, Riana sangat bahagia karena putrinya sudah kembali seperti dulu.
Namun tanpa Riana dan Nilla ketahui, kalau Reyna sering menangis di malam hari saat teringat kenang-kenangan yang kakek dan neneknya berikan pada Reyna.
Reyna menutupi kesedihannya dengan wajah ceria. karena ia tahu, bahwa sang bunda sangat sedih dengan keadaannya 5 bulan belakangan.
"Nona Reyna, sudah waktunya makan siang sayang.." ucap Nilla, sang pengasuh yang masih bertahan di samping majikannya.
Tentu Nilla sangat betah kerja di sana, karena sang majikan memperlakukannya dengan sangat baik dan tidak menganggapnya seperti seorang pembantu. Semua orang di mata Riana sama. Sama-sama di di sayangi dan sama-sama perku untuk di hargai.
Karena ia tidak mempunyai kerabat, keluarga atau saudara lagi. Jadi Riana menganggap Nilla sebagai keluarganya setelah Om Mike dan Tante Shierra.
Berperilaku baik, sopan dalam segala hal, menjaga dan mengajari Reyna dengan sangat baik dan masih banyak pekerjaannya yang di lakukan Nilla dengan sangat sempurna, Jadi Riana tidak segan-segan lagi mengangkat anak yatim piatu tersebut sebagai adiknya.
__ADS_1
Walaupun seperti itu, Nilla tidak melupakan kewajibannya sedikitpun yang berperan menjadi babby sitter Reyna, yang sudah di anggapnya sebagai adik sendiri.
"Ok kak."Bahkan Reyna sudah mengubah nama panggilannya pada sang pengasuh itu. Dulu ia sering memanggil Nilla dengan sebutan sus, tapi sekarang di ganti dengan sebutan kakak..Karena Reyna sangat menyayangi pengasuhnya, jadi ia menganggap Nilla sebagai kakaknya sendiri.
"Bunda, temenin aku makan siang yuk.."Ajak Reyna menarik pelan tangan bundanya yang halus.
Dulu tangan itu sangat kasar, karena sering mengerjakan pekerjaan rumah membuat tangan Riana kasar dan kasaf. Namun tidak untuk sekarang, ganti profesi membuat tangan Riana sangat halus dan lembut. Kulit putih bersih, tubuh tinggi, body bak gitar spanyol, serta wajah yang di rawat sebaik mungkin oleh pemiliknya.
Walapun sudah banyak uang, tapi Riana tidak terlalu memanjakan diri atau anaknya. Ia masih memegang tangguh keyakinan yang sudah di tanam oleh Alm. Kadua orang tuanya. Yaitu, berhemat, tapi tidak pelit juga ya ??
Malah Riana sering menggunakan uangnya untuk berdonasi, bersedekah dari pada harus berfoya-foya tidak jelas dan tidak ada untungnya, itu menurutnya.
Kini ibu satu anak itu banyak di minati pengusaha-pengusaha muda dari kalangan menengah sampai ke atas.
Bagaimana tidak, walaupun Riana seorang janda anak satu. Tapi soal body dan postur tubuhnya tidak kalah dari seorang gadis. Malah seorang modelpun kalah dengan bentuk tubuhnya yang ideal itu.
Seperti bunga, kue, pakaian serta beberapa set berlian yang di hadiahkannya khusus untuk wanita cantik itu. Karena mereka menaruh hati pada ahli waris kekayaan keluarga Sallex itu.
Tapi Riana tidak memperdulikan orang-orang yang menginginkannya, karena ia ingin fokus dulu pada ketiga perusahaannya.
Kandasnya hubungan batera rumah tangga beberapa tahun lalu, meninggalkan trauma yang sangat berat pada diri Riana.. Maka dari itu, ia sering menolak mereka dengan cara halus. Karena ia tidak ingin membuat pria-pria yang menyukainya sakit hati bahkam manaruh dendam padanya.
Itu tidak bisa di biarkan, karena mengancam keselamatannya dan putrinya.
Maka dari itu, setiap ada yang mengatakan perasaannya pada Riana, ia selalu menolaknya halus, dan tidak menerima pemberian mereka jika itu sangat berlebihan menurutnya.
Namun Riana hanya bisa menerima hadiah yang berbentuk bunga dan kue, untuk selebihnya Riana kembalikan lagi pada pemiliknya. Namun kalau soal gaun, atau dress Riana bisa menerimanya. Tapi bukan untuk Riana sendiri pakai, melainkan untuk beberapa karyawan yang menginginkannya.
__ADS_1
Kadang Riana juga memberikan hadiah tersebut pada OB atau Nilla.
Entah kenapa Riana menolak pemberian orang yang selalu memberinya hadiah yang berbentuk pakaian atau perhiasan. Yang jelas Riana tidak menginginkan dua hal tersebut, karena ia punya alasan sendiri untuk tidak merimanya.
Kita kembali ke topik awal..
"Tentu sayang. Karena bunda lagi free hari ini, jadi kita akan menghabiskan waktu bersama-sama nak.."- Jawab Riana ..
"Beneran bun.." tanya Reyna memastikan.
"Beneran dong sayang."Jawab Riana menarik hidung mancung anaknya.
"Horreee, akhirnya Reyna bisa main sepuasnya sama bunda."Reyna langsung berloncat-loncat kegirangan seperti menapatkan mainan baru.
Bagaimana tidak kegirangan coba. Bayangkan saja, bundanya pergi pagi dan pulang larut malam. Saat Riana pergi bekerja, saat itu pula anaknya masih tidur. Saat Riana pulangpun, anaknya sudah tertidur lelap. Jadi Riana hanya bisa mencium sang anak dalam keadaan tidur. Dan itu mereka lakukan setiap hari, jadi bisa di pastikan 1 minggu itu Reyna tidak bertemu bundanya meski mereka tinggal satu atap..
Reyna bisa main sepuasnya dengan sang bunda tanggal merah atau hari minggu.
Itupun juga sangat jarang, karena bunda Riana selalu mempunyai pekerjaan di hari tersebut.
Walaupun seperti itu, Reyna tidak pernah mengeluh atau ngambek pada bundanya. Ia sangat mengerti dengan posisi bunda yang amat sangat sibuk itu. Dan itu berhasil membuat Riana bangga dan sekaligus bersalah.
Kadang ia sempat berfikir, kapan bundanya menikah lagi dan ada yang menggantikan posisi bundanya di tiga perusahaan. Dengan begitu, Riana akan kembali menjadi bunda yang sesunggihnya untuk sang putri.
Namun itu hanya hayalan Reyna semata, karena sang bunda saat ini benar-benar menutup hatinya rapat-rapat.
Bersambung..
__ADS_1