Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)

Riana'S Household Story (Cerita Rumah Tangga Riana)
Part 49


__ADS_3

Pak Ridwan tertatih-tatih menelusuri jalanan dengan pandangan kosong.


Setelah memarahi sang anak, pak Ridwan memutuskan untuk berjalan kaki menuju kediamannya. Bukan karena tak punya uang untuk membayar taksi, hanya saja ia ingin mampir terlebih dahulu ke tempat yang biasa Reyna kunjungi.


Tempat apa lagi yang di sukai anak-anak selain taman bermain, dan kebetulan taman tersebut tidak terlalu jauh dari kediaman Andre.


"Biasanya kita bermain di sini sayang, tapi sekarang kamu sudah tidak ada. Kamu sudah meninggalkan kakek pergi jauh untuk waktunya yang lama, dan mungkin saja kamu tak akan pernah kembali untuk selama-lamanya. Maafkan kakek yang tidak bisa membimbing ayahmu dengan baik. Seandainya ayahmu tidak seperti ini, pasti kamu dan bundamu masih berada di sini sayang, bersama kakek. Kita kumpul bersama dalam suka maupun duka. Namun takdir berbicara lain, kamu pergi jauh dengan membawa kebencian yang amat dalam untuk kakek. Maafkan kakek Reyna Anastasya, maafkan bapak Riana Anastasya. Sampai kapanpun bapak tidak akan melupakan kalian berdua, sampai kapanpun kalian tetap menjadi permata indah di hati bapak, dan tak akan pernah ada satu orangpun yang menggantikan posisi kalian berdua sampai maut menjemput bapak.."batin pak Ridwan.


Tes


Tes


Pak Ridwan segera menghapus air mata, lalu melanjutkan langkahnya kembali menuju kediamannya.


"Assalamualaikumm.." Ucap pak Ridwa pelan, setelah memasuki kediamannya..


Bukannya menjawab salam suami, ibu Erwin malah mencecar suaminya dengan berbagai pertanyaan.


"Bapak keluyuran dari mana saja jam segini baru pulang? Pergi gak bilang-bilang, ponsel gak di bawa. Bagaimana sih?- Kalau ada apa-apa sama bapak bagaimana? Kalau bapak kecelakaan atau apa gimana? Siapa nanti yang kasih ibu uang kalau bapak sakit? Siapa nanti yang biayain anak kita kuliah nanti? Udah tua, nyusahin saja bisanya ."- Cecar ibu Erin sampai kehabisan nafas mengeluarkan unek-uneknya.


"Sudah marah-marahnya? Kalau sudah, saya mau istirahat.." Tanya pak Ridwan dengan raut wajah dingin.


"Haah.."ibu Erin melongo di buatnya, pasalnya suaminya itu tak pernah seperti ini. Saat ia marah-marah, pak Ridwan biasanya selalu menegurnya. Namun kali ini sungguh beda, pikir ibu Erin.


Lalu, Pak Ridwan melewati istrinya begitu saja tanpa memperdulikan ibu Erin yang tengah kebingungan.


'Apa apa dengan pak Tua itu? Tidak biasanya sikapnya dingin padaku. Tadi pagi masih seperti biasa. Sebenarnya si bapak dari mana sampai sikapnya berubah begini.? Apa gara-gara aku tidak membalas salamnya? Tapi tidak mungkin." batin ibu Erin bertanya-tanya.


Namun ibu Erin tidak sadar kalau suaminya itu sudah pergi dari hadapannya.

__ADS_1


"Loh, bapak mana?.."Ucapnya bingung, lalu mencari sang suami ke kamarnya. karena ia masih ingat kalau suaminya itu mau istirahat .


"Bapak di dalam.." Ibu Erin mengetuk pintu kamar mandi setelah melihat ke arah ranjangnya, ternyata pak Ridwan tidak ada di sana.


"Pak.." panggilnya lagi.


Tak lama kemudian, pak Ridwan ke luar dari kamar mandi dengan pakaian baru.


"Di panggilin malah dian saja, nyahut ke, apa ke kan punya mulut. Baru pulang udah bikin kesal istri saja.." Ucap ibu Erin berkacak pinggang di depan suaminya.


Istri kurang ajar memang, tidak punya sopan santun pada suaminya sendiri.


Namun pak Ridwan tidak menyahuti ucapan istrinya. Jangankan menegur, melihatnyapun saja tidak sudi sepertinya.


Pak Ridwan kembali melewati istrinya, mengambil selimut di lemari, mengambil bantal di ranjangnya lalu ke luar dari kamar yang selama ini menjadi tempat penghangatnya dan istrinya.


Suara pintu terdengar sangat keras, sampai ibu Erin terperanjat di buatnya.


"Kenapa sih si bapak ini? Gak jelas. Nah itu, mau kemana dia? Apa mau tidur di luar? Ahh bodo amatlah, mau dia tidur di luar atau di mana pun aku tidak perduli, palingan entar malam juga kembali lagi. Dasar suami tidak jelas.." ucapnya, lalu menaiki ranjang, dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.


Kemanakah perginya pak Ridwan? Yang jelas jawabannya pria paruh baya itu berada di kamar tamu yang terletak di samping kamar bekas Andre dulu.


"Sepertinya tempat ini lebih nyaman di bandingkan dengan kamar itu..", ucap pak Ridwan, menutup mata dan akhirnya terbawa ke alam mimpi.


"Kenapa aku tidak bisa tidur sih? Biasanya kalau udah selimutan ke gini langsung terlelap. Tapi kenapa mataku sudah di bawa tidur? Apa ini karena gak ada bapak di sini makannya aku tidak bisa tidur? Lagian mana bapak? Kok dia tidak kembali lagi sih? Apa dia beneran mau tidur di luar? Lebih baik aku mengeceknya.."Ujarnya.


"Bapak tidur di mana? Kok di sini gak ada. Apa bapak ada di kamar atas.."Ucap Ibu Erin, lalu menaiki tangga satu persatu.


"Ternyata benar dugaanku, kalau bapak tidur di sini? Sikap benar-benar membuatku bingung.."ujarnya..

__ADS_1


Kediaman Andre....


"Pasti sakit banget ya mas.."Tanya Riska tengah mengobati luka di bibir suaminya..


"Awwhh, pelan-pelan sayang. Sakit.." Ujar Andre...


"Ah maaf mas, aku gak sengaja menekannya..:"Ujar Riska.


"Lagian bapak kamu ada-ada saja deh mas, masa cuma gara-gara hal spele kaya gitu sampai mukulin anak sendiri sampai babak belur seperti ini?.."ucap Riska..


"Ya bapak orangnya memang seperti itu, apa lagi masalah ini menyangkut anak itu, cucu kesayangannya. Pasti dia akan memberi pelajaran pada siapapun yang menyangkut anak itu, termasuk mas ini." Ujar Andre.


"Sebenarnya mbak Riana apain bapak kamu sih mas? Sampai bapak kamu sangat menyayangi mereka berdua sampai segitunya.." tanya Riska.


"Mas aja gak tahu apa yang mereka lalukan pada bapak. Sudahlah, jangan bahas mereka berdua lagi. Kepala mas pusing ." Ucap Andre menyudahi pembicaraan tentang mantan istri dan anak kandungnya.


"Pusing kenapa? Mikirin apa? Pasti lagi mikirin mbak Riana yang pergi sama keluarga barunya kan?.Hayo ngaku, aku gak suka ya kalau di bohongi.."tanya Riska.


Bukan hanya kamu saja yang tidak suka di bohongi Ris, author sendiripun tidak suka di bohongi. Apa lagi yang membohongi suami author sendiri. Hatiku jadi seperti ini💔💔. Hi hi hi🤭🤭.


"Ya, memang mas lagi mikirin itu. Soalnya yang mas tahu, perempuan itu tidak punya siapa-siapa lagi di kota ini. Jangankan keluarganya, saudarapun dia tidak punya. Entah bagaimana dulunya, sampai ia hidup sebatang kara di kota besar ini." jawab Andre jujur.


"Eiittzz, kamu jangan salah paham dulu sayang. Mas begitu hanya kepo saja, gak ada yang lebiih.." Lanjut Andre.


"Beneran? Mas gak bohong kan? apa jangan-jangan mas masih punya perasaan ya sama mbak Riana? Atau.."Ucap Riska terhenti saat Andre meletakan jari telunjuknya di bibir sang istri...


"Jangan berbicara yang membuat hatimu sakit sayang. Dengarkan mas baik-baik, mas sudah tidak menyimpan rasa lagi sama perempuan itu. Sedikitpun tidak ada, hanya tersisa kebencian mas padanya. Sumpah, mas tidak bohong sayang. Hanya kamu dan calon bayi kita yang mas cintai." Sahut Andre membuat Riska tersenyum senang.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2