
Di perjalanan menuju rumah sakit, tidak ada sedikitpun pembicaraan yang terjadi di sana.
Hening, hanya terdengar suara mesin mobil yang sangat halus.
Raymond fokus menatap jalan, sedangkan Riana terlihat memandangi luar dari kaca jendelanya. Ucapan Raymond dengan pedagang sate itu membuat Riana jadi gugup dan bingung di buatnya.
Kenapa Raymond mengAmin kan ucapan pedagang sate itu?Apa Raymond berharap bisa hidup bersama dengan Riana? Atau Raymond mengatakan itu hanya di jadikan lelucon saja? Sumpah,.pertanyaan itu terkumpul di benak Riana. Namun Riana tidak mungkin menanyakan hal tersebut pada Raymond mengingat dirinya hanya orang asing di sana.
'Ahh sudahlah, untuk apa aku memikirkan itu , tidak penting juga. Palingan juga Tuan Raymond tidak serius dengan perkataannya..Tapi kenapa aku sedikit kecewa ya.."batin Riana memikirkannya.
"Apa yang anda fikirkan Nona,? "Tanya Raymond melihat Riana menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ah tidak, Tuan." Jawab Riana melihat wajah Raymond sekilas.
"Kepala anda pusing? Saya lihat anda mengelengkan kepala.."Tanya Raymond.
"Tidak juga, hanya ingin segera kembali saja." jawab Riana sedikit cuek.
'Kenapa dengannya? Perasaan tadi sikapnya gak gini-gini amat deh. Apa aku salah bicara? Tapi apa.." batin Raymond bertanya-tanya.
Molland Hosspital..
'Waktu gue habis gara-gara perempuan sialan itu, kenapa dia bisa balik lagi sih ke kota ini? Mengacaukan saja. Pasti mas Andre marah besar ini sama gue, secara dari pagi tadi dia menghubungi gue. Mudah-mudahhan ibu ada di sana, dengan begitu gue aman dan mas Andre tenang.." batin Riska mempercepat langkahnya.
Ceklekk..
"Dari mana saja kau Riska.."Belum sempat Riska membuka pintu ruangan itu, Andre lebih dulu membukanya dari dalam dan langsung menghujat istrinya dengan pertanyaan.
Wajah Andre saat ini memerah karena menahan emosi. Bagaimana Andre tidak emosi, ia menghubungi Riska dari pagi tadi sampai malam hari, dan pada akhirnya Riska datang ke rumah sakit saat jarum jam berhenti tepat di angka 9.
Bisa bayangkan saja betapa murkanya Andre di sana.
Andre tahu Riska akan ke rumah sakit dari pelayan di rumahnya, maka dari itu ia menunggu istrinya di depan pintu, dan setelah mendengar suara derap kaki mendekat, Andre langsung membuka pintu saat itu. Dan benar saja, itu adalah istrinya, Riksa.
__ADS_1
"Dari mana saja kau seharian ini Riska.." Suara Andre menggeram.
Riska bingung harus memberi Andre jawaban seperti apa. Jika ia berkata jujur, kalau ia menghabiskan waktunya seharian ini di rumah sakit kecantikan dan di lanjutkan pergi ke mall, sudah di pastikan Andre benar-benar murka padanya. Maka dari itu Riska tidak boleh berkata jujur pada suaminya, tapi ia bingung memikirkan cara alasan yang pas untuk suaminya.
"JAWAB..."Teriak Andre dengan mata memerah.
Riska terkejut mendengar dan melihat Andre berteriak di depan wajahnya.
Baru kali ini Riska mendapat teriakan kencang dari Andre, biasanya laki-laki itu selalu berkat lembut dan nada menggoda. Tapi kali ini benar-benar berbeda.
Gara-gara anak sialan itu Andre berteriak sekeras itu pada Riska, pikir Riska menyalahkan anaknya sendiri tanpa ngaca kalau itu adalah kesalahan dirinya yang sepenuhnya.
"Jangan teriak-teriak Ndre, kasihan Andra di dalam ketakutan mendengar teriakan kamu.." sahut ibu Erin mendatangi anaknya berada.
"Riska, kamu sudah datang sayang? Ayo masuk, Andra pasti senang kalau kamu datang.." Lanjut ibu Erin langsung menjauhkan menantu kesayangan dari anak laki-lakinya.
"Iya bu.." Ucap Riska bernafas lega.
Namun kesenangan Riska tidak sampai di sana, begitu ia melihat seorang pria paruh baya yang di bencinya dan tidak di harapkan kedatangannya malah berada di sana, sembari menatap Riska dengan tatapan dinginnya.
Riska harus buru-buru memerankan actingnya supaya Ibu Erin dan yang lainnya tahu kalau ia sangat sedih dan merasa terpukul atas keadaan anak semata wayangnya yang tengah sakit.
"Andra, kenapa Andra bisa begini sayang? Apa yang terjadi pada kamu sampai masuk rumah sakit seperti ini,? Hiks hiks hiks.."Riska menangis sembari memeluk erat tubuh anaknya.
"Maafkan mamah karena tidak bisa menjagamu sayang, maafkan mamah.." Ucap Riska sesegukan.
"Kamu akan menerima akibatnya setelah ini sayang.."bisik Riska tepat di telinga anaknya.
"Lepas mas, sakit.." Ucap Andra pelan saat Riska mengeratkan pelukan yang membuat anaknya sakit dan sulit bernafas.
"Tidak akan sayang, ini tidak seberapa dengan perbuatanmu hari ini pada mamah, nak.."Jawab Riksa.
Ima membulatkan mata setelah melihat wajah Andra tidak baik-baik saja..
__ADS_1
'Ya Tuhan, bagaimana ini? Andra pasti kesakitan.. Kalau aku menegurnya, pasti Andra juga yang kena batunya..Ya Allah, bantu Andra lepas dari wanita bermuka dua itu.." batin Ima.
"Lepaasss, mah.." Ucap Andra pelan dengan wajah pucat pasi.
Sepertinya hari ini Riska benar-benar kesetanan, buktinya ia setengah sadar dengan apa yang di lakukannya.
"Lepas, kamu mau membunuh cucu saya, hah.." Bentak pak Ridwan segera menjauhkan menantunya dari cucunya.
Semua orang langsung terkejut mendengar bentakan pak Ridwan.
'Gawatt, bapak pasti melihat apa yang gue lakuin pada anak itu. Sial, kenapa loe ceroboh banget sih Riska.."Batin Riska merutuki kebodohannya sendiri..
'Syukurlah, akhirnya Andra lepas dari kungkungan wanita itu.."Batin Ima bernafas lega, lalu mendekati Andra dan memberinya air minum.
"Membunuh apa maksud bapak? Bapak ini gila atau apa sih.?Mana mungkin Riska berniat membunuh darah dagingnya sendiri." sahut Ibu Erin.
"Kamu tidak apa-apa Ris.." tanya ibu Erin lembut.
"Aku tidak apa-apa kok buk.." jawab Riska menitikan air mata.
"Bapak ini apa-apaan sih, narik-narik Riska tidak jelas. Lihat nih tangannya, sampai merah begini gara-gara ulah bapak." sahut ibu Erin.
"Andra gak apa-apa kan.." tanya pak Ridwan mengusap keringat di kening cucunya.
"Andra baik-baik saja kek." jawabnya pelan dengan bibir merekah meski sangat pucat.
'Ada apa dengan bapak? Kenapa bapak malah berbicara itu pada Riska? Apa bapak melihat sesuatu di sana? Tapi tidak mungkin Riska punya niatan jahat pada anaknya, secara yang ku lihat Riska itu sangat sayang pada anaknya. Tidak biasanya bapak seperti ini.."Batin Andre bingung dengan situasi yang ada.
"Aku memang menantu yang tidak di harapkan kehadirannya oleh bapak, aku tahu itu. Tapi aku mana mungkin membunuh anakku sendiri pak, dia darah dagingku. Aku tidak mungkin melakukannya. Bapak boleh membenciku, bapak boleh tidak menyukaiku, tapi aku mohon jangan tuduh aku seperti ini, ini sangat sakit sekali pak.." Ucap Riska mendudukan tubuhnya di lantai.
'Mas Andre harus percaya sama gue.."batin Riska.
Bersambung..
__ADS_1