Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 23


__ADS_3

Setelah suaminya menghilang di balik pintu, Riska buru-buru menghubungi temannya yang akan di jadikan dokter gadungan hanya untuk melancarkan rencananya.


Awalnya teman Riska menolak karena takut ketahuan Andre. Dengan di iming-imingi harga yang fantastis akhirnya ia setuju dan menerimanya dengan senang hari.


'Semoga rencananya berhasil dan mas Andre akan kembali seperti dulu' batin Riska tersenyum puas.


Selepas kepergian suami dan adik madunya, Riana merasa ada yang tidak beres semua ini, ia masih mengingat betul saat ia membersihkan lantai itu.


Riana berjongkok di tempat yang Riska duduki hanya ingin memastikan dugaannya saja. Apa benar Riska terjatuh karena lantainya licin atau hanya akal-akalan dia saja hanya untuk mendapat perhatian dari suaminya, pikir Riana.


"Apa ini.." ucap Riana menautkan alis menyentuh lantai itu.


"Bukankah ini sabun cair,.." lanjutnya mencium bau sabun itu dari tangannya.


"Siapa yang menuangkan sabun cair ini ke lantai.."


"Heemm, aku tahu sekarang. Pasti wanita itu sengaja menuangan sabun ini di lantai dan membuat drama supaya mas Andre percaya padanya lalu menuduhku atas perbuatan ini... Pintar juga akalmu Ris..."ucapnya.


"Aku tak menyangka kau akan mendapatkan perhatian mas Andre dengan cara kotor seperti ini. Baiklah akan aku ikuti permainanmu cantik..." lanjutnya tersenyum sinis.


Riana meninggalkan tempat pencucian baju setelah ia membersihkan sabun cair yang tercecer di lantai. Walau bagaimanapun Riana takut kalau Reyna ke tempat itu dan terjatuh karena ulah wanita tidak tahu malu itu.


Ia melanjutkan masaknya karna tertinggal oleh drama Riska, sedangkan si kecil masih tertidur pulas dengan mimpi indahnya di kamar.


Saat sedang asik-asiknya masak, Riana di kejutkan saat tangannya di tarik dengan kasar.


"Mas lepas.." ucap Riana.


'Plaaakkk...


Riana memegang pipinya yang terasa panas bekas tamparan tangan suaminya.


"Mas menamparku lagi tanpa bukti.." ucap Riana dengan mata merah.


"Kau berhak mendapatkan tamparan itu karna sudah berani melukai istriku.."ujar Andre.


Deg...


Jantung Riana seperti tertusuk panah saat mendengar ucapan siaminya.


"Kalau terjadi sesuatu dengan anak ku, kau akan tahu sendiri akibatnya.." lanjut Andre setelah mengatakan itu, tanpa tahu malu ia mengambil makanan untuk istri mudanya yang sudah Riana masak.


'Praannkk..


Riana terkejut saat Andre melempar gelas di depan kakinya. Lalu pergi begitu saja.


'Kenapa mas menuduhku tanpa menyelidikinya terlebih dahulu..'batin Riana menangis, memunguti serpihan gelas yang hancur.


"Unda (Bunda).."panggil Reyna berlari mendekati bundanya.

__ADS_1


"Reyna jangan mendekat.." belum sempat Riana menangkap tubuh mungil itu, Reyna lebih dulu menginjak serpihan beling yang tercecer di lantai.


"Aduhh,, unda kaki Eyna sakit (Aduh,, bunda kaki Reyna sakit)." menangis.


"Reynaa.." teriaknya terkejut melihat darah ke luar dari kaki mungil anaknya.


Darah segar mengalir deras dari kaki Reyna karna beling yang di injak Reyna sangat panjang, membuat luka mengaga di kakinya.


"Sayang tahan ya,, bunda akan bawa kamu ke rumah sakit.." ujarnya menutupi luka menganga itu dengan robekan bajunya.


"Unda atit...Hu hu huuuuu (Bunda sakit).." menangis kencang.


"Iya sayang,, tahan ya.." ucap Riana menenangkan dalam gendongannya.


Riana mempercepat langkahnya ke luar dari rumah, di pintu depan ia berpapasan dengan wanita cantik memakai jass putih dari taksi. Mungkin itu dokter kandungan, pikirnya.


Riana bernafas lega saat melihat dokter datang di saat waktu yang tepat, ia berharap dokter itu bisa membantunya.


"Dokter tolong anak saya, kakinya berdarah saat menginjak serpihan gelas. Tolong Dok.." Ucap Riana.


"Sa-aya tida-k bisa.." jawab Dokter itu, mmembuat Riana bingung.


"Unda atit ( bunda sakit)" ucap Reyna dengan wajah pucat.


"Pak tunggu, tolong antar saya ke rumah sakit.." titah Riana, saat mobil taksi itu akan pergi..


"Loh Bukankah nona yang memberi ongkos taksi banyak itu.." ucap supir itu.


"Cepat masuk nona,." titah supir itu.


"Terima kasih.." ucapnya bernafas lega, setidaknya Riana tidak perlu repot mencari taksi lagi.


"Reyna..." panggil Riana, saat anaknya memejamkan mata.


"Reyna bangun sayang.." dengan menepuk pelan pipinya.


"Reyna bangun, jangan membuat Bunda takut nak.."


"Pak tolong lebih cepat, anak saya pingsan.." titahnya berlinang air mata.


"Baik nona, pegangan yang kuat. Saya akan mengemudikannya dengan cepat.."


"Ba-aikn pak,,"ucap Riana terbata.


Sebenarnya Riana takut dengan kecepatan, sebab orang tuanya dulu kecelakaan di akibatkan karna melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi lalu menabrak mobil Tronton di depannya hingga mobil yang di kendarai Alm. orang tua Riana rusak parah, menurut saksi mata di tempat kejadian.


Namun saat ini baginya adalah keselamatan Reyna hingga ia tak memperdulikan saat mobil membawanya dengan kecepatan penuh.


Tak lama kemudian, taksi yang di tumpangi Riana terhenti tepat di depan rumah sakit.

__ADS_1


Riana buru-buru ke luar dengan menggendong tubuh lemah Reyna.


"Pak.." ucap Riana terhenti saat akan mengucap bahwa ia lupa bawa uang untuk membayar taksi.


"Nona lebih baik bawa putrinya, jangan perdulikan ongkos taksi. Saya iklas membantu anda.." ucap supir itu mengerti.


"Terima kasih pak.." setelah itu, ia buru-buru masuk ke rumah sakit.


"Dokter, suster.." Teriak Riana.


"Dokter tolong anak saya.." setelah dokter dan suster datang membawa brankar.


"Nona, tolong baringkan pasiennya di sini.." ucao suster.


Riana meletakan tubuh mungil itu dengan hati-hati, suster langsung mendorong brankar itu masuk ke ruang UGD.


"Sayang bertahanlah.." ucap Riana memegang tangan putrinya.


"Tuan, bukankah wanita itu yang kita temukan anaknya dulu di mall.." ucap seorang pria saat berpapasan dengan Riana.


"Heemm.." ujar tuannya singkat, matanya mengikuti langkah wanita itu pergi.


"Sedang apa dia sini.? Kenapa bajunya penuh dengan darah.." ucap sekertaris dari tuannya.


"Astaga, bukankah itu anak yang anda tolong tuan.." lanjut sekertarisnya.


"Han selidiki tujuan mereka." ucap Raymod singkat.


"Baik tuan..", ujarnya patuh.


'*Sepertinya tuanku ini menyukai istri*nya si Andre.. 'batin Han.


"Aku bukan menyukainya, hanya ingin tahu saja. Kalau kau berani ngebatinku, ku potong gajimu bulan ini 30%.." ucap Raymond mendudukan bokong di kursi kebesarannya.


"J-angan tuan, saya tidak akan melakukannya lagi.." ucap Han.


'Gue lupa kalau tuan Raymond bisa membaca pikiran orang.' batin Han.


"Resmi, gajimu akan ku potong 30%.." ucap Raymond membuat sekertarisnya terkejut menepuk jidatnya.


****


"Anda tidak boleh masuk nona, silahkan tunggu di luar.." ucap Suster menghalangi Riana hendak masuk.


"Tapi anak saya sus.."


"Dokter akan langsung menangani anak anda, mohon kerja samanya nona.." ucap suster menutup pintu.


Riana terduduk di lantai dengan derai mata, ia tak memperdulikan penampilannya yang sangat kacau, baju putihnya penuh dengan darah yang tercecer di mana-mana serta bagian lengan bajunya bekas sobekan saat menutup luka kaki anaknya. Saat ini baginya yang terpenting keselamatan anaknya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, tolong selamatkan anakku..".


Bersambung...


__ADS_2